Breaking News

Fachry Ali Reuni dengan Penyair Aceh

Fachry Ali Reuni dengan Penyair Aceh
Fachry Ali bersama sastrawan Aceh diantara D Kemalawati (kanan), Wina SW1 (kiri), Rahmad Sanjaya, pelukis Yusrizal Ibrahim dan lain-lain. Foto/Ist

CAKRADUNIA.CO - Pakar Komunikasi Politik Indonesia asal Aceh, Fachry Ali ketika kembali ke Aceh, Minggu 28 April 2019 lalu sempat melakukan reuni dengan seniman Aceh yang pernah menggelar baca puisi 230 menit di Anjong Mon Mata Banda Aceh tahun 1992 lalu.

Dalam pertemuan yang berlangsung dua kali (pertama di Hermes Hotel, dan kedua di Cafe Bin Hamid), Fahry Ali terus menerus menyampaikan kesannya saat mengadakan Baca Puisi 230 Menit dengan berbagai kisah yang mengundang tawa.

Menurut Fachry, kita perlu ekspos secara global, maka kita perlu dunia sastra. Karena dunia sastra itu adalah substansi dari intelektualisme. Untuk itu perlu adanya kolaborasi dengan kekuatan-kekuatan kosmopolit lain, terutama Kompas, Tempo, setelah itu kaum intelektual  global.

“Ini bagian dari strategi kebudayaan yang sangat penting,”katanya.

Fachry Ali sangat senang ketika menerima dua buku Kumpulan Puisi terbitan Lembaga Lapena yaitu antologi puisi 9 negara Menembus Arus Menyelami Aceh dan antologi puisi 3 Penyair Prempuan Aceh (Rosni Idham, D Kemalawati, dan Wina SW1) berjudul Bungakupula.

Berikut testimoni Fachry Ali untuk buku puisi Bungakupula di beranda Facebooknya hari ini (1 Mei 2019) sebagai berikut.

Dalam usaha mengumpulkan bahan  untuk tesis di Monash University, Clayton, Melbourne, saya kembali ke Aceh pada 1992. Entah mengapa, begitu lihat struktur bangunan Anjong Mon Mata di belakang Meuligou Gubernur, terpikir tentang acara baca puisi.

Aneh, Gubernur Ibrahim Hasan (1987-1992) justru antusias. Maka, saya kumpulkan para penyair Aceh, salah satunya Maskirbi. Abad berganti, pada akhir April 2019, ketika kembali ke Banda Aceh, saya kembali berkumpul dengan para penyair dan seniman Aceh.

“Ini semacam reuni 1992. Kepada saya diberikan beberapa buku. Salah satunya adalah ‘Bungakupula’, kumpulan sajak penyair perempuan Aceh: D Kemalawati, Rosni Idham, D Kemalawati dan Wina SW1,”kata Fahry senang.

Rosni, antara lain, bicara tentang laut. ‘Aku terpaku menatap/Keganasan laut mengikis pantai/Di sini kurakitkan hati/Kuhanyutkan duka di ujung muara.’

Dan Kemalawati memuncratkan perasaan dahsyat: ‘Kita adalah pelayat/Sekaligus mayat/di pelabuhan kata-kata.’ Dan Wina yg menulis dari Kyoto, Jepang, pd 1999 yg bergolak itu berjata: ‘mereka, para penguasa negeri yg mencintai rakyatnya/yg selalu bicara ttg kemerdekaan, cinta dan harapan/ ... mengirim kebusukan/dan membuat nyawa tak lagi berarti.’

Sajak2 ini terasa bagai ‘renaisans’ Aceh ketika rasa dan intelektualisme lebih dikedepankan daripada bedil dan mesiu.

Sayang, kata Yusrizal Ibrahim, seorang pelukis Aceh, Maskirbi tak lagi bersama kita. Melalui tsunami akhir 2004, Kirbi telah menemui Sang Pencipta.

Dedi Fathurrahman

Iklan Duka Cita Ibunda Bupati Nagan Raya

Komentar

Loading...