Breaking News

Gadis Gowes (11)

Gadis Gowes (11)
Gadis Gowes

      “Kita mau berbagi sama anak anak kolong jembatan, nih. Ikutan yuk!” Bernad langsung pada tema yang sudah disodorkan teman temannya sambil mempersilahkan Rani pisang keju yang di pesannya.

      “Anak kolong jembatan?” Rani bertanya sambil terbengong. Bias wajah memantul rasa jijik.

     “Hmm.. panitia memang sudah berencana hasil lebih dari sponsor untuk mereka..”

     “Oh..ng..”

     “Ayolah… buat kejutan! Pastinya heboh dikau datangi mereka...” Bernad terus merayuk.

     “Ng.. baiklah..”

         “kamu memang  cantik dan manis!” pungkas Bernad yang membuat hidung Rani kembang kempis.

Kalingga dan teman temannya yang memantau dari kejauhan terus menerus meminta kode dari Bernad apakah misi berhasil. Bernad merasa terganggu, dia pun mengajak Rani untuk hengkang dari tempat itu dan pergi ke suatu mall. Tentu saja teman temannya kehilangan jejak. Karena mereka pergi dengan mobil Rani sementara Kalingga dan teman teman hanya pakai sepeda.

        “Hadeh, kucing garong mau bawa Rani kemana ya?” Tanya Tedi.

       “iya, nggak mungkin kita kejar mereka.” Kata Fifi.

       “Bagaimana kalau kita kejar mereka dengan taxi?”  Beb yang dalam hatinya terjadi letupan api memberi usul.

       “Nggak perlu. Kita ke secretariat aja!” jawab  Kalingga,  membuat letupan api dalam diri Beb menyala.

       “Let’s go!” Lanjut Kalingga sambil menggowes. Tak lama merekapun beriringan menggowes menuju secretariat.

        Dalam keresahan menunggu kabar Bernad, Kalingga hanya dapat memainkan pinsil, Fifi asyik ngobrol dengan Tedi. Pupung bermedsos ria. Sementara Beb menopang dagu dengan pikiran menerawang jauh .. Namun tak lama kemudian suasanya menjadi gaduh begitu Bernad membuka pintu. Mereka menyerbu Bernad dan menanyakan hasilnya.

         “ Misi berhasil.” Teriak Bernad. Spontan  kegembiraan terjadi. Mereka saling berpelukan. Kalingga seakan masih tak percaya. Kepompong yang telah menjadi kupu kupu penghisap madu, bisa terbius seorang Bernad.

        “Ini serius?” Tanya Kalingga pada Bernad.

        “Nih loe baca!” Bernad memberikan selembar kertas pada Kalingga yang langsung dibacanya.

        “Bernad.. terima kasih terima kasih..” Kalingga memeluk Bernad haru. Tak bisa memendung butiran air di pelopak mata. Ia baru saja lolos dari lubang jarum.

        Lembayung senja menari di atas langit. Mentari itu bergeser ke ufuk barat dengan mengubah warna dari kuning keemasan menjadi jingga. Wajah wajah ceria terus menggowes diantara lalu lalang mobil dan motor bagai laron baru lepas dari sangkar. Begitu banyak dan padat. Pada jam pulang kantor di belahan sisi pinggi Jakarta ini memang akan padat mayarap. Namun Kalingga dan goweser lainya terus saja menggowes dengan santai menuju sebuah mall terbesar di daerah itu. Semangat berbagi membuat letih itu sirna. Sambil menggowes mereka membayangkan betapa kan gembiranya para anak kolong jembatan mendapat bingkisan keperluan mandi dan makanan untuk mengisi perut mereka yang mungkin saja pada hari ini belum makan.

Sesampainya di mall, mereka berbagi tugas. laki laki tugasnya mendorong troly dan yang perempuan memilih kebutuhan. Keseruan demi keseruan terjadi dalam membeli barang barang di mall hingga pengunjung lain menahan senyum. Pupung yang bertugas mendorong troly Kalingga, protes kala Kalingga menuju lorong pakaian dalam.

        “Kenapa sampai beliin celana dalem segala? Yang lain saja” Kata Pupung .Kalingga menghentikan langkahnya lalu menengok ke  arah Pupung.

        “Kenapa? “

       “Ya, kenapa. Kita belikan kaos saja.”

       “Dengar ya  tambun ganteng kayak sekuteng yang belum mateng.., sekarang gue tanya, kenapa loe pakai celana dalem?”

      “Hehehe biar anu gue nggak ke jepit!”

       “Nah, itu hanya fungsi salah satunya. Tapi mereka kadang  tak pernah berpikir untuk mengganti walau udah berumur tahunan dan kucel bin kusam. Karena perut lebih penting bagi mereka.”

       Kalingga narik nafas lalu katanya lagi,

       “Dan bagi perempuan, celana dalam itu adalah sebuah keharusan sebagai benteng perlindungan buat sang mahkota!”

      “Sekarang bantu gue deh pilihin buat yang cowok, Bagaimana?”  

        “Hah?”

       “Ayo..”

Dengan terpaksa sambil garuk kepala Pupung pun memilih milih warna pakaian dalam pria itu.

       “Apes gue!”

      “Hahahaha…” Kalingga tertawa melihat Pupung yang terus garuk kepala. Dari kejauhan, teman temannya yang sejak tadi memperhatikan pun tertawa ngakak.

Bersambung......

Halimah Munawir, Novelis dan pengurus harian IWAPI Jakarta

Iklan Duka Cita Ibunda Bupati Nagan Raya

Komentar

Loading...