Festival Tembakau Madura #2

Festival Tembakau Madura #2
Ist

CAKRADUNIA.CO, Madura - Tidak  dapat dipungkiri bahwa pandemi Covid-19 menyebabkan perekonomian dunia tidak stabil, bahkan di Indonesia telah mengalami resesi. Pelemahan ekonomi secara global ini mengakibatkan PHK secara massal, dari bagian pemilik usaha sendiri juga mendapati kerugian. Selain PHK, permintaan, suplai, produksi, tersendat.

Kemudian usaha-usaha jadi gulung tikar. Keadaan ini tentu berimbas hingga akar rumput. Sektoral paling mendasar di bidang produksi yaitu pertanian, dimana bahan-bahan baku produksi disediakan.

Masyarakat Desa Lebeng Timur merupakan kelompok masyarakat dengan kultur agraris. Sebagian besar penduduknya tentu sangat menggantungkan hidupnya dari hasil bumi. Mereka yang bekerja di sektor pertanian ini sangat merasakan dampak ekonomi akibat pandemi. Hasil pertanian tembakau tahun ini tidak dapat diserap secara maksimal oleh gudang dan pabrik tembakau. Sebagian lagi, laku dengan harga yang sangat rendah.

Pandemi Covid-19, tidak sekadar merontokkan perekonomian, tetapi juga—dapat diimajinasikan—telah meruntuhkan rantai-rantai sosial kemasyarakatan. Adanya pembatasan sosial, seperti pelarangan mobilisasi sosial, social distancing,  pembelajaran jarak jauh, work from home, dan seterusnya, telah menggambarkan imajinasi itu dengan nyata.

Sementara, nilai-nilai dalam masyarakat agraris adalah kegotong-royongan (Madura, ajhung-rojhung). Dalam keadaan seperti inilah, nilai-nilai tersebut harus direpresentasi sebagai upaya untuk saling menolong dan saling menguatkan satu sama lain.

Dalam menyongsong era kenormalan baru (new normal), hal itu dapat dilecut dengan suatu kegiatan komunal yang melibatkan seluruh anggota masyarakat desa. Kegiatan dalam bentuk festival merupakan suatu upaya yang masuk akal untuk membangun kembali rantai-rantai sosial yang sempat terputus di masa pandemi Covid-19. Festival dapat menjadi salah satu upaya rehabilitasi sosial yang efektif.   

Ketua Yayasan Masyarakat Tembakau Lebeng Timur, Jufiyanto mengatakan, Festival Tembakau Madura #2 hadir kembali dengan mengusung tema “Rehabilitasi Sosial dengan Semangat Kegotong-royongan di Masa Kenormalan Baru”.

“Memang, sejatinya era kenormalan baru bukanlah kewajaran seperti sedia kala sebelum pandemi. Segala aktivitas tetap dianjurkan untuk selalu memperhatikan protokol kesehatan. Maka, kegiatan ini sepenuhnya diupayakan dengan menerapkan hal itu,”katanya.

Kegiatan ini dilakukan dalam lingkup internal masyarakat Desa Lebeng Timur saja, dan tertutup untuk masyarakat umum. Sementara, untuk masyarakat umum, kegiatan ini dilakukan dengan konsep virtual. Masyarakat umum dari luar Desa Lebeng Timur disilahkan untuk menyaksikan kegiatan ini melalui platform youtube dan instragram, yaitu di kanal youtube dan instagram Festival Tembakau Madura.

Ketua Pelaksana Festival Tembakau Madura #2, Moh. Muchlis menyebutkan Festival Tembakau Madura #2 akan digelar secara virtual pada hari Sabtu, 24 Oktober 2020 di Desa Lebeng Timur, Kecamatan Pasongsongan, Sumenep.

Kegiatan  festival tersebut, tambahnya, akan dimulai—pada pagi hingga siang—dengan Pesta Panen Ikan yang akan dilakukan secara bersama-sama oleh masyarakat Desa Lebeng Timur, mulai dari penangkapan, pengolahan hingga makan bersama di tepian waduk desa. Acara akan dilanjutkan pada sore harinya yaitu Permainan Tradisional Rakyat, yaitu kerrabhân opè dan pè-sapèyan. Sepanjang hari hingga malam, terdapat pula Galeri Tembakau, Parade Tembakau dan Kopi Kacang.

Galeri Tembakau merupakan kegiatan pameran foto tentang jenis-jenis tembakau Madura, kegiatan petani sepanjang musim tembakau dan dokumentasi acara kegiatan Festival Tembakau Madura tahun lalu. Parade Tembakau merupakan acara pameran dari jenis tembakau Madura, dan masyarakat diperbolehkan untuk mencicipi setiap jenis tembakau.

Kopi Kacang merupakan suguhan khas pada saat musim panen tembakau tiba. Sajian untuk menjamu para perajang yang bekerja mengiris daun tembakau. Istilah Kopi Kacang inilah yang kemudian dijadikan judul acara untuk stand desa yang menyajikan makanan khas dari masyarakat tembakau. Puncak acara dilaksanakan pada malam harinya, yaitu Tasyakuran Desa dan pelepasan Dhâmar Korong.

“Masyarakat Desa Lebeng Timur tidak menggantungkan hidupnya semata-mata pada kegiatan ekonomi yang melibatkan pertukaran barang dan jasa. Mereka lebih menggantungkan hidupnya pada hasil bumi (alam),”kata Mohd Muchlis.

Patut disyukuri bahwa dalam kondisi ekonomi yang sulit, alam masih menghidupi mereka. Maka kegiatan Festival Tembakau #2 ini dapat menjadi ruang bermunajat untuk bersyukur dan berdoa kepada Allah SWT agar pandemi Covid-19 benar-benar berlalu. Artinya, Festival Tembakau #2 ini akan membuka ruang spiritual dan sosial bagi masyarakat Desa Lebeng Timur. [mw]

Iklan Duka Cita Ibunda Bupati Nagan Raya

Komentar

Loading...