Gadis Gowes (10)

Gadis Gowes (10)
Gadis Gowes

“Kalingga loe kenapa?” kata  Fifie dan Beb

        “Iya ada apa?” Pupung ikut bertanya sementara Tedi hanya memandang Kalingga.

      “Teman teman, sebelumnya gue minta maaf.” Akhirnya Kalingga bicara.  

      “Maaf???”

      “Iya maafin  gue.”

      “Untuk apa?”

      “Sebuah kebohongan.”

      “Maksud loe???”

      “ Gue bohong kalau duit 30 juta dari Rani  adalah uang pinjaman yang harus di kembalikan.”

      “Hah..?” teman temannya terkejut dan saling pandang.

     “Pantes loe malam itu gowes sepeda di malam buta.” Kata Beb.

     “Gowes di malam buta?” tanya yang lain serempak.”

     “Ho-oh.”

     “sekali lagi gue minta maaf nggak jujur dari awal.”

     “Udah, serahin ke gue! Nggak usah nagis gitu!” Akhirnya kata Bernad yang selalu di juluki teman temannya “Tom Cruise” sang penolong.

     “Nah, gue setuju. Serahin aja ayam kampus sama kucing garong. Hahahha” ledek Tedi.

    “Eh, loe ya sudah mau gue turun gunung !” Bernad memukul Tedi.

    “hahaha..ampun ampun..” Tedi ngeles dari pukulan Bernad. Mereka berkejaran. Semua tertawa.

     Malam terus merayap dalam dekap sunyi. Setelah berkejaran mereka kembali duduk bersama. Desir angin berbisik  pada suara suara terdiam. Tedi  mengusik, kebisuan dengan teriak “ada setannn..” serta merta    mereka kocar kacir. Kalingga, Fifie dan Beb lari tunggang langgang. Tidak dengan Bernad yang mengetahui itu pasti modus,

     “Modus loe,” Kata Bernad sambil meninju Tedi lalu pergi.

      Pagi menyapa diantara siulan burung gereja. Mentari tersenyum malu dan dingin menggigit tulang. Gadis gowes Kalingga berwajah sumringah. Apa yang selama ini mengganjal di dada mencair oleh  solidaritas yang terjaga kuat diantara mereka, 6 sahabat tersebut. Bernad atas dukungan teman temannya akan menyelesaikan masalah keuangan yang menyangkut Rani.  Udara sangat cerah walau disana sini masih terdapat kabut. Ke 6 sahabat itu  sudah bersiap menerima tantangan Sungai Cianten untuk melepas dekap letih lelah di sekujur badan dengan arung jeram. Ekstrim memang namun itulah mereka! Menurutnya hidup adalah sebuah tantangan dan arung jeram merupakan suatu aktivitas yang dapat dikatakan juga sebagai olahraga air yang cukup ekstrim atau menantang. Ini untuk kesekian kalinya mereka berolah raga air yang mengambil spot rafting Sungai Cianten.

        “Go go go!” teriak teriak gadis gowes setelah mereka mengisi perut untuk berjalan menuju Sungai Cianten dengan seragam olah raga. Perjalanan yang tak jauh dari penginapan itu mereka gunakan sebagai olah raga ringan dengan menggerakan tangan kepala maupun pinggang secara ringan agar lentur. Sesampainya di tempat tujuan, mereka satu persatu memakai helm dan pelampung dengan gaya sebagaimana layaknya pragawan pragawati.

Bernad yang memiliki postur tubuh dan wajah nyerempet bagai Tom Cruise, mengambil gaya bagai bintang film papan atas Hollywood dengan bayaran termahal  itu. Tom Cruise yang menyabet  berbagai penghargaan di jamannya. Sebagai salah satu The 50 Most Beautiful People In the World, The 100 Sexiest Stars in Film History, Hollywood’s Most Powerful Actor, The 100 Most Powerful Celebrities itu memang bintang film idolanya juga. Bukan karena secara kebetulan Bernad juga ayahnya berdarah Inggris. Tapi acting yang luar biasanya di film Mission Impossible  itu membuat Bernad terkagum.

       “Gaya loe oke juga, mirip Tom Cruise.” Puji Kalingga setelah di atas perahu karet.

      “Jangan salah, gue juga ada darah Inggrisnya. Nasib aja yang bedain. Hahaha. “ 

      “Sadar ya, loe dan dia bagai langit dan loe bumi.”

      “Jangan ngeledek gitu dong Ling, siapa tahu tiba tiba gue ketemu produser.”

Percakapan Bernad Kalingga terhenti kala seorang pemandu memberi arahan sebagai bekal selama raftimg. Mulai dari mendayung, membelokkan badan, membungkukkan badan dan lainnya.

      “Ini sekedar mengingatkan sebagai trik supaya Anda tetap aman dan bertahan dalam boat sepanjang perjalanan.” Pungkas pemandu. Karena dia tahu rombongan gadis gowes bukan hanya kali ini ber arung jeram di Cianten.

      “Dan tak usah panik dan takut  jika dari anda ada yang terjatuh. Ada petugas penyelamat” Pungkas pemandu. Namun walau mereka sudah beberapa kali rafting, tetap saja ketika atraksi di mulai, mereka berteriak teriak ketika kelokan dengan debit arus air yang kencang. Bahkan Beb lupa akan apa yang dikatan  “bay-watch”-nya Arus Liar itu hingga “Buum”!. Beb terpental ketika posisi perahu karet itu menghadapi turunan jeram yang curam. Kepanikan terjadi. Beb berteriak teriak. Seketika Bernad loncat dari perahu karet itu dan menangkap Beb

      “Beb.. Bernad.. “ Teman temannya terus berteriak memanggil nama kedua sahabatnya itu namun sia sia. Perahu terus melaju, tak dapat di kendalikan oleh karena curamnya keadaan. Bernad dan Beb tertinggal dan harus bertempur dengan arus.

      “Pegang gue Beb! Pegang gue!” Teriak Bernad berkali kali. Mereka terus saling berpegang erat diantara air sungai yang mengombang ambingkan tubuhnya.  Arus yang begitu kencang sangat menguras energi mereka.  Tenaga Beb mulai melemah.

      “Jangan kendor pegang gue Beb! Tambah energi loe. Loe pasti bisa!” Bernad memberi semangat. Namun Beb tak bersuara. Tubuhnya benar benar lunglai. Namun Bernad tetap mencoba tenang dan tidak panik. Terbayang bagaimana Tom Cruiss dalam film impossible bertarung dalam menyelamatkan diri membuat energi Bernad dalam kondisi stabil. Sementara kondisi Beb terus melemah. Pada saat hampir Beb terlepas dari Bernad, Bay-watch Arus Liar dengan cekatan menangkapnya. Merekapun kembali naik perahu karet.

     “Beb…” Kalingga menangis begitu mereka sampai di batas rafting.

     “Bernad,,, Beb…” Teriak mereka terus menerus dari pinggir sungai.

     “Tenang mba, mas, kita ada tim penyelamat. Bay-watch Arus Liar kita mempunyai jam terbang tinggi dan teruji.” Pemandu menenangkan hati mereka namun tetap saja mereka berteriak memanggi manggil Beb dan Bernad.

     “Beb…Bernad….hu..hu..hu..” Kalingga terus menerus memanggil kedua sahabatnya diantara isak tangis. Baru kali ini teman temannya melihat kepanikan dasyat dan tangis pilu Kalingga, Namun mereka maklum, Beb adalah teman sekamar dan Bernad teman curhatnya.  

    “Itu mereka itu mereka!” Teriak Tedi yang melihat titik keberadaan perahu karet dalam jarak jauh dan yakin disana ada Bernad dan Beb.

    “Mana?”

    “Mana?”

    Teman temannya bertanya tanya karena mata mereka memang belum bisa menangkap keberadaan Beb dan Bernad.

    “Loe jangan kasih kita angin Surga, Kuya!” Pupung memukul Tedi dengan ranting pohon.

    “Dasar mata loe aja yang picek. Lihat sekali lagi kesana!” Tedi menarik tubuh Pupung dan kepalanya diselipkan dalam ketiaknya.

    “Lihat tuh, mereka datang!” Lanjut Tedi yang membuat mata Pupung terbelalak.

    Merekapun bersorak gembira melihat perahu karet yang semakin dekat mengarah ke mereka membawa Bernad dan Beb. Kalingga terlihat  tak sabar memeluk Beb dan Bernad begitu naik ke darat.  Lalu yang lainpun ikut memeluk dua sahabatnya itu. Sekejap luapan kegembiraan terjadi dan  tak dapat terlukiskan. Mereka tak melihat tubuh Beb yang lunglai karena arus cukup menguras energinya. Beb pun tak kuasa lagi menopang diri. Pandangan mulai redup dan pingsan. Bernad segera menyanggahnya.

    “Beb…” Teriak mereka.

   “Bernad…”

       Pengalaman yang menegangkan memberi kesan terdalam dalam relung hati Beb. Dia terus mengingat apa yang terjadi pada arus air yang dasyat dan bagaimana Bernad mencoba menolongnya, memeluknya dan terus memberi spirit penuh khawatir. Beb yang ceria menjadi pendiam. Dan ia terlihat cemburu ketika Bernad mulai menjalankan misi dengan target Rani sebagaimana teman temannya meminta bahwa hanya Bernad yang dapat mendekati Rani. Sebaliknya Bernad, dia  waktu itu teringat buku filsafat yang pernah dibacanya. Tentang filsuf Aristoteles. Dimana  sang filsuf  mengutip syair horner  bahwa ketika yang dua bersama, teman meningkatkan kemampuan kita untuk bertindak dan berfikir.

     Rani yang selama ini tak pernah di telephone Bernad, sangat terkejut di ujung telpon ada suara Bernad yang khas itu menyanjungnya pula. Dan Rani masih terbengong kala tak ada lagi suara di ujung telepon setelah memintanya untuk datang ke café Bahasa. “Benarkah ini Bernad? Mau bertemu aku?” Rani terus bertanya dalam diri.  “Si Tom Cruise itu mau bertemu denganku?” Rani terus bertanya dan bertanya dalam derap langkahnya yang gemulai. Dan jantungpun berdetak tak keruan kala sosok Bernad sudah menunggu di kursi pojok. “Ah, kenapa kenapa aku seperti ini. Rani mencoba menguasai diri dan tersenyum ketika Bernad melambaikan tangannya. Setelah menaruh pantatnya pun Rani masih terlihat gugup sebuah angin segar bagi Bernad dalam memanah tepat sasaran.

Bersambung.....

Halimah Munawir, Novelis dan pengurus harian IWAPI Jakarta

Komentar

Loading...