Cerpen Muhammad Lutfi

Cerpen Muhammad Lutfi
Ilustrasi .Pixabay

Jangkrik Dapur

Saya sudah bising dengan suaranya. Setiap malam saya merasa dipungut kelelapan tidur yang nyenyak. Apalagi saya ini seperti menderita gejala insomnia. Tidur rasanya sulit. Kalau sudah bangun jam-jam siang seperti pahlawan kesiangan. Mata masih merah berdarah-darah karena kurang nyenyak. Kulit mengerut dengan nampak wajah yang lelah. Saya rasanya bosan. Belakangan ini terdengar suara jangkrik di dapur yang mengusik tidur. Saya ini sudah menderita karena sulit tidur malam, ditambah lagi suara jangkrik yang menabuhi gendang telinga saya. Ingin saya bunuh jangkrik itu kalau ketangkap.

Memang ada baiknya juga jangkrik itu bersemayam di dapur rumah saya. Sebelum ada jangkrik itu, perabotan dapur dan bumbu dapur berserakan. Karung beras berlubang. Itu semua ulah tikus yang meresahkan. Tikus tersebut sudah berusaha saya racun, tapi tidak berhasil. Sudah saya belikan ranjau tikus yang terbuat dari besi lengkap dengan penjepitnya yang mengkilat. Namun juga belum berhasil melumpuhkan tikus itu.

Sebenarnya, baru dua hari kemarin jangkrik itu membantu saya memerangi tikus di dapur saya. Saya senang, dengan suara jangkrik itu yang bising seperti ultrasonik telah mengusir tikus itu dari dapur rumah. Saya mau ucapkan terima kasih ke jangkrik tersebut, tapi saya sendiri tak menemukan keberadaannya. Hanya saya dengar suaranya yang sangat bising menggerogoti lubang telinga. Setelah itu, saya kira jangkrik itu juga pergi dari dapur, ternyata menjadi wabah imigran baru di dapur saya. Saya sangat jengkel.

Saya sangat ingin menemukannya. Saya sangat dendam pada jangkrik tersebut. Setiap jam 9 malam, saya selalu ke dapur untuk mengambil minuman di kulkas. Setiap saya ke dapur, suara jangkrik itu selalu memancing saya. Selalu memancing emosi saya yang lama-lama mendidih. Beruntung saja, saya termasuk orang yang lembut dan tidak cepat marah. Saya selalu menaruh belas kasihan kepada sesama mahluk. Pertama-tama saat malam itu, saya biakan saja. Jangkrik memang seperti itu. Saya abaikan saja keberadaan jangkrik tersebut. Jangkrik itu mengoceh saya dengan suaranya yang menjengkelkan. Saya rasa, setiap kali saya ke dapur. Entah kenapa kepada saya saja suara itu diocehkan.

Saat adik saya ke dapur tengah malam untuk buang air kecil, jangkrik itu tidak bersuara. Diam saja dia. Saya tanyakan perihal itu pada adik saya, apakah jangkrik di dapur tersebut mengoceh lagi. Dia menjawab kalau jangkrik tersebut diam saja. Dia bahkan tidak tahu-menahu soal keberadaan jangkrik itu di rumah. Yang dia tahu hanya keberadaan tikus yang mencuri beras di dapur, bukannya jangkrik. Dia belum tahu. Saya coba jelaskan perihal yang baru saja terjadi, kalau tikus itu sudah pergi dan posisiya digantikan oleh jangkrik di dapur itu. Dia acuh saja. Saya makin sebel.

Saya ke belakang kembali untuk sekedar merokok. Saya duduk di kursi dapur untuk merokok. Kembali lagi, jangkrik itu mengeluarkan bunyi ultrasonik yang menabuhi gelendang telinga. Memekik telinga saya dengan kejam. Saya tak bisa fokus. Saya tak bisa mendengar suara burung di luar rumah, selain suara jangkrik itu. Semakin keras suaranya. Saya makin sebel saja. Baru dua hisapan saya merokok, dibuat tidak nyaman begini oleh jangkrik. Dasar jangkrik.

Saya mencoba mencari suara jangkrik itu. Saya tutup kedua telinga saya dengan telapak tangan. Suaranya sangat bising. Jangkrik itu masih bersuara. Dasar jangkrik. Saya makin sebel saja. Meskipun sudah saya tutup kedua lubang telinga saya, suara jangkrik itu masih mengambang di dalam pendengaran saya. Saya matikan rokok saya. Saya injak-injak sampai habis apinya. Itu karena saya kesal. Saya makin sebel dibuat jangkrik itu. Saya ambil sapu di dekat rak gelas. Saya akan mencoba memukulnya kalau jangkrik itu keluar setelah saya usik dia. Dalam hal ini saya tak bersalah. Jangkrik itu yang terlebih dahulu mengusik saya. Saya juga bisa melakukan hal itu kepadanya. Saya akan melakukan hal yang sama pada jangkrik itu. Saya akan membuatnya bising dan terusik. Lalu saya pukul pakai sapu lidi.

Saya fokuskan telinga saya ke bawah rak gelas. Ya, tak salah lagi. Benar-benar tak salah. Suara itu berasal dari situ, dari bawah rak gelas, saya nyalakan sorot lampu HP. Sudah saya siapkan sapu untuk pukulan yang telak bagi hama pengusik di dapur. Saya pun berusaha untuk tidak mengganggu kedamaian tidur tetangga saya yang rumahnya di belakang dapur saya. Saya akan melakukannya. Saya lihat ke kolong rak dapur. Jangkrik itu pintar. Dia berhenti mengoceh. Dia acuhkan saya yang sudah kesal dengan tingkahnya. Saya makin geram. Saya ludahkan air ludah kemarahan saya ke di dinding. Suara jangkrk itu benar-benar berhenti. Dia tahu kalau saya akan memukulinya dengan sapu. Dia berhenti melakukan kejahilan. Saya bersikap tenang. Saya mencoba tenang sejenak, duduk kembali di kursi kecil dekat rak gelas. Saya nyalakan lagi rokok saya. Saya ambil yang baru dari kantong baju saya. Saya mencoba tenang.

Begitu saya menyalakan rokok, jangkrik itu keluar. Berjingkrak-jingkrak dan melompati rak gelas. Warna sayapnya yang hitam dan berlipat kasar seperti baju yang belum disetrika itu, saya sadar kalau jangkrik itu jangkrik jantan. Saya posisikan diri sebagai sesama pejantan. Dia jantan, saya pun jantan. Saya akan menantangnya secara terang-terangan. Akan saya ajak dia bergelut. Jangkrik yang lincah itu masih berjingkrak-jingkrak. Saya makin geram. Dia seperti semakin meledek saya. Saya benar-benar akan bergelut dengannya. Saya akan memukulnya dengan sapu di tangan ini. Jangkrik itu masih melompati tembok dan gentong air di dapur saya. Saya kembali berhentikan rokok saya. Saya taruh di atas mangkok.

Jangkrik itu berhenti meloncat. Dia tak berjingkrak lagi. Sikapnya tenang, tapi dingin. Dia seperti ingin melawan saya. Jangkrik itu sepertinya tak mau di usir dari dapur rumah saya. Saya akan memenuhi keinginan jangkrik itu untuk menghadapinya. Jelas, saya sudah berhadapan dengannya. Jangkrik itu bersuara lagi. Mengoceh dengan bising dan semakin keras volumenya. Merusak fokus pendengaran saya. Saya tak akan sanggup menahan rasa geram ini. Saya angkat sapu tinggi-tinggi mencoba mendesaknya dengan rasa ketakutan. Jangkrik itu semakin keras mengoceh. Bunyi ultrasonik itu memekik kembali. Saya tak sanggup menahan rasa sakit dari suaranya. Saya tak tahan. Saya mundur saja. Saya lemparkan sapu itu padanya. Dia bisa menghindar dengan lincah. Saya ambil rokok saya yang tersisa tadi. Saya buka pintu, keluar dari dapur. Melanjutkan menikmati rokok daripada harus bergelut melawan jangkrik. Saya lihat jam di HP saya, menunjukkan pukul 4 pagi. Jika sudah jam begitu, saya harus tidur. Kalau tidak, saya akan kelelahan menyambut pagi hari.

***

Malam tiba kembali. Saya harus siap meringkus jangkrik tersebut. Jangkrik imigran yang berada di dapur saya. Saya sudah muak dengan semua ini. Saya benar-benar sigap untuk meringkusnya malam ini. Malam ini pun saya harus berhasil melakukan perlawanan. Ini adalah rumah saya. Dapur itu adalah dapur saya. Saya tak akan kalah hanya dengan seekor jangkrik. Saya masih menonton TV dan ngopi sampai jam 10 malam. Saya masih enak bersantai-santai. Saya tidak ingin membuang-buang tenaga.

Saya akan sangat senang jika harus menang melawan jangkrik itu. Saya tak menyesal. Sebab sudah lima hari jangkrik itu mengganggu ketentraman saya. Saya semakin terusik. Pistol tak mampu untuk melawan jangkrik itu. Anak panah tak mampu untuk melawan jangkrik itu. Ya, yang mampu hanya tekad dan keberanian saya. Saya telah bertekad untuk melawannya dengan usaha maksimal.

Setelah menonton TV dan menghabiskan kopi, waktu telah semakin larut malam. Jagkrik adalah hewan nokturnal, yang semakin aktif pada malam hari. Pada malam hari begini, suaranya akan semakin jelas terdengar. Jangkrik itu akan begadang dan berpesta pora melakukan aksi konser suara yang ricuh. Sungguh menyebalkan.

Saya angkat diri saya dari tempat duduk. Saya matikan TV. Saya buang ampas kopi di depan rumah. Saya kunci rapat-rapat pintu depan. Tak akan saya biarkan orang lain mengganggu kesenangan saya melawan jangkrik itu. Saya menuju dapur. Menutup pintu tengah. Adik saya masih asyik ngopi di teras depan. Saya tunggu jangkrik itu memancing emosi saya lagi. Saya tunggu dia melakukan tindakan brutal.

Selang beberapa menit, jangkrik itu benar-benar melakukan aksinya. Jangkrik itu mengeluarkan suaranya yang mengganggu gendang telinga saya. Menabuhi gendang telinga saya. Saya kembali mencoba menutupi gendang teling saya dengan kedua telapak tangan. Saya melangkah ke dapur. Membuka pintu dapur. Saya ambil HP dan sapu lagi. Saya menggunakan cara yang sama. Saya menggunakan alat yang sama.

Jangkrik itu sudah siap menunggu saya di dekat kompor. Dia memperhatikan saya. Mengalunkan suaranya lagi. Suara burung di luar rumah tak terdengar lagi. Dia memperhatikan saya dengan langkah siap berjingkrak. Saya tidak tahu apa yang akan dia lakukan. Saya mencoba bicara padanya.

“Ini rumahku. Ini dapurku. Kamu tak berhak berada di sini, karena kamu telah mengganggu kedamaian malamku. Aku punya hak untuk melakukan tuntutan. Kamu tidak punya hak atas tanah ini. Tak punya hak utuk rumah ini. Tak punya hak untuk dapur ibuku yang selalu dia gunakan untuk memasak. Sebelumnya aku ucapkan terima kasih telah mengusir tikus yang mencuri beras di rumah kami. Saya ucapkan terima kasih. Tetapi, kamu juga telah menggantikannya sebagai hama pengganggu di dapur ini. Saya tak sanggup menahannya lagi. Saya sudah muak. Saya semakin muak dengan tingkahmu, dengan ocehanmu yang memekikkan telingaku.”

Jangkrik itu mencoba memahami apa kata-kata saya tadi. Jangkrik itu tetap masih bersuara keras dan tak mau berhenti. Ah, saya makin kalang kabut. Saya rasa, dia jangkrik yang pongah. Dia jangkrik yang tak bisa diatur. Hidup seenaknya sendiri. Tak mau peduli orang lain. Seharusnya dia sadar, kalau rumah ini bukan rumahnya. Dapur ini bukan tempatnya. Aku akan mengambil milikku lagi. Aku akan merenggut kedamaianku yang telah diusiknya. Aku pandangi dia. Aku nyalakan lampu senter HP. Aku soroti dia. Dia mulai berbalik. Di belakangnya, sudah sengaja kubuka pintu untuk melepas kepergiannya. Aku memang sengaja melakukan itu.

Aku bersiap memukulkan sapu kepadanya. Aku ingin melempar sapu itu padanya lagi. Tapi aku tak tega. Aku melihat dia sudah melangkah keluar rumah. Seakan ingin meninggalkan dapur ini. Aku masih memberikannnya toleransi. Aku sungguh tak tega jika harus memukulnya dengan sapu ini. Sapu ini pasti menyakitkan untuk jangkrik itu. Aku taruh sapu itu di lantai. Aku melangkah mendekatinya. Memojokkannya lagi. Aku mencoba terus memojokkannya agar dia tahu maksudku. Aku nyalakan lampu senter HP ku. Dia benar-benar melangkah keluar.

Dia telah melewati pintu dapur dan keluar dari dapur ini. Dia masih tetap mengoceh dan berjingkrak-jingkrak. Dia menuju rerumputan di depan rumah. Aku melihatnya. Aku tak ingin dia mengusik malamku kembali. Aku tak ingin dia menjadi musuh bagiku. Aku telah berhasil melakukan negoisasi dengan jangkrik itu. Aku telah berhasil mengusir jangkrik itu tanpa melakukan perlawanan. Aku tak tega jika harus membunuhnya. Aku melihatnya. Dia hilang di rerumputan. Semenjak itu, dia tak pernah mengusik malamku kembali.

Pati, 3 Oktober 2020

 

Muhammad Lutfi, sastrawan dari Pati, Jawa Tengah. 

Komentar

Loading...