Demokrasi sebagai Basis Keimanan

Demokrasi sebagai Basis Keimanan
Ilustrasi

KETIKA nilai-nilai demokrasi yang sudah diuraikan di atas benar-benar didudukan dengan baik oleh setiap pihak, baik oleh pemerintah maupun rakyat, maka tidak mustahil demokrasi akan menjadi salah satu aspek yang bisa menguatkan keimanan kita. Dikatakan demikian, karena dalam keimanan mengandaikan adanya komitmen setiap pihak, untuk menjadikan demokrasi sebagai instrumen untuk menciptakan kesejahteraan ekonomi, stabilitas politik dalam arti memberi efek perdamaian bagi semua pihak, dan menopang keberlangsung kualitas hidup yang baik.

Sebagai aspek instrumental, dalam demokrasi akan menjadikan semua pihak sebagai sarana untuk berdiskusi, bermusyawarah, dan menganggap masing-masing sebagai panduan pengetahuan dan pengalaman yang bisa memberikan jalan keluar. Dengan kata lain, dalam berdemokrasi sejatinya masing-maisng pihak tidak berbuat sewenang-wenang apalagi memaksakan kehendak secara sepihak yang cenderung mengedepankan kepentingan pribadinya.

Dalam demokrasi, semua aspek dilibatkan dalam kerja partisipasi untuk mencari pendapatan yang paling sesuai bagi terciptanya yang nyaman dan damai. Di samping itu, dalam demokrasi terdapat nilai-nilai kebebasan dan persamaan derajat. Dalam konteks ini, apa yang diusung dalam demokrasi bahwa setiap orang harus diberikan hak yang sama untuk mengekspresikan kebebasan agar dengan kebebasan tersebut masing-masing orang bisa memaksimalkan potensi yang dimiliki.

Dalam hal ini, komitmen demokrasi yang memberikan ruang kebebasan kepada setiap orang menemukan konteks kesesuaiannya dengan ajaran agama yang mengajarkan nilia nilai kebebasan. Sebab, pada kebebasan setiap orang menggunakan nalarnya untuk merefeksikan segala bentuk yang ada dalam kehidupan. Dengan kebebasan, setiap orang bisa menentukan pilihan terhadap segala apa yang menjadi keinginannya.

Meskipun di sisi lain, ada beberapa aturan yang tentu harus dipatuhi agar kebebasan mengekspresikan pilihan itu tidak menabrak kode etik tertentu yang sudah menjadi kesepakatan umum. Dalam hubungannya dengan demokrasi, demokrasi digunakan sebagai sarana untuk menyatakan pendapat, kebebasan berkumpul, dan kebebasan untuk tidak terjerat dari perilaku kesewenang-wenangan.

Dengan demikian, ketika kebebasan melingkupi ruang gerak demokrasi maka setiap orang akan memiliki prinsip-prinsip otonomi yang bisa diekspresikan di ruang publik. Di samping itu, dengan kebebasan berarti pula ada pengakuan hak antar masing-masing orang. Di mana, dalam pengakuan tersebut, setiap orang mempunyai persamaan untuk saling berkonsolidasi dengan kelompoknya sekaligus mempunyai perbedaan untuk saling bertemu dengan banyak kelompok.

Dengan demkian, ketika persamaan hak ini sudah bersatu padu dengan kebebasan, maka setiap orang bisa mengekspresikan bangunan komitmennya dalam menjalankan tugasnya sebagai rakyat yang berdaulat dan sebagai pemerintah yang diberikan kepercayaan untuk menjalankan kekuasaanya. Namun demikian, agar unsur kebebasan dan persamaan ini bisa jalan dengan baik dalam koridor demokrasi, maka dalam demokrasi itu sendiri yang diperkuat adalah ruang deliberatifnya.

Di mana, dengan ruang deliberatif, setiap orang akan bisa menciptakan formula berkumpul dalam menentukan bentuk kekuatan solidiritasnya, kekuatan mengfungksikan akal pikiran untuk menciptakan pandangan dan pemikiran yang segar. Mengutip pandangan Jurgen habermas, di dalam ruang deliberatif, setiap orang bisa mewujudkan ruang publik dengan cara mempertemukan ide dan gagasannya untuk mengatasi berbagai persoalan yang ada.

Maka demokrasi sebagai sistem sosial untuk mengatur kehidupan bermasyarakat, beragama, berbangsa, dan bernegara akan menjadi penopang bagi terciptanya kehidupan yang penuh kebajikan dan kemaslahatan. Demokrasi sebagai ruang deliberatif yang mengedepankan spirit kebajikan dan kemaslahatan dalam mengelola kehidupan, secara tidak langsung juga dapat menumbuhkan komitmen positif untuk mengatur setiap tata cara dan tata kelola kehidupan, baik yang bersinggungan dengan praktek politik, sosial, budaya, dan semacamnya.

Dengan demikian, esensi demokrasi yang menekankan keberadaban (civilized) akan mempengaruhi setiap perilaku untuk menjalani kehidupan ini dengan penuh kesantunan dan ketertiban, menyikapi kekuasaan sebagai alat untuk menciptakan kemaslahatan, menjadikan hukum sebagai media untuk menegakkan keadilan, dan menjadikan berbagai media lain sebagai wadah untuk meneguhkan semangat kemanusiaan yang berperadaban.

Dalam kaitan ini, bila demokrasi benar-benar dipahami, disikapi, dan dilakoni dengan cara yang baik, tidak mustahil bila sesungguhnya melalui demokrasi tersebut sesungguhnya menjadi jalanan keimanan yang tidak sekadar mendekatkan hubungan antar sesama manusia, akan tetapi dapat mendekatkan diri kita pula dengan Tuhan. Sebab, melalui demokrasi yang baik kita bisa meneguhkan dan menjalankan pesan-pesan profetik di setiap risalah ketuhanan dan kenabian demi tegaknya kehidupan yang baik.

Oleh karena itu, untuk menepis kemirisan presiden Jokowi bahwa demokrasi yang dijalankan oleh sebagian besar kelompok masyarakat cenderung kebablasan, dan demokrasi yang kebablasan tersebut berimplikasi kepada adanya berbagai jenis kerentanan dan keretakan sosial, harus segera diatasi dan dirubah citranya bahwa dengan demokrasi yang baik akan menjadi jalan kerahmatan menuju berseminya komitmen keimanan yang menyejukkan bagi peradaban manusia.

Semoga, demokrasi yang selama ini sudah berjalan efektif melalui berbagai jalur-jalur prosedural di negara ini dapat dijadikan sebuah peluang untuk meningkatkan kualitas berdemokrasi yang lebih baik, agar demokrasi menjadi epistemologi relasional yang tidak saja mengedepankan kehidupan duniawi akan tetapi bertitik sambung pula sebagai ladang untuk meningkatkan kualitas diri di hadapan Tuhan di kemudian hari.

Penulis Mahasiswa Universitas Tribhuwana Tunggadewi Malang

Komentar

Loading...