Dua Pemerhati Pendidikan Aceh Siapkan Siswa Terobos Sekolah Kedinasan

Dua Pemerhati Pendidikan Aceh Siapkan Siswa Terobos Sekolah Kedinasan
Dr Muhammad Iqbal AR (kiri) sedang memberi materi untuk siswa di sebuah caffe yang rilkes. Foto/Ist

DUA pemerhati pendidikan Aceh, Dr Muhammad Iqbal AR dan Nursyidah, M.Sc kini sedang mempersiapakan SDM lulusan SLTA Aceh bisa bersaing untuk masuk ke Sekolah Tinggi Kedinasan di Indonesia.

Untuk itu, mereka sering membantu dan membina peserta didik dari berbagai sekolah di Aceh bahkan di luar dengan pola yang bisa memotivasi anak-anak dalam waktu cepat, untuk membangun kepercayaan diri dengan berbagai metoda, baik dalam kelas maupun di lapangan.

Memaksimalkan kedua pola itu, mereka membagi tugas, Mohammad Iqbal membina dalam kelas dan Nursyidah khusus di lapangan untuk mengembleng kapasitas diri siswa sehingga memiliki mental kuat menghadapi berbagai tantangan.

Menurut Nursyidah, membangun SDM bagi siswa Aceh sangat penting, karena latar belakang mereka di daerah setelah kuliah kalah bersaing secara mental dan pengetahuan dengan anak-anak di perkotaan.

“Yang paling sakit, bagi mereka setelah kuliah susah dapat keperjaan. Ternyata banyak sarjana selepas kuliah mereka tidak punya skill apa-apa, sehingga tidak mendapat pekerjaan yang layak. Ini, sangat miris, “kata mantan Kabid PAUD dan Bimas Dinas Pendidikan Aceh Barat sedih.

Belajar kekompakan dengan sebuah game membawa botol aqua dengan selembar kain tidak jatuh sampai tujuan.Foto/Ist

Oleh karena itu, pihaknya ingin para lulusan SLTA di daerah harus dibekali sebaik mungkin untuk bisa menerobos masuk ke-21 sekolah tinggi kedinasan di kementrian RI.  

Namun, selama ini fasilitasi kedinasan di kabupaten/kota di Aceh tidak terakses informasi secara baik dengan kementrian yang membawahi mereka. Pihak dinas,  tidak menyadari kesediaan sekolah kedinasan di 21 kementerian dan direktorat yang setiap tahun menampung ribuan kelulusan siswa.

“Selama ini hanya dipahami IPDN saja. Padahal, ada kemaritiman, perhubungan, keuangan dan lain-lain berjumlah 21 kemerntrian. Makanya, kami bentuk semacam kelas private CAT plus untuk siswa di daerah, sehingga mereka mampu meraih kursi pendidikan tinggi di kementrian,” urai magister manajemen perencanaan lulusan Malaysia ini.

Padahal, siswa lulusan daerah punya kemampuan yang sama dengan anak-anak di kota, cuma fasilitas dan kepedulian daerah yang sangat minim, sehingga mereka banyak tidak tahu tentang berbagai perkembangan dan kesempatan yang ada selama ini.

Untuk itu, Mohammad Iqbal dan Nursyidah terpanggil dan menempa mereka sekuat mungkin, sehingga kualitasnya bisa sejajar dengan lulusan SLTA terbaik di Aceh bahkan di Indonesia.

Menurut Dr M Iqbal, sekolah di daerah sangat kurang sarana dan prasarananya, sehingga tingkat kelulusan di Unsyiah saja sekarang sudah berbanding 60:40 persen dengan siswa luar Aceh. Kondisi ini, dikhawatirkan secara perlahan dan pasti tanpa disadari oleh pemda Aceh akan tergilas dan berbalik menjadi 20 : 80 persen untuk lulusan luar Aceh.

“Ini sangat berbahaya, bila kampus di Aceh bisa dikuasai sampai 80 persen oleh siswa luar Aceh karena kalah bersaing ketika ikut testing secara nasional. Bila ini terwujud, anak-anak Aceh akan belajar di kampus swasta yang kualitasnya rendah,”kata doktor lulusan Belanda yang sudah bergelut dengan private CAT sejak tahun 2014 lalu prihatin.

Nursyidah, M,Sc : mimpi besar saya ingin wujudkan sekolah khusus di Aceh.Foto/Dok

Untuk mengenjot kualitas anak-anak di pinggir kota dan daerah, dia bersama Nursyidah sepakat membangun SDM Aceh secara bertahap, sehingga suatu hari nanti bisa memiliki sebuah lembaga sendiri non formal untuk program jangka panjang.

Sejak membina siswa (i) Aceh, tingkat kelulusan setelah mengikuti private CAT yang mereka bangun selama ini banyak peningkatan secara pesertase. Namun, terkadang bisa juga terhambat karena keinginan orang tua dengan kemampuan anaknya “paradok”. Padahal kemampuan si-anak bisa dibaca dari penyelesaian masalah, psikologis serta fisik. Ketika terbentur baru orang tuanya sadar bahwa anaknya memang bukan jalurnya itu.

“Seharusnya kami percaya apa yang disampaikan oleh gurunya, karena mereka lebih tahu bakat dan kemampuan anak kami selama ini,”kata seorang wali murid yang ngetol kali anaknya masuk IPDN  yang seharus bisa lulus di pendidikan Akademi Agraria.

Hasil dari paduan antara di ruang kelas dan lapangan, kata Nursyidah, siswa yang tadinya tidak suka matematika, akhir suka. Dari sebelumnya malas dan merasa belum dewasa, setelah tiga bulan belajar semua berubah – malah orang tuanya juga heran ‘kok anaknya jauh berubah dan dewasa’.

Belajar IT gratis dengan Nursyidah. Foto/Ist

Image negatif yang ditambalkan pada mereka tidak ada. Cuman karena keterbatasan dan tinggal di daerah, sehingga banyak yang tertinggal dari perkembangan dunia yang begitu cepat

“Ketika kami analisa dan diberikan wawasan mereka terbuka dan cepat tahu serta bisa,”kata Bu Nur, begitu nama akrabnya dipanggil anak-anak didiknya.

Kenapa selama ini, anak didik malas dan tidak mampu menyerap pendidikan dengan baik, karena tertekan pola pengajaran di sekolah. Para guru kurang kreatif dan sangat menoton, sehingga siswa tidak bergairah menimba ilmu.

Sangat jauh berbeda setelah mereka belajar privat CAT dengan pola yang menyenangkan, timbul semangat baru yang luar biasa dan termotivasi sendiri mengatur waktu untuk mengulangi game-game yang sudah diajarkan mentornya.

Setelah mereka tahu apa manfaat pola pendidikan yang diterapkan selama ini, malah siswa menantang gurunya untuk mencari proyek membuat sebuah lembaga pendidikan untuk  mencetak generasi masa depan yang percaya diri dan mampu menyelesaikan berbagai persoalan yang dihadapi seorang siswa.

Latihan fisik dibimbing anggota TNI di Mate Ie, Aceh Besar. Foto/Ist

Mimpi besar Nursyidah ingin mendirikan sebuah lembaga pendidikan khusus untuk persiapan sekolah kedinasan dengan prioritas siswa (i) lulusan paket C dan keluarga menengah ke bawah di daerah.

“Doakan ibu ya, agar bisa mewujudkan keinginan kalian ya,” jawab Nursyidah yang pernah menjadi Kasubbid Pendidikan di Bappeda Aceh Barat santai.

Untuk membangun pendidikan privat seperti ini, mungkin banyak orang tidak mau. Karena, masih berpikir harus ada keuntungan besar. Bila, menargetkan keuntungan, Pak Iqbal dan Bu Nur mungkin tidak akan melakukan pembinaan privat seberat ini. Mereka hanya membimbing 9 sampai 10 siswa dalam satu kelas, agar lebih efektif.

Untuk latihan fisik diterapkan sesuai SOP sekolah tinggi kedinasan, mereka akan menggunakan jasa instruktur anggota TNI dan pendidikanya di Mata Ie, Aceh Besar. Termasuk calon Akpol, Akmil dan taruna, yang membedakan materi dan skornya saja.

Semua siswa yang menjadi anak didiknya mereka mapping sehingga sesuai dengan kemampuannya. Dalam testing belum lama ini, ada empat sisiwa cocok untuk masuk ke IPDN, satu ke Menkamhum, dua  ke STAN dan satu ke Agraria.

Waktu pendidikan yang sangat bagus ditempa selama 10 bulan, belajar konsep dasar empat bulan dari April – Juni (membentuk kepercayaan, bertanggungjawab, rasa memiliki), ujian tes soal-soal selama tiga bulan dan untuk pembangunan fisik selama dua bulan November – Desember.

Biaya pendidikan yang mereka lakukan tergolong murah, setiap bulan dibandrol hanya Rp 800 ribu per siswa dan sangat berbeda dengan private CAT lain di Aceh yang memungut biaya mencapai Rp 1,5 juta perorang.

Meski murah, ketika ada pendidikan di lapangan dan makan siang, siswa tidak perlu keluarkan biaya sendiri karena telah ditanggung oleh pembinanya.

“Kalau dipikir-pikir untung rugi nggak jalan ini pak, yang penting  mereka sukses dan tercurahkan kepada orang tuanya. Dengan biaya Rp 800 rb perbulan, kita bawa mereka ke lapangan tanpa biaya lagi sampai makanpun kita sediakan. Ini sangat spesial dari kami untuk mereka,”kata alumni Teknik Industri Intitute Teknologi Medan ini semangat.

Dr Muhammad Iqbal AR, Siswa Aceh harus mampu bersaing di Indonesia. Foto/cakradunia.co/Helmi Hass

Begitu juga dengan Mohammad Iqbal, dia rela menyisihkan waktu selepas jam kantornya sebagai pengawai dan pengajar di Badan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Aceh untuk membangun masa depan anak-anak Aceh. Baginya, bisa membangun generasi muda Aceh dan bisa bersaing di Indonesia sudah sangat bersyukur.

Suatu sore para siswa (i) privat CAT ini, berkumpul di sebuah caffe di kota Banda Aceh yang terletak agak masuk ke dalam perkampungan. Mereka tampak bahagia karena bertemu sang guru (Pak Iqbal dan Bu Nur), terlihat asyik bercengkrama saling melepas obrolan santai, tiba-tiba Bu Nur mengeluarkan uang rupiah nominal Rp 100 ribu dua lembar untuk diserahkan kepada dua anak didiknya yang berprestasi.

“Ini reward atas prestasi mu kali ini dan untuk kamu ini,”ungkap Nur. Siswa yang kebahagian uang sebagai penghargaan senang karena dapat nilai plus dalam pendidikan bulan November ini.

Pemberian reward (penghargaan), meski kecil yang dilakukan Bu Nur menjadi motivasi sangat berarti bagi siswa dalam membangun semangat dan bakat mereka untuk merebut setiap kursi pendidikan tinggi kedinasan di kementrian RI, diantara ribuan bahkan puluhan ribu siswa Indonesia lainnya yang sama-sama tengah berjuang untuk masa depan mereka.  

Meski berat, tapi kini mereka optimis menatap masa depan untuk meraih cita-citanya. Belajar keras, serius dan fokus menjadi motto mereka sepanjang waktu.

Helmi Hass   

iklan sesama guru mari berbagi

Komentar

Loading...