Breaking News

Dakwah Bukan Sekedar Ceramah

Dakwah Bukan Sekedar Ceramah
Ilustrasi.net

BERDAKWAH bukanlah berceramah, hanya saja berceramah merupakan bagian dari metode dakwah. Dengan kata lain, dakwah bisa dilakukan dengan berbagai cara.

Banyak sahabat Rasulullah saw yang berdakwah tanpa berceramah. Mereka melakukan dakwah  sesuai dengan profesi dan potensi yang mereka miliki. Abdurrahman bin Auf,  seorang pengusaha kaya pada waktu itu, berdakwah dengan hartanya. Ia memberikan bantuan kepada siapapun yang memerlukan bantuannya. Karena kedermawanan dan kelembutan akhlaknya, tak sedikit orang yang tertarik masuk Islam.

Zaid bin Tsabit berdakwah melalui tulisan dan penguasaan terhadap bahasa asing (Bahasa Ibrani). Ia berjasa menghimpun al Quran dengan teliti, ayat demi ayat, surat demi surat. Masih banyak sahabat Rasulullah lainnya yang berdakwah melalui karya nyata, tidak melalui ceramah.

Meneladani para sahabat Rasulullah saw, kita pun dapat berdakwah dengan beragam cara. Berbagai profesi dan potensi yang kita miliki, baik harta, ilmu, dan kekuasaan dapat kita pergunakan sebagai sarana berdakwah. Satu hal yang harus dipahami, hakikat dakwah adalah menyampaikan kebenaran dan keindahan Islam sebagai rahmatan lil’alamin, mengajak kepada kebaikan serta mencegah berbagai kemunkaran.

Terdapat  berbagai merode dakwah yang dapat kita lakukan sesuai dengan kemampuan kita. Pertama, dakwah Fardiyah. Dakwah ini merupakan metode dakwah yang dilakukan seseorang kepada seseorang atau beberapa orang dalam jumlah kecil dan terbatas.

Dakwah fardiyah bisa dilakukan secara spontan, misalnya mengingatkan seseorang untuk melaksanakan ibadah shalat, atau mengajak melaksanakan shalat berjamaah. Contoh lainnya menengok orang sakit atau orang yang terkena musibah. Kita bisa mengunjungi mereka sambil memberikan nasihat kesabaran, tetap dalam ketaatan kepada Allah,  dan mendoakannya.

Kedua, dakwah billisan,  artinya dakwah melalui lisan atau melalui kata-kata. Inilah dakwah yang paling umum dilaksanakan. Bentuknya bisa berpidato, berceramah, atau berkhotbah. Kepiawaian berpidato atau penguasaan terhadap teknik retorika sangat diperlukan bagi orang yang ingin melakukan dakwah dengan metode ini.  

Ketiga, dakwah bittadwin. Dakwah ini disebut juga dakwah bilqalam, yakni dakwah melalui tulisan. Dakwah bittadwin dapat berbentuk tulisan artikel di media massa, baik koran, majalah, maupun menulis buku.

Pada zaman serba online seperti sekarang ini, dakwah bittadwin dapat dilakukan melalui  blog, facebook, group whatsapp, instagram, twitter, dan lain-lain. Berbagai aplikasi dalam smartphone juga dapat dipergunakan untuk melakukan dakwah bittadwin, misalnya dengan mengirim pesan  atau poster ajakan untuk berbuat kebaikan, mengingatkan agar selalu shalat berjamaah, dan lain sebagainya.

Keempat, Dakwah bilhal. Artinya dakwah dengan perbuatan atau contoh nyata. Dakwah bilhal memiliki pengaruh yang lebih kuat daripada bentuk-bentuk dakwah lainnya. Melalui dakwah bilhal, orang-orang akan melihat sendiri perbuatan nyata yang dilakukan oleh seorang da’i (juru dakwah). Orang bijak mengatakan, satu perbuatan nyata  sekecil apa pun, jauh lebih bermakna dibandingkan seribu kata-kata indah tanpa perbuatan nyata.

Contoh dakwah bilhal, sebelum kita menyuruh orang lain untuk mengeluarkan sedekah, kita sudah terlebih dahulu melakukannya. Demikian pula, tatkala kita mengajak orang lain untuk selalu melaksanakan ibadah shalat berjamaah di masjid, kita sudah terlebih dahulu melakukannya.

Dakwah bilhal lebih berat daripada metode dakwah lainnya. Semua orang dapat saja berbicara dan menulis tentang kebaikan, namun belum tentu sesuai dengan perilaku kesehariannya. Lain di mulut, lain di tulisan, lain pula dengan kenyataan perilaku keseharian. Dakwah bilhal tidak menuntut  banyak kata atau tulisan panjang, dakwah bilhal hanya menuntut perbuatan nyata. Sedikit bicara banyak beramal, memberi contoh nyata.

Dakwah bilhal dapat dilaksanakan sesuai dengan kapasitas dan kemampuan kita. Profesi dan potensi kita dapat digunakan sebagai sarana dakwah bilhal. Memperlihatkan kejujuran dan profesionalitas dalam bekerja merupakan bagian dari dakwah bilhal.

Seorang polisi dapat berdakwah dengan jabatannya dengan  berperilaku disiplin dan jujur dalam melaksanakan tugas. Demikian pula seorang hakim dan jaksa dapat berdakwah dengan profesinya, menjadi penegak keadilan yang didasari ketulusan dan kejujuran.

Seorang pedagang dapat berdakwah dengan menjadi pedagang yang jujur. Seorang guru dapat berdakwah dengan menjadi guru yang profesional, disiplin, dan benar-benar menjadi sosok yang dapat digugu dan ditiru murid-muridnya. Demikian pula dengan para pejabat lainnya, mereka dapat berdakwah bilhal dengan memperlihatkan akhlak baik yang didasari nilai-nilai Islam.

Melakukan dakwah merupakan kewajiban bagi setiap muslim. Namun demikian,  dalam melaksanakannya setiap orang harus mengukur kemampuan pemahaman terhadap keislamannya. Seseorang tidak boleh memaksakan berdakwah di luar batas kemampuan pemahamannya terhadap al Qur’an dan Sunnah Rasulullah saw.

Selain itu, setiap juru dakwah harus benar-benar melakukan pengkajian terhadap materi yang akan disampaikan. Hal ini penting dilakukan agar dakwah yang yang ia sampaikan tepat sasaran dan sesuai dengan kebutuhan jamaah.

Sangatlah bijak jika seseorang berdakwah sesuai dengan posisi, profesi, dan kemampuan keilmuannya. Tidak memaksakan diri dan disampaikan dengan bijak dan benar-benar memahami kebutuhan khalayak yang menjadi sasaran dakwahnya.***

Penulis, Pemerhati dan Praktisi Pendidikan Agama Islam. Tinggal di kampung Pasar Tengah Cisurupan Garut Jawa Barat.

Iklan Duka Cita Ibunda Bupati Nagan Raya

Komentar

Loading...