Demonstran yang Santun

Demonstran yang Santun
Ilustrasi/ conservationbytes

WALAUPUN  hidup di tengah-tengah pemerintahan raja yang zalim, Abu Hasan bin Bisyar, tidak terbawa arus kezaliman sang Raja. Sebaliknya, ia selalu berusaha menasihati sang Raja agar menghentikan kezaliman dan kemaksiatannya.

Namun, sang Raja sangat keras kepala. Ia tak memperdulikan saran dan kritik Abu Hasan yang dilontarkan atas nama rakyat. Sang Raja seakan-akan tuli akan teriakan Abu Hasan. Kemunkaran, kemaksiatan, dan kezalimannya semakin menjadi-jadi.

Suatu hari, Abu Hasan mendapat informasi, sang raja akan beristirahat di sebuah villa di tepi pantai. Seperti biasanya, ia akan berpesta-pora yang dihiasi dengan kemaksiatan, mabuk-mabukan, dan lain-lain.

Abu Hasan semakin gusar. Ia kemudian membentuk jemaah yang terdiri dari orang-orang saleh. Setelah berkumpul ratusan orang, digelarlah unjuk rasa di depan gerbang villa tersebut. Namun, unjuk rasa yang mereka gelar sangat jauh berbeda dengan unjuk rasa pada umumnya.

Tak ada bentangan spanduk atau tulisan lainnya, tak ada yel-yel caci maki, tak ada pengrusakan, hujatan, dan baku hantam dengan petugas keamanan, apalagi penjarahan. Mereka melakukannya dengan membaca al Qur’an dengan suara yang nyaring serta berbagai zikir, kemudian mereka menyampaikan aspirasinya dengan bijak.

Mendengar lantunan ayat suci al Qur’an yang begitu nyaring, ajudan dan para staf raja keluar menemui para demonstran, “Ada apa kalian berkumpul disini? Apakah kalian tidak menyadari, kehadiran kalian telah mengganggu istirahat tuan Raja?”

Sebagai koordinator lapangan dan juru bicara para demonstran, Abu Hasan berkata, “Tolong katakan kepada tuan Raja agar mendengar suara rakyat, segera menghentikan setiap tindakan kemunkaran, dan pemborosan uang rakyat. Jika tidak, kami akan membunuhnya. Itu maksud kami datang dan berkumpul disini.”

Para ajudan terhentak mendengar ancaman dari para demonstran. Mereka menanggapinya dengan begitu serius. Salah seorang ajudan  bergegas memasuki villa dan menyampaikan permintaan dan ancaman para demonstran kepada sang Raja.

“Wah, bagaimana mungkin mereka bisa membunuhku. Bukankah penjagaan dan pengawalanku sangat ketat?” Kata sang Raja.

Sang ajudan kembali menemui para demonstran. “Kalian tak mungkin dapat membunuh tuan  Raja, kami akan mengawalnya super ketat.  Dua puluh empat jam kami akan melakukan pengawalan ketat ”

“Silakan saja. Tapi senjata kami akan tetap menembus pengawalan kalian. Kami tak akan membunuh tuan raja dengan pedang atau senjata seperti yang kalian miliki, tapi kami akan membunuhnya dengan pedang malam.” Kata Abu Hasan.

Sang ajudan merasa heran mendengarnya, “Apa itu pedang malam?”

“Kami akan berdoa dan mengangkat tangan setinggi-tingginya, bermunajat meminta pertolongan kepada Allah  Swt di penghujung malam!” Demikian kata Abu Hasan.

Sang ajudan menghadap kembali kepada sang Raja dan menceritakan rencana Abu Hasan dan kawan-kawan.

“Kalau seperti itu yang akan mereka lakukan, kita pasti akan hancur. Sebab tak akan ada senjata dan kekuatan yang bakal mampu menangkal pedang malam mereka. Karena itu, biarkan saya menemui mereka!”

Di hadapan para demonstran, sang Raja mengakui segala kesalahan dan kealfaannya selama ini. Ia meminta  maaf kepada rakyat melalui para demonstran yang arif tersebut.  Ia berjanji akan  mendengar setiap suara rakyat, berbuat adil dan amanah dalam menunaikan tugasnya sebagai abdi negara dan masyarakat.

Sejak reformasi bergulir sampai detik ini, demonstrasi menjadi sesuatu yang sudah tak asing lagi di pelosok negeri ini. Ketika aspirasi yang disampaikan kepada pemerintah mandeg, demonstrasi sepertinya merupakan jalan pintas untuk membukakan mata dan telinga para penguasa.  Dengan dalih kehidupan berdemokrasi, terkadang nampak kesan baik rakyat maupun pemerintah menyukai terhadap kegiatan demonstrasi.

Demonstrasi seolah-olah menjadi alat ampuh bagi rakyat  dalam menekan pemerintah untuk mengubah kebijakan. Sementara pemerintah pun seakan-akan menjadikan demonstrasi sebagai alat uji ampuh terhadap ketangguhan dan kepopuleran suatu kebijakan yang mereka buat. Semakin sering adanya kegiatan demonstrasi menolak suatu kebijakan, semakin populer pula kebijakan yang pemerintah buat.

Namun demikian, adakah para demonstran yang santun dan  bijak, seperti Abu Hasan bin Bisyar dan kawan-kawan? Adakah pejabat atau penguasa yang jujur mengakui kesalahan dan kelemahannya di hadapan para demonstran  seperti yang dilakukan sang Raja dalam kisah ini?

Penulis, Pemerhati dan Praktisi Pendidikan Agama Islam. Tinggal di Kampung Pasar Tengah Cisurupan Garut Jawa Barat.

Komentar

Loading...