Gadis Gowes (12)

Gadis Gowes (12)
Gadis Gowes

Bab. IV

CINTA NAN BIAS

      Jiwa yang sepi dari pasangan hati kala ingin menyendiri, resah mengelitik, mengusik logika, berbagai abstraksi pikiran dari hasil tangkapannya mengenai substansi dari berbagai kategori itu. Kaki pun melangkah menuju jendela dunia. Gadis gowes Kalingga ingin mencari dan mencerna  sebuah muara indah apa yang ada  di Gedung Kristal Pengetahuan  (Crystal of Knowledge). Sebuah perpustakan  terluas di Asia Tenggara, di atas tanah 2,5 hektare dan bangunan  33.000 meter beratap taman, sangat ramah lingkungan dan sejuk itu kini menjadi kebanggaan warga kampus karena konsep pada bangunan itu  sangat berkontribusi dalam menahan laju pemanasan global dan mempunyai 100 silent room bagi dosen serta mahasiswa, taman pun  tak lepas dari kemewahan baik dari segi struktur bangunan maupun isi dari perpustakaan itu sendiri.

Mata Kalingga menyapu para pemburu ilmu  yang sangat setia duduk ber jam jam, berkata dan bergumul sendiri dalam hati oleh aliran oxigen yang di cerna dari buku yang ada. Di sofa sudut tampak dua pasang orang berambut bule tampak sedang serius berdiskusi. Mereka adalah mahasiswa tamu yang sejak diresmikannya perpustakaan itu pada 13 Mei 2011 sudah menjadi langganan memanfaatkan sofa di sudut itu untuk berdiskusi dengan teman temannya. Di sudut lain banyak para mahasiswa asyik dengan laptop nya. Maklum, Gedung Kristal Pengetahuan yang di bangun sejak Juni 2009 atas prakarsa rektor kala itu menyediakan wifi gratis. Walau pada perjalanan pembangunan banyak yang protes, pada akhirnya gedung ini meramaikan sang Mahkota Hijau Universitas yang terbentang luas di perbatasan antara Jakarta Selatan dan Depok.

Ruang sejuk tanpa suara yang jika dari kejauhan kita melihatnya bagai gundukan tanah ini jauh dari bayang sunyi senyap sebagaimana perpustakaan lain dimana   ruangan akan terasa   bagai di taman onggokan tanah  berpapan nama. Gedung kristal pengetahuan yang satu ini mengubah image seseorang tentang perpustakaan. Disini tidak melulu tersedia buku buku jadul sampai modern yang judulnya ribuan itu melainkan juga e-boom dan e-journal gratis. Jika lapar dan ngantuk, tak perlu mengusirnya dengan keluar dari area. Gedung berlantai 8 menyisakan lantai 1 untuk kedai makanan dan minuman modern. Dalam mengalihkan penglihatan agar tidak terus menerus mengolah kata di buku maupun laptop, tengoklah sejenak ke balik kaca, terhampar taman dan danau yang akan menyejukan mata.

Kalingga menarik nafas Panjang. Konsep perpustakaan yang ia pijak sekarang tentu sangat jauh beda dengan perpustakaan yang  keberadaannya  sejak di dirikannya Bataviasche Genootschap van Kunsten pada jaman Hindia Belanda, abad 18, tepatnya tahun 1778, yang kurang diminati  kebanyakan orang. Pun ketika pengganti penguasa negeri di  abad ke 20 aktif membangun perpustakaan,  tetap saja  tak banyak orang berselera untuk datang kecuali mereka yang mempunyai  tujuan.

Dengan langkah panjang, Gadis Gowes Kalingga menuju  ruang komputer yang dilengkapi dengan aplikasi Online Public Access Catalogue (OPAC) lalu mengetik judul buku dan pengarangnya. Seketika  Online Public Access Catalogue (OPAC) pun menampilkan dimana letak bahan bacaan  Kalingga cari. Setelah mendapatkan apa yang dimaksud, Kalingga langsung naik ke  lantai 2  dimana tersusun buku-buku dari terbitan klasik hingga terbitan sekarang ini. Namun tiba tiba matanya melirik ke satu buku . Tangan pun segera  mengambil satu buku  dengan  judul yang menggoda untuk dibaca isinya. Namun ia teringat kalau kehadirannya ke perpustakaan kali ini adalah mencari buku tentang hukum. Kalinggapun melupakan hasrat yang menggoda. Ia melangkah kembali ke tempat buku yang dicarinya berada. Kemudian mencari tempat duduk yang belum terisi di salah satu sudut dekat jendela. Duduk disana, pada barisan meja yang ada,  Abdul, sang dewa kata yang sedang menelan bab demi bab buku sejarah dengan cepat.

Dewa kata adalah julukan bagi Abdul, senior dan teman satu kos  dengan Bernad. Disebut dewa kata  karena dia orang yang selalu dicari para mahasiswa yang malas baca buku lalu meminta Dul untuk membacanya atau membuat resume dari buku yang mereka sodorkan. Terutama bagi mereka yang dimanjakan fulus orang tua. Gaya Abdul yang sederhana, jika ke kampus hanya membawa tas goni yang di sampirkan pada pundaknya dan berisi satu buku catatan lecek dan 1 pinsil 1 pulpen. Tapi  dapat membungkam para bulliying di kelas yang bergaya intelek dengan menggendong ransel berisi buku buku tebal dengan kata yang meluncur bagai tsunami. Kepalanya bagai kantong doraemon, sebuah film anak yang sangat di gemari anak anak, dimana dalam kantong Doraemon tersebut berisi apa saja dan siap memenuhi permintaan membantu Nobita dan teman temannya dalam memecahkan suatu masalah.

Walau dalam berucap Abdul akan mengeluarkan aroma tembakau,  mereka yang datang meminta isi kantong doraemon milik Abdul, seakan tak peduli. Justru mereka akan  melontarkan kata manis. Tak jarang diantara mereka ada yang terpincut lalu mencoba   menancapkan bibit cinta  di padang hati nan gersang milik Abdul.  Oleh karena merasa tersiram setetes air di padang pasir. Abdul memang kadang bagai secawan anggur memabukan serta kecanduan untuk mereka terus meminumnya hingga sang peminum  tersenyum puas lalu memberinya sebungkus rokok. Walau hanya sebungkus rokok, terlihat wajah Abdul sangat suka cita lalu mengumbar senyum. Karena  bukan sebungkus rokok saja yang sesungguhnya menjadi target dari hasil membacakan buku buku yang disodorkan itu melainkan dari kesempatan membaca itulah menjadikannya tidak harus membeli buku. Alias gratis. Dan Abdul cukup merekam dalam kepala atau mencatat hal yang dianggapnya penting di buku leceknya itu.

       Gadis gowes itu mendekati sang dewa kata. Abdul yang sedang asyik dengan buku barunya itu langsung menoleh kala Kalingga menyapanya.

       “Tumben ke perpus. Nggak gowes? “ sambut Abdul.

      “Hehehe..  boleh dong sesekali menikmati  biophile dan visual escapism disini . “ Cetus Kalingga sambil langsung duduk dihadapan Abdul.

     “Perasaanku jika di perpus ini hadir kebahagiaan, ketenangan juga kebebasan.” Lanjut Kalingga.

     “Persis! kita  perlu bangga.”

     “Maksudnya?”

     “Persis seperti yang dikatakan pakar psikologi lingkungan dari James Cook University, Dr. Denise Dillon.” Abdul menarik nafas. Lalu lanjutnya,

    “ Dua hal penting dalam arsitektur bangunan yaitu biophile (adanya unsur organik dalam gedung seperti susunan tanaman) dan visual escapism, sang penghuni tidak terjebak dalam ruangan tersebut dan bisa memandang bebas ke alam sekitar telah tercakup pada perpus ini.”

     “Ooo..” Kalingga manggut manggut lalu mengalihkan matanya pada buku yang di ambilnya tadi. Abdul langsung melirik pada buku yang dipegang Kalingga itu.

      “Anak ekonomi bacaannya hukum adat?” Tanya Abdul.  Belum sempat Kalingga menjawab, HP di sakunya bergetar. Dilihatnya pada layar kecil itu nomor Beb. Dia pun langsung pamit pada Abdul. Kalingga pun mencari tempat dimana tidak ada nafas manusia, disana ia menerima suara di ujung telpon.

       “Aku di perpus.”

       “Ok, gue tunggu di lantai 1 dekat layar jumbo.

Kalingga pun turun ke lantai 1 dan langsung berdiri menunggu Beb dekat layar raksasa profil kampus. Mata indahnya menyusuri berbagai aksara dari seluruh dunia yang ditulis di kaca gedung sebagai dinding. Walau tak bosan untuk melihat, namun pekerjaan menunggu baginya menyebalkan. Beb yang di tunggu,  sudah sekian menit belum juga menunjukan  batang hidungnya. Haus menggoda. Matapun melirik gerai Starbucks yang ramai pengunjung. Namun Kalingga hanya dapat menelan ludah. Pada saat ini harus mengerem laju pengeluaran. Untung beberapa menit kemudian Beb terlihat berjalan dengan cepat ke arahnya.

    “Sorry Ling, ban sepeda gue kempes jadi terpaksa deh gue pakai roda kaki.” Kata Beb dengan suara terengah engah.

    “Trus sepeda loe parkir dimana?”

   “Ya gue tinggal di parkiran psikologi.”

  “Perut gue sampai lapar. Makan yuk!” Beb menarik tangan Kalingga dan mengajaknya ke restoran siap saji yang tak jauh dari mereka berdiri.

    “Kebetulan ditraktir Beb, dari tadi gue haus dan musik keroncong terdengar merdu di perut.”

    “Memang loe lagi kere? Belum ada transferan?”

   “Hahahha tahu aja!”

Dua sahabat satu kamarpun dengan lahap makan ayam ala Amerika.

    “Loe kenapa sih mau ketemuan? Kan bisa di kamar kita ngobrol.”

   “Tadi, gue lihat Bernad mesra sama Rani di café Bahasa.”

   “So? Kenapa memangnya? Hak dia dong mau ngobrol sama siapa saja.”

   “Tapi Ling, “

   “Kenapa?”

   “Sejak kejadian di sungai Cianten, sampai sekarang detak jantungnya masih berirama di dada gue.”

   Bum! Kalinga mendengar  apa yang dikatakan Beb bagai bom menukik ke jantung. Sahabat satu kamarnya ternyata telah jatuh cinta pada orang yang selama ini dekat dengannya. Walau diantara Kalingga dan Bernad belum ada kata cinta,  pupuk cinta telah menumbuhkan benih  cinta di relung hati Kalingga. Paha ayam yang sedang di gigitpun langsung jatuh.

    “Ups, sorry.” Kalingga segera mengambil paha ayam yang jatuh itu dan kembali di gigitnya dengan cepat. Sementara  Beb terus bercerita bagaimana api di dada akan meletup jika melihat Bernad ngobrol dengan wanita lain. Apalagi dengan Rani. Hiks, mendengar itu, rasanya Kalingga ingin menyumpal lubang telinga dengan koral. Dan betapa kegugupan itu tak dapat disembunyikan kala Beb meminta bantuannya agar jadi mak comblang untuk mendekatkan dia dengan Bernad. Karena selama ini diantara teman teman yang lain,  Kalingga lebih  dekat dengan Bernad. Dan Bernad selalu pasang badan untuk Kalingga.

    “Bantu gue dong ling!” kata Beb sekali lagi.

    “Oh, ng.. bantu apa?”

    “Dekatin gue sama Bernad.”

    “Lho? Selama ini kan kita hampir selalu Bersama?”

    “Maksud gue , coblangin gue sama dia.”

Bersambung........

Halimah Munawir, Novelis dan pengurus harian IWAPI Jakarta

Komentar

Loading...