Cerpen Sherzod Artikov

Cerpen Sherzod Artikov
ilustrasi. therichest.com

Memburu Mimpi

Aku terbangun tiba-tiba. Pagi baru saja turun. Di luar kudengar seseorang memanggil-manggil namaku dengan suara keras, dari arah jalan.

“Selamat pagi, Paman Nurmat,” Aku memberi salam seraya melebarkan pintu pagar untuk tetanggaku yang berdiri di hadapanku. Ia mengenakan pakaian yang nampak aneh di mataku, seperti dari zaman kuno.

“Aku…aku…” ia berkata dengan napas memburu. “Aku memanggil-manggilmu lama sekali tadi. udara di luar begitu dingin.” Ujarnya sambil menggigil.

“Maaf paman, mari masuk.”

Paman Nurmat berusia 70 tahun, berperawakan kecil kurus, dengan rambut yang tetap lebat.  Ia kini hidup miskin.  Istrinya telah wafat beberapa tahun lalu, meninggalkannya bersama kedua anak mereka. Tak ada keluarga yang dimilikinya kecuali dua anak perempuannya itu, yang sesekali dikunjunginya.

Paman Nurmat sebenarnya pernah menjadi aktor, kendati aktor yang melulu hanya bermain untuk peran-peran kecil sepanjang kariernya. Sampai kini, jauh di lubuk hatinya ia tetap  menyimpan keinginan untuk  mewujudkan mimpi memerankan tokoh dalam drama  Shakespeare, yang semakin  lama berkembang menjadi sesuatu yang obsesif baginya. Lelaki, yang satu-satunya peran penting yang sempat dimainkannya di panggung sebagai Babchinsky dalam The Inspector itu, sesungguhnya adalah seorang yang berhati tulus dan tidak keras kepala sebagaimana sifat orang-orang tua pada umumnya. Ia juga berperangai baik dan gerakannya gesit. Pada capaian usianya yang sekarang, tak ada lagi yang ia pertanyakan mengenai hidup, juga tak ada yang dikeluhkannya tentang nasib. Akan tetapi ada satu hal yang menggalaukan hatinya. Meskipun punya pengalaman empat puluh tahun di dunia teater, ia selalu saja  kehilangan rasa percaya diri begitu berada di panggung. Dan karena hal itu pulalah, konon ia tak bisa memainkan peran sebagai King Lear tua dalam salah satu drama terkenal Shakespeare.

“Kemarin aku latihan banyak, tetanggaku,” katanya, sambil lari menghambur masuk melewatiku, menuju tungku untuk berdiang.

“Tapi tak berhasil. Tidak pas. Aku membatin, bagaimana aku berlatih seperti itu, di sore hari? Kan seharusnya aku berlatih pagi hari, dan bangun seiring embun pagi. Itu keputusan terbaik menurutku. Sebab kemarin malam aku mengulang monolog si raja malang dalam scene terakhir saja, sampai empat kali. Hasilnya tidak sukses. Tapi pagi ini  latihanku jauh lebih baik.” Sambil berbicara, ia menggosok-gosokkan kedua tangannya, supaya hangat.

“Boleh aku duduk di kursi itu?”

Rupanya tubuhnya sudah mulai terasa nyaman setelah berdiang. Ia pun beranjak dari muka tungku.

“Lihat, aku duduk seperti ini. Tidak tegak. Agak sedikit membungkuk, sebab begitulah cara Raja Lear duduk. Karena ia sudah tua dan lelah, dan tangannya pun selalu gemetar. Itu sebabnya ia tak bisa memeluk mayat putrinya dengan erat. Ia hanya mampu terbelalak, merasa sulit memercayai kematian itu.”                                                                                       

Paman Nurmat nampak susah payah membuka mata, dan sejurus kemudian mengeluarkan lembaran kertas kucal dari saku jaketnya. Lalu, seraya membayangkan posisinya mirip King Lear, ia mulai menarasikan monolog yang pilu itu, sambil sesekali melirik kertas di tangannya.

“Aku punya beberapa kelemahan untuk melakukan ini,” ujarnya seusai merampungkan monolog tersebut.

“Aku terutama harus sangat serius pada scene akhir ini. Ini bagian tersulit.”

Ia bangkit dari kursinya, mendekat ke arahku, melanjutkan kata-katanya.

“Bahkan aktor besar pun akan kesulitan di bagian itu. Itu sebabnya aku harus amat serius pada bagian akhir monolog tersebut dan harus menghafalnya lagi. Kalau tidak, masa aku harus  membawakaannya sambil membaca kertas? Jika aku kelak kembali ke panggung, hari ini atau esok, aku tak boleh membawakan monolog itu sambil membaca catatan.”

Ia mengusap keningnya, menghela napas.

“Aku harus mengatasi problem ini. Lebih baik sekarang aku pulang.”

Paman Nurmat mengucapkan terima kasih padaku karena telah bersedia menontonnya berlatih monolog. Ia meraih kertas kucal catatannya lalu berjalan ke pintu keluar.

Setelah ia pulang, aku ke luar, lengkap dengan baju hangat. Hari itu aku menghabiskan waktu sepanjang hari di perpustakaan kota, karena membutuhkan buku-buku untuk mengumpulkan informasi mengenai risetku atas literatur Amerika Latin. Ketika aku sampai di rumah pada malam harinya, aku melihat sosok Paman Nurmat di gerbang pagar. Ia tengah menggedor-gedor pintu gerbang dengan kepalan tangannya. Masih mengenakan pakaian aneh yang ia kenakan beberapa jam lalu.

“Oh kau tak di rumah rupanya?” katanya begitu menengok ke arahku.

“Aku ke perpustakaan,” jawabku sambil menunjuk pada buku-buku di tanganku.

“Aku ke teater tadi,” ujarnya, mengacuhkan buku-buku yang kutunjukkan.

“Aku ingin bicara pada sutradara mengenai niatku kembali berteater. Aku menunggu lama sekali di luar kantornya tadi. Dan ternyata ia tak muncul. Besok aku akan berusaha menemuinya lagi. Akan kusampaikan padanya keputusanku untuk kembali ke panggung. Aku akan memainkan peran King Lear.” Suaranya begitu yakin, dan wajahnya berbinar penuh harapan.

Ketika melewati rumah Paman Nurmat keesokan hari , kulihat jendela yang bingkainya retak, menghadap ke jalan, terbuka, dan kepala paman Nurmat muncul dari baliknya.

“Hai tetanggaku,” ia berteriak memanggilku. “Aku sudah ketemu sutradara itu semalam, dan telah kusampaikan niatku. Dia mendengarkan dengan saksama dan merespons dengan baik  maksud hatiku itu. Cuma saja kelihatannya kesempatan untukku itu ditunda dulu untuk waktu lama,  sebab katanya saat ini tak ada lowongan. Tapi ia janji akan meneleponku sesegera mungkin begitu ada lowongan lagi.”

Paman Nurmat yang polos nampak gembira dengan harapan yang ia bangun sendiri dalam pikirannya.  Ia percaya penuh pada janji sang sutradara.

Setelah pertemuan itu,  selama tiga hari kemudian Paman Nurmat tidak datang menemuiku. Dan ketika akhirnya kami bertemu lagi, kulihat wajahnya begitu gundah.

“Bajingan, bajingan,” ia memaki-maki.  Kemudian seperti  biasa, Ia duduk di depan tungku, menghangatkan diri. Tangannya terus bergerak-gerak sepanjang bicara.

“Ngomong-ngomong, anak-anak perempuanku sedang ada di sini,” ada nada gusar dalam suaranya ketika mengucapkan kalimat itu, yang menurutku bukanlah karakter aslinya.

“Aku bilang pada mereka bahwa aku akan kembali main teater. Tapi mereka tak menyetujui gagasanku. Mereka bilang aku sudah tua dan tak bisa bekerja baik seperti dulu. Dengar, mereka bilang aku tidak bisa kerja.  Tidak, itu tidak akan terjadi. Ini adalah saat terbaik untuk memerankan King Lear. Dan usiaku cocok untuk itu. Bukankah King Lear juga berumur tujuh puluhan?”

Tiba-tiba ia bangkit dari duduk lalu berjalan mondar mandir di ruangan, dengan kedua tangan ke belakang.

“Kamu lihat, kan?” katanya, berhenti sekonyong di hadapanku.

“Kamu sudah lihat aku memainkan peran King Lear dalam monolog, dan aku mampu menghayati pemikirannya. Dan kau juga telah menyaksikan bagaimana ekspresifnya aku saat membaca monolog itu. Sementara mereka, putri-putriku itu, bahkan tak pernah melihat atau mendengarku. Mereka telah membuatku sangat sedih dengan kata-kata mereka yang kejam.”

Aku mengalihkan perhatianku sejenak dari buku, kepalaku tengah mumet membaca  deskripsi tentang potret Mario Benedetti, yang merupakan salah satu topik akademikku. Mendengar paman Nurmat yang terus saja mengoceh sambil mengomel, aku merasa tak bisa konsentrasi berpikir. Tiba-tiba kudengar suara air mendidih dari ketel.  Aku segera bangkit, menyeduh teh.

“Teh itu bisa meningkatkan tekanan darah,” ujar Paman Nurmat. Ia kelihatannya tidak haus, dan menaruh gelas tehnya di ambang jendela.

“Paman, mungkin putri-putrimu menyampaikan hal yang benar,” kataku seraya meneguk tuntas tehku. Dan entah kenapa aku merasa sedih  menatap sisa teh di dasar cangkir. Paman Nurmat juga memandang sedih padaku.

“Mereka tak mengerti apa-apa,” Sahutnya pendek.

“Aku dulu menyewa tempat tinggal di daerah ini karena alasan pekerjaan, yang menyebabkan kadang waktuku untuk berkunjung ke orang tuaku jadi sering tertunda lantaran terhalang pekerjaanku di institut. Karena begitulah ilmu pengetahuan, sangat menyita waktu. Tapi sejak aku melepaskan pekerjaanku di sana, aku jadi punya lebih banyak waktu untuk mengunjungi mereka.” Kataku, mengalihkan pembicaraan.

“Besok aku akan pergi ke desa,” sambungku lagi,  ketika kurasakan emosi paman Nurmat sudah sedikit mereda.

“Aku akan mengunjungi orang tuaku barang dua atau tiga hari, bahkan mungkin juga seminggu.” Ia hanya mengangguk sebagai respon, seolah menyatakan kesetujuannya.

“Semoga di saat itu nanti, pimpinan teater akan meneleponku.” Suara penuh harapnya dengan jelas kutangkap.

                                                                     ***

Aku berada di desa, di rumah orang tuaku, hingga dua minggu lamanya. Hari-hari dingin sepanjang Januari nampaknya lebih dingin di sini.  Aku melanjutkan pekerjaan risetku tanpa meninggalkan rumah karena cuaca yang menggigilkan tubuh itu. Hari-hari pun terasa membosankan. Sisa waktu kugunakan untuk menerjemahkan cerita-cerita Benedetti ke dalam bahasa Uzbek.

Ketika aku kembali ke kota, hujan salju turun. Tak kira-kira, tebal salju hingga selutut. Jalan-jalan menjadi licin, yang menyebabkan bukan hanya berbahaya untuk jalan kaki, tapi juga berbahaya untuk kondisi berkendara. Semua yang berada di jalan raya bergerak sangat pelan dan hati-hati, sehingga seolah speedometer taksi yang kunaiki ini seperti tak berfungsi karena  saking pelannya.              

Ketika turun dari taksi sesampainya dekat rumah, aku melihat mobil ambulans tak jauh dari kediaman paman Nurmat. Sang sopir ada di dalam. Beberapa saat kemudian, seorang petugas medis keluar dari rumah paman Nurmat, menenteng tas peralatan kedokteran. Ia naik ke ambulans, mengambil tempat di depan. Ambulans lalu bergerak pelan kearah jalan raya. Setelah membayar ongkos taksi, aku melangkah ke rumah paman Nurmat. Begitu masuk, putri sulungnya, Zarifa, yang nampaknya baru saja mengambil air dari sumur, menyapaku. Aku menanyakan kabar serta kesehatannya sejenak, lalu masuk ke dalam rumah.

Paman Nurmat berbaring di ranjangnya, memandang ke langit-langit. Kepalanya tertutup perban putih.

“Kemarin ia sangat mabuk dan tergelincir di salju,” Zarifa menerangkan. Kepala bagian belakang paman Nurmat cidera.  Aku duduk di kursi di sisi tempat tidur, dan menurunkan barang bawaanku.

“Direktur teater itu belum juga meneleponku,” ujar Paman Nurmat, begitu ia melihatku.

Sunyi sejenak. Mataku mengitari ruangan. Tungku kulihat tak menyala, tak jauh dari tungku ada lemari kecil berisi dua lusinan buku di dalamnya, ranjang rusak, kursi tua, sementara di ambang jendela terletak pesawat telpon serta botol anggur kosong di sisinya, setumpukan kertas dan juga jarum-jarum suntik bekas berserakan. Udara dingin menyelimuti seluruh ruang.   Aku bergerak ke halaman.

“Tetanggaku,” sambut Paman Nurmat dengan pandangan cemas, sekembalinya aku dari halaman mengambil kayu-kayu bakar untuk menyalakan tungku.

“Tolong kau periksa pesawat teleponku, apakah kabelnya rusak?”

“Tidak paman, baik-baik saja,” jawabku setelah memeriksa kabel teleponnya yang memang dalam keadaan baik. Aku mengambil pemantik api dan menyalakan tungku.

“Oh ok,” ujarnya dengan wajah gembira, mendengar jawabanku yang meyakinkannya.

“Kalau direktur teater itu nanti menelepon, telepon itu tentu akan berbunyi.”

Dalam sebentar saja tungku sudah panas dan suara kayu bakar di dalamnya terdengar berderak-derak. Ruangan pun segera terasa hangat. Zarifa yang rupanya melihat kepulan asap dari tungku,  muncul di ruangan  ingin ikut menghangatkan badan.

“Aku hafal di luar kepala semua pembicaraan dan monolog King Lear,” kata paman Nurmat, ketika Zarifa kemudian ke luar ruangan menuju halaman, sambil menggerak-gerakkan tubuhnya.

Paman Nurmat kelihatan tidak nyaman saat bicara. Ia tak bisa menggerakkan kepalanya karena cidera yang dialaminya kemarin, sehingga hanya matanya saja yang berputar dan bergerak selagi bercerita. 

“Tapi belum juga ada telepon dari teater sampai sekarang. Padahal setiap hari aku menunggu. Tetap tak ada berita.”

Paman Nurmat akhirnya jatuh tertidur. Nampaknya, petugas medis menambahkan  obat tidur juga pada cairan suntikan pembius.  Putri bungsu paman Nurmat, Zamira, masuk ke ruangan,  menuju  jendela. Ia mengambil serakan  kain-kain perban di lantai. Setelah selesai, ia duduk di pinggir tempat tidur di mana ayahnya berbaring.

“Ayah harus ke rumah sakit ya, dan jangan membantah,” katanya kepada sang Ayah yang baru saja terbangun.

Paman Nurmat menengok ke arah Zamira dengan pandang takjub, kemudian ke arah putri  sulungnya yang baru datang membawakan segelas teh.

“Aku tidak mau ke rumah sakit. Aku sedang menunggu telepon dari teater.”

Putrinya hanya menggeleng-gelengkan kepala mendengar kata-kata sang Ayah.

“Ayah, mereka tidak akan menelepon,”ujar Zamira dengan suara serupa merintih.

“Ayah tahu tidak, kenapa mereka tidak bakal meneleponmu? Karena mereka tidak membutuhkan Ayah. Ada banyak sekali aktor di teater itu yang mampu memainkan peran sebagai King Lear tersebut. Dan mereka jauh lebih berbakat. Jadi sang direktur tak akan memberikan peran itu pada Ayah, tapi akan memberikannya pada mereka. Jika sewaktu Ayah masih bekerja di teater itu dulu saja Ayah tak pernah diberikan peran penting, apakah ayah pikir mereka akan memberikannya sekarang?”

“Adikku benar,” sela Zarifa si sulung, dengan suara agak kencang dari arah tangga. Sepanjang hidup Ayah bermimpi mendapatkan peran King Lear. Sampai-sampai sebagian besar hidup dan masa muda Ayah habiskan untuk mimpi itu. Dan tak pernah terwujud sampai saat ini. Itu bukan takdirmu, Ayah. Ayah sekarang sudah tua. Sudah bukan masanya lagi untuk terus menerus memelihara mimpi itu.”

Paman Nurmat menarik napas berat, tangannya mencengkeram pinggir tempat tidur sekuat tenaga.

“Kau….kau berdua, keluar dari ruangan ini.” Suaranya terdengar gusar sekaligus sedih.

Setelah kedua putrinya pergi, ia berbaring diam, tanpa melepaskan pandangannya dari pintu. Ketika ia kemudian berbicara, aku hampir tak bisa membedakan apakah ia sedang bicara pada dirinya sendiri atau bicara padaku.

“Aku menjalani hidup bukan semata memburu mimpi, tapi justru sibuk memelihara dan membesarkan mereka, putri-putriku itu. Dulu semua kolegaku datang setiap pagi ke teater dengan baju serta penampilan rapi, sementara aku selalu hanya memakai pakaian usang ditambah jenggot yang tak tercukur berminggu-minggu lamanya, karena aku tak punya cukup waktu mengurus diriku sendiri. Aku sibuk tiap hari mengurus kedua putriku, karena istriku sakit. Aku memandikan mereka, menyiapkan makan dan menyuapi mereka, lalu mengantar ke sekolah, membantu keduanya mengerjakan pe-er, dan kalau mereka jatuh sakit, aku juga yang menjaga mereka di rumah sakit selama beberapa hari. Oleh sebab itulah, aku tak dapat fokus bekerja di teater  sebagaimana selalu kuimpikan.  Padahal aku berbakat. Apa boleh buat, untuk  merawat anak-anakku menuntut waktu sangat banyak. Sering kali saat  sedang pentas aku ditegur sutradara, bukan hanya karena aku gagal memerankan dengan baik tokoh yang dipercayakan kepadaku, tapi juga karena aku kerap tidak hafal dialog. Ya begitulah,  aku tidak mampu mengelola diriku sendiri seperti rekan-rekan lain. Aku tidak sempat membaca buku-buku, tidak sempat mengeksplorasi kemampuan dialogku. Dua puluh empat jam sehari waktuku habis hanya untuk mengurus dua putriku. Akhirnya teater berhenti memberiku peran. Sutradara menilaiku sebagai aktor yang tidak kompeten, tidak mampu memainkan peran apa pun, tidak mampu bertanggungjawab pada pekerjaan, dan aku diberhentikan setelah berbulan-bulan lamanya didiamkan tanpa mendapatkan peran. Kalaupun sesekali diberikan peran, hanya untuk produksi kacangan di mana aku hanya diberi peran kecil dengan beberapa baris dialog saja.”

Sejurus kemudian Paman Nurmat diam membisu, memandang sedih ke arah pesawat telepon. Air matanya  mengambang lalu pelahan turun mengaliri kedua pipi tuanya yang keriput.

“Aku tak pernah berhasil mengejar mimpiku,” desahnya, dengan mata terpejam.

Kayu-kayu di tungku telah habis semua terbakar.  Aku pun keluar lagi menuju halaman, mengambil satu bundel kayu bakar lagi untuk ditambahkan ke tungku. 

Selagi aku memanaskan kayu-kayu bakar tersebut, tiba-tiba pintu terbuka. Dua petugas medis yang pagi lalu kulihat, muncul di muka pintu.

“Kami telah berupaya membawa ayah anda ke rumah sakit, tapi ia tidak mau,” katanya kea rah Zamira.

“Ya begitulah, orang kalau sudah tua menjadi plin plan,” jawab Zamira agak malu, seraya melirik ke arah tempat tidur di mana ayahnya terbaring.

Kedua lelaki petugas medis itu kemudian mengangkat tubuh paman Nurmat ke atas brankar dan membawanya ke luar. Paman Nurmat kali ini pasrah saja, bahkan membuka mata pun tidak.

Aku beranjak ke jendela, berdiri sendirian di tengah-tengah ruangan. Sobekan kertas naskah monolog King Lear nampak tercecer di bawah jendela, dan sebagian terbang ke sisi botol anggur dan jarum suntik, serta….dekat pesawat telepon.

Mataku menyapu seisi ruang, seolah-olah sedang membersihkannya. Di ambang pintu, nampak Zamira berdiri. Aku lantas berjalan menuju koridor, dan termenung di sana, sambil bersandar ke dinding. Tiba-tiba telepon berdering. Sesaat kemudian kudengar suara Zarifa mengangkatnya.

(Diterjemahkan oleh Ewith Bahar dari naskah asli berbahasa Inggris, “Following The Dream” karya Sherzod Artikov)

Sherzod Artikov merupakan editor sebuah media dan sekaligus penulis asal Uzbekistan, kelahiran tahun  1985, di kota Marghilan. Ia lulus dari Ferghana Polytechnic Institute pada tahun 2005. Bukunya yang terbaru, “The Autumn Symphony”  terbit tahun 2020.

Karya-karyanya berupa esai diterbitkan banyak majalah di Uzbek, Rusia, dan Ukraina, antara lain majalah Cameron, Topos, dan Autograph. Cerpen-cerpennya juga tersebar di majalah-majalah sastra di Kazakhstan, Amerika Serikat, Serbia, Mongtenegro, Turki,  Bangladesh, Pakistan, Mesir, Slovenia, Jerman, Yunani, Cina, Peru, Saudi Arabia, Mexico, Argentina, Spanyol, Italia, Bolivia, Costa Rica, Romania dan India.

Komentar

Loading...