Dinas Pendidikan TTU akan Monitoring Kinerja Guru Penggerak

Dinas Pendidikan TTU akan Monitoring Kinerja Guru Penggerak
Nara sumber guru pendamping Mezra E Pellondou, S.Pd, M.Hum saat berdiskusi dengan guru, Sabtu (1/4/21). Ist

Mewujudkan Tema Hardiknas dalam Aksi Nyata Refleksi Pengembangan Kompetensi Guru Serentak Bergerak Wujudkan Merdeka Belajar

CAKRADUNIA.CO, NTT - Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Ristek  Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur (NTT) memastikan dalam waktu dekat akan melakukan monitoring dan evaluasi (Monev) terhadap kinerja para Calon Guru Penggerak (CGP) di sekolah masing-masing, setelah lima bulan para guru menjalani program Guru Penggerak kemendikbud. 

Hal ini disampaikan Kabid Ketenagaan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Ristek Kabupaten TTU, Drs. Marianus Lahut saat membuka Lokakarya ke-lima Calon Guru Penggerak di Kota Kefamenanu, Sabtu 2 Mei 2021. 

Hadir dalam kegiatan antara lain dari unsur panitia P4TK Penjas BK Kemendikbud, Rudi Bakti Lubis, ST,MM dan tim, para guru penggerak sekabupaten Timor Tengah Utara (TTU) sebagai peserta lokakarya, serta para narasumber pendamping atau  pengajar praktik guru penggerak antara lain Mezra E.Pellondou, S.Pd.,M.Hum.;Hendi Riswandi Ali, Gr. Msi; Alfred Boby Tangkonda S.Pd; Eva Hariyati Israel, S.Kom; Jarmini S.Pd.

“Kami akan monitoring langsung ke sekolah-sekolah yang ada Calon Guru Penggeraknya, dan melihat secara langsung ada terjadi perubahan apa di sekolah  Bapak Ibu Calon Guru Penggerak setelah bapak-ibu guru selama  lima bulan mengikuti program Pendidikan guru penggerak. Monitoring ini penting untuk mengevaluasi manfaat Program Guru Penggerak bagi sekolah-sekolah yang ada di kabupaten TTU,” kata Pak Ryan, begitu sapaan akrab Marinus Lahut disambut tepukan tangan para peserta lokakarya sebagai bentuk dukungan. 

Seorang guru Penggerak, tambah Ryan, hendaknya menampilkan profil guru yang inovator,mampu membuat berbagai inovasi belajar yag berpihak pada murid serta berbagai terobosan yang membuat murid benar-benar merdeka belajar. Menjadi teladan dalam hal kehadiran di kelas  serta menjadi panutan dalam hal kinerja, kedispilinan waktu serta berbagai aktivitas dan kreatifitas yang berdampak positif pada perubahan sekolah dan  lingkungan sekitarnya. 

Monev yang diinisiasi dinas Pendidikan TTU ini, merupakan bukti  komitmen Dinas Pendidikan TTU ikut menyukseskan program guru penggerak di NTT. Sejauh apapun lokasi sekolah para guru penggerak berada, walaupun berada  hingga ke pelosok  pedalaman TTU akan didatangi tim monev untuk melaksanakan monitoring. 

“Hasil monitoring akan kami pakai untuk mengevaluasi perkembangan belajar para guru,” kata Ryan.  

Ryan menegaskan para guru  penggerak perlu membekali diri dengan  kompetensi psikologi sehingga memahami benar perkembangan belajar dan minat anak. Anak-anak  yang berminat pada Olaharaga tidak bisa dipaksakan untuk suntuk mempelajari Matematika, begitu pula anak-anak yang menyukai matapelajaran IPA misalnya tidak bisa dipaksakan untuk  cerdas secara linguistik dan  terampil menulis. 

Walau begitu sedapatnya,anak memahami dan menguasai hal-hal dasar yang harus dimiliki. Contoh sederhana mengapa kayu lebih ringan dari besi, memahami bentuk dan persamaan-persamaan sederhana  matematika sehingga bisa menyatakan dengan pasti bahwa satu kilogram besi sama dengan satu kilogram kapas,dilihat dari volume dan berat. “Pengalaman monev pernah saya temukan masih terdapatnya ketidakpahaman anak  perihal konsep-konsep ilmu yang sesederhana  seperti itu. 

“Tugas guru untuk meletakan konsep-konsep  dasar tersebut secara kokoh pada anak sejak dini”

Panitia P4TK  Penjab  kemendikbudristek yang diwakili oleh Rudi Bakti Lubis, ST,MM  menekankan perihal komitmen para Calon Guru Penggerak  dalam menjalani program belajar pada  LMS (Learning Manajemen Sistem). 

“Ada materi-materi belajar yang memberikan batasan  waktu penyelesaian, sehingga membutuhkan komitmen para guru penggerak untuk konsisten dengan waktu belajarnya,”katanya

Refleksi Calon Guru Penggerak Menyambut Hardiknas

Lokakarya ke-lima Guru Penggerak Kabupaten TTU mengusung topik  Refleksi Kompetensi Calon Guru Penggerak (CGP). Lima agenda yang dilaksanakan dalam lokakarya ke-5 CGP  antara lain; evaluasi kompetensi CGP;Refleksi Kompetensi CGP, Analisis Faktor Pendukung dan Penghambat Pengembangan Kompetensi CGP,serta Menyusun Rencana Aksi Pengembangan Kompetensi oleh CGP. 

Lokakarya ke-lima Calon Guru Penggerak dilaksankan dalam suasana persiapan menyambut Hardiknas 02 Mei 2021. Tema besar hardiknas kali ini berfokus pada Merdeka Belajar,yaitu Serentak Bergerak Wujudkan Merdeka Belajar. Program Guru Penggerak merupakan salah satu episode merdeka belajar yang diluncurkan kemendikbud RI.  

Ada hal menarik saat  mendampingi kelompok CGP dalam berdiskusi dan berbagi praktik baik pengembangan diri CGP  saat berlangsungnya lokakarya. Menurut saya sebagai pendamping CGP, ada kaitan erat antara topik refleksi kompetensi guru  dengan tema besar hardiknas Serentak Bergerak Wujudkan Merdeka Belajar . 

Kata serentak memperlihatkan keterlibatan banyak komponen yang harus diberdayakan  dalam mewujudkan merdeka belajar. Beberapa kepingan refleksi dari para Calon Guru Penggerak (CGP) saat lokakarya berlangsung ,bisa menjadi kisah menarik yang membuat setiap orang  bisa merefleksikan diri dan ikut mengambil bagian dalam mewujudkan Merdeka Belajar  di lingkugan masing-masing.

Guru  Yosefina Salu, S.Pd  CGP SD Negeri Oemofa,misalnya  berkisah bahwa untuk mewujudkan semangat dan motivasi belajar  para siswa, pihak sekolah pernah menerapkan sanksi pada siswa yang malas sekolah,  berupa seekor sapi atau kambing.

Namun, ketika diadakan refleksi, tindakan itu bukan membuat siswa rajin masuk sekolah namun siswa yang tidak bisa memberikan sapi atau kambing lebih memilih keluar dari sekolah atau pindah sekolah hingga ke Timor Leste. 

Sedangkan akibat lainnya, siswa yang memiliki komitmen kuat untuk belajar akan rajin masuk sekolah bukan karena ingin belajar namun karena takut dengan sanksi yang diberikan sekolah. Sejak saat itu aturan itu tidak lagi diterapkan pihak sekolah karena dipandang tidak memerdekakan siswa. 

Ada juga refleksi  menarik dari Maria Yanti Juan Tanu, CGP SMA Negeri Noemuti Timur  dalam kaitannya dengan menumbuhkan dan meningkatkan komunikasi serta interaksi guru dengan orangtua serta keterlibatan orangtua dalam pembelajaran fisika. Strategi yang dilakukan CGP antara lain   setiap tugas-tugas Fsisika yang diberikan oleh CGP, para murid  wajib mempresentasikannya di depan orangtua masing-masing dan mengirimkan laporan presentasinya pada guru untuk dinilai. Akhirnya hubungan antar guru dan orangtua bisa dibangun dengan baik.

Sementara, guru Bahasa Inggris, Fransiksus Sanan, S.Pd.,  dari SMA Swasta Katolik Warta Bakti, Kefamenanu dalam refleksinya mengatakan kepala sekolahnya Romo Djanuar Mau Kura, Pr sangat mendukung CGP Fransiskus X. Sanan sehingga setiap ide-idenya selalu  didiskusikan dengan kepala sekolah. Bahkan kepala sekolah memiliki prinsip semua guru adalah guru penggerak, tanpa kecuali. 

Prinsip kepala sekolah  itu membuat CGP berkomitmen selalu melakukan pengembangan diri. Hal yang paling membahagiakan dirinya adalah ketika dia melakukan pengembangan diri dan orang lain. Strategi yang dilakukannya adalah aktif menjalin hubungan dan akses dengan sesama guru dalam komunitas-komunitas berbagi, mengikuti berbagai webinar secara daring secara serius dan sungguh-sungguh hingga dirinya tidak hanya mendapatkan sertifikat namun juga ilmu dan keterampilan.

Dari berbagai ilmu dan keterampilan tersebut dia bagikan pada rekan-rekan sejawatnya di sekolah, contoh CGP Fransiskus Sanan sering menjadi narasumber pada guru dalam hal berbagi inovasi  pembelajaran  dengan memanfaatkan teknologi internet,mengajak guru membuat blog guru mata pelajaran serta mendesain pembelajaran berbasis android dan ujian sekolah secara daring.

Hal yang sama juga dilakukan oleh CGP Agustina Damince Sutal dari SMA Negeri Insana Barat. Kemampuan CGP Agustina Damince Sutal dalam kemampuan TIK,  menjadikan SMA Negeri Insana Barat manaruh kepercayaan besar pada Agustina. Bahkan Agustina pernah mendapatkan predikat terbaik dalam pelatihan TIK tingkat nasional sehingga menghantar sekolah tersebut mendapat bantuan afirmasi labtop dan tablet pembelajaran dari kemendikbud. 

Namun saat dirinya melakukan refleksi perihal kemampuan Tik para guru dan siswa, hasilnya  masih rendah sehingga dirinya mulai berkomitmen membimbing para guru dan siswa mulai dari menggunakan ponsel untuk pembelajaran, pemanfaatan TIK secara daring dan Luring dalam pembelajaran hingga mendesain berbagai ujian sekolah. 

Kisah CGP Melkianus Ane Usat Teba dari SMP Negeri 1 Atap Nian juga menarik. Keinginan  CGP Melki mewujudkan Taman Baca di sekolahnya membuat kepala sekolah menjadikannya sebagai salah satu tim  sekolah yang mendesain program-orogra sekolah dan anggaran pembelanjaan Dana Bos. Salah satu rencana aksi nyata CGP Melki berupa Taman Baca akhirnya dianggarkan oleh pihak sekolah dalam RAPS sekolah. 

Walau kecil, namun sudah cukup bagi Melki untuk terus mengupayakan berdirinya Taman Baca yang diimpikannya.  Dalam lokakarya ke -5 tersebut semua  CGP kabupaten TTU mengakui betapa pentingnya sebuah refleksi serta  berbagi praktik terbaik dengan teman sejawatnya. 

Lokakarya ditutup dengan masing-masing CGP mendesain rencana pengembangan diri untuk aksi nyata tiga bulan berikutnya serta evaluasi terhadap kegiatan yang telah berlangsung. Salam Merdeka Belajar. 

(Kefamenanu-TTU-NTT/Mezra E. Pellondou (Pendamping/Pengajar Praktik Guru Penggerak).            

Komentar

Loading...