Cerpen Remaja Kinanthi Yuarsyanda KH

Cerpen Remaja Kinanthi Yuarsyanda KH
Ilustrasi

SALVOS1

“Huaahh... Membereskan kamar itu merepotkan,” keluhku sambil membaringkan tubuh di atas ranjang empuk. “Merapikan kamar yang berantakan itu benar-benar merepotkan, sangat melelahkan,” gerutuku lagi, “untunglah sekarang aku bisa beristirahat.”

“Zack, makan malam siap!”

Ouch... Perintah dari ibu membuatku batal beristirahat. Selelah apa pun, aku harus mematuhi ibuku. Akhinya aku turun dari ranjang kemudian berjalan dengan langkah gontai menuju meja makan. Makanan sudah terhidang di atas meja. Ayah juga sudah duduk rapi di kursinya. Demikian juga dengan ibuku.

Setelah makan malam, ayah dan ibu pamit. Kedua orang tuaku harus ke luar kota dalam rangka tugas dinas selama beberapa hari. Sebenarnya sih hanya ayah yang mendapatkan tugas dinas. Tapi ibu bersikeras ikut dengan alasan khawatir dengan ayah. Bagaimana dengan nasibku setelah ditinggal sendirian di rumah?

Oleh karena aku sendirian di rumah yang setiap saat selalu didera rasa bosan, maka kuputuskan untuk menonton TV saja. Menurutku, daripada hanya bengong tak jelas di depan jendela, kan? Tapi masalahnya, tak ada acara yang menarik. Jadi sama saja aku bengong sambil menonton TV. Atau TV yang menontonku?

Yahh... Salahku juga tak memiliki teman. Meski bukan sepenuhnya salahku sih. Mereka yang lebih dulu menjauhiku. Kalau aku punya teman, aku sekarang tak akan kesepian. Meski mereka membosankan, tapi itu lebih baik daripada bicara sendiri, kan?

Aku menghela napas sebelum naik ke kamarku di lantai dua. Lebih baik tidur dari pada tak ada yang bisa dilakukan. Untuk yang kedua kalinya di hari ini aku membanting tubuhku di atas kasur. Nyaman sekali.

***

Entah sampai berapa lama aku tidur ketika akhirnya perlahan-lahan aku membuka mataku perlahan. Pandanganku masih buram. Sesaat aku mengucek mataku pelan. Setelah pandanganku jelas ternyata aku merasakan sesuatu yang aneh dengan suasana sekitar yang masih gelap. Aku tidak tahu aku lagi dimana. Aku bangkit perlahan lalu kususuri pelan-pelan jalan sempit serupa labirin.

Aku akui ini agak mengerikan. Ketika kau sedang tertidur di ranjang empuk dan saat terbangun tiba-tiba aku merasa berada di tempat antah berantah.

“Mimpikah ini, di mana sebenarnya aku?” pertanyaan yang sama terus terulang di kepalaku.

Aku tidak tahu kemana kakiku melangkah. Dengan bingung kususuri suatu tempat gelap asing, tak menyenangkan. Kau tak akan pernah tahu apa yang akan terjadi kemudian. Itu sangat membuat hati was-was.

Aku masih berputar-putar di tempat yang ternyata mirip labirin. Bedanya adalah tempat ini sangat gelap, terlalu gelap, hanya sedikit cahaya yang menyinari di beberapa titik, juga bentuk interior yang sangat mirip dengan koridor bawah tanah. Anehnya, sirkulasi udara di sini tidak pengap. Kukira aku akan mati karena kehabisan oksigen disini. Aku juga menduga tempat ini adalah sebuah ruangan bawah tanah. Tapi nyatanya aku masih hidup setelah hampir dua setengah jam.

Selama berada di ruangan ini aku was-was. Tak satu pun benda yang bisa kujadikan senjata. Hanya ada pipa-pipa saluran tua yang menempel di dinding dan lampu redup yang terus berkedip membuat mataku sakit. Tak ada yang bisa kulakukan untuk mempertahankan diri jika diserang.

Hampir empat jam aku berjalan dan aku mulai menemukan sesuatu yang menarik. Ternyata aku tak sendirian! Meski yang kulakukan hanya berputar-putar sampai kakiku sakit, tapi aku merasa lega karena aku kini tak sendiri. Ada sekelompok remaja seusiaku yang juga terlihat kebingungan, dan itu menguntungkan bagiku.

“Hei, kalian,” kupanggil mereka dari kejauhan, mereka semua terkejut mendengar suaraku. Mereka melambai ke arahku. Tanpa berpikir panjang, aku pun mendekati mereka. Tapi aneh, mereka terlihat kebingungan. Ada juga di antara mereka yang merasa ketakutan.

“Bagaimana kau bisa sampai di sini?” tanyaku langsung tanpa basa-basi.

“Aku tidak tahu. Ketika aku membuka mata aku sudah berada di tempat ini,” jawab salah seorang pemuda dengan lembut.

“Aku juga begitu. Tapi aku tahu kalau ini hanyalah mimpi,” sahut seorang gadis berambut pirang panjang dengan nada angkuh.

“Apa kita bisa terbangun lagi?” tanya seorang pemuda bertubuh besar.

“Entahlah...,” jawab seorang pemuda lainnya dengan nada dingin.

Dalam keadaan bingung, kami hanya bisa menerka-nerka sebab keberadaan kami di ruangan bawah tanah. Kami benar-benar tak mengerti dengan apa yang terjadi. Ada seorang gadis yang menangis, dan seorang gadis lain sedang menenangkannya.

Klontang!

Grudukkk....

Suara logam jatuh dan gemuruh membuat kami melompat kaget. Seketika juga ruangan tempat kami berdiri melebar. Kini kami tepat berada di tengah lorong panjang nan lebar. Interior berubah menyerupai bebatuan yang diterangi dengan cahaya obor. Kaget. Kami masih memproses apa yang baru saja terjadi.

Grudukk... Grudukk... Grudukk...

Suara benda logam menggelinding membuat berjaga-jaga. Perhatian kini teralih pada mulut ruangan. Sebuah silinder yang sangat besar menggelinding ke arah kami. Butuh waktu sekitar dua detik hingga kami dihantam kesadaran untuk berlari. Secepat mungkin kami berbalik dan berlari sekuat tenaga ke pintu berukuran 3x4 meter yang semakin mengecil. Kami berjumlah tujuh orang, empat laki-laki dan tiga perempuan.

Pasti ada kemungkinan yang tak selamat, terutama yang perempuan, pikirku.

Brukk...

Ugh... Sial! Kenapa dia harus jatuh sih? Tiba-tiba pemuda di depanku berbalik.

“Tinggalkan dia,” teriak salah seorang gadis. “Tidak ada yang menjamin kalau kau akan tetap hidup kalau mati di sini!”

Crasshh...

Tubuh remaja yang tertinggal di belakang seketika tergilas silinder. Sontak kami menoleh. Cairan kemerahan membasahi salah satu sisi silinder itu.

“Jangan alihkan pandangan kalian dari depan!” gadis tadi kembali berteriak. Posisinya berada di paling depan. Sambil menggandeng gadis yang tadi menangis. “Cepat. Pintunya semakin mengecil,” teriaknya. Lalu melompat keluar pintu. Kami yang tersisa cepat-cepat berlari. Jarak kami dengan silinder raksasa itu kini sangat tipis. Hanya dua meter.

Dan.... Hap!

Crashhhh...

Tepat ketika aku dan dua yang lain melompat, pintu berukuran 50x100 cm yang tersisa tertutup oleh jeruji. Akibatnya, salah seorang pemuda terjebak dan berakhir tergilas. Organ-organ tubuhnya muncrat ke segala arah dengan cairan merah pekat membasahi celah-celah jeruji. Bau amis ikut menyusul memenuhi tempat gelap itu.

Kami terangah-engah. Hampir tidak percaya dengan apa yang kami alami. Gadis tadi kembali sesenggukan di pelukan gadis bermulut tajam. Kami semua berpandangan sesaat. Lalu tiba-tiba obor menyala menerangi tempat kami yang sedang terduduk lemas. Interior kembali menjadi logam suram dan dingin.

“Kira.”

“Huh?”

Aku menoleh pada gadis bermulut tajam tadi. Begitu juga dengan yang lain.

“Namaku Kira,” ulangnya. Kami saling pandang beberapa saat sebelum aku berdeham.

“Aku Zack,” balasku sambil menoleh pada yang lain. Memberi isyarat untuk memperkenalkan diri.

“N-namaku Mima.”

“Aku Tyson.”

“Aku Ness. Gadis yang jatuh tadi itu Prim. Kalau yang laki-laki itu Sid.”

Gadis penakut, pemuda lembut, dan pemuda dingin menjawab berurutan.

Kira memiliki rambut berwarna coklat gelap, dan terhitung tinggi untuk ukuran perempuan. Mima sendiri berambut merah dan jauh lebih pendek dari Kira. Tyson berambut pirang dan sama tinggi denganku. Sedangkan Ness, dia yang paling tinggi di antara kami, dan ia memiliki rambut hitam kecokelatan. Perbedaan ini membuatku cukup mudah untuk mengingat nama mereka.

Grakk... Drak… Drak…

Tiba-tiba sebuah suara mekanisme mesin membuat kami mematung. Suara itu berasal dari lorong tadi. Kini lorong itu berubah menjadi lorong logam yang suram. Tapi jejak darah Prim dan Sid masih tercetak jelas, juga dengan sisa-sisa organ gepeng-gepeng yang masih menempel pada lantai lorong.

“Jadi, sekarang apa?” tanya Tyson, memecah keheningan.

“Sekarang kita harus keluar dari tempat ini,” kira bangkit.

“Aku setuju.”

“Tunggu dulu. Kita akan pergi ke mana?”

“Ke mana pun asal bukan di sini,” jawab Ness membuat Tyson bungkam.

Kami hanya menyusuri lorong-lorong suram tanpa ujung. Mungkin sudah empat jam kami berjalan tanpa henti. Tak ada yang berubah. Hanya lorong gelap dengan persimpangan di beberapa sisi, dan lampu redup pada tembok. Kami saling berdekatan. Kami tidak bisa menjamin keselamatan kami. Aku sendiri jadi berpikir, berapa lama aku tertidur di dunia?

“Hei, ada cahaya di sana!” teriak Tyson sambil menunjuk ke kejauhan. Dia berlari-lari kecil tanpa curiga sedikit pun. Maksudku, siapa yang tidak curiga jika semudah ini? Aku melihat kilatan di sana.

“Tunggu. Tyson, itu jebakan!” jeritku.

Tapi terlambat.

Craasshhh...

Pisau besar membelah tubuh Tyson menjadi dua bagian. Organ-organ dalamnya berhamburan dengan darah yang mengalir sangat deras. Tak berhenti sampai situ, pisau-pisau lain mencincang sisa tubuh Tyson sampai hanya tersisa onggokan daging tak berbentuk.

Kami yang tersisa hanya bisa melihat dengan mulut menganga, antara ngeri dan jijik bercampur menjadi satu. Memang apa yang bisa kami lakukan? Dan tiba-tiba, di saat kami berada di ambang kebimbangan sebuah suara mekanisme mesin memecah keheningan. 

Draakkkk... Drakk.. Drakk..

Draakkkk... Drakk.. Drakk.

Suara mekanisme mesin kembali bergemuruh, sehingga panel di samping kiri kami terbuka. Ketika kumasuki lorong-lorong berliku dan persimpangan tak beraturan. Jumlah lampu lebih banyak, tapi tetap redup dan suram. San ukurannya lebih sempit daripada lorong utama. Kini ada dua pilihan untuk kami. Pilihan pertama, melewati tempat terang dan terbuka, ada pisau yang entah dari mana atau kapan akan menusuk, lalu membelahmu. Atau kedua, labirin gelap yang entah berbahaya atau tidak, karena ada samar-samar suara raungan. Aku sendiri tak yakin. Aku menoleh pada Kira, Mima, dan Ness di belakangku, menanyakan pendapat mereka.

“Kupikir kita lewat labirin saja,” saran Ness.

“Setuju. Aku tidak yakin kita akan tetap utuh jika melewati pisau-pisau itu,” Kira menyetujuinya. Sudah dua suara. Sedangkan Mima tetap bergetar. Kuanggap ia setuju bila melewati labirin.

Aku masuk lebih dulu, dan Ness terakhir. Ketika kami sudah di dalam, panel pintu di belakang kami tertutup jeruji. Oh, ini juga jebakan! Mau tak mau kami harus mengikuti alur permainan ini. Perlahan tapi pasti, kami meyusuri lorong demi lorong. Tapi kurasa,  kami hanya berputar-putar, kecuali jika memang bagian dalam labirin ini memang sama. Lelah. Itulah yang kami rasakan. Kami sudah berputar-putar dan berjalan total lebih dari enam jam tanpa makan atau minum.

“Bisakah kita istirahat sebentar?” suara Mima yang berhasil memecahkan keheningan.

Kira menoleh sebentar padaku dan Ness, minta persetujuan. Ness mengangguk.  Tentu saja aku juga mengangguk. Aku bisa mati berjalan jika tak beristirahat. Kami memutuskan untuk berhenti di salah satu ruangan di ujung lorong. Ruangan ini cukup lebar di salah satu gang buntu, lengkap dengan beberapa kerangka dan jaring laba-laba.

Aku duduk bersandar pada salah satu sisi dinding dengan Mima di seberangku. Ness di sisi lain, sedangkan Kira berkeliling ruangan. Hebat sekali. Dia masih bisa berdiri. Kulihat Mima terengah-engah pelan.

“Hei, aku menemukan sesuatu!” seru Kira sambil mendongak.

Kira menunjuk sebuah cerukan yang cukup tinggi. Kami mengikuti arah telunjuknya. Tentu saja Kira tak bisa menjangkau curuk itu. Untung saja ada Ness yang bertubuh tinggi. Dia berjinjit sedikit untuk meraih apa pun yang berada di cerukan itu hingga akhirnya ia mendapatkan sesuatu, sebuah keranjang berisi buah-buahan dan kue-kue kering juga beberapa botol air. Ness meletakkan keranjang itu di tengah ruangan, kami berempat mengelilingi keranjang itu. Aku menemukan secarik kertas bertuliskan ‘auxilium’2. Entah apa artinya. Di samping kertas itu ada sekarang makanan buah dan kue.

Kami makan dengan lahap untuk mengisi kembali tenaga yang terlalu banyak terkuras. Kami tak bertanya lagi milik siapa buah-buahan dan kue itu. Buah dan kue lebih dari cukup untuk saat ini.

Aku sendiri kembali berpikir, apa ini mimpi? Kalau ini mimpi, kenapa semua terasa nyata? Darah, kue, buah, semua terasa nyata. Apa mereka bertiga merasakan hal yang sama?

Gggrrrraaaaaaagghhh..... Ggrrraaaaaaaagggghh...

Geraman bercampur raungan bergema di setiap lorong. Apalagi sekarang? Setelah silinder raksasa dan pisau pencincang kini kami dikejar monster? Kuharap tidak.

“Kurasa sekarang saat yang tepat untuk pergi,” kata Ness sambil berdiri. Disusul olehku dan Kira. Terakhir Mima. Kami mulai berlari kecil tak tentu arah. Intinya hanya satu: selamat dan tak bertemu dengan makhluk apa pun itu. Raungan semakin keras terdengar. Sepertinya ada lebih dari satu makhluk. Dan posisinya tak jauh dari kami.

Brakk...

Suara panel logam hancur membuat kami menoleh. Di belakang kami kini ada seekor makhluk mirip kucing, tapi bukan kucing. Makhluk itu memiliki cakar dan taring yang sangat panjang, bulu berwarna abu-abu kusam, mata merah menyala.

Geez..

Bukan waktunya untuk menoleh atau takut. Aku menarik tangan Kira dan Mima untuk berlari lebih cepat. Ness memimpin untuk saat ini. Dengan cepat ia mengambil keputusan untuk melangkah. Tiap tikungan terasa mengerikan jika ada seekor makhluk mengerikan berjarak kurang dari empat meter mengejarmu.

Brakk..

Ada seekor makhluk aneh lain yang mendobrak salah satu panel dan ikut mengejar kami. Ness berputar-putar dengan harapan dapat membuat kedua makhluk itu bingung. Tiba-tiba ia mengambil jalan ke kiri, tapi kemudian dia berteriak panik.

“Jalan buntu!”

“Terlambat. Mereka semakin dekat!” seruku sambil terus berlari merapat ke dinding.

“Kira, ada jalan di atas!” seru Mima. Kami menoleh serentak ke atas.

Sekitar satu setengah meter di atas kepala kami terdapat jalan rahasia. Ness tanpa pikir panjang langsung berjongkok. Aku yang menagkap isyaratnya langsung naik ke bahunya. Kira memberi isyarat kepada Mima untuk naik duluan. Ia menjadikan tangannya sebagai tumpuan agar Mima bisa memanjat ke bahuku dan mencapai jalan keluar. Raungan dan geraman kedua makhluk itu terdengar semakin dekat. Mima terburu-buru memanjat. Tak peduli beberapa kali dia menendang wajahku. Setelah sampai di atas, dengan sigap Kira memanjat punggungku dan Ness. Dengan cepat dan tenang, dia mencapai tempat Mima.

Sekarang giliranku. Aku berdiri di pundak Ness, memberikan kode kalau akau akan melompat. Dia mendapat isyaratku dan bersiap menghadapi hentakanku. Aku melompat dan tanganku disambut oleh tangan Kira. Dengan sigap, dia menarikku. Tepat ketika aku terlempar ke dalam lorong rahasia itu, kedua makhluk jadi-jadian itu tiba.

Terlambat bagi Ness untuk menyusul kami. Tepat ketika tangannya meraih tanganku, tubuhnya ditarik oleh cakar panjang dan tertusuk tanduk panjang berduri. Dia terbatuk darah sambil tersenyum kepada kami sebelum akhirnya tangan dalam genggamanku yang tiba-tiba terpotong oleh cakar panjang nan tajam. Mima menjerit tertahan, Kira menutup mulutnya, dan aku sendiri shock ketika masih menggenggam pergelangan tangan yang telah terputus dari tubuh pemiliknya.

Tubuh Ness terjatuh ke tanah dan langsung disambut oleh taring dan cakar makhluk itu. Organ-organ tubuh mulai dari usus, lambung, hati, ginjal, dan paru-paru berhamburan, berserakan di lantai logam sebelum dilahap oleh mereka. Bau amis kental menyengat indra penciuman. Lebih tajam dari sebelumnya. Tangan dan kakinya terpisah dari badan dengan kolam darah sebagai latarnya. Aku menatap mual pada potongan tangan yang kugenggam. Dengan refleks, aku melemparnya ke bawah. Sisa-sisa darah Ness masih melekat di tanganku. Dan tiba-tiba jeruji besi menghantam menutup.

“Zack, kita harus pergi,” kata Kira sambil menepuk bahuku. Tatapannya berusaha menguatkanku yang sedang shock. Ness mengorbankan dirinya agar kami selamat. Karena kini aku mengerti sistem permainan ini. Ludum de salvos3, satu dari kami akan mati setiap permainan yang berlangsung. Tapi kenapa Prim dan Sid gugur di saat yang bersamaan?

 “Kira, Zack dan aku menemukan sesuatu!” teriak Mima di ujung jalan.

Sepertinya ada jalan keluar dari lorong mirip ventilasi ini. Kami sampai di sebuah ruangan berbeda. Ruangan kali ini bernuansa merah dengan tombak-tombak runcing tak beraturan di bawah kami. Kami berdiri di atas lempengan besi yang tergantung oleh rantai, tepat di atas tombak-tombak tadi. Untuk yang kesekian kalinya, jalan penghubung kami dengan ruangan sebelumnya akan tertutup oleh jeruji besi.

Grakk.. Sreekk.. Crek..

Lempengan yang menjadi pijakan kami bergeser ke tengah, tepat ke bagian yang paling mengerikan. Karena di bawah kami kini terdapat barisan tombak tak beraturan, baik segi tinggi atau letaknya, kalau kami jatuh, habis sudah. Kurasakan lempengan ini sedikit bergoyang. Semakin tak stabil. Aku mulai mengerti cara kerja permainan bertahan hidup berikutnya. Lempengan besi ini hanya bisa menahan dua orang. Maka satu sari kami harus di buang ke bawah sana. Jarak kami ke dasar kurang lebih enam meter. Kemungkinan hidup sangat kecil, bahkan tak ada.

“Satu dari kita harus melompat,” kata Kira dengan tenang. Kenapa ia masih bisa tenang? Luar biasa.

“Jangan bercanda. Maksudmu salah satu kita harus mati?”

“Tidak ada cara lain, Zack. Kita tak bisa melakukan apa pun sekarang. Jarak kita dari langit-langit atau dasar sangat jauh. Tidak ada cara lain!”

“Aku tidak tidak mau mati...”

Grakk... Drakk..

Rantai semakin mendekat. Kami bisa mati jika masih bertiga. Tapi siapa yang harus berkorban? Aku tak bisa menjamin diriku. Mima pasti terlalu takut. Tapi bagaimana dengan Kira? Dia yang paling tenang selama ini. Tunggu, apa yang sudah kupikirkan. Aku ingin mengorbankan orang yang sudah membantuku? Kuakui mulutnya cukup tajam, tapi aku tak akan mengorbankan siapa pun.

“Baiklah, aku yang akan melompat.”

“Hei, Zack,” panggil Kira saat elihat Zack bersiap-siap.

“Sampai bertemu lagi di dunia nyata. Kalau kita bisa beretmu, sih,” jawab Zack sambil tersenyum kemudian melompat. Apa yang dia lakukan?

Tubuh Zack menancap pada salah satu tombak yang cukup panjang dari yang lain. Darah membasahi dasar di bawah kami. Organ-organ berhamburan. Tertusuk masing-masing mata tombak. Tengkoraknya terbelah. Isinya berhamburan. Mima menutup mulutnya dengan air mata menggenangi pelupuk matanya.

Tombak-tombak itu tertarik ke dalam tanah. Rantai yang menahan pijakan kami juga terulur dengan cepat. Syukurlah kami tak terluka. Meski tombak-tombak itu menghilang tak berbekas, sisa organ dan tubuh Kira masih tersisa dengan darah membasahi area sekitarnya. Ruangan ini kini berubah menjadi tempat terbuka yang disinari cahaya matahari. Aku berdoa di dekat mayat Kira yang sudah tak berbentuk lagi. Sekalian juga untuk Ness. Mereka sudah membantuku.

Kurasa masih ada satu permainan lagi. Entah apa permainan terakhir. Yang penting aku harus bersiap. Mima pasti masih shock dengan semua kematian yang terjadi.

Stab.. Crashh...

“Aakkkhh!” teriakku ketika benda tajam hampir membelah punggungku. Aku berbalik dan melihat Mima memegang sebuah kapak berlumuran darah. Tatapannya berubah.

“Zack, kumohon matilah untukku.”

“Mi-mima, apa yang kau lakukan?”

“Seperti yang kau lihat kan? Inilah permainan terakhir. Kita akan bertarung sampai hanya tersisa satu. Inilah inti dari permainan!” teriaknya sambil tertawa kesetanan. Bagaimana bisa dia berubah seperti itu? Bukankah ia hanya seorang gadis cengeng penakut?

“Terkejut, Zack? Jujur saja memuakkan harus berpura-pura seperti gadis cengeng penakut. Tapi harus kulakukan agar kalian melindungiku!”

“Kau penipu, Mima!”

“Aku harus melakukannya untuk tetap hidup!”

Cepat-cepat aku berlari ke salah satu sisi tempat beberapa senjata diletakkan. Kuraih pisau belati terdekat sambil meringis lantaran darah yang terus mengalir dari punggungku. Aku berusaha menghindari setiap serangan membabi-buta yang di lancarkan Mima. Setiap gerakan membuat darahku keluar semakin deras. Lengah. Mima berhasail menyobek lengan dan perutku. Darah terlalu banyak keluar. Pandanganku mulai mengabur. Aku tak bisa melakukan apa pun lagi. Kubiarkan dia menebas leherku. Kubiarkan senyumku merekah, membalas senyum psikopatnya.

***

Kurasakan keringat deras membasahi tubuhku sebelum akhirnya aku membuka mata. Mimpi. Itu hanya mimpi. Dan waktu masih malam. Kuambil ponselku. Kucek waktu yang hanya bergeser satu jam dari saat kutidur.

Astaga.... kurasa, begadang lebih baik daripada tidur.

Kuputuskan untuk membawa bantal dan selimut ke depan TV. Aku begadang saja.[]

Catatan:
1. Salvos: Bertahan hidup
2. Auxilium: Pertolongan/bantuan
3. Ludum de Salvos: Permainan bertahan hidup
4. Ludum Castitate: Kemurnian game

 

KINANTHI YUARSYANDA KH, anak kedua dari pasangan Sukahar dan Ibunda Dwi Yanti Yusa Fitria. Penyuka permainan catur, peraih berbagai penghargaan dan olimpiade ini lahir di desa Banasare, Sumenep, Madura, 20 Februari 2005.

Kinan demikian siswi SMP Negeri 1 Sumenep ini dipanggil, mulai aktif  menulis cerita pendek sejak duduk di bangku sekolah dasar (SD). Selain menulis, ia juga senang menggambar dan menari. Ia juga mendapat juara 2 lomba menulis puisi tingkat SMP. Salah satu cerpennya terpilih sebagai cerpen terbaik dan masuk dalam antologi 20 Karya Terbaik Penulisan Cerpen tingkat nasional. Kinan juga mendapat penghargaan sebagai dalang dalam Festival Dalang Remaja

iklan Flayer Gub10
Iklan Ducita Habib Qudrat - Golkar
Iklan Covid-19 Gub.1

Komentar

Loading...