Gadis Gowes (2)

Gadis Gowes (2)
Gadis Gowes

      “Ehem!” Tedi membuka suara. Suara Tedi tentu saja mengagetkan semua temannya yang ada di ruang himpunan tersebut. Semua mata pun tertuju pada tedi.    Tedi cuek dan langsung duduk diantara mereka sambil  berkata:     
        "Menurut kawruh Kejawen, pengetahuan spiritual Jawa yang merupakan satu kebenaran dan kenyataan, setiap manusia selalu didampingi oleh saudara-saudara halusnya. Dari begitu banyak bibit kehidupan berupa sperma sehat calon Bapak yang masuk dalam gua garba ibu, hanya satu yang menjadi janin dan ketika sudah sembilan bulan dikandungan ibu, terlahir sebagai bayi. Bisa juga dua atau lima , kalau terjadi bayi kembar. Jadi banyak bibit kehidupan yang tidak mendapatkan kesempatan untuk terlahir sebagai bayi manusia.Sedangkan yang telah menjadi bayi , tumbuh menjadi manusia untuk menjalani kehidupan didunia ini. Oleh karena itu, kita yang  menjadi manusia, wajib mensyukuri hidup ini dan mengisi kehidupan di dunia ini dengan benar, baik dan berguna bagi sesama dan jagat ini." Kata Tedi bagai memberi kuliah di depan kelas dan semua yang mendengarkan terhipnotis untuk mengikuti kuliahnya itu.  Namun usai Tedi memberi kuliah, Bernad langsung tertawa terbahak.

         "Hahaha....mbah primbon datang. Klop deh."

        " Hei Nad, Primbon juga sebuah ilmu pengetahuan warisan leluhur, tauk. " Pupung membela.

         “Kita hargailah..kalau loe nggak mau merawatnya!” lanjut Pupung.

       “Nah betul itu! Tos Pung!” Tedi dan Pupung beradu telapak tangan.

       “Mesti kita kuliah di ekonomi, soal leluhur dimana loe tinggal, jangan di lupa.” Timpal Fifi yang selama ini menyimpan hati pada Tedi.
        "Ah udah cuekin aja si Bernad.  Nih gue terusin kuliah soal ari ari. " kata Tedi.

Dan tanpa mendapat kata sepakat teman-temannya, Tedi langsung mengupas masalah ari-ari.
        "Manusia  hidup yang berujud bleger- raga eteris dan fisik, didalamnya berupa sukma, yang dalam spiritualitas sering dipanggil pribadi sejati atau Higher Self dan pada penampilan luarnya berujud manusia yang beraga.(Mengenai Pribadi Sejati atau Higher Self, ada sementara spiritualis muda kita, yang menyebutnya dengan “ Kembaran Saya”, mereka berdalih pada waktu ketemu dengan Pribadi Sejati, rupa dan bentuknya persis seperti dirinya)." Tedi menarik nafas lalu siap melanjutkan ceramahnya namun oleh Kalingga di stop.
         "Stop! Stop, stop..!   kita kumpul disini mau rapatin soal cari dana buat acara balap sepeda. " Ujar Kalingga.
         "Sedikit lagi Lingga, biar pada tauk, di dekat lo, lo ,lo , lo dan lo ada kembaran lo pada! " Kata tedi serius sambil menunjuk satu persatu teman temannya.
Keruan saja mereka masing masing menengok ke kiri dan ke kanan dengan wajah ketakutan. Karena memang mereka merasakan bulu kuduknya pada bangun.
         " Cukup! “ Kata Kalingga keras membungkam mulut Tedi.

        “Sekarang lo duduk!” Perintah Kalingga bagai magnit penjinak. Tedi yang tadi berapi api kasih kuliah soal ari-ari terlihat mengkeret seketika  lalu duduk manis di samping Beb yang disambuk dengan tertawa dan kata,

        “hahaha loe kayak bunga putri, di geprak langsung mengkeret!”

           “Beb……” Teriak Kalingga.

Sebuah teriakan yang langsung membuat Beb  langsung mingkem. Beb tahu betul saat Kalingga serius marah dan tidak. Suasanapun menjadi hening dan semua memasang wajah serius

   “Maaf teman teman, kali ini gue mohon pada serius. Acara Balap Sepeda kita sudah dalam hitungan minggu.” Ujar Kalingga memecah keheningan yang ada.

    “Kita mulai rapat bagaimana? “ Lanjut Kalingga.

    “Setuju.” Jawab Fifi.

    “Okelah...” Bernad menimpali.

    “Bungkus...” lanjut yang lainnya.

    “Baiklah, kita mulai dengan minta laporan soal sponsorship dari Fifi.”

Akhirnya  Kalingga memulai  rapat Balap Sepeda antar kampus yang diawali laporan Fifi sebagai sie sponsorship yang masih zero untuk nilai nominal. Sponsor yang ada masih dalam bentuk produk. Seketika langit mendung menghias pada wajah wajah mereka. Kerongkongan langsung kering dan terasa tersumpal batu karang sulit di dorong nada suara.  Rasa pesimis keberlangsungan angan mereka akan dapat menyelenggarakan  Balap Sepeda bergelayut. Sesak di dadapun dirasakan Kalingga, namun walau begitu Kalingga tetap memberi semangat teman temannya itu. Bahwa selagi nafas masih ada, dan tetap berkerja keras,  jalan masih terbentang luas untuk menyelenggarakan acara Balap Sepeda

     “Kalian nggak usah pasang wajah pesimis! Kita harus tetap optimis dan semangat. Kita di support pak Rektor dan wakilnya. Yakinlan kita dapat melaksanakan lomba ini. Masa beliau beliau akan tutup mata?” Kata Kalingga penuh semangat dan membangkitkan energi positif hingga teman temannya menjadi kembali semangat serta langsung menggulirkan rasa pesimis yang sempat singgah.   Kalingga  bagai penyihir kesohor  Marie Catherine Leyeau dari Louisiana yang mana banyak pemimpin negara datang padanya. Oleh sebab selain terkenal sebagai tukang sihir voodoo, Marie Layeau juga ahli dalam membuat ramuan sihir, mengendalikan pikiran orang , telekinesis dan banyak pengikutnya.

      Akhirnya Kalingga pun membuat plane A dan B dalam lomba balap sepeda  menyambut Hari Sumpah Pemuda itu. Rapatpun kembali semarak oleh ide ide yang cemerlang . Mereka saling menguatkan dan penuh keyakinan bisa menyelenggarakan lomba balap sepeda   dengan sukses. Padahal, di lubuk hati terdalam Kalingga, tampak  terjadi gejolak  nan dasyat apakah moment balap sepeda terselenggara. Namun bagai seorang ibu yang melihat lumbung padi kosong, walau gundah gulana ia tetap memberi semangat pada orang yang di cintainya bahwa tidak mustahil gusti Allah memberi pertolongan dalam kesulitan. Begitulah Kalingga hingga rapat berjalan penuh semangat dan optimis.  

      Pagi ini secangkir kopi menemani  Kalingga di kantin Jepang , sebuah tempat favorite oleh karena nuansa  tenang dengan hembusan angin semilir mengipas. Pelayannya juga ramah. Walau ia berlama lama disana hanya pesan pisang goreng keju dan kopi, mereka tetap mengembangkan senyum manis. Namun kali ini baru saja pisang keju tersaji, Kalingga harus meninggalkannya dan tergesa keluar dari kantin dengan diiringi dua pasang mata bola pelayan yang bengong. Baru saja rektor telpon dan meminta Kalingga datang ke ruangannya. Saking terburu burunya, Kalingga menyenggol seseorang di jalan. Ia terpana melihat sosok wanita yang di senggolnya tadi. Cantik dan bersih. Tak da tampang mahasiswa. Di lihatnya tas dan sepatunya, semua bermerek.

      “Maaf, maaf. “ Kalingga memohon maaf.

      “Hi Kalingga cantik.. apa kabar?” sapa yang di senggol. Mendengar suaranya Kalingga merasa tak asing.

     “Kenapa wajahmu kusut? Dan seperti tak kenal aku pula.?” Lanjut wanita itu. Kalingga menatap dalam dalam wajah cantik di hadapannya.

     “Duh, jangan menatap aku seperti itu dong! Aku Rani, teman es em pe dulu. Masa lupa? “

    “Ya ampun Rani, kuliah disini juga? Ambil jurusan apa? Kok jarang ketemu kita? Wah…penampilanmu ..”

    “Kenapa penampilanku? Bagai langit dan bumi jika di banding waktu es em pe?”

     “hahaha menjawab sendiri.“ Lingga tertawa.

       Kalingga jadi ingat masa lalu ketika masih duduk di SMP. Antara Kalingga dan Rani pernah satu kelas. Waktu itu Rani selalu mendapat julukan gadis cupu. Datang ke sekolah selalu terlambat. Rambutnya kusam dan bercabang cabang. Tas dan sepatu yang di kenakannyapun tanpa merk.  Tapi sekarang? Dari ujung kaki sampai ujung rambut Rani berbalik 180 derajat! Wajah yang dulu dihiasi jerawat, kini mulus  mengkilat.. Matanya yang coklat disembunyikan dengan soflent biru.

     “kok loe menatap gue gitu sih?” Rani protes demi melihat Kalingga memperhatikan Rani dari ujung rambut sampai ujung kaki.

     “sorry jangan tersinggung. Gue cuma bandingin loe semasa es em pe dengan sekarang sungguh terbalik.” Kalingga bicara apa adanya.

     “Hahahaha...loe heran si cupu berubah? Loe pikir kepompong akan terus jadi kepompong? Ya nggak lah..... dari kepompong itu gue banyak belajar. Kalau mau cantik dan indah sebagai kupu kupu, harus tahan dan berusaha merubah diri. “

     “Maksud loe?” Kalingga mengernyitkan kening nya tanda tak paham.

     “Rani nama gue, sejak es em pe sampai es em a, dengan seenak udel, Rani dilenyapkan diganti cupu. Sakitnya tuh disini!” suara Rani parau dan telunjuknya  menunjuk dadanya.

     Tentu saja Kalingga terkejut. Ternyata selama ini Rani menyimpan perasaan sakit hati atas panggilan julukan dari teman temannya. Padahal selama itu dia terlihat cuek saja. Dan Kalingga yakin tak satupun temannya mengetahui kalau Rani menyimpan rasa sakit di hati. Karena di sekolah adalah hal yang biasa memberi panggilan cupu, dodol, gembel, dan sejenisnya. Namun ternyata tidak dengan Rani. Dan apa hubungannya dengan kepompong?

     “Temen temen keterlaluan jika bicara. Nama pemberian orang tua mereka injak dan seenaknya menggantinya dengan kata cupu. Ibu gue singgle parent yang harus hidupin dua orang anak. Loe tau kan berapa gaji pegawai negeri? Sementara tiap bulan harus bayar kontrakan. Mana bisa beliin tas mahal seperti mereka. Apalagi merawat rambut dan muka di salon.” Rani memuntahkan uneg uneg yang selama ini tersimpan rapih. Kalingga mencoba menyimak.

     “Maafin kita kita Rin, gue nggak nyangka sejauh itu perasaan loe atas panggilan cupu dari kita kita.” Kalingga mencoba menenangkan Rani yang mulai terlihat emosi. Namun Rani memotongnya.

    “Bukan kita kita Lingga, tapi mereka.. Loe ketua osis yang baik , selalu hardik mereka agar panggil gue Rani. “ Kata Rani.

    “Gue masih ingat betul Kalingga.” Lanjut Rani setelah menarik nafas panjang.

   “Memory loe leih bagus dari gue.” Akhirnya kata Kalingga.

   “Tapi tetep loe leih pintar dari gue.” Rani memuji Kalingga.

Bersambung....

Halimah Munawir, novelis dan pengurus harian IWAPI Jakarta.

Komentar

Loading...