Eksistensi PLN Ditengah Pandemi & Ramadhan Dipertanyakan

Eksistensi PLN Ditengah Pandemi & Ramadhan Dipertanyakan
Ilustrasi listrik padam. Foto/Getty Iamges

CAKRADUNIA.CO, Calang - Kinerja dan pelayanan Perusahaan Listrik Negara (PLN) yang belum maksimal menjadi bukti negara belum berhasil mensejahterakan rakyat.

Pemadam listrik yang terus terjadi merupakan sebuah kesengsaraan bagi rakyat disebuah negara yang merdeka, khususnya umat muslim Indonesia yang sedang menjalankan ibadah puasa bulan suci ramadhan ditengah darurat pandemi Covid-19.

Keprihatinan itu disampaikan Nasri Saputra salah seorang pemuda Aceh Jaya kepada media, Selasa (5/5/2020).

Menurut politisi muda PDA itu, apapun alasan yang diungkap PLN itu tidak rasional dan tidak logika karena negara kita sudah merdeka semenjak tahun 1945. Mestinya PLN sebagai perusahaan milik negara sebagai penyedia pasokan listrik harus berpacu untuk berbenah bagaimana mengatasi krisis listrik yang sedang melanda negeri ini.

"Eksistensi PLN belum terlihat dalam mendorong Indonesia maju, ditengah pandami, di hadiahkan seringnya padam lampu pada waktu berbuka dan sahur. Negara apa ini, jika listrik negara saja begini," cetus pria mungil sapaan akrab Poen Che'k dengan kesal menanggapi hidup mati listrik dibulan Ramadhan

Indonesia merdeka semenjak 75 tahun lalu, tapi persoalan listrik saja belum teratasi. Di Jepang, katanya, bila sebentar saja listrik padam menteri energi membungkuk meminta maaf kepada rakyat, ini jelas bentuk ketidakmampuan kita diatas kemerdekaan.

"Setiap bulan puasa sejarah selalu seperti ini, seakan femenona ini menjadi hal biasa dari tahun ke tahun belum terbenahi oleh pemerintah," kata kesal.

Lebih jauh Poen Che’k menambahkan, negara dalam hal ini harus mengevaluasi kembali Kementerian, BUMN PLN, karena kebutuhan listrik sangat dibutuhkan oleh semua elemen masyarakat di negara ini. Pemadaman yang terjadi dalam setiap hari.

“Ini sangat berefek kepada kenyamanan dalam beribadah, juga negatif untuk perekonomian kita, tidak hanya industri, bahkan dampak ekonomi turut dirasakan sampai tukang jualan jus pakai gerobak, yang memperjuang hidup ditengah ancaman wabah corona," sentilnya.

Poen Che’k berharap, negara hadir ditengah kesengsaraan rakyat, krisis listrik yang dirasakan oleh masyarakat harus segera ada solusi sejuk bukan sekedar janji – janji, sehingga kemerdekaan itu dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.

Jika memang negara terasa sudah tidak memiliki kemampuan untuk menyediakan pasokan listrik melalui PLN, kenapa tidak memberikan kepercayaan pelayanan kepada pihak swasta seperti di negara – negara maju.

“Kalau padamnya bukan bulan puasa, alasan pemadaman agar stok listrik dibulan puasa cukup, dibulan ramadhan padam lagi, ciptakan lagi alasan baru. Anehnya dulu sebelum ada PLTU di Nagan Raya, pemadaman listrik tidak sesering ini, sekarang ada PLTU kok malah seperti ini,” urai politisi muda yang pernah mencalonkan diri jadi bupati Aceh Jaya ini.

Negara, katanya, khususnya pemerintah Aceh dimana saat ini. Kita selalu dengar dari pihak pemerintah sebenarnya Aceh itu kaya sumber energi listrik, bisa bangun PLTU, PLTA, PLTS, entah PL – PL apa lagi dan akan mengundang investor. Tapi, rakyat kapan bisa merasakan manfaat dari PL ini PL itu ? selalu ‘peèh canang’, rakyat sudah muat dengan PHP (pemberian harapan palsu).

"PLN jangan bicara data terus, karena data masyarakat adalah persepsi penilaian atas pelayanan selama ini, serta kenyataan yang terjadi. Faktor kinerja tidak berdiri sendiri. Ada juga faktor ekspansi informasi  kinerja atas pelayanan," tutup Nasri.[df]

Komentar

Loading...