Desember Kopi Gayo Seni Untuk Masyarakat

Desember Kopi Gayo Seni Untuk Masyarakat
D Kemalawati

D Kemalawati

BUKAN tidak mungkin sebuah event kebudayaan dapat diselenggarakan dengan  semangat dan kemampuan berkoordinasi  yang baik meski tanpa dana yang memadai.  Tidak juga semua event yang memiliki dana milyaran, dikelola oleh Event Organizer berpengalaman berhasil dengan baik dan  berdampak positif bagi perkembangan kebudayaan itu sendiri.

Hal ini terbukti dengan suksesnya beberapa event kebudayaan yang dilaksanakan oleh beberapa komunitas dan meninggalkan bekas mendalam bagi masyarakat sekitarnya. Sebut saja sebuah event yang baru berlangsung pada tanggal 7-8 Desember 2019 lalu di dataran tinggi Gayo. Event yang bertajuk  “Desember Kopi Gayo” menurut koordinator acara Fikar W.Eda dilaksanakan dengan dana yang sangat minim, dengan melibatkan berbagai pihak menyukseskannya.

Desember Kopi Gayo dengan hastag seni untuk masyarakat. Kopi adalah nafas cinta dan desember kopi Gayo merupakan rangkaian kegiatan mengisi panen raya kopi. Adalah seorang penyair kawakan yang juga wartawan senior asal tanah Gayo, Fikar W Eda dibantu pasangan hidupnya yang juga seniman sejati Devies Sanggar Matahari mengkoordinir acara ini dari kediaman mereka di sela-sela jadwal mereka berkesenian di Jakarta.

Dengan nafas cinta mereka terhadap kebudayaan leluhurnya, mereka membangun komunikasi dengan berbagai pihak. Tak heran jika dukungan terhadap keduanya mengalir dari berbagai pihak. Mulai dari Menteri Lingkungan Hidup,  anggota DPR RI, Plt Gubernur Aceh, Bupati Aceh Tengah dan Bener Meriah, hingga ke Reje-Reje  kampung dan komunitas -komunitas kecil di Aceh Tengah ikut serta berpartisipasi menyukseskan kegiatan yang dimaksudkan. Ada pun tujuan utama mereka adalah  untuk mendorong kemajuan dan promosi pariwisata kopi tanah Gayo.

Meski secara fisik penulis tidak hadir di acara Desember Kopi Gayo, dari siaran langsung teman-teman di medsos terasa sekali bagaimana event tersebut menjadi milik masyarakat. Sungguh tak berjarak dengan alam sekitarnya. Tak perlu sofa mewah untuk diduduki tamu undangan, seperti yang mewakili Menteri Lingkungan Hidup, para anggota Dewan yang terhormat, serta undangan terhormat lainnya.

Tak perlu panggung megah, sound system dengan kapasitas diatas 10000watt, serta backdrop ukuran besar menghiasi  latar panggung pertunjukan.  Backdrop alami yang maha indah berupa danau Laut Tawar yang dikelilingi  pegunungan, atap rumah penduduk penduduk dan awan gemawan yang menggantung yang di atasnya langit biru sudah sangat memukau. Tak perlu tenda besar dengan kipas angin mengeluarkan uap air serta pengharum ruangan untuk membuat penonton tak kegerahan dan tetap wangi.

Udara sejuk bukit dengan tanah basah, aroma kopi dari penggilingan serta suara-suara yang mendesir menderu mampu menggantikan seluruh kemewahan yang biasa dipaparkan oleh event organizer dalam slide-slide mempesona.

Tidak juga menggunakan media promosi yang berlebihan. Fikar W. Eda dan Devie Matahari dengan kemampuan berkomunikasinya mampu mengajak tokoh-tokoh dengan pengaruh besar mempromosikan kegiatannya. Sebut saja artis Teuku Rifnu Wikana, anggota DPR RI asal Aceh Hj. Illiza Saaduddin Djamal, Plt Gubernur Aceh Bapak Nova Iriansyah, para penyair seperti Salman Yoga, Wina SW1 dan banyak lagi tokoh lainnya melalui video singkatnya ikut mempromosikan kegiatan dimaksud.

Lalu apakah  acara yang disiarkan langsung, dihadiri Dirjen Kementerian Lingkungan Hidup mewakili Menteri itu menggunakan jasa MC professional sebagai pembawa acara, apakah pengisi acara didatangkan dari Jakarta biaya besar, apakah para penari, pemusik, pembaca puisi didatangkan dengan honor di depan?

Tidak. Fikar W Eda, sang koordinator acara dengan baju adat Gayo dan tas sandang kain berwarna merah  memposisikan diri sejak awal acara sebagai MC, yang tentu sangat professional. Sedangkan pengisi acara baik penari, pemain music, para penyair, penyanyi juga pelukis semua mengisi acara tanpa imbalan sama sekali. Tetapi semua menikmati kopi, menikmati kenduri ala panen raya yang mentradisi.

Bukan hanya dipusatkan disatu tempat, rangkaian pertunjukan seninya dihelat di kebun kopi, pabrik kopi dan Kawasan wisata Bur Telege Takengon. Pada saat yang sama, mereka juga mengadakan lomba munampi kupi, menyelei kupi (menggonseng kopi), munutu kupi (memproses kopi jadi bubuk secara tradisional), serta lomba masak pengat kuliner khas Gayo. Lalu siapakah mitra kerjanya?

“Kute Coffe Takengon, Galeri Kopi Indonesia Pegasing, Kafe TerapungTitik Satu One-One, serta Puskud  Bener Meriah, merekalah yang menjadi mitra kami.” Kata Fikar W. Eda.

“Kami juga menjadikan momen Desember Kopi Gayo ini untuk peluncuran lokus wisata Bur Telege di Gampong Hakim Bale Bujang yang sudah memiliki qanun desa tentang pelestarian lingkungan hidup. Dan sekaligus mendeklarasikan Takengon sebagai Kota Kopi dan Pusat Riset Kopi Gayo,” Lanjut Fikar bangga.

Foto-foto yang diunggah teman-teman baik di grup WA, di IG dan FB tak kalah bercerita dari tayangan langsung mereka. Pembacaan puisi di antara pepohonan kopi, didong dan sebuku, pemetik kopi menari-nari, dan kuas jemari pelukis Agam, Fadlan Bahtiar serta dialog pemilik kopi menderas ke laman-laman pemilik akun dunia maya.

Mereka menyebarkan kebahagiaan dari lubuk hatinya dengan “Bismillah/Siti Kewe/kunikahen ko orom kuyu/wih kin walimu/ tanoh kin saksimu/lo kin saksi kalammu/.” Mantra kopi menyelinap ke dahan-dahan, ke celah-celah daun, menyerbuk kuntum bunga, memerah di bijinya. Ada kopi ada cerita, tak ada kopi tak ada cerita. Ada event, ada karya. Tak ada event, mati rasa.

Maka ketika orang bertanya, mungkinkah sebuah event kebudayaan digelar dengan biaya minim, bermodal semangat dan kemampuan koordinasi? Maka saya menjawab : sangat mungkin bila mereka yang berdedikasi tinggi berada di depan. Ya, seperti pasangan seniman Fikar W.Eda dan Devies Matahari. Bergerak atas nama cinta. []

 D.Kemalawati, Sastrawan 

Komentar

Loading...