Gadis Gowes (18)

Gadis Gowes (18)
Gadis Gowes

    “Hello..selamat pagi ..” Fifi pun langsung menengok kearah suara itu dengan sumringah dan melupakan dengan apa yang ia akan katakan tadi. Kesumringahan hanya sekejap. Karena Kalingga, Beb dan  Bernad ada di belakang Tedi.

     “Frend, semalam aku ngobrol sama para guide. Ada info menarik.” Pupung membuka obrolan kala mereka semua sudah menempelkan pantatnya di kursi resto itu dengan menu makan padinya.

           “Apa tuh?” Tanya mereka serempak kecuali Fifi.

          “ Kalau kita mau melihat orang asli Labuan Bajo dengan budayanya, kita bisa ke pasar  Wae Kosambi.”

         “Kok di pasar sih?” Beb menanggapi.

        “Duh loe ya Beb, kebiasaan banget memotong pembicaaan orang. Dengar dulu deh Beb apa yang akan dikatakan Pupung. Kita kesini juga harus ada oleh oleh sejarah.” Tedi membungkan Beb lalu meminta Pupung meneruskan omongannya. Beb cemberut.

    “Guide itu bilang, di Pasar Wae Kosambi, kita dapat melihat orang asli dan budaya nya juga makanan khas yang mereka miliki. Dan yang menarik, disana kita akan menemui sejuta senyum.”

    “Loe jangan ngarang, mana ada orang seisi pasar jumlahnya satu juta.” Bernad menyela.

    “Hahaha... maksud gue, disana terkenal dengan  sejuta senyum. Orang asli sini jika bertemu orang pasti akan tersenyum. Maka ada julukan sejuta senyum itu. Payah, nggak pernah baca sejarah budaya”. Pungkas Pupung.

    “Kuya, loe pun baru tahu dari guide, bukan karena baca buku sejarah!”  Bernad membela diri.

    “Dasar!”

    “Santai, men!”

     Teman temannya tertawa melihat Pupung dan Bernad saling debad. Namun tak lama karena Pupung kembali melanjut bercerita.

     “ Tak jauh dari Pasar Wae Kosambi, kita bisa ke Goa Batu Cermin.”

    “Eh, Tambun, loe jangan merubah scedule yang sudah kita rencanakan. “  Tiba tiba  Fifie memotong cerita Pupung dengan sedikit  sewot.

    “Biar kita dengarkan dulu informasinya Fi, siapa tau menarik. Lagi pula jika mau lihat Golden Sunset kan harus sore hari biar kita nggak gosong.“  Kalingga ikut bicara dan Fifie pun  terdiam dengan wajah masam.

     “Ayo bro lanjut!” Tedi menimpali.

      ‘Ehem.” Pupung mendehem sebelum melanjutkan ceritanya lalu menarik nafas panjang. Semakin membuat Fifi dongkol.

   “Goa Batu Cermin bukan sembarang Goa. Tapi juga sebagai keajaiban dunia. Goa itu tadinya ada di bawah permukaan laut, sekarang berada di atas permukaan laut. Menurut guide semalam, Theodore Verhoven, seorang pastor dari Belanda yang juga seorang arkeologi, menemukan fosil fosil sejarahnya. Yang pasti di dalam Goa itu cahaya matahari masuk diantara celah celah  goa. Karena sinar itu dipantulkan oleh dinding dinding goa yang mempunyai kandungan garam, sehingga terlefleksilah pantulan sinar mentari ba’ cermin.   “ jelas Pupung.

   “Wah, menarik nih.”

   “Iya gue jadi penasaran.”

  “Gue juga jadi pingin lihat.”

  “Gue juga mau deh..hehehe..”

Melihat teman temannya antusias atas cerita Pupung, Fifi yang tadinya tidak suka dengan cerita  Pupung itu tergelitik untuk bertanya.

    “Tapi, kesana jauh nggak?” Akhirnya tanya Fifie.

   “Hanya beberapa menit.” Jawab Pupung cepat.

   “Lagi pula betul kata Kalingga,  kalau kita ke Bukit Cinta bagusnya tuh sampai disana sore, tepatnya  jam 17.00 WITA. Kan yang akan kita buru adalah golden sunset nya? Lah kalau pagi pagi kita kesana apa yang mau dilihat. Yang ada Gosong. Disana mentarinya terlalu menyengat. Loe mau kulit putih mulus dan halus mulus terpanggang teriknya mentari?” Lanjut Pupung.

  “Oke, oke. Kali ini gue ikut kesepakat bersama. Ke Pasar Wae Kosambi terus ke Goa Bukit cermin.” Akhirnya kata Fifie menyerah. Teman teman pun bersorak horeeee. Tedi memainkan musik asal, memukul piring makannya dengan sendok dan garpu.

     “Yes, gitu dong nona manis..” Tangan jahil Pupung menyentuh dagu Fifie yang kian hari tampak kian tirus. Fifi tak dapat mengelak dari sentuhan itu. Karena begitu cepat, dan tak pernah menduganya. Ia ingin marah namun semua teman teman nya sedang dalam kegembiraan dengan tawa renyah. Tak lama kemudian mereka bersiap pergi, Fifie pun kembali menekankan harus tak terlambat melihat moment golden sunset di bukit cinta..

     “Yang pasti, gue nggak mau kehilangan moment golden sunset dan mengabadikan spot spot sepanjang bukit. Disana kata sepupu gue banyak yang menarik.” 

     “So pastinya..” jawab teman temannya serempak.

     Tedi membantu membawakan ransel Kalingga yang berisi banyak snack untuk di jalan. Membuat energi panas datang di lubuk hati seseorang yang sesungguhnya menyimpan sebongkah cinta pada Tedi. Namun aura power Kalingga serta persahabatan yang indah  menjadikan bongkahan cinta tersebut tetap bersemayam dalam dada bagai lahar dalam gunung.

      Berkendaraan di jalan protokol menuju Pasar Tradisional Wae Kesambi di pagi hari sangat lenggang namun kesehariannya pun tidaklah sepadat kendaraan di Jakarta. Kebanyakan Transportasi penduduk disana memakai kendaraan alami, yang bernama kaki. Hingga disana masyarakatnya terlihat kuat kuat karena  sudah terbiasa mereka berjalan kaki kiloan meter dengan beban barang di kepala dan kedua tangannya. Apalagi konon sebelum kota kecil di Nusa Tenggara Timur yang sekarang terkenal dengan nama Laboan Bajo ini, walau mempunyai keindahan alam yang luar biasa, ibaratnya seperti intan yang masih tersembunyi dalam bebatuan. Masyarakatnya yang hidup di pedalaman Ruteng, sekedar hanya ingin membeli lauk yang bernama ikan asin,  harus berjalan kaki di hutan belukar, menerjang bebatuan, menyeberangi sungai dengan aliran air yang sangat deras. Jika dengan perahu nelayan, bersiap nyawa menjadi taruhannya kala angin musim barat. Hingga tak heran jika nama pelabuhan itu bernama Labuan Bajo.

Menurut sejarahnya, Labuan itu berasal dari kata labuhan yakni desa yang dijadikan tempat berlabuh bagi orang orang yang berasal dari Bajo dan Bugis Sulawesi Selatan. Namun ternyata tempat tersebut  bukan hanya dijadikan tempat bersandarnya atau berlabuhnya kapal yang mereka bawa melainkan juga hati mereka pun berlabuh disana, di hati para gadis yang selalu tersenyum walau kehidupan mereka tergantung pada alam dan apa adanya. Sampai mereka beranak pinak disana dengan terus melakukan pembaharuan ekonomi di jaman itu, jaman dimana konon belum ada negara yang bernama Indonesia. Maka ketika akan dibangun labuhan, sebagai rasa terima kasih dan untuk mengabadikan nama suku orang orang Bajo yang telah berlabuh disana maka masyarakat setempat sepakat memakai nama Bajo untuk labuhan tersebut. Sungguh luar biasa nenek moyang kita, selain terkenal sebagai pelaut ulung sebagaimana lirik lagu anak anak yang di ciptakan oleh Ibu Soed pada tahun 1940, “Nenek Moyangku Orang pelaut”,  nenek moyang kita pun seorang yang ramah, murah senyum, dan menghargai orang lain yang telah berjasa. Dapat dibaratkan nenek moyang kita mempunyai prilaku yang sangat menjunjung tinggi adat dan budaya yang memberi makna terima kasih pada orang yang telah berjasa pada mereka.

Jadi pribahasa yang mengatakan bahwa “Kacang lupa pada kulitnya” sesungguhnya tidak berlaku di jaman nenek moyang kita. Karena pribahasa tersebut memberi julukan orang yang tidak mempunyai nyali. Orang yang lupa akan akan asalnya. Orang yang lupa pada jasa orang lain. Namun seiringnya waktu berputar,  kita banyak melihat orang orang seperti pribahasa “Kacang Lupa Pada Kulitnya”. Adat dan budaya yang di wariskan nenek moyang kita terus menerus tergerus oleh era penjajahan para kapitalis yang kian waktu merubah  peradaban.  Banyak orang terkontiminasi oleh yang namanya individualistik, sebuah paham yang menganut kebebasan pribadi dan mementingkan kebebasan tersebut dibandingkan orang lain. Atau mungkin  juga orang orang yang menjadi golongannya itu  terinspirasi bagaimana sebuah negara seperti Belanda dapat memiliki kekayaan alam dengan menjajah Indonesia selama 350 tahun.

Padahal mungkin saja orang tersebut merasakan juga betapa sengsaranya rakyat kala itu, namun konsumerisme yang di bangun oleh para kapitalis, lebih menyilaukan dari pada sebuah sejarah. Atau juga sangat jauh dari ajaran ajaran agama yang banyak mengandung makna kasih sayang, cinta kasih, berbagi rizki dari yang kaya kepada orang miskin  harus di bangun antar sesama. Sebagai mana orang orang Bajo yang berlabuh di ujung Timur Indonesia, Flores yang kini menjadi sebuah destinasi kelas dunia dan telah tercatat sebagai keajaiban dunia ke tujuh itu. Menjadikan para wisatawan lokal maupun mancanegara lapar mata dibuatnya. Karena Labuan Bajo yang dulu bagai Intan kusam kini bersinar ba’ berlian eropa sebuah berlian pilihan orang berkelas. Gemerlap walau di tempat gelap.

Penampakan Labuan Bajo yang kian Seksi dan menawan ,  menggoda pula para  selebritis dan tokoh yang bertandang kesana. Bahkan bintang persepakbolaan dunia Bayern Muenchen Arjen Robben dari Belanda dan Marcos Liorente sang  pemain muda  Real madrid yang berkewarganegaraan Spanyol juga menginjakan kakinya ke Labuan Bajo. Ini pula yang memberi magnet enam sekawan untuk menikmati alam Labuan Bajo dengan atas nama persahabatan, tiket ditanggung Fifi, anak konglomerat yang baik hati.

      Kini Kalingga dan teman temannya telah sampai di Pasar Wae Kusambi dan benar apa yang telah dikatakan guide Roman bahwa jika ingin melihat wajah asli orang Flores datanglah ke Pasar Wae Kusambi. Para pedagang di pasar tersebut di dominasi oleh wajah wajah wanita asli Flores. Rambut kriting, warna kulit hitam dengan postur tubuh berotot  kekar serta bersahabat. Senyum mengembang ramah kala rombongan mendekati mereka dan berinteraksi penuh pesona. Fifi yang awalnya protes atas ajakan Pupung dan dengan terpaksa harus ikut juga mengunjungi Pasar Wae Kusambi, justrul dia yang banyak memborong makanan khas Flores yang ada disana bahkan membelikan banyak ikan dan sayuran untuk keluarga Roman di rumah. Pun ketika saatnya tiba di Goa Batu Cermin yang mempunyai luas sekitar 19 hektar dan ketinggian bebatuannya mencapai 75 meter, Fifie justru yang heboh kala memasuki  Goa yang memberi pemandangan pantulan cahaya mentari indah berseri. Moment dalam goa yang hanya dapat di nikmati sepanjang 200 meter dengan kedalaman 20 meter tersebut, Fifi merapat dekat Tedi yang berjalan bersama Kalingga namun Pupung menempelnya. Dan Beb tentu saja sedapat mungkin selalu beriringan dengan Bernad. Senggol senggolan di Goa Batu Cermin yang sempit ditambah sorotan mentari dari celah goa, memberi kehangatan hakiki tentunya.

Fifie dan teman temannya terlihat puas ketika meninggalkan Goa Batu Cermin tersebut untuk kemudian mereka melanjutkan traveling ke Bukit Cinta, sebuah nama yang romantis untuk didengar. Diberikan nama Bukit Cinta karena tempat ini  adalah  sebuah bukit yang menjadi favorite pasangan muda untuk memadu kasih di atas bukit sambil menikmati pemandangan dan panorama yang amazing. Trekkingnya  juga sangat lebih ringan dan lebih dekat jika dibandingkan naik ke bukit Pulau Padar.  Hanya butuh waktu 10 sampai 15 menit saja. Selama perjalanan kesana tidak akan membosankan. Kita dapat memandang pohon pohon aren dengan hembusan semilir angin nan sejuk. Mata pun jika telah sampai di atas bukit akan dimanjakan dengan bukit bukit nan hijau dalam lingkaran laut nan biru juga pemandangan cantik Kota  Labuan Bajo tentunya. Dan dari semua itu, akan ada penampilan pesona ilahiyah yang sangat ditunggu yang akan datang tepat pada pukul 17.30 WIT. Langit biru perlahan namun pasti memunculkan warna orange keemasan.  Alias Golden Sunset!

Bersambung..........

Halimah Munawir, novelis dan pengurus harian IWAPI Jakarta

Komentar

Loading...