Demi Waktu

Demi Waktu
Ilustrasi.net

MENGGETARKAN jiwa. Itulah kondisi yang dirasakan ‘Amr ibn al ‘Ash ketika mendengar bacaan surat al ‘Ashr yang baru diturunkan kepada Rasululullah saw. Surat ini menggetarkan bukan saja karena susunan kalimat dan sastranya yang elok, namun juga karena kepadatan makna yang terkandung didalamnya. 

Surat yang hanya tiga ayat ini memiliki kedalaman makna yang mencakup seluruh aspek kehidupan. Tidaklah mengherankan, ketika ‘Amr ibn al ‘Ash bertemu dengan Musailamah al Kadzdzab, seorang munafik yang mengaku menjadi nabi dan selalu menjelekkan Rasulullah saw, dengan tegas ‘Amr ibn al ‘Ash menjuluki surat al ‘Ashr sebagai surotun waajizatun balighotun. Surat pendek yang menggoncangkan.

Mengomentari surat al ‘Ashr, Imam as Syafi’i mengatakan, “Seandainya tidak lagi turun surat dalam al Qur’an, selain surat al ‘Ashr, maka cukuplah surat ini sebagai pedoman hidup manusia.” (Ibnu Katsir, Tafsir al Quran al ‘Adhim, Juz VIII : 479, Makkah : Dar al Thayyibah li Nasyr wa Tauzi’).

Benar kata Imam Syafi’i, seandainya kita mampu menafakuri dengan benar ayat pertama saja dan benar-benar mengimplementasikannya dalam kehidupan, niscaya kita akan menjadi orang-orang yang beruntung. Betapa tidak, ayat ini diawali dengan kalimat sumpah “Demi Waktu”.

Kemampuan dalam mengelola dan menggunakan waktu merupakan salah satu kunci kesuksesan. Segala aktivitas kita di dunia ini dibatasi dengan waktu. Sementara kematian menjadi penutup waktu bagi kehidupan kita di dunia menuju kehidupan abadi yang tak terbatasi.

Waktu kehidupan di dunia ini menjadi penentu utama nasib kehidupan kita di akhirat kelak. Pantas saja jika pada ayat berikutnya Allah memperingatkan, seluruh manusia menderita kerugian, kecuali orang-orang yang mengisi waktunya dengan keimanan, amal shaleh, dan saling memberi wasiat dalam haq (kebenaran) dan kesabaran.

Diantara kasih sayang Allah adalah memberikan waktu secara rata dan sama untuk seluruh makhluk-Nya.  Dua puluh empat jam dalam sehari semalam, tujuh hari dalam seminggu, tiga puluh hari dalam sebulan, dan 365 hari dalam setahun. Sayangnya kita sering menyia-nyiakannya. Padahal, waktu merupakan salah satu nikmat besar yang Allah berikan  kepada makhluk-Nya, terutama manusia.

Selain nikmat yang berupa waktu, Allah juga telah memberikan nikmat berupa kesehatan. Nikmat ini pun sering kita lupakan, seakan-akan kesehatan bukanlah nikmat yang harus kita syukuri. Kita baru benar-benar sadar, kesehatan sebagai nikmat besar manakala penyakit datang menghampiri kita.

“Terdapat dua nikmat besar yang sering dilupakan kebanyakan manusia, yakni kesehatan dan kesempatan/memiliki banyak waktu luang”  (H. R. Bukhari,  Imam Jalaluddin ash-Shuyuthi, ad Durul Mantsur fi Tafsiri bil Ma’tsur, Juz XV : 626).

Kini apa yang diperingatkan Rasulullah saw dapat kita rasakan. Betapa mahalnya harga nikmat kesehatan. Kehadiran pandemi Covid-19 telah merenggut banyak korban. Hampir semua negara di dunia harus mengeluarkan biaya yang tak sedikit untuk mengenyahkan pandemi ini dan “menebus” nikmat kesehatan.

Sudah selayaknya kita tidak menyia-nyiakan kesehatan dan waktu yang kita miliki. Berupaya menjauhkan diri dari perbuatan dosa dan maksiat merupakan cara yang bijak dalam memanfaatkan waktu yang kita miliki.

Dalam Shuhuf  Nabi Ibrahim a.s disebutkan,  sepatutnya manusia membagi waktunya ke dalam empat bagian. Pertama, menyediakan waktu khusus untuk bermunajat kepada Tuhannya; kedua, menyediakan waktu untuk bermuhasabah atau memeriksa kekurangan diri.

Ketiga, menyediakan waktu untuk untuk menafakuri ke-Agungan Allah (misalnya melalui mencari ilmu); dan keempat, menyediakan waktu untuk memenuhi kebutuhan sifat kemanusiaannya, seperti bekerja, makan, minum, dan lain sebagainya“(Alaudin Ali Ibn Abdul Malik Husamud Din  al Muttaqi al Hindi, Kanzul Ummal fi Sunanil Aqwal wa al Af’al, Juz XVI, hadits nomor 44.237).

Hari ini,  kita baru saja membuka lembaran baru tahun 2021. Secara hitungan matematis, usia kita telah bertambah satu tahun. Namun sebenarnya, jatah usia kehidupan kita telah berkurang satu tahun.

Seorang ulama sufi mengatakan, kehidupan yang kita jalani dari waktu ke waktu pada hakikatnya seperti membuka lembaran-lembaran ajal kehidupan kita mendekati kepada dekapan malaikat Izrail. Entah tinggal berapa lembar lagi jatah hidup kita di dunia ini.

Karena ajal kita merupakan rahasia Allah, jalan yang terbaik bagi kita adalah memanfaatkan sisa usia yang kita miliki sebaik mungkin. Idealnya setiap datang pergantian waktu, hari, minggu, bulan, dan tahun, kebaikan kita harus semakin bertambah, dan dosa kita semakin berkurang. Jika kondisi kita seperti itu, setidaknya dapat meringankan beban kita ketika kita menghadap Allah.

Hasan al Bashri, seorang ulama sufi mengatakan, “Waktu (hari, minggu, bulan, dan tahun)  adalah makhluk Allah. Setiap datang pergantian waktu, sebenarnya ia berkata kepada manusia. ‘Aku adalah makhluk baru. Aku menjadi saksi atas segala hal yang kalian lakukan. Bijaklah kalian dalam memanfaatkan aku. Isilah aku dengan amal-amal terbaik kalian.’ ”

Mari kita implementasikan pesan Hasan al Bashri tersebut dalam hidup keseharian kita. Jalan terbaik untuk menyambut tahun baru adalah membulatkan tekad untuk memperbaiki diri, memperteguh keimanan, dan mengurangi segala perbuatan dosa agar kita tak menjadi orang-orang yang merugi di dunia dan akhirat. ***

 

Penulis, Pemerhati dan Praktisi Pendidikan Agama Islam. Tinggal di Kampung Pasar Tengah Cisurupan Garut Jawa Barat.

Komentar

Loading...