Cerpen Lala St Wasilah

Cerpen Lala St Wasilah
Ilustrasi

KABAR PRENJAK

SAYA membuka pintu rumah. Udara gerah semalaman yang cuma berputar-putar di dalam rumah, kontan berebut keluar. Dan segera masuk udara pagi yang teramat segar. Hmmm.....Saya pejamkan mata menikmati hembusan nafas. Kesegaran merasuk sampai ke palung paru-paru.

Seperti hari kemarin, dua prenjak itu telah  bertengger di atas belimbing, di halaman rumah. Bercericit seakan menyapa saya. Sama seperti kemarin, saya lalu menatapnya, dan menyunggingkan senyuman. Bibir saya menjawab dalam doa, “Waalaikum salam”. Prenjak itu pun sepertinya mengerti. Dikepak-kepakannya sayapnya. Cericitnya semakin nyaring.  Lalu, terbang ke entah.

Memang, sejak seminggu lalu, tiap pagi burung prenjak itu selalu berada di atas belimbing. Dari mana datangnya, saya pun tak tahu. Yang saya tahu, begitu bangun tidur, begitu membuka pintu, prenjak itu telah bernyanyi-nyanyi di atas belimbing. Kata orangtua, burung prenjak selalu mengirim kabar baik.

Tetapi mengapa justru saya lain. Di hati saya, tiap suara prenjak itu semakin menyayat-nyayat kerinduan, terasa sakit sekali harapan-harapan ini, “Kapan kamu pulang, kekasih?!”

Telah dua bulan ia jauh di seberang. Dan sampai ini hari tidak ada se-sms pun kabar. Saya amat tersiksa dengan keadaan ini. Saya telpon di kantornya, selalu bertepatan dia keluar. Di kosnya tidak ada telpon. Apa hendak dikata.

Ah, kalau saja dia bekerja di kota ini. Kata-kata, jika saja, andai-andai ini selalu merajam saya. Tapi semakin saya berandai-andai, semakin saya tersiksa. Semua ini berujung kepada satu lorong : demi berlangsungnya masadepan keluarga saya. Sebenarnya saya amat ingin menyertai suami, namun kendalanya sangat prinsip, anak gadis buah cinta kami sudah kelas tiga SMP, tidak mungkin berpindah sekolah, sebab khawatir mengganggu belajarnya. Saya cuma bisa pasrah. Bagai burung patah sayap, saya tidak bisa terbang menggapai keinginan.

Namun, beruntunglah saya. Sejak kehadiran dua prenjak itu, saya merasa terhibur, seperti memiliki kawan baru. Sebab itu berarti, saya akan yakin datangnya pagi, datangnya penantian. Saya akan menyapa burung prenjak itu kembali. Sekalipun kemudian saya akan menitikkan airmata oleh suara prenjak itu, mengguriskan harapan.

Hari demi hari datang dan pergi. Sore ini, meski awan telah memayungi seantero langit, namun udara terasa gerah. Tampaknya kemarau hendak berakhir dengan datangnya hujan. Suasana memang tidak sekerontang di planet Merkurius yang terpanggang matahari. Namun, di sana-sini tampak pepohonan meranggas, kecoklatan, teramat merindu tetesan air untuk kelangsungan hidupnya. Tanah pun pecah-pecah, menganga memohon hujan segera membasahinya. Seperti diri saya yang amat mendamba tetesan kasih-sayangnya.

Mendadak, terlihat dua prenjak itu kembali datang menuju pohon belimbing. Beberapa saat, nangkring di pucuk-pucuknya. Wajahnya menengadah ke langit. Lantas, terbang berputar-putar. Satu persatu burung prenjak yang lain berdatangan, dan mengikuti ulah dua prenjak tadi. Semakin banyak. Semakin menggumpal. Berputar-putar membentuk sebuah rotasi yang beraturan. Mata saya tak berkedip menyaksikan pemandangan yang teramat unik itu. Tak berapa lama dari seluruh arah berbondongan prenjak lain untuk bergabung. Cericitnya kian ramai. Luar biasa. Tanpa saya sadari, saya geleng-geleng kepala. “Masyaa Allah!!” Baru seperti ini saja, bulu-kuduk saya sudah berdiri. Saya menjadi teringat pada sebuah kisah, tatkala jutaan burung Ababil dengan kerikil dari neraka yang meluluh-lantakkan pasukan bergajah Raja Abrohah, si congkak itu, yang hendak menghancurkan Ka’bah. Betapa dahsatnya burung-burung itu.

Kira-kira setengah jam prenjak-prenjak itu terbang berputar-putar. Sementara di langit mendung tambah menggantung. Udara kering berganti dengan udara yang mengandung air. Kesejukan. Saya tetap tak bergeming dari halaman rumah. Saya tak peduli di saat garis-garis air mulai berjatuhan dari langit mengenai diri saya, juga semua yang berada di sekitar. Berangsur-angsur garis-garis air itu berubah menjadi guyuran air. Kian deras.

Hujan yang dirindukan itu telah tiba. Semesta memuji kepada-Nya. Saya menikmati bau tanah yang murni sebab dimandikan hujan pertama. Aroma kesegaran menyebar dari tanah, membuai hidung. Duh, Gusti! Keharuman. Bersamaan itu prenjak-prenjak itu pulang kembali ke entah.

“Gusti Allah, kepada prenjak telah Panjenengan anugerahi hujan atas doa-doa mereka. Kepada hamba-Mu, datangkanlah kekasih, lelaki yang Panjenengan kirimkan sejak Hari Alastu itu.”

Guyuran hujan kian mengucuri wajah, sengaja saya tengadahkan ke langit. Kepasrahan telah memberi jawaban. Bahwa jarak ini menciptakan kerinduan, suatu cinta yang justru tak terbilang.***

Lala ST Wasilah

“Mbak Lala” demikian ia biasa disapa, dilahirkan di Purbalingga, Jawa Tengah, pada 10 Juni, putri dari keluarga K.H. Umar Habib (almarhum) dan Hajjah Cik Inah Muthmainnah.

Masa kecil Mbak Lala hidup di lingkungan pesantren di desa Rabak, kecamatan Kalimanah, Purbalingga, sampai lulus Madrasah Ibtidaiyah GUPPI. Kemudian Mbak Lala melanjutkan sekolah di SMP Darul Ulum, sambil mengaji di Pesantren Darul Ulum, Peterongan, Jombang, Jawa Timur. Pada saat SMA, Mbak Lala kembali lagi ke Purbalingga, sampai lulus dari SMA Muhammadiyah I Purbalingga. Hijrah ke Yogyakarta, Mbak Lala lulus sebagai Sarjana Hukum dari Universitas Cokroaminoto Yogyakarta.

Mengisi waktunya dengan banyak membaca cerpen dan novel, dari situlah Mbak Lala mulai menekuni profesi sebagai penulis cerita anak. Cerpen anak karyanya telah dimuat di Kompas (Anak) (Jakarta), Solo Pos (Solo), Kedaulatan Rakyat (Yogyakarta), Suara Merdeka (Semarang), di majalah Kids Fantasi dan majalah Bobo (Jakarta). Sesekali Mbak Lala juga menulis cerpen dewasa dan dimuat di SKM Minggu Pagi dan Kedaulatan Rakyat (Yogyakarta).

Komentar

Loading...