Dua jam Bersama Ustad Faizal Adriansyah

Dua jam Bersama Ustad Faizal Adriansyah
Ir Faizal Adriansyah, M.Si memperlihatkan KTP merah putih yang masih disimpannya sebagai kenangan. Foto/cakradunia.co/Helmi Hass

MESKI sebagai Kepala Puslatbang dan Kajian Hukum Administrasi Negara LAN RI Perwakilan Aceh, Ir Faizal Adriansyah, M.Si lebih populer dengan panggilan ustad Faizal. Kesederhanaannya sehari-hari sebagai abdi negara selalu membangun ingatan bagi siapapun yang mengenalnya atau ikut Diklat Kepemimpinan di LAN Aceh.

Suatu hari menjelang sholat asar, cakradunia.co mendatangi kantornya yang terletak di pinggir kota Banda Aceh. Satpam yang menerima kami di pintu gerbang utama sangat ramah hanya bertanya mau jumpai siapa dan langsung mengizinkan masuk.

Setelah memarkirkan mobil, kami menuju ruang tunggu. Di sana, seorang satpam lainnya dengan ramah menyapa dan meminta untuk mengisi data singkat di atas secuil kertas. Setelahnya, sekitar dua menit kemudian kami telah berada di ruang kepala, di lantai dua gedung megah LAN RI perwakilan Aceh.

Ketika melangkah ke ruangnya, ustad Faizal, tampak ceria dan obrolan santai mengalir begitu saja. Di ruang kerjanya itu,  buku dan kertas kerjanya ada di mana-mana. Selain di meja rapat juga ada di atas meja kerjanya dan sebagian kecil lainnya ada di meja tamunya.

Sedang membuka dokumentasi karya-karyanya. Foto/cakardunia.co/Helmi Hass

Baru tiga menit mengobrol, sang ustad memperlihatkan belasan buku hasil karyanya dan sejumlah buku masih dalam bentuk dami yang segera akan dicetak. Baginya, mendokumentasikan perjalanannya hidupnya sebagai pejabat dan ustad menjadi impian yang ingin diwariskan kepada anak cucunya dan masyarakat luas.

Kini, tulisan ringan tafakkur dalam Tabangun Aceh terbitan Bappeda sudah seratus judul lebih Faiza bukukan menjadi Musafir Kematian Pasti Tiba.

Banyak menulis artikel atau opini agama dan sains kebumian khususnya kebencanaan, yang akhirnya dikumpulkan sehingga menjadi buku dan telah diterbitkan. Diantaranya “Aceh Laboratorium Bencana”.

Dari Balai Arsip Statis dan Tsunami Aceh (BAST) Asrip Nasional RI diberi penghargaan untuk menyimpan arsip pribadi di BAST karena dinilai sebagai orang yang menjaga arsip secara baik bahkan ketika tsunami menghancurkan rumahnya. Namun, arsip pribadi Faizal berupa Ijazah, SK, dan dokumen artikel yang pernah dipublis di media selamat karena sebelum tsunami sudah disimpan ditempat yang aman. 

Jauh sebelumnya dosen luar biasa Teknik Geologi Unsyiah dan UIN Ar Raniry ini juga mendapat penghargaan Kagum Award dari DRR UNDP Tahun 2011 sebagai Motivator Pengurangan Resiko Bencana Indonesia.

Faizal: Syarat lulus Diklat PIM II harus inovatif.Foto/cakradunia.co/Helmi Hass

Tak lama kemudian, suara azan bergema, kamipun menuju masjid yang berada sekitar 40 meter dari gedung utama. Dalam perjalanan ke masjid yang mungil dan asri itu, Ustad Faizal menyapa semua orang yang ditemui, baik staf, peserta diklat maupun pejabat.

Usai sholat, Ustad Faizal yang biasanya memberi ceramah giliran mendengar tausiah singkat yang disampaikan oleh salah seorang peserta diklat calon pengawai dari pemkab Aceh Jaya. Penceramah tampak senang saja menyampaikan kultumnya, Ustad Faizal manggut-manggut menyimak hadist-hadist yang disampaikan penceramah tamunya itu.

Semua yang belajar di LAN memang diwajibkan memberi tausiah singkat yang telah dijadwalkan secara bergiliran.

Ketika hendak meninggalkan masjid, ustad Faizal sempat ‘protes’ menanyakan kenapa shaf shalat tidak penuh seperti biasanya. Seorang stafnya langsung menjawab bahwa ada sebagian sedang menyelesaikan tugas belajarnya yang sore atau malam harinya harus segera diserahkan.

Lalu sang ustad mengajak cakradunia keliling komplek LAN yang berdiri megah dan apik di atas lahan seluas 2,5 hektar. Sambil jalan, melintasi koridor yang disisinya ada tanaman obat dia menceritakan bagaimana kondisi gedung dan ruang yang digunakan selama pandemi 2020 dan 2021.

Taman 'diskusi' sedang dibangun. Foto/cakradunia.co/Helmi Hass

Selama dua tahun terakhir ini, semua aturan prokes berjalan dengan baik dan tidak ada satu orang yang masuk dan belajar di LAN melanggarnya.

“Biasanya, Satpam datang dengan membawa plamplet ‘prokes’ kecil tanpa berkata keliling gedung atau ruang untuk mengingatkan staf atau pejabat yang sedang mengikuti diklat agar tetap taat aturan,”kata ustad Faizal.  

Didepan pintu mau naik life ke lantai empat, kami sempat berhenti sejenak – di sana ada kantin kejujuran – kantin tanpa karyawan itu tumbuh dengan baik. Malah, keuntungannya terus meningkat dari tahun ke tahun. Kantin kejujuran ini, salah satu latihan bagi pegawai LAN, peserta diklat dan pejabat yang pernah singgah disini. Mungkin sebuah potret yang sudah mulai langka ditemukan di kantor-kantor Aceh bahkan di Indonesia.

Dalam ‘tour’ singkat di komplek LAN itu, cakradunia melihat kebersihan, keteraturan semua ruangan sangat baik. Jarang kita temukan kantor bersih dan rapi bak ‘hotel berbintang lima’. Kondisi ini sangat memotivasi siapa pun yang belajar di sini – dalam menimba ilmu untuk calon pegawai 100 persen atau pejabat yang mengikuti pendidikan PIM sebagai persyaratan eselonoring menjadi pejabat.

Ketika kami ingin kembali ke ruang kerja setelah melihat taman yang tengah dibangun di sisi kiri kantor, belasan satpam sedang apel sore. Dalam apel itu, komandan regu akan menerima semua laporan tentang kondisi riel yang ada dalam komplek LAN hari itu.

Mereka setiap waktu harus memberi laporan sejujurnya dan terkini, bila ada temuan barang atau uang harus diserahkan kepada komandan untuk disampaikan kepada pimpinan LAN. Bila ada persoalan apa saja langsung dicarikan solusi dan harus diselesaikan hari itu juga tanpa menunggu besok.

Ruang pertemuan selama pandemi berlakuk prokes duduk jarak minimal satu meter. Foto/cakardunia.co/Helmi Hass

Kondisi ini, dibangun sejak ustad Faizal memimpin LAN dan memasuki gedung baru meneruskan estafet yang kepemimpinan Drs Dermawan MM, mantan Sekda Aceh yang menjadi orang pertama kepala LAN Aceh.

Sehari-hari dalam memimpin LAN Aceh, Faizal seperti seorang sahabat yang selalu menganyomi staf, pejabat atau peserta diklat tanpa skat (jarak), termasuk melayani tetamunya dari mana saja. Mengabdi tanpa pamrih menjadi mottonya dalam menjalankan amanah yang diembankan kepadanya.

Buah kebaikan itu, tak jarang diterima Faizal ketika sedang berada di suatu daerah di belahan Indonesia timur dan barat, dia tiba-tiba sudah ditunggui oleh seorang pejabat yang ternyata alumni LAN Aceh.

“Pak saya diminta atasan untuk mengawal bapak selama berada di sini,” kisah mantan Sekretaris Bappeda Aceh ini meniru permintaan sang penjemputnya.

Padahal, Faizal sangat enggan menerima tawaran dalam bentuk apapun. Namun, membangun silahturrahmi  baginya sangat penting, sehingga mau tak mau dia harus menerima tawaran itu dengan ikhlas.

Kisah lainnya juga pernah dialaminya, peserta diklat atas nama angkatan sebagai rasa terimakasih kadang memberikan AC untuk masjid atau TV diruang tamu. Oleh Faizal semua itu tidak diberikan begitu saja, tapi diminta dibuat surat hibah ke kantor dan dimasukan sebagai aset kantor. 

Bagi peserta pendidikan kepemimpinan syarat kelulusan harus ada inovasi, sehingga bisa melakukan perubahan dalam membangun instansi tempat dia bekerja. Pendidikan PIM II di LAN Aceh juga akan diikuti oleh seluruh pejabat di Indonesia.

Dalam proses belajar mengajar dan administrasi tidak boleh terhambat serta tidak ada hak-hak yang terzalimi.

Ustad Faizal bersama keluarga. Foto/Ist

Kini, ketika dua tahun lagi menjelang pensiun di LAN, alumni magister Fakultas Ekonomi USK (Unysiah) ini sangat bersyukur, karena sejak 11 Januari 2010 lalu ia hijrah dari pegawai pemerintah Aceh ke pegawai pusat sebagai Kabid Kajian Aparatur LAN Aceh hingga menjadi orang nomor satu di LAN, ia dapat melaksanakan tugas sebagaimana yang diharapkan.

Kenapa muncul rasa syukur itu? Sebagai seorang ustad, Faizal ingin apa yang disampaikan kepada masyarakat sejalan dengan apa yang dia kerjakan.

Sangat beda ketika menjadi pimpinan di LAN Aceh, semua keinginannya yang sesuai syariah bisa diterapkan di sini. Dia tak ingin menyentuh atau menerima apapun bila bukan haknya. Mungkin, keinginan ini yang selalu dipanjatkan dalam doa-doanya lalu diaminkan oleh Allah SWT, sehingga dia berlabuh di sini – ditempat yang jauh lebih baik bagi masa depannya menuju akhirat.

“Saya bersyukur bisa bekerja disini, karena bisa menerapkan apa yang saya inginkan sesuai syariah. Kalau masih di pegawai daerah..waduuh ceramah saya bisa jadi tidak sesuai dengan prilaku sehari-hari dan saya tidak mungkin naik mimbar lagi, ”kata ayah Nursafir Fathaniah dan Muhamad Ichlasul Amal tegas sambil tertawa lebar.

Sementara di LAN,  Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Aceh periode 2010-2013 dan 2014-2017 malah beberapa kali di undangan ceramah diluar dinas, mendapat SPPD langsung dari Kepala  LAN Pusat dan acara-acara nasional Ustad Faizal selalu dihargai dan mendapat tempat yang dibanggakan.

Meski sudah 10 tahun lebih bekerja di LAN terasa singkat dan suasana kerjanya sangat nyaman serta  kebersamaan terbangun begitu baik, sehingga kerjanya dapat dinikmati dengan baik sebagai bagian dari ibadah.

Setelah hampir 45 menit kami bincang-bincang, putra kelahiran Banjarmasin, Kalimatan Selatan 58 tahun silam ini, tiba-tiba teringat dan mengenang kembali bagaimana dahsyatnya gelombang tsunami menghantam kediamannya, tanggal 26 Desember 2004 lalu. Rumahnya rusak total, secara akal sehat sepintas dilihat pasti penghuninya meninggal semua.

Tulisan tafakurnya di media cetak segera akan dibukukan.Foto/cakradunia.co/Helmi Hass

Alhamdulillah, ketika itu, dia bersama istrinya sedang melaksanakan ibadah haji di Baitullah, Mekkah. Meski rumahnya yang terletak di belakang kantor Kemenkumham Aceh Jeulingke Banda Aceh itu hancur, dua anaknya selamat.

Kebetulan pada hari Sabtu itu, 25 Desember 2004, mereka diajak menginap di rumah neneknya di kawasan Setui. Padahal, Minggu pagi, mereka bersama neneknya ingin ke rumah Lingke untuk mengambil buku. Namun, Allah mengurungkan niatnya hingga saat bencana  datang meluluhlantakkan rumah mereka, kedua anak tersebut tak berada di sana yang letaknya hanya  dua kilometer lebih dari laut.  

Sedangkan sopir yang tinggal di rumahnya berhasil menyelamatkan diri naik ke atas atap masjid Syahadah Lingke, bersama puluhan warga lain termasuk Sulaiman Abda, pimpinan DPRA kala itu selamat juga di masjid yang ikut dibangunnya itu.

Sekembali dari haji, Dewan Pakar Forum Pengurangan Resiko Bencana Aceh ini, duduk bersama anak-anaknya dan mendengar cerita tentang tsunami, lalu  dia tuangkan dalam bentuk tulisan kemudian dibukukan. Salah seorang anaknya, malah kini ikut jejak ayahnya dalam hal tulis menulis dan sudah mendapat honor dari karya-karyanya yang mulai diakui tingkat nasional.

Menjelang purna tugas sebagai pimpinan LAN tahun 2023 mendatang, suami Dra Nurmi  yang memulai karier sebagai PNS tahun 1991 di Kanwil Departemen Pertambangan dan Energi Aceh, tenaganya masih sangat dibutuhkan. Untuk itu, peneliti ini, sekarang sedang mempersiapkan diri untuk ikut test sebagai  Widyaiswara (WI) Utama Pusat.

Bila terwujud, sarjana Teknik Geologi UPN Veteran Yogyakarta ini akan meneruskan pengabdiannya sebagai pejabat fungsional WI Utama hingga tahun 2027 mendatang.

Banyak kisah menarik yang bisa diteladani dari alumni SMA Patra Darma Balik Papan, Kalimatan Timur yang kini tinggal di Jalan BPD Utama Lr Tgk Aceh 202 Gampong Gue Gajah, Keutapang Aceh Besar.

Ketika jam menunjukkan pukul 16.45 WIB, sang ustad meminta sekretaris dan stafnya pulang duluan tak harus menunggu dia keluar. Kami, masih melanjutkan perbincangan sambil memperlihatkan dokumentasi tulisan-tulisannya di sejumlah media dan tafakurnya yang ingin dibukukan.

Tanpa terasa sudah memasuki waktu petang menjelang magrib, lalu kami berpisah. Dipintu keluar dua satpam berdiri sambil tersenyum lebar memberi penghormatan kepada ‘bosnya’ yang juga seorang ustad yang ikhlas dan sangat inspiratif  bagi mereka.

Selamat bertugas ustad, semoga ‘murid-muridmu’ selalu mengirimkan doa, agar perjalanan hidup kita selalu dimuliakan oleh pemilik alam raya ini.

Helmi Hass 

Komentar

Loading...