Dari Shiam Menuju Shaum

Dari Shiam Menuju Shaum
Ilustrasi.bemfbsunnes.blogspot.com

TAK TERASA kita sudah berada di separuh perjalanan ibadah puasa Ramadhan. Layaknya sebuah pejalanan yang mulai menjauh dari titik awal pemberangkatan, tentunya kita sudah mendapatkan luka-liku perjalanan. Semangat dan rasa malas dalam melaksanakan ibadah pada separuh perjalanan ibadah ini telah kita rasakan. Semangat untuk terus melanjutkan perjalanan ibadah harus terus kita pupuk, sementara rasa malas harus kita usir, jangan sampai kita termasuk kepada  orang-orang yang gagal mencapai garis akhir perjalanan Ramadhan.

Bukan hal yang mudah untuk mencapai garis akhir Ramadhan dengan baik. Rintangan dalam melaksanakan ibadah akan semakin terbentang menghadang. Persiapan menghadapi hari raya lebaran, pada umumnya menjadikan orang semakin sibuk untuk mempersiapkan berbagai keperluan hari raya lebaran. Tak sedikit orang yang berani meninggalkan ibadah puasa Ramadhan demi merayakan hari raya lebaran. 

Malam-malam sepuluh terakhir dari bulan Ramadhan merupakan malam-malam yang sering banyak ditinggalkan orang. Jumlah shaf jama’ah shalat tarawih mulai berkurang. Banyak orang yang malah sibuk dengan urusan persiapan menghadapi perayaan “pesta” hari raya lebaran. Padahal, jika kita menelusuri sunnah Rasulullah saw, justru ibadah pada malam-malam sepuluh terakhir dari bulan Ramadhan harus lebih ditingkatkan daripada hari-hari sebelumnya.

I’tikaf, berdiam diri di dalam masjid seraya memperbanyak zikir dan beribadah merupakan perbuatan yang dilakukan Rasulullah saw menjelang berakhirnya bulan Ramadhan. Ia melaksanakan ibadah pada siang dan malam di masjid. Ia tak keluar dari masjid, selain untuk keperluan yang mendesak seperti ke jamban, melayat orang yang sakit, atau mengantarkan orang yang meninggal dunia.

Jika disadari, memang kita tak memiliki rasa malu. Rasulullah saw,  manusia mulia yang sudah dijamin jadi ahli sorga, ia tak bosan-bosannya melaksanakan ibadah dan berzikir. Dalam melaksanakan ibadah puasa, ketika tiba saatnya berbuka, ia makan dengan porsi sedikit, kemudian ia melakukan ibadah dengan “porsi” yang banyak. Ia melakukan ibadah shalat malam sampai kakinya bengkak karena terlalu lama berdiri. 

Bandingkan dengan ibadah puasa kita. Ketika waktu buka puasa tiba, kita makan begitu lahap dengan porsi yang besar sampai perut kita “bengkak” kekenyangan. Sementara itu, setelah kita melaksanakan buka puasa, kita melaksanakan ibadah dan zikir dengan “porsi” yang sedikit. Kita kelelahan karena perut kita terlalu penuh dengan makanan. Rasa malas dan ngantuk pun segera menyapa.

Mumpung masih ada waktu, sangatlah tepat apabila kita memanfaatkan sisa waktu dari bulan Ramadhan ini benar-benar dipergunakan untuk beribadah. Selayaknya kita mengevaluasi pelaksanaan ibadah-ibadah yang dilakukan pada hari-hari sebelumnya pada bulan Ramadan ini. Idealnya, ibadah puasa yang kita laksanakan benar-benar berpengaruh terhadap kualitas kehidupan kita, terutama kualitas ibadah dan akhlak dalam kehidupan kesehariaan kita. 

Jika merujuk kepada asal bahasa, dalam bahasa Arab terdapat dua istilah yang biasa diterjemahkan dengan puasa, yakni shiam dan shaum. Meskipun memiliki arti yang sama, namun makna dari kedua kata tersebut berbeda.

Shiam memiliki arti menahan diri dari makan, minum, dan hubungan suami istri pada siang hari. Perintah shiam ini telah Allah gariskan dalam surat al Baqarah ayat 183 yang  dijadikan dasar hukum wajib melaksanakan ibadah puasa pada bulan Ramadhan. Meskipun sunat hukumnya, ibadah puasa dalam arti shiam selayaknya dilaksanakan juga pada bulan-bulan di luar bulan Ramadhan. 

Idealnya, kita mampu meraih derajat shaum setelah kita mampu melaksanakan ibadah puasa dalam arti shiam. Seperti halnya shiam, shaum memiliki makna menahan diri, namun bukan menahan diri dari rasa lapar, dahaga, atau melakukan hubungan suami-istri, tapi menahan diri dari hal-hal yang bersifat psikologis. Shaum bermakna menahan diri dari berbicara, menahan pandangan dan pendengaran dari hal-hal yang tidak bermanfaat, serta mengendalikan hati dari hal-hal yang bisa merusak keimanan, mengotori hati, dan mengotori akhlak mulia.

Di tengah-tengah komentar negatif masyarakat dan  kebingungan dengan kelahiran putranya, Siti Maryam a.s. diperintahkan Allah untuk melaksanakan shaum, menahan diri dari membicarakan kelahiran putranya yang tanpa ayah. “Makan dan minumlah serta bersenang-senanglah. Jika engkau melihat seseorang (mengingkari keadaanmu yang melahirkan anak tanpa ayah) maka (berilah isyarat) bahwa engkau sedang melaksanakan shaum (sehingga) tidak akan berbicara kepada siapa pun hari ini.” (Q. S. Maryam : 26).

Shaum yang dilaksanakan Siti Maryam a. s. bukanlah menahan diri dari makan dan minum, karena pada awal ayatnya juga, Allah mempersilakannya untuk makan dan minum, namun shaum yang dilakukan Siti Maryam, a. s. adalah menahan diri dari berbicara. Perilaku “shaum” inilah yang sering hilang dari ibadah “shiam” kita.

Kita mampu menahan lapar, dahaga, dan berhubungan suami istri pada siang hari, namun kita tidak melakukan shaum (menahan) lisan, pandangan, dan pendengaran kita dari perbuatan maksiat. Kita tak mampu mengendalikan hati dan otak kita dari membayangkan hal-hal jelek yang dapat mendorong indra kita melakukan kemaksiatan.

Sebuah hadits populer yang sering dibacakan pada bulan  Ramadhan adalah kekhawatiran Rasulullah saw akan banyaknya orang yang melaksanakan ibadah puasa, namun tak ada nilai apapun dari ibadah puasanya, selain lapar dan dahaga saja. Mereka hanya mampu melaksanakan shiam, dan melalaikan perilaku shaum.

Ibadah shiam yang mereka lakukan tidak mengantarkannya menuju shaum. Layaknya orang yang jalan di tempat, kakinya digerakkan secepat mungkin, badan pun lelah berpeluh keringat, namun ketika gerakannya berhenti, ia masih tinggal di tempat. Ia tak bergeser sedikit pun. 

Kita harus berlindung dari ibadah puasa yang hanya melakukan shiam saja, tidak berperilaku shaum. Kita merasakan kelelahan dan kehausan pada saing hari,  namun ibadah puasa kita tidak  mengantarkan kita kepada keridaan dan ampunan Allah. Na’udzu billahi min dzalika.

 

Penulis, Pemerhati dan Praktisi Pendidikan Agama Islam. Tinggal di Kp. Pasar Tengah Cisurupan Garut Jawa Barat. 

Komentar

Loading...