Cerpen Esai Covid-19 D Kemalawati

Cerpen Esai Covid-19 D Kemalawati
Leumang

MEUGANG [1]

Oleh : D Kemalawati

Pukul delapan malam menjelang azan isya, tiba-tiba saja kamarku yang redup menjadi benderang dengan cahaya kilat. Sudah sangat lama cahaya seperti itu tak kelihatan. Sontak aku mengucap ‘subhanallah’ berulangkali. Hatiku bergetar, kecut mendengar suara petir menggelegar setelahnya. Lalu angin kencang menderu, menghempas air hujan ke atap rumah. Hujan, kilat dan petir seperti saling berebut mengantar gundah ke hatiku. Tuhan, ini pertanda apa, aku membathin. Apakah Tuhan sedang membersihkan sisa darah daging Meugang hari ini agar tak berkumpul kuman-kuman jahat, atau ini peringatan agar besok tak usah ada lapak-lapak penjual daging di beberapa ruas jalan, agar orang-orang tak keluar rumah menghindari keramaian.

Belum lagi pikiranku mengembara jauh, dari masjid sayup-sayup terdengar suara muazin mengumandangkan azan. Suaranya yang syahdu timbul tenggelam dikalahkan deras hujan dan gemuruh petir. Kucabut  charger yang sedang mengisi daya di handphoneku. Hampir penuh 100 persen terisi baterainya. Jika nanti listrik padam sepanjang malam, aku tak perlu risau handphoneku mati karena baterainya nol. Saat ancaman wabah seperti ini, alat komunikasi benar-benar harus aktif. Bisa saja ada arahan pimpinan tiba-tiba dan yang paling utama adalah putriku jauh di Jakarta.   

Lampu di layar hape tiba-tiba menyala. Muncul angka 999 di aplikasi  WhatsApp. Satu angka lagi genap seribu pesan belum kubuka. Angka tersebut biasanya berasal dari grup-grup yang anggotanya sangat aktif, mungkin tergolong hiperaktif. Pernah suatu malam aku lihat pesan masuk bertubi-tubi dalam satu grup. Ketika kubuka, hanya ada stiker dan stiker yang terlihat. Aih,  Alih-alih membahas sesuatu yang bermanfaat, mereka yang sedang online ternyata sedang asyik berperang, saling menyerang dengan stiker. Ya, perang stiker sesama anggota grup telah menjadi habit baru dan digemari banyak orang. Bisa saja dimulai dari satu orang yang iseng, lalu yang lain tergoda untuk membalasnya hingga chatingan hanya berisi stiker dan stiker saja. Biasanya itu berlangsung lama dan membuat jumlah chatingan membengkak. Mereka yang berperang di sana sebenarnya bukanlah anak remaja yang kurang kerjaan. Mereka justru orang-orang yang berpendidikan, bahkan sudah ubanan.  Bisa jadi ini akibat sedang diberlakukannya PSBB [2] sehingga orang-orang lebih banyak waktu di rumah dan memanfaatkannya untuk bermain-main di WA grup.  

Sebelum cahaya kilat sesaat tadi terlihat, aku sedang akan membuka aplikasi whatsApp meski handphopeku  sedang dalam posisi mengisi daya. Tetapi begitu kilat dan petir menggelegar, tak jadi kearahkan ke mukaku membuka kunci layer, aku malah mencabut charger dari stop kontak dan membiarkan handphone beberapa saat di atas meja kerja.  Aku memang harus sering membuka WA terutama grup pejabat struktural untuk memastikan  ada tidaknya arahan pimpinan suatu pekerjaan. Apalagi  sekarang  setelah turunnya Surat Edaran Gubernur [3] tentang penyesuaian sistem kerja pegawai negeri di lingkungan Pemerintah Aceh dalam rangka pencegahan penyebaran Covid, aku termasuk yang di rumahkan. Meski demikian kami tetap harus ke kantor jika sewaktu-waktu diperlukan. Dan semua hal mengenai pekerjaan dibicarakan di grup pejabat struktural. Demikian juga bila ada rapat mendadak, pemberitaannya juga di grup seperti yang baru saja dikirim langsung oleh pak Karo sesaat tadi. Kita rapat di kantor sekarang, tulisnya di sana.

Jalanan setelah hujan mengeluarkan asap tipis. Dari kaca jendela mobil kulihat rintik hujan masih menari dihembus angin. Aku menggunakan camera video merekam lengang malam. Sesaat kemudian rekamannya dengan narasi ‘menuju kantor’ kukirim ke Nadia anakku di Jakarta. Mataku belum beralih dari layar handphone,  kulihat dia mengetik dari sana. 

“Eh, kenapa ke kantor jam segini?” kubaca tanyanya.

“Mestinya setelah shalat isya tadi langsung berangkat. Tapi hujan deras sekali dan petir sambar menyambar menghalangi Langkah  Mama.” jawabku

“Memang masih ada orang di kantor?”

“Ada, Pak Karo dan beberapa rekan Mama sudah di sana.”

“Gapapa Mama jam segini baru ke sana? Gak dimarahin?”

“Belum datang semua. Yang lain rumahnya lebih jauh dari kita.”

“Oalah, yaudah Mama lanjut aja kerjanya, jangan larut kali, Mama cepat sakit kan? Nanti sakit lagi dan rumah sakit  sensitif corona.”

“Doakan aja Mama sehat.” 

Ah! Corona bukan saja mahluk hidup  yang sensitif, rumah sakit juga.

*****

Aku segera memasukkan handphone ke dalam dompet begitu tiba di halaman kantor.  Butiran hujan masih menggayut merundukkan dahan angsana.

“Hati-hati licin,” seru suamiku dari dalam mobil ketika aku baru saja melangkah menuju teras kantor.  

“Ya,” jawabku singkat.

Genangan air ada dimana-mana. Aku berusaha mencari pijakan yang tak basah agar sepatu sandalku tak basah. Hanya beberapa Langkah saja aku telah tiba di teras yang telah diletakkan gesek kaki biru tua.  Di kiri pintu masuk aku berhenti di depan wastafel, menekan soap dispenser lalu memutar kran air mencuci tangan. Tak ada seorang pun di lobby. Tanpa menyentuh pegangan tangga aku menuju lantai dua, ke ruang program. Kepala Biro, para Kabag, beberapa Kasubbag dan staf bagian program sudah di sana. Semuanya memakai masker dan mengambil posisi berjarak. [4]   

“Kita harus memangkas semua anggaran untuk kegiatan tahun ini.” Kata Pak Kero kepada kami. “Penanggulan covid ini tidak boleh setengah-setengah. Dana yang dibutuhkan masih sangat banyak. Malam ini kita sisir kembali kegiatan yang tak mungkin dilaksanakan. Coba masing-masing bagian mengambil Dokumen Pelaksanaan Kegiatan (DPA) untuk dipastikan kegiatan mana yang di-nol-kan.” Lanjutnya.

Ini bukan kali pertama membicarakan masalah anggaran penanggulangan covid. Sudah beberapa kali kami revisi Rencana Kerja dan Anggaran (RKA) setelah memangkas kegiatan, yang diperkirakan tak mungkin dikerjakan karena mengumpulkan banyak orang. Malam ini, satu-satunya program kegiatan yang ada di bidangku juga dihapus. Memang jika dipikirkan, untuk apa melaksanakan kegiatan seni, menghabiskan anggaran ratusan juta, sementara untuk membeli Rapid Test [5] yang katanya mampu memberikan hasil cepat virus corona, pemerintah tak punya dana. Bukankah lebih baik dana kegiatan itu dibelanjakan untuk penanggulan wabah corona?

Tetapi bukankah sisa masa anggaran masih delapan bulan ke depan. Bagaimana seandainya si covid yang ganas itu tiba-tiba melunak dan pergi selamanya dari daerah ini, lalu kami mau kerja apa? Apa pantas menerima gaji dan tunjangan kinerja yang lumayan besar sementara pekerjaan melaksanakan kegiatan sudah tak ada? lalu jika semua anggaran kegiatan yang sifatnya mengumpulkan massa diambil untuk penanggulan covid, bagaimana nasib mereka yang menggantungkan hidup dari event-event seni budaya tersebut, semisal seniman panggung, para EO, para pedagang keliling yang mengandalkan tempat keramaian dan para penyedia jasa lainnya? Pertanyaan demi pertanyaan hanya muncul dalam bisu. Kami bergegas menyisir item-item yang akan di-nol-kan dalam DPA. 

“Harus tuntas malam ini. Besok dana pergeseran dua milyar siap saya laporkan dalam rapat pimpinan.”Tegas pak Karo sebelum kami keluar dari ruang program menuju bidang masing-masing.  

Tak ada waktu untuk berdebat mempertahankan kegiatan. Covid 19 bukanlah wabah biasa yang mudah ditanggulangi. Sejak ditemukan di Wuhan, Cina [6], virus ini terus menerus merenggut jiwa manusia.   Amerika Serikat, negara yang diklaim digdaya itu tak berdaya, lumpuh [7] oleh virus corona. Siapa sangka kapal perang bertenaga nuklir [8] milik Amerika yang serba canggih dibobol begitu saja oleh musuh tak kasat mata, corona. Ribuan pelaut terpaksa di evakuasi ke daratan untuk mencegah penyebaran virus. Begitu pun, sudah hampir seratusan orang dalam kapal perang tersebut dinyatakan positif terpapar virus. Donald Trump, Presiden Amerika terpaksa menelan ludah sendiri setelah kicauannya di medsos terbukti salah. Virus Corona tak sama dengan flu biasa [9]. Kini Trump panik. Amerika  berada di rangking tertinggi [10] di dunia tingkat kematian akibat virus tersebut. Kita mungkin bisa menerima atas ketidaktahuan banyak orang bahaya penyemprotan disinfektan ke tubuh manusia, seperti yang telah dilakukan di beberapa daerah di Indonesia. Tetapi apa kita bisa menerima, seorang kepala negara yang pengaruhnya begitu besar seperti Donald Trump, memiliki saran untuk menyuntikkan cairan disinfektan ke paru-paru pasien covid. Saran Trump yang “nyeleneh” itu memang menuai kecaman dari Komunitas Tenaga Medis [11]  untuk disuntikkan ke tubuh manusia. Saat menyarankan  menggunakan  obat malaria hydroxcloroquine untuk mengobati penderita covid 19 sebelumnya tanggapi sebagai “anekdot” tanpa riset [12] oleh anggota satgas virus Corona Gedung Putih.

Tentu bukan  hanya Donald Trump yang membuat  pernyataan kontroversial menghadapi ganasnya virus Corona. Para pemimpin negara lainnya juga membuat pernyataan yang kadang tak masuk akal.  Presiden Aleksandr Lukashenko yang memerintah Belarus, sebuah negara di pusat Eropa sejak 1994 s.d sekarang 2020 misalnya, ia mengatakan, “Tidak ada virus di sini. Kalian tidak melihatnya beterbangan kan.” Lalu Perdana Menteri Inggris Boris Jonhson mengatakan pada awak media ia tak merasa takut bersalaman dengan orang-orang di tengah lonjakan kasus virus corona dan belakangan diketahui ia juga positif Corona.[13]  Pernyataan Trump dengan pernyataan pemimpin negara lainnya di dunia pasti berbeda. Trump adalah memimpin negara yang pengaruhnya sangat dominan di dunia. Apa yang dinyatakan oleh Trump bisa saja diikuti oleh masyarakat internasional. Beberapa kasus keracunan ditemui  setelah warganya menelan cairan pemutih atau pembersih rumah tangga lainnya [14] . Di Jawa Barat seorang bocah yang tanpa sengaja minum cairan disinfektan berujung kematian [15].

Semapan dan sekaya apa sebuah negara maju menghadapi serangan virus Corona, mereka juga kewalahan. Fasilitas- fasilitas  canggih yang mereka miliki tak mampu menampung ratusan ribu penderita covid yang terus berdatangan seperti gelombang.  Dokter-dokter yang mumpuni juga tak mampu menghalangi puluhan ribu nyawa melayang terbang meninggalkan raga. Bahkan mereka, tenaga medis tak terhindar dari pelukan maut sang corona. Lalu, bagaimana kami di Aceh mengatasi Corona?

Tidak, tidak ada kegiatan yang harus dipertahankan keberadaannya selama wabah ini masih mengendap-endap mencari mangsa, menembus pertahanan tubuh siapa saja. Sudah ada larangan melakukan kegiatan yang bersifat mengumpulkan massa. Bukankah acara kesenian kebudayaan itu lebih banyak eksyen di masyarakat. Bukankah dana melakukan kegiatan itu sangat bermanfaat untuk menambah dana Kesehatan dalam rangka menghindari penyebaran virus ganas tersebut. Kami tahu kemampuan anggaran belanja pemerintah daerah untuk dana kesehatan pada kondisi normal saja sangat terbatas. Apalagi jika keadaan darurat seperti sekarang ini. 

Tidak, kami sungguh tidak keberatan melepaskan kegiatan yang sudah kami tandatangani sanggup dikerjakan dalam perjanjian kinerja awal tahun ini. Tak ada yang memprediksi akan ada wabah yang cukup menggoncangkan kestabilan keuangan di segala lini seperti ini. Ketika akhir tahun 2019 lalu virus Corona  mulai menunjukkan taringnya di Wuhan, Cina, kami tak berpikir virus ini sampai ke Aceh. Itu hanya berjangkit di China. Tapi sungguh, virus itu memiliki kecepatan yang luar biasa. Wabah itu benar-benar secepat kilat berpindah dari satu tempat ke tempat lain di seluruh muka bumi, hingga lebih dua ratusan negara [16] terpapar olehnya. Mahluk yang kasat mata sedang berpesta bersama malaikat pencabut nyawa. Lalu apa yang harus kami jaga, kami pertahankan kegiatan-kegiatan yang sesungguhnya hanya untuk kepentingan sedikit orang, dan itu tak sebanding dengan nyawa-nyawa yang menggantung dan lepas dari badan karena pemerintah tak maksimal mengurusnya.

*****

Menjelang dini hari, kami keluar dari ruang program meninggalkan semua beban di sana. menuruni tangga. Bu Ris mengingatkan tentang “Meugang” terakhir besok pagi. Lusa sudah mulai puasa. 

“Rasanya Meugang tahun ini mengandung racun.” Kuucapkan kata-kata itu seperti untuk kudengar sendiri. Tetapi bu Ris mendengarnya.

“Bagi kita,”katanya. 

“Aku merasakan aura itu,” aku seperti tercekat. “hanya beberapa penjual daging menggelar lapaknya di tepi jalan kemarin dan kemarinnya lagi. Beberapa pembeli datang dan segera berlalu. Tidak berdesakan seperti tahun-tahun sebelum ini. Tidak juga kelihatan wajah-wajah bahagia bisa membeli daging Meugang. ”

“Ya, saya juga merasakan itu. Berlebihan bila dikatakan mencekam. Tapi pemerintah tak melarang Meugang kan?” tanya bu Ris.

“Tidak di propinsi,  tapi beberapa kabupaten dilarang meski tak dipatuhi warga.” Sahutku.”Jadinya serba salah, dilarang, sudah tradisi, dibiarkan berarti orang-orang akan ramai ke pasar daging dadakan, sudah pasti tak menjaga jarak, mungkin satu dua memakai masker, yang lainnya enggan.”

Setelah pasien positif Corona di Aceh dinyatakan sembuh [17] dan jam malam tidak diberlakukan [18], aktivitas masyarakat sudah kembali seperti biasa. Gubernur tidak melarang Meugang dengan syarat bisa menjaga jarak dan memakai masker [19]. Beberapa kabupaten yang melarang Meugang [20] tetap juga tak diindahkan.

“Susah menghilangkan sementara, tradisi yang sudah dilakoni ratusan tahun seperti ini. Kita merasa kehilangan ruh nya.”

Sementara kami berpisah menuju rumah masing-masing, pikiranku dipenuhi dengan tradisi Meugang yang selalu disambut dengan sukacita sebelum memasuki bulan suci Ramadhan. Dulu ketika masih kecil, tengah malam seperti ini suara tapak-tapak kaki terdengar berderap di jalan depan rumah kami, di kota Meulaboh. Itu Langkah kaki orang-orang yang tengah menarik kerbaunya menuju tempat penyembelihan. Aku selalu terjaga saat derap kaki itu bertambah banyak. Orang-orang dari berbagai kampung membawa kerbaunya bersenda gurau di dingin malam. Suara-suara yang riuh rendah di jalanan itu membuatku tak bisa melanjutkan mimpi. Terbayang betapa mereka sangat menikmati malam penyembelihan dan pekerjaan memotong-motong daging setelahnya. Menjelang subuh, orang-orang semakin ramai di jalan, semakin riang terdengar percakapan.

Ketika suara azan subuh di kejauhan memanggil-manggil umatnya, bapak segera bergegas menuju masjid. Beliau kembali ke rumah setelah fajar merekah dengan jinjingan beberapa kilo daging dan tulang. Di rumah, ibu telah siap dengan bumbu-bumbunya. Biasanya ibu sendiri yang akan memilah-milah daging yang akan dimasak merah, dimasak putih, rendang, semur. Sedangkan untuk dibuatkan sop, tulang-tulangnya sudah terlebih dahulu dipisahkan oleh Bapak. Seingatku, di hari Meugang ibu tak membuat sayur, kecuali acar mentimun atau mentimun serut untuk minuman. Kami, anak-anaknya turut membantu ibu di dapur.  Menjelang tengah hari, aroma masakan dari rumah ke rumah begitu harum mengundang selera. Beberapa saat kemudian berbagai masakan daging  sudah terhidang di meja.

Bukan hanya berbagai masakan olahan daging yang dihidangkan di meja. Tak lengkap rasanya bila Tape Beras Ketan, Leumang, dan  “Leupek/thimphan” tidak dibuat untuk dihidangkan di hari Meugang. Pepatah Aceh mengatakan  “Uroe get buleun get, leupek mak peuget beu meuteumeung rasa” yang artinya hari baik bulan baik kue (Leupek/timphan khas Aceh) buatan ibu harus dapat dirasa nikmatnya. Makanan ibu adalah alasan perantau pulang ke kampung di hari Meugang. 

     “Pukul berapa nanti kita ambil daging?” Suamiku mengingatkan tentang daging Meugang yang sudah kami pesan beberapa hari lalu kepada seorang kawan yang jual daging dadakan.

    Kenangan masa laluku berakhir sudah. Terdengar pintu mobil dibuka. Kami sudah di depan rumah.

    “Setelah subuh,” jawabku spontan, serasa mendengar suara ibu menjawab pertanyaan bapak puluhan tahun lalu.

    “Jadi mengirim rendang untuk Nadia?” 

    “ Nanti kita telpon TIKI atau JNE apa bisa dikirim.”

Dua hari lalu paket rendang kami gagal mendarat di Jakarta. Penerbangan dari dan ke Jakarta [21] sudah tak menentu, kadang ada kadang tidak.  Kami akan mencoba kembali hari ini. PSBB di Jakarta membuat ruang gerak semua orang terbatas. Tak terkecuali anakku Nadia yang tinggal di kosan tanpa perlengkapan dapur yang memadai. Bila rendang diterimanya di hari Meugang, maka sahur pertamanya mungkin bisa lebih nikmat meski sendirian di sana.

Malam sudah begitu pekat ketika aku beranjak tidur. Tak ada derap langkah gegap gempita di luar sana. Tak ada juga kilat sesekali menerangkan gelap malam. Tak ada petir dan hujan menggundahkan perasaan. Tetapi mataku tetap belum mau terpejam. Aku melihat samar-samar virus Corona bergentayangan di awan-awan. Kuharap setelah Meugang ia tak lagi kelihatan.

Banda Aceh, akhir April 2020


[1] Meugang atau Makmeugang adalah tradisi memasak daging dan menikmatinya bersama keluarg, kerabat dan yatim piatu oleh masyarakat Aceh. Tradisi Meugang sudah dilaksanakan sejak ratusan tahun lalu di kerajaan Aceh. https://id.wikipedia.org/wiki/Meugang 

 [2] PSBB adalah singkatan dari Pembatasan Sosial Berskala Besar. Berdasarkan PP Nomor 21 Tahun 2020 pasal 1, dijelaskan bahwaPembatasan Sosial Berskala Besar merupakan pembatasan kegiatan tertentu dalam suatu wilayah yang diduga terinfeksi Coronavirus Desease 2019. Dengan diberlakukannya PSBB aktivitas warga dibatasi dengan ketat. Sekolah dan kantor diliburkan dan mengalihkan kegiatan dari rumah. Hanya sector-sektor tertentu, seperti yang berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan pokok, Kesehatan, transportasi, dan sector informasi yang diizinkan tetap beroperasi secara terbatas. (https://www.beritasatu.com/tajuk/6629/percepat-pemberlakuan-psbb)1

[3]  Dalam rangka pencegahan penyebaran covid 19, PLT Gubernur Aceh Nova Iriansyah mengeluarkan surat edaran tentang penyesuaian system kerja pegawai negeri di lingkungan Pemerintah Aceh. Dalam surat edaran dimaksud, para Pejabat Pimpinan Tinggi Pratama (Eselon 2) dan Pejabat Administrator (Eselon 3) tetap harus masuk kantor sedangkan Pejabat Pengawas (Eselon 4), pegawai non eselon, tenaga kontrak bekerja di rumah kecuali saat piket dan ada panggilan dari pimpinan. (https://acehonline.co/nanggroe/mulai-hari-ini-pegawai-eselon-iv-dan-noneselon-bekerja-di-rumah/

[4] Untuk memutus rantai penyebaran covid pemerintah menghimbau untuk mencuci tangan, untuk hal ini semua kantor wajib menyedia wastafel dan sabun cuci tangan yang di tempat di samping pintu masuk lobby yang mudah terlihat. Pegawai juga dihimbau  memakai masker dan menjaga jarak area perkantoran.  om/lifestyle/20200405204309-33-149896/bukan-imbauan-ini-perintah-jaga-jarak-cuci-tangan-masker

[5] Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) menjelaskan alat rapid test serologi atau antibodi (RDT Micro-chip atau RDT IgG IgM) mampu memberikan hasil cepat terhadap virus corona dalam waktu sekitar 10 menit. https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20200407155823-199-491296/mengenal-alat-rapid-test-corona-bppt-hasil-keluar-10-menit

[6] Berdasarkan data yang diperoleh South Morning China Post, kasus pertama pertama virus corona berhasil terlacak. Seorang individu berusia 55 tahun yang berasal dari provinsi Hubei, China disebut menjadi orang pertama yang terjangkit Covid-19. Kasus tersebut menurut data tercatat pada 17 November 2019, atau sebulan lebih awal dari catatan dokter di Wuhan. https://www.kompas.com/sains/read/2020/03/18/140300223/pasien-pertama-covid-19-ditemukan-bantu-lacak-sumber-virus-corona

[7] https://www.genpi.co/internasional/41971/virus-corona-lumpuhkan-amerika-trump-situasi-sangat-menyakitkan

[8] Sebanyak 93 dari 4.800 awak kapal dikonfirmasi positif terinfeksi covid 19. Kapal perang USS Theodore Roosevelt itu kini bersandar di Pulau Guam , wilayah AS di Pasifik. Evakuasi ribuan awak kapal dilakukan untuk mencegah penyebaran virus lebih lanjut.(https://www.cnnindonesia.com/internasional/20200402101049-134-489467/kapal-nuklir-as-terpapar-corona-ribuan-pelaut-dievakuasi

[9] Trump kini akui Covid 19 bukan flu biasa https://www.cnnindonesia.com/internasional/20200401151110-134-489181/trump-kini-akui-covid-19-bukan-flu-biasa

[10] Per 30 Maret 2020 Wordometers mencatat korban meninggal di” Negeri Paman Sam” sebanyak 3.148 orang, tertinggi di dunia. (https://foto.kompas.com/photo/read/2020/04/01/1585726369a47/peringkat.1.kasus.corona.di.dunia.begini.potret.situasi.terkini.di.as.)

[11] Presiden Amerika Donald Trump menyarankan agar digelar riset untuk mengetahui apakah pasien corona dapat disembuhkan dengan suntukan cairan disinfektan ke dalam tubuh. https://news.detik.com/internasional/d-4990488/saran-trump-suntik-disinfektan-berujung-kecaman

[12] Sebelum menyarankan menggelar riset untuk cairan disinfektan, Trump telah menyarankan menggunakan obat malaria untun pasien corona.( https://www.liputan6.com/global/read/4221508/donald-trump-ngotot-pakai-obat-malaria-untuk-pasien-virus-corona-covid-19

[13] https://www.vivanews.com/berita/dunia/44125-pernyataan-kontroversial-para-pemimpin-dunia-seputar-virus-corona?medium=autonext

[14] https://akurat.co/news/id-1096492-read-garagara-ikuti-anjuran-donald-trump-puluhan-warga-new-york-minum-disinfektan.

[15] https://news.detik.com/berita-jawa-barat/d-4984691/sempat-kritis-usai-minum-disinfektan-bocah-2-tahun-di-sukabumi-meninggal

[16] https://acehonline.co/dunia/update-virus-corona-di-dunia-662-073-kasus-di-200-negara-139-426-sembuh/

[17] https://news.okezone.com/read/2020/04/13/340/2198309/semua-pasien-corona-di-aceh-sembuh-kasus-positif-covid-19-sementara-nihil

[18] https://barometernews.id/breaking-news-mulai-malam-ini-jam-malam-di-aceh-tak-berlaku-lagi/

[19] https://news.detik.com/berita/d-4980120/tak-larang-tradisi-meugang-ramadhan-pemprov-aceh-ingatkan-jaga-jarak

[20] http://cakradunia.co/news/tak-indahkan-imbauan-pemkab-pedagang-meugang-tetap-jualan-di-kota-bireuen/index.html

[21] https://www.kanalaceh.com/2020/04/06/bandara-sim-kurangi-jumlah-penerbangan-jadi-5-kali-per-hari/

D Kemalawati lahir di Aceh pada 2 April 1965, sarjana pendidikan Matematika Universitas Syiah Kuala Aceh. Sejumlah penghargaan sastra diterima D Kemalawati seperti, penghargaan Sastra Bagi Guru dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian  Pendidikan dan Kebudayaan  RI pada tahun 2011. Sebelumnya pada tahun 2007 mendapat Anugerah Sastra dari Pemerintah Aceh dan penghargaan budaya dari Kota Banda Aceh serta Anugerah Budaya Syah Alam dari Pemerintah Aceh pada pada PKA ke-7 tahun 2018.

Komentar

Loading...