Dhemit : Menertawakan Diri dan Negeri Sendiri

Dhemit : Menertawakan Diri dan Negeri Sendiri
Mentertawakan diri sendiri

Ketahuilah, ke kiri-kirian, kekanan-kananan hanya istilah manusia dari dunia kasar! Kita kaum demit tidak mengenal istilah macam itu, sebab demit adalah makhluk universal.

Oleh: Ubaid L Arif  

Siapa pun akan segera merinding ketika mendengar kata demit (selanjutnya “dhemit”) diucapkan, imajinasi pun tak bisa berpaling dari hal-hal aneh-aneh dan gaib yang mengerikan. Tapi kata “dhemit” tak akan berarti apa-apa bagi orang-orang yang rakus dan hanya mencari keuntungan semata; Pak Rajeg Wesi, misalnya, tokoh dalam lakon “Dhemit” karya Heru Kesawa Murti, yang dipentaskan komunitas Lontjeng Teater, Universitas Pamulang.

Pak Rajeg Wesi punya ambisi dalam mencari keuntungan dari pembangunan proyek yang sedang digarap, menganggap orang-orang yang percaya hal-hal gaib seperti demit hanyalah orang yang tak berkemajuan, ketinggalan zaman. Maka ia pun tak menggubris ketika Suli, konsultannya sendiri memintanya agar tak menebang Pohon Preh yang menjadi sumber malapetaka, di mana pohon preh ditebang para demit menyerang pekerja-pekerja pak Rajeg, tak terkecuali Suli. Suli disembunyikan, para pekerja kesakitan.

Itulah sedikit gambaran tentang naskah “Dhemit” yang digelar di Amphi Teater. Saya merasa beruntung dapat menghadiri pementasan yang digelar selama dua malam itu, 11-12 Oktober 2019. Saya beruntung karena sang sutradara, Yus Yunus, berhasil mengemas naskah “Dhemit” yang dalam bayangan saya adalah ‘tontonan yang menyeramkan’ menjadi ‘bahan tawaan’. Sungguh tidak mudah membuat seseorang apalagi ratusan penonton tertawa, apalagi di tengah situasi dan keadaan negeri yang serba menegangkan menjelang pelantikan presiden terpilih.

“Dhemit”, karya Heru Kesawa Murti, berkisah tentang kaum para “Dhemit”, dunia, dan eksistensinya yang mulai terusik oleh adanya proyek pembangunan jalan, yang diprakarsai pak Rajeg. Lakon “Dhemit” menyoal sesuatu yang gaib dan seringkali menimbulkan kesan 'menyeramkan', 'menakutkan', 'merinding'.

Dalam konteks saat ini, “Dhemit” hadir sebagai bentuk kritik terhadap pemerintah yang sejauh ini masih rajin mengadakan proyek pembangunan jalan, jembatan, penggusuran, pembakaran hutan, penebangan pohon, tanpa mempertimbangkan efek kerusakan pada lingkungan tanah, hutan, dan pohon, yang setidaknya, dalam lakon “Dhemit”, merupakan rumah bagi kaum “dhemit”.

Menonton pertunjukan “Dhemit” oleh kelompok Lontjeng Teater, saya bertanya-tanya, sejatinya yang lebih “dhemit” itu manusia dengan segala kerakusannya ataukah “dhemit” itu sendiri?

Komentar

Loading...