iklan bener Duka Cita Gub - Bambang

Di Taman Budaya Kami Diasah Jadi ‘Pemberontak’

Di Taman Budaya Kami Diasah Jadi ‘Pemberontak’
Temu lintas komunitas, D Kemalawati (kiri), Murtala (dua kiri) Afifuddin (dua kanan) dan Kamar Agam di Taman Budaya Aceh, Senin (22/7/2019). Foto/Iwang Purnama

CAKRADUNIA.CO - Sastrawan,  koreografer tari Aceh yang menetap di Sydney, Australia,  kandidat doktor teater yang lebih sering 'Pungo' melihat 'ayam' dan pelukis yang jatuh cinta pada kebun kopi, Senin siang, 22 Juli 2019 bertemu di ruang kepala UPTD Taman Seni dan Budaya Aceh. 

Pertemuan spontanitas lintas komunitas seni itu, ada Murtala (tari), Afifuddin (teater), Kamar Agam (lukis) dan Sang Kepala Taman Budaya, D Kemalawati (sastrawan).

Meski berjarak dalam usia ternyata mereka memiliki kerinduan yang sama.  Rindu kantin Taman Budaya,  rindu kongkow-kongkow yang menghasilkan karya. Terkenang alm Hasyim KS,  Maskirbi,  AA Manggeng Putra,  Yun Casalona,  Virse Venny,  Nurgani Asyik yang dulu selalu mangkal di kantin TBA setiap sore hingga dini hari tiba. 

“Dari merekalah semangat berkarya,  sikap kritis terhadap kebijakan, menjadi pemberontak meski dalam karya tertanam di jiwa kami. Dan kami terbiasa berani mengasah karya meski kami tergolong pemula,” sebut Murtala.

D Kemalawati menyebutkan, kita tertantang berkarya karena meski bukan serupa pengadilan karya tetapi ada semacam tuntutan agar misalnya, penyair menulis puisi bukan untuk diri sendiri. Puisi harus menjadi senjata menumpas kesewenangan, demikian juga teater  harus digarap untuk menggambarkan penolakan terhadap penindasan,  tari dan lukisan bukan hanya menampilkan keindahan tetapi ada perlawanan tergambarkan di sana.

“Tetapi sikap perlawanan itu  disajikan dengan sentuhan perasaan sehingga meninggalkan kenangan,” demikian D Kemalawati yang akrab dipanggil Deknong mengenang masa itu. 

Dari kantin Taman Budaya itulah para seniman muda bisa semeja dengan mereka yang lebih dulu berkiprah dan memiliki nama besar.

 "Di sanalah sekolah seni saya berawal," kata Murtala dengan mata berkaca-kaca. 

Sekarang, sebut Murtala, melihat aktifitas para seniman di Taman Budaya ini luar biasa.  Di belakang sana mereka berlatih tari,  melukis,  bahkan mungkin sedang berlatih teater. 

“Tapi dimana tempat mereka bertemu lintas komunitas seperti saya rasakan dulu. Di kantin Taman Budaya selalu terbuka ruang diskusi tanpa sekat sebagai seniman tari, pemain teater,  penulis sastra juga pemusik. Semua kita yang berproses di sana merasakan hangatnya suasana kantin Taman Budaya, "ungkap seniman yang sedang menyelesaikan S2-nya.

Teuku Afifuddin mengharapkan Taman Seni dan Budaya Aceh harus kembali ke fitrahnya, menjadi laboratorium seni dan budaya. TBA menjadi rumahnya seniman, tempat berkumpul ketika pulang, berbagi dan bercanda.

“Sebelum ada ISBI Aceh, inilah tempat pendidikan untuk seniman Aceh. Orang-orang yang besar berkesenian itu lahir disini. Saya pernah sekolah di sini,”pungkasnya senang.  

Setelah berdiskusi melepas kerinduan hampir dua jam di Taman Budaya, ‘kumpulan’ yang tidak memberi lebel nama itu, menuju  Kayee Lheue, Aceh Besar. Disana, sambil menyantap makan siang para seniman ini melanjutkan pembicaraan yang intinya bagaimana membuat kesenian Aceh diperhatikan dunia.

Kesenian Aceh yang seperti puncak Seulawah terlihat indah dari jambo  tepi hamparan sawah yang  teduh di tatap mata.

Murtala sang koreografer tari massal  PKA 5  itu menerawang, sementara D Kemalawati, Afeed dan Kamar Agam diam.  Diam yang tak teredam dalam pikiran.

Helmi Hass

Komentar

Loading...