Cerpen Remaja Kinanthi Yuarsyanda KH

Cerpen Remaja Kinanthi Yuarsyanda KH
Ilustrasi.wattpad.com

Kamera

Minggu pagi, 09.03

Awan hitam pekat menggantung di angkasa. Hujan pun mulai jatuh membasahi permukaan bumi. Sesekali kilat menyambar membelah kegelapan langit yang ditutupi awan. Gemuruh yang berakhir dengan gelegar guntur terkadang membuatku ketakutan. Di saat-saat hujan yang disertai suara guntur inilah aku malas keluar. Kutarik selimutku lebih tinggi lagi hingga menutupi kepala, sementara aku meringkuk semakin dalam mencari kehangatan di balik  selimut.

Sial. Baru saja mataku terpejam, tiba-tiba suara kakakku mengagetkan, “Adik, cepet bangun. Sarapan!”

Aku tidak menghiraukannya. Kutupi kepalaku dengan bantal. Tapi dasar kakakku, yang tidak suka panggilannya diabaikan terus berteriak sambil menggedor-gedor pintu. Suara gedoran pada pintu kamarku terasa memekakkan telinga, bahkan mengalahkan suara guntur di luar sana.

“Bangun. Sudah jam 9. Jangan malas-malasan!” hardik kakakku sambil menerobos masuk kamarku.

Dengan jengkel ditariknya timbunan selimut dan bantal yang menutupi kepalaku, sehingga serta merta udara dingin menusuk masuk ke dalam kulitku, seolah tak mendengar apa pun. Aku meringkuk semakin dalam seperti tenggiling dengan harapan hangat kembali menyelimuti. Tapi kakakku tetap tak menyerah. Malah terlihat jengkel dengan perempatan imajiner di dahinya. Tak pandang bulu, dia menarikku jatuh dari tempat tidur. Menciptakan suara bruk pelan dan rintihan dari mulutku.

Alih-alih bangun, aku kembali ke posisi meringkuk di lantai. Kini kakakku gemas dengan tingkahku yang sulit sekali bangun pagi, apalagi di hari Minggu. Mungkin sekarang ada banyak sekali perempatan imajiner di kepalanya. Kakak mulai mengguncang bahuku, lalu seluruh tubuhku. Tentu saja ia tidak melakukannya dengan lembut. Kakak tahu cara lembut tak akan berhasil padaku.

“Hgggh. Iya, iya,” kataku menyerah. Aku terduduk di depan kasur sambil menguap. Duduk sebentar selagi tubuhku menyesuaikan diri dengan suhu lingkungan. Kakak berdiri sambil berkacak pinggang di ambang pintu kamar dengan senyum penuh kemenangan yang terlihat sangat menjengkelkan di mataku. Tapi lebih baik diam daripada berdebat.

“Ayo, cepat turun!” bentak kakakku sambil berlalu, pergi ke dapur.

“Ganggu banget,” gerutuku sambil beranjak, mengikutinya.

Di meja makan hanya ada kakak. Abi sama bunda pasti sudah berangkat, pikirku. Abi dan bunda harus menghadiri pernikahan bibi di luar kota selama lima hari. Di rumah ini tidak hanya ada aku dan kakak yang itu. Masih ada kakakku yang satunya lagi. Yang perempuan, yang berteriak pertama kali dengan suara melengking-lengking. Kalau yang membangunkanku tadi itu kakak yang laki-laki. Nah, kakakku yang perempuan ini yang sudah duduk manis. Sedangkan kakakku yang laki-laki tak tahu tiba-tiba ke mana. Palingan ke kamar mandi.

***

Namaku Kinanthi. Saat ini masih kelas 2 SMP. Kakak laki-lakiku bernama Afan, kelas 3 SMA, sedangkan kakak perempuanku bernama Sinta. Kak Sinta baru saja lulus. Perbedaan umur yang lumayan tipis antara aku dan Mas Afan-lah yang membuat kami sangat akrab. Bahkan sekolah kami bersebelahan. Tapi kami bertiga sangat dekat.

“Lama banget, Dik,” kak Sinta menegurku sambil mengambil piring.

“Ngantuk.” jawabku, malas.

“Suruh siapa begadang?” balas Kak Sinta lagi.

“Tau, nih,” Mas Afan yang baru muncul malah ikut-ikutan.

“Mending makan aja deh.” Aku malas berdebat dengan kakak-kakakku yang sedang kompak. Kalau dibalas, malah aku yang kesal nantinya. Kedua kakakku hanya terkekeh geli, memutuskan untuk mengalah. Syukur. Mereka tidak ingin adik kecil mereka badmood pagi-pagi. Bisa kacau.

Kami bertiga akhirnya makan dengan tenang. Kami larut dalam pikiran masing-masing sebelum akhirnya Kak Sinta memecah keheningan.

“Dik Kin,” katanya.

“Hm...,” sahutku singkat.

“Nanti sore Adik ada kegiatan sekolah?”

“Ada,” jawabku singkat sambil melanjutkan makan.

“Nah, kebetulan, Mas Afan-nya ada kegiatan juga.”

“Terus?” tanyaku lagi, agak penasaran.

“Adik berangkat sama Mas Afan, ya,” kata kakak tertuaku dengan santai.

“Lho, terus Kak Sinta? Kan juga kegiatan di sekolah mulai jam empat.”

“Ada reuni sama temen-temen SMA. Arahnya beda. Semakin awal semakin baik,” jawab kak Sinta sambil tersenyum tanpa dosa.

“Oh, terserah.” jawabku dan Mas Afan secara bersamaan.

Keheningan kembali memenuhi ruangan. Setelah makan, kami bersantai bersama di depan TV. Hujan yang tak kunjung berhenti membuat suhu lingkungan turun drastis.

***

Minggu, 14.30

Selesai mandi, aku memakai kaos lengan panjang berwarna abu-abu dongker, celana dongker, dan kerudung abu-abu. Tak lupa jam tangan. Selagi menunggu, aku menyiapkan barang-barang yang setidaknya kubutuhkan.

Minggu sore adalah jadwal ekstra kulikuler sekolah bidang fotografi. Jadi aku menyiapkan kamera, buku coret-coretanku, tepat pensil, uang saku, air, dan ponsel. Setelah lengkap, aku membawanya ke ruang depan. Duduk manis sambil memainkan ponsel. Mas Afan dan Kak Sinta siap beberapa menit kemudian.

***

Minggu, 15.00

Kami bertiga sudah siap di halaman. Seperti rencana semula, Aku dan mas Afan ke arah timur. Sedangkan kak Sinta ke barat.

Sesampainya di sekolah, aku langsung berlari-lari kecil ke ruang ekstra kulikuler sekolah. Di dalam ruangan hanya ada 5 anggota yang berkumpul. Sedangkan jumlah total keseluruhan anggota ekstra kulikuler sekolah 16 siswa. Tapi hari ini yang datang cuma aku, Najmi, Nihla, Shultan, Fahri, dan Desi. Pembina ekstra kulikuler sekolah belum datang. Najmi dan Nihla mengecek ke ruang guru. Dan ternyata pembimbing kami sedang sakit. Jadi kami yang hadir harus memotret suasana sekolah yang sedang hujan, atau suasana hujan. Awan hitam di langit belum kunjung hilang juga.

Kami berenam sepakat untuk bekerja sama dan membagi dua kelompok. Aku, Shultan, dan Desi mulai memotret aktivitas lapangan. Sedangkan Najmi, Nihla, dan Fahri memotret aktivitas kelas. Kami sepakat untuk berkumpul lagi jam 16.30 di ruang fotografi untuk saling bertukar foto.

Aku, Shultan, dan Desi bergegas menuju lapangan. Karena ekskul basket, futsal, dan bulu tangkis sedang berlatih. Tentunya mereka berlatih di lapangan yang berbeda. Aku memotret estra kulikuler sekolah futsal lebih dulu. Kedua temanku mengekor di belakang. Aku meminta teman-teman yang tidak sekelompok denganku memotret dan menjadi objek di tempat berbeda.

Pukul 17.00, kami selesai dan berkumpul di tempat yang kami sepakati. Teman-temanku puas dengan hasil pemotretannya.

“Ada yang aneh,” pikirku. “Kelompok dua belum kembali?” tanyaku. “Ke mana mereka?” sambungku. Hening. Pertanyaanku direspons dengan pandangan mata penasaran dan gelengan kepala.

Kelompok kedua, Najmi, Nihla, dan Fahri juga mulai menelusuri ruang-ruang ekstra kulikuler sekolah lain. Mulai dari aktivitas paduan suara sampai kesenian lain. Teman-temanku tidak mengalami kesulitan seperti kelompok pertama, karena teman-temanku hanya memotret objek diam. Teman-teman juga mendapat izin untuk memotret dari pembimbing masing-masing.

Ketika kami akhirnya berkumpul dalam satu ruangan, di antara kami mendadak  merasakan hawa dingin merasuk kuat. Awalnya di antara kami memang ingin lari. Tapi karena mereka melihat anak-anak klub seni yang lain bersikap biasa saja, bahkan bercanda dan mengobrol satu sama lain di ruangan itu, akhirnya kami tetap memotret.

Di antara kami ada yang memotret kegiatan melukis. Ada sebuah lukisan perempuan bergaun merah dengan wajah yang amat sangat cantik. Rambutnya yang berwarna pirang keemasan dihias bunga mawar merah hingga menambah kecantikan perempuan itu. Najmi meminta izin untuk memotret lukisan itu, sementara Nilha memotret benda-benda yang ada di sana, dan Fahri memotret kegiatannya. Setelah merasa puas, kami pun kembali ke ruangan fotografi.

“Mi, lihat hasil fotomu,” pintaku dengan wajah datar.

“Nih, itu beda-beda, ya,” katanya sambil memberikan kameranya.

“Hah. Beda-beda apanya?” tanya Desi yang ikut bingung.

“Maksudnya, itu per anak hasil fotonya berbeda-beda. Aku motret lukisan hasil kegiatan sama modelnya, Nihla motret benda-benda yang ada, sementara Fahri motret kegiatannya,” jelasnya.

Nihla dan Fahri sudah bergabung dengan Shultan untuk melihat hasil foto, Desi mengambil SD card kamera, sedangkan Kinanthi dan Najmi sibuk adu mulut.

Pukul 17.30, kami belum pulang. Di samping alasan hujan, alasan lain adalah karena tidak ada yang menjemput, tidak terkeuali aku. Mas Afan bilang mungkin acara di sekolahnya selesai sampai malam.  Beruntung, Shultan, Najmi, dan Nihla. Hanya tinggal 1 kamera lagi, yaitu milik teman cerewetku ini belum dijemput, sehingga aku tidak merasa sendirian.

Selama menanti jemputan tiba, kami bercengkerama, membicarakan banyak hal, tak terkecuali hasil pemotretan. Najmi memberikan SD Card kameranya. Dan kami mulai melihat-lihat. Ada sebuah foto yang membuat kami mengernyitkan dahi dan merinding. Nihla pun sadar kalau aku merasakan sesuatu yang aneh.

“Kenapa, Kin?” tanyanya.

“Hm… Aku gak niat bikin kalian takut. Tapi aku gak lihat ada foto ini sebelumnya,” kataku sambil menunjuk foto perempuan bergaun merah seperti yang kulihat pertama kali. Hanya saja kini foto itu ada dua, sementara pada foto yang kedua terdapat keanehan,  yaitu di bagian leher sang wanita. Pada foto perempuan bergaun merah itu terdapat bekas jeratan yang terlihat nyata. Najmi dan Nihla sudah pucat melihatnya. Sementara Shultan sedang berusaha stay cool meski terlihat jelas kalau dia takut. Najmi meminta agar foto itu dihapus. Memang, kami semua yang ada di situ menginginkan agar foto itu dihapus. Tanpa di komando dua kali, Shultan langsung menekan tombol delete di laptop-nya. Kami semua menghela napas lega selama beberapa saat.

Tapi sesuatu yang lebih dan membuat kami merinding terjadi. Tiba-tiba layaknya WA yang mendapat spam, foto-foto bermunculan. Dengan perubahan sedikit-sedikit seperti proyektor animasi, menampilkan seorang perempuan cantik dengan gaun merah yang sedikit menoleh ke arah kiri, dengan bekas jeratan tali di lehernya. Pelan-pelan seiring foto yang terus bermunculan, perempuan itu menoleh ke arah kami, sehingga membuat kami dan terutama Shultan langsung menutup laptopnya.

Kami masih shock dengan foto yang kami lihat bersama-sama. Tangan Najmi yang memegang kamera bergetar hebat. Air mata berlinang di pelupuk matanya.

“Aii, gimana ini, Kin?” ujarnya pelan dan lirih.

“Kenapa?”

“Kartu card-nya sudah ternoda.“

Nihla mencoba membuka laptop Shultan dan menyalakan layarnya lagi. Kami semua terpaku pada layar laptop yang gelap. Semula, saat Nihla mencoba menyalakan layar, tidak terjadi apa-apa. Tiba-tiba layar laptop menyala dan menampilkan foto seorang perempuan bergaun merah berambut pirang keemasan tapi bermata hitam seolah tidak ada mata di situ dengan darah mengalir, leher merah berceceran darah, dan seringai lebar berdarah terpampang penuh di layar. Mengingat foto itu begitu menakjubkan, eh, mengerikan maksudnya, kami berempat berteriak sangat keras. Dua orang anggota seni yang kebetulan berada di sekitar ruangan menghampiri kami dengan raut wajah khawatir.

Kami pun menjelaskan kronologi kejadian dari saat kami mendapat tugas dari pembimbing sampai kejadian yang baru saja terjadi. Mereka mendengarkan cerita kami dengan raut wajah serius.

“Jadi, Aline menampakkan dirinya pada kalian?” tanya Shinta pada kami kemudian.

“Aline? Siapa itu?” tanyaku.

“Aline itu nama perempuan merah itu. Dia mati digantung,” jawab Shinta lagi.

“Kalau dia sudah menampakkan diri seperti itu berarti dia suka sama kalian,” Reyhan menimpali. “Terutama kamu, Shul,” imbuhnya.

“Lho, salahku apa?” tanya Shultan.

“Aline kayanya suka deh sama laptop-mu,” jawab Reyhan sambil menyeringai.

“Nggak deh. Gak usah repot-repot. Buat kamu aja,” jawabnya.

“Terus bagaimana ini?” tanya Nihla, yang memang jarang bicara.

“Bawa aja ke tukang servis, ke Kiai, atau beli lagi kalo perlu,” jawab Shinta.

“Kalian kayak enteng, ya,” sahutku kemudian.

“Soalnya anggota baru ekskul seni pasti pernah ngalamin beginian,” jawabnya lagi.

Najmi yang dari tadi diam, tiba-tiba melotot melihat layar kamera DSLR-nya. Kami yang penasaran mengambil kamera itu. Anehnya, foto tadi ada lagi. Hanya saja kali ini ada tulisannya: ‘Halo’ dengan warna tulisan semerah darah. Lekas aku mematikan kamera dan  memasukkannya ke dalam tasnya. Lalu aku menoleh ke arah teman-temanku. Masing-masing terpaku dan membisu.

 

KINANTHI YUARSYANDA KH, anak kedua dari pasangan Sukahar dan Ibunda Dwi Yanti Yusa Fitria. Penyuka permainan catur, peraih berbagai penghargaan dan olimpiade ini lahir di desa Banasare, Sumenep, Madura, 20 Februari 2005.

Kinan demikian siswi SMP Negeri 1 Sumenep ini dipanggil, mulai aktif  menulis cerita pendek sejak duduk di bangku sekolah dasar (SD). Selain menulis, ia juga senang menggambar dan menari. Ia juga mendapat juara 2 lomba menulis puisi tingkat SMP. Salah satu cerpennya terpilih sebagai cerpen terbaik dan masuk dalam antologi 20 Karya Terbaik Penulisan Cerpen tingkat nasional. Kinan juga mendapat penghargaan sebagai dalang dalam Festival Dalang Remaja

Komentar

Loading...