Cerpen Mezra E.Pellondou

Cerpen Mezra E.Pellondou
Ilustrasi.net

 LABELE

Aku menemukannya di hiruk pikuk pasar Turiskain. Sebuah pasar di wilayah perbatasan paling Timur negara Indonesia dengan Timor Leste. Di pasar itu orang-orang dari dua negara, Indonesia maupun Timor Leste bertemu dan melakukan proses jual beli. Penjualnya orang Indonesia, orang Timor dan pembelinya selain orang Indonesia, lebih banyak warga negara Timor Leste.

Pasar itu digelar empat jam saja setiap hari Jumat. Dimulai pagi hari pukul tujuh tepat. Udara sangat panas dan menggosongkan kulit. Aku berada di antara himpitan penjual ikan kering, penjual pakaian,barang kelontong dan penjual makanan. Tiba-tiba suara tawa menggelar yang khas memancing orang-orang mencari arah suara. Rupanya pemilik suara itu berada tepat di sampingku. Ya, untuk pertama kali aku mengenalnya.

"Au funan de klos",teriaknya berulang kali.

Dikeluarkannya seekor ayam jantan dari balik bajunya. Wao, ayam itu terlalu tampan, postur tubuhnya kokoh dan padat. Buluh-buluhnya bersih mengkilab. Rupaya itu ayam petaji jenis jagoan paling unggul.

"Seribu dolar"tawar pembeli yang terlihat sangat akrab dengan penjualnya.

"Da Santos, sebelum kau menawar ayam-ayamku, ingat ya..sudah kukatakan jangan pernah kau bicarakan soal judi di Maliana saat kau datang dan membeli ayamku. Ayam-ayamku tidak bertanggungjawab atas hitam putihnya hidupmu. Kau sendiri yang mengendalikan hidupmu, bukan ayam-ayamku "

"Labele, aku paling benci dengan khotbahmu. Mengapa kau tidak jadi pastor saja? Atau pendeta? Mengapa kau memilih jadi penjual ayam?”

“Hei, aku cuma penjual ayam. Jangan kau bawa-bawa cerita meja judimu di kuping ayam-ayamku. Aku dan ayam-ayamku tidak bertanggungjawab untuk setiap kekalahan atau keberuntunganmu. Kami bukan penjudi”

“Hei, Labele… Justru karena kau penjualnya, dan  saya pelanggan setiamu, berilah saya potongan harga,kawan"

Labele terlihat tidak terpengaruh sedikitpun.

"Semua teman-temanmu cukup menelponku, jika mereka butuh jagoan petaji baru.Setelah itu mereka menunggu pesanannya di pasar ini setiap hari Jumat. Cuma kau pelanggan setia yang istimewa karena ayam-ayam pesananmu aku antar sendiri" Labele memasukan kembali ayamnya dalam kenyamanan dadanya. Di sana, dibalik bajunya yang lusuh,lelaki bersarung lusuh itu telah beri tempat bagi ayam jantannya untuk beristirahat.

‘Nah, kau yang berkata sendiri kan?bahwa jika teman-temanku  butuh jagoan petaji baru mereka menelponmu. Berarti kau ikut memperlancar perjudian. Jangan lagi kau simpan pesananku itu di lapak dadamu”

“Iya, memang begitu.Semua yang hendak membeli ayam-ayamku,memesan terlebih dahulu. Sama halnya jika warga setempat memesan semua ayam-ayamku untuk sekadar  koleksi sebagai bagian dari hobi mereka memelihara ayam,atau mungkin sekadar membuat menu makan untuk sebuah pesta khusus  minum tinto ”   

“Jangan munafik Labele. Sesungguhnya kau juga ikut memperlancar meningkatnya perputaran ekonomi hasil dari perjudian di Maliana”  

Labele tampak gusar. Seketika ia  mengambil sirih dan pinang kering dari dalam alkosunya,berupaya memamahnya dengan santun seakan mempertemukan sirih dan pinang dalam rongga mulutnya merupakan sebuah kerja keras penuh kehati-hatian. Da Santos masih memerhatikannya. Sesaat kemudian seorang bapak datang menukar dolar.

"Hei kau lihat, saya  bukan Abe. Kau orang baru ya?. Saya penjual ayam petarung. Jika kau ingin mengoleksi ayam jago petarung ,atau jika kau ingin minum segelas tinto di pesta istimewa keluargamu, belilah ayam-ayamku. Namun jika kau menang  atau kalah judi di Maliana, itu urusan mu bukan urusan ayam-ayamku”

“Hei, Pak Tua. Kalau kau sedang tidak enak hati dengan temanmu,janganlah kau gusar,aku cuma ingin  bertanya di mana tempat menukar dolar?”  

“Tukarlah dolar-dolarmu di pak tua sana. Dia bernama Abe" Labele menunjuk pada Abe yang berdiri tidak jauh dari mereka.

Lelaki itu  tidak beranjak. Ia mendekatkan pandangnya pada wajah Labele. Sesaat kemudian, lelaki itu malah duduk meringsek bersama Labele.

"Ooo kau Labele, yang diceritakan teman-temanku"

Labele tegak duduknya dan memandangnya. Sebelum Labele mengajukan beberapa pertanyaan pertanda heran, lelaki itu telah memeluknya.

"Kau terkenal sekali di negaraku Timor Leste. Kau penjual ayam jantan petarung dari Indonesia yang sangat terkenal di Timor Leste. Kau tahu…? semua ayam petarung yang dibeli dari tanganmu, tidak pernah kalah di meja judi Maliana"

Lelaki itu berbinar matanya,saat menatap Labele. Ia seperti sedang berjumpa dengan seorang santa.

Da Santos yang menatapnya sejak lama ikut mengangguk. Disodorkan tangannya pada lelaki itu.

"Da Santos. Salam kenal saudara. Kita sama-sama satu negara. Di sini, di  pasar Turiskain ini, dunia begitu sempit. Kita tidak pernah saling mengenal saat di negara kita sendiri "

"Armando. Senang bertemu di Turiskain sodaraku. Indonesia memang tempat yang hangat untuk kita duduk seperti ini dan melepas rindu sebagai saudara"

Labele bangun dari duduknya. Menggeser tubuhnya dan melenggang pergi. Armando mengejarnya.

"Hai sodara, saya belum selesai bicara"

Da Santos pun mengikuti.

"Betul sodara,saya juga belum mendapatkan kepastian tawaranku"

"Kau membawa harta karun itu Labele?. Di mana lapakmu?hmm maksudku di mana ayam-ayammu itu kau ikat untuk dijual?" tanya  Armando.

Labele mengangguk. Mengeluarkan seekor pejantan petarung   dari balik baju lusuhnya.

"Seribu lima ratus dolar" Armando telah menyerahkan sejumlah dolar tersebut pada tangan Labele tanpa memberi waktu pada Da Santos yang juga telah menyiapkan seribu dolar sesuai harga pertama yang diajukan dirinya pada Labele . Namun begitu, Labele tidak tampak senang dengan sikap  Amando.

“Silakan kau hitung harga ayammu dengan dolarmu. Namun saya hanya bisa menerima rupiah” Labele menepiskan dolar-dolar itu dari tangan Armando. 

“Wah, kau manusia aneh, Labele. Para pembeli di pasar Turiskain ini bisa membayarnya dengan dua mata uang. Dolar dan rupiah. Cuma kau yang menolak”

Armando hampir gusar dan menggelengkan kepalanya berulang kali.

          Lebele menarik  tangan Armando yang berisi dolar-dolar  itu,diangkatnya uang-uang  itu dan  mengibaskannya ke wajah Armando.

“Oooh, berarti kau penuh dengan omong kosong. Kau  tidak cukup mengenalku. Pulanglah kembali ke negaraamu, kau akan mendapatkan banyak informasi bahwa  walau aku hanya seorang pedagang ayam, aku memperjuangan kedaulatan rupiah hingga titik darah terakhir”

“Kalau tadi bicaramu seperti khotbah seorang pastor. Giliran kini kau berpidato layaknya seorang negarawan sejati” Da Santos tertawa lepas memandang Armando.

‘Terserah kau ingin mengatakan apa pun tentang aku. Aku rakyat biasa yang cinta NKRI. Untuk mencintai negeriku tidak harus menunggu menjadi negearawan.   Aku warga Nusa Tenggara Timur yang berprofesi pedagang ayam,cinta NKRI”  

“Hei, Labele jadi pedagang saja kau tidak layak. Kau membuat para pembeli kecewa dengan aturan-aturanmu” Da Santos berusaha  membuat Labele terpojok. 

  “Seandainya….”  Da Santos Kembali berbicara namun menggantung.

“Seandainya apa?ayo katakan…

“Ya, seandainya ayam-ayam petarungmu  tidak  gagah dan jagoan di medan judi, kau tidak akan dihiraukan pembeli"

"Sudah kukatakan padamu berulang kali, saya penjual ayam. Saya tidak tahu berjudi apalagi campur tangan dalam urusan judimu di Maliana"

Da Santos hendak menyerang balik  dengan ucapan yang lebih memojokan Labele,namun mereka berdua  cukup dikejutkan dengan sikap Armando yang tampak mulai mengeluarkan rupiah dari dalam persediaan kantongnya. Disodorkannya setumpuk rupiah pada Labele.

          “Seribu lima ratus dollar, sudah kurupiahkan. Ini, aku membeli ayammu”

Lebele mengambil dan menghitung. Tidak kurang satu rupiahpun.

Da Santos sangat kecewa dengan Armando yang berhasil mendapatkan ayam jago petarung itu. Pembeli lainnya, Araujo yang selama ini berkeinginan membeli ayam-ayam Labele, terlihat mendekati mereka dan menyatakan  ikut kecewa karena belum berhasil mengumpulkan uang untuk mendapatkan ayam idolanya.

          “Hei Labele, kau selalu membuatku patah hati setiap  kali datang ke Pasar Turiskain dan melihat ayam-ayammu yang sangat mahal ini. Tidak  sanggup aku membeli seekor pun ” kata Araujo

Lebele cuma mengangkat bahu dan bergegas meninggalkan mereka.

“Hei jangan pergi dulu, coba katakan  mengapa ayam-ayammu sangat mahal, Labele?” kali ini Armando ikut berbicara. 

Labele tertawa. Kali ini Labele yang menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Kau yang membuat semua ayam-ayamku mahal harganya. Kau sudah membayar lunas dan ayam sudah jadi milikmu. Masih juga kau tidak menemukan jawaban mengapa ayam-ayamku ini kau membelinya dengan sangat mahal?”

“Hei, kami ingin kau tidak berbelit-belit menjawabnya, Labele. Jangan lagi kau mengembalikan pertanyaan-pertanyaan kami ”  kata Aramando,

“Kau selalu datang  dan mengatur seenak perut harga ayam-ayamku menjadi sangat mahal. Lantas kau menanyakan perihal kemahalan itu pada aku sebagai pedagangnya?”.

“Apa kau bilang?kami yang menentukan harga ayam-ayammu?”

“Lihatlah! Sekarang, kalian bertengkar. Besok, kau datang harga ayamku sudah sepuluh kali lipat dari harga hari ini” Labele tertawa renyah.

“Itu karena kau yang menaikkannya”

“Bukan! lebih tepatnya, janganlah kalian bertengkar di depan pedagang karena dengan cara itu  kalian telah menaikkan harga ayam-ayamku”

‘Wah, rumit sekali berbicara dengan pedagang ayam yang satu ini. Lebih mudah berjudi”  kata Armando.

Labele  mendekat dan nyaris berbisik di telinga Armando.

“Bagaimana kalau aku lebih membutuhkan ayamku dan mengembalikan semua uangmu?”

Armando memeluk ayam yang telah dibelinya, dan membenamkannya dalam dadanya. Seperti seorang ayah takut kehilangan anak kesayangannya.

“Labele, jangan berkeputusan begitu. Sudah lunas. Tidak bisa lagi aku menyerahkannya kembali padamu. Enak saja kau atur-atur”

 “Kalau itu keinginananmu, mungkin kau bisa tanya pada ayamnya langsung. Seribu lima ratus dolar yang sudah kau rupiahkan untuk membeli ayam itu, apakah  terlalu istimewa?"Labele berucap tegas.

"Iya, Labele benar, Armando. Lihat saja nanti, ayam yang telah kau beli ini  akan menang di Maliana, dan dia juga akan berkokok tentang makanannya yang membuatnya begitu mahal " Araujo ikut sebal dan mulai mengolok-olok. Armando telah bergegas pergi agak menjauh. Tidak ingin Labele berubah pikiran dan mengambil Kembali ayamnya yang telah dibeli dengan sangat mahal itu.

Labele menatap Araujo dan Da Santos. Ia pun Memeluk mereka dan berkata pada Da Santos sambil menunjuk ke arah depan. Armando melihat gerak-gerik mereka namun memilih tidak terlibat dalam pembicaraan. 

"Kau, Da Santos… berjalanlah lurus ke lapak di depan sana. Kau akan menemukan dua ayam jago anakku. Ambillah sesuai harga yang kau tetapkan" kata Labele   pada Da Santos

"Ooo itu lapakmu?"

"Bukan"

"Lapak anakmu?"

"Bukan"

"Jadi..?

 Ayam-ayam jantan anakku,diikat di situ. Tapi lapak kami ada di sini" Labele menunjuk dada bidangnya yang lebar, tempat ayam jagoannya meringkuk saat dipasarkan.

Setiap orang yang datang dan memesan,barulah Labele mengeluarkannya dari balik bajunya. Sungguh pemandangan model perdagangan yang aneh. Gaya Labele.

"Bagaimana kalau kau membawa banyak ayam untuk didagangkan?pasti sangat merepotkan bukan?"Da Santos bertanya heran.

"Saya tidak pernah membawa ayam. Pesanan masuk lewat WhatsApp. Pembeli membayar lewat rekeningku. Mereka memberitahu kedatangannya di pasar, barulah ayam-ayam diberikan. Namun jika saya ke pasar ini dan ada yang hendak membeli pun saya tidak keberatan. Membayar tunai"

"Ah,sebaiknya kamu jangan bicara lagi,ayook ambil jagoanmu sebelum Labele berubah pikiran" Araujo mengingatkan Da Santos.

Sebelum beranjak Da Santos melego  rupiah yang telah ditukar dari  tujuh ratus dolar miliknya ke dalam tangan Labele.

"Itu hargamu?diberkatilah ayam pilihanmu" kata Labele

"Oh, Maromak, obrigado, Labele"

"Terimakasih juga buat kesedianmu membeli ayam anakku. Kau yang menentukan harganya, bukan aku" ucap Labele tersenyum tulus.

Armando berlari mendekat. Penasaran dan  terperangah. Ayam yang dibeli

Da Santos,tubuhnya tidak segagah dan sekokoh punyanya. Dua pilihan yang berbeda dan harganya juga berbeda.

"Selamat bertemu di Maliana" tantang Armando.

"Wah, sekali lagi  itu bukan urusanku. Saya tidak mau mendengar percakapan kalian tentang judi. Sebaiknya saya pergi" Labele telah beranjak pergi

Satu bulan  berlalu, pada Jumat hari pasar Turiskain, Armando terlihat mencari Labele.Mereka  mempercakapkan hal yang sangat serius.

"Dua minggu pertama, jagoan saya menang. Uang yang kuperoleh berlipat-lipat harga ayammu. Tapi tiba-tiba datang si Da Santos,dan semuanya merugi besar. Ayam jelek miliknya telah mengalahkan semua jagoan pejantan petarung di Maliana"

"Jadi apa urusan saya mendengar pembicaraanmu?. Tugasku sebagai penjual telah lama tuntas, sebaliknya tugasmu sebagai pembeli juga telah berakhir"

"Saya tahu Labele. Saya tidak bermaksud membawa-bawamu dalam urusan kami. Tapi saya ingin memberimu saran..."

"Tunggu dulu. Sebelum kamu melanjutkan berbicara saya ingatkan kamu agar jangan pernah menghina ayam-ayamku. Tadi kamu menyebut ayam jelek itu.. begitu kan?"

"Iya, dan maksudku adalah ayam milik Da Santos"

"Ingat, saya tidak pernah menjual ayam jelek. Semua ayam kupelihara dengan penuh kasih sayang. Memberi makan dari jagung terbaik yang kumiliki di lumbung makanku di pulau Timor ini. Memberi minum air terbaik yang juga saya  minum dari sumber air terbaik dari gunung mutis. Saya melakukan semuanya sendiri. Setelah ayam-ayamku besar dan dibeli dengan mahal, bagiku itu sebuah kepantasan untuk kerja kerasku"

"Baik,maafkan saya sobat. Saya telah salah berucap"

"Sekarang jika ayamku menemukan kelanjutan hidupnya di meja judi,itu karena pembelinya bukan karena penjualnya. Kau tahu? sejak kapan aku suka berjudi?mendengarnya saja aku tidak sudi. Dan kau tahu soal itu karena aku selalu mengatakannya berulangkali dalam setiap percakapan kita " Labele sangat serius bahkan terlihat marah.

"Saya cuma ingin mengajukan saran. Boleh?"

"Wah kamu bicara seperti di seminar-seminar. Silakan saja" kata Labele.

"Begini ,bagaimana kalau ayam-ayam yang kau jual janganlah kau tetapkan harganya Biarkanlah kami menetapkannya, seperti yang pernah kau lakukan pada Da Santos"

"Wah,setelah kalah di meja judi, sekarang kau berjudi dengan  mendikte penjual ayam  cara menjual ayam-ayamnya. Padahal sudah saya katakan, dan itu memang benar bahwa kalian sendiri yang telah menetapkan harga ayam-ayamku selama ini"

Labele meninggalkan Armando.

                                                   ***

Bulan berikutnya, Da Santos datang ke pasar Turiskain dengan wajah cemerlang.

"Labele,kau harus tahu  berita gembira ku ini. Sampai hari ini ayam pilihanku jadi bintang di Maliana"

"Kamu dan Armando ,selalu punya bahan yang sama  untuk dibicarakan saat bertemu denganku. Judi. Ya, judi. Cuma itu. Saya tidak mau dengar"

Labele hendak pergi tapi dicegat  Da  Santos.

"Sungguh,saya datang untuk berterimakasih padamu Labele. Sejak membeli ayammu ini,hidup saya berubah. Ayammu memberi kemenangan sampai hari ini"

Da Santoa membuka tas tenunannya dan mengeluarkan sejumlah uang.

"Ini buatmu,tanda ucapan terimakasih. Ini tidak seberapa dibandingkan yang kuperoleh"

Labele marah besar dan tersinggung dengan pemberian Da Santos.

"Saya tidak akan membiarkan keluargaku dan seisi rumahku makan dari hasilmu berjudi"

"Baiklah,anggaplah ini uang cicilan kredit ayam. Harga jual ayammu seribu dolar ke atas, tetapi aku memberi harga pada ayammu tempo hari cuma  700 dolar. Kau masih ingat itu, Labele?" Da Santos terus saja menyodorkan tumpukan uang miliknya pada Labele yang sudah tentu telah dirupiahkannya.

"Jual beli di antara kita telah tuntas. Janganlah kau mengajariku kebodohan cara berdagang. Di antara kita tidak ada utang- piutang. Sudah kukatakan saya tidak mau berurusan dengan perjudian"

Da Santos mencoba tertawa untuk mencairkan keadaan.

"Sebenarnya kau dan bisnismu telah berurusan dengan dunia perjudian, Labele. Seberapa banyak pun kau mengelak"

"Ayam-ayamku masih suci saat kulepas pada pembeli. Saya memakan hasil kerja keras saya memelihara dan menjual ayam bukan berjudi ayam" suara Labele lantang membayangkan anak pertamanya yang telah selesai ujian sarjana dan sekarang anak gadisnya hendak mendaftar wisuda sarjana. Juga dua anak lelakinya yang masih SMA. Mereka semua berhasil dari pekerjaan Labele menjual ayam.

Labele pulang ke rumahnya. Ditemuinya satu-persatu ayam peliharaannya. Mengajak ayam-ayam itu berbicara. Labele paling mengerti membagi perasaan-perasaan terdalamnya pada ayam-ayam peliharaannya itu. “Saya tahu, perjudian dalam bentuk apa pun tidak mungkin lenyap dari muka bumi. Namun saya juga punya hak mutlak memilih untuk tidak berjudi” katanya pada ayam-ayamnya.

  Pagi-pagi sekali keesokan harinya Labele telah bangun tidur. Pasar Turiskain masih enam hari lagi. Dikumpulkan kembali semua ayam jantan petarung peliharaanya. Dipotongnya dan dijual di pasar umum.

Semua ayamnya laku terjual namun keheranan bersarang di kepala isteri dan anaknya.

"Mungkin dengan cara ini kita tidak mendapatkan banyak uang,tetapi mana mungkin ayam yang telah  dipotong-potong bisa dipakai berjudi?"

"Benar, ayah namun  tidak cukup untuk saya mendaftar wisuda,walau semua ayam ayah  telah dipotong untuk dijual"

Isteri Labele yang cantik dan  mahir menenun itu tersenyum pada anak-anaknya.

"Jangan seorang pun memandang aneh pilihan bapakmu"

Labele memeluk isterinya disaksikan senyum sumringah anak-anaknya.

Turiskain, NTT 19 Juli 2019-Noemuti Timur 16 Januari 2021

Mezra E. Pellondou, lahir dan menetap di Kupang-NTT. Mengajar di SMA Negeri 1 Kupang. Pendiri dan Penggagas Taman Baca Bunda Mezra dan Komunitas Sastra UKIM (Uma Kreatif Inspirasi Mezra) dan memiliki acara khusus Bincang-Bincang Buku dan Berpuisi di Pro2 FM RRI Kupang dengan tajuk Numpang_Nampang Literasi setiap hari Sabtu. Lolos seleksi mengikuti Musyawarah Nasional Sastrawan Indonesia (Munsi) ke III di Jakarta 2020. 

Penulis merupakan penerima Adi Acarya Award dari GMBI (2020) sebagai Penulis Berdedikasi dan Pengembangan Pendidikan Literasi Terbaik, Pemenang Pertama Penghargaan Sastra untuk Pendidik dari Badan Pengembangan Bahasa RI (2012), Penerima penghargaan NTT Award (2013) Kategori Sastra dan Humaniora. Karya tulis yang telah diterbitkan antara lain Kitab Puisi Sujud Selembar Daun (2020), Beta Indonesia Keliling Tanah Air dengan Puisi (2018), Likurai dari Negeri yang Membatu (2017), Tujuhpuluh kali tujuh kali (2015), Kekasih Sunyiku (2013). Empat buku kumpulan cerpennya antara lain Kuda dan Sang Dokter (2017), Menjahit Gelombang (2020), Negara Te Au Na (2020) dan Makhpela (2020). Buku Essai Sastra, Dari Suri Ikun Bu Ikun hingga Tuan Kamlasi (2018).

Naskah Film/Sinetron Anak berjudul Merah Putih di Ujung Tiang (2019), telah difilmkan dan dipublikasikan TVRI NTT dan TVRI Nasional 11 Oktober 2019. Empat Novel yang telah terbit yaitu Surga Retak (2007), Loge (2008), Nama Saya Tawwe Kabotta (2008), Perempuan dari Lembah Mutis (2012) serta terlibat dalam puluhan antologi bersama sastrawan/penyair Indonesia.

Karya-karya Mezra lolos muat dalam berbagai koran cetak dan portal sastra, serta memenangkan berbagai lomba karya sastra. Cerpen Perempuan di Tengah Cincin Api (2020) menjadi pemenang cerpen Menulis dari Rumah saja yang diselenggarakan oleh Kominfo Kementerian Pariwisata Ekonomi Kreatif RI. Puisinya berjudul Cerita Obed dan Patrisius (2020) memenangkan Juara Tiga Lomba Cipta Puisi Suara Hati Guru di masa Pandemi yang diselenggarakan oleh Dermaga Seni Buleleng kerjasama dengan Pemda Bali.

Puisinya berjudul Pulang ke Rahim Haik (2020) masuk Sepuluh Nominasi Puisi Terbaik Lomba Menulis Puisi Group FB Hari Puisi Indonesia (HPI) 2020.

Komentar

Loading...