Cerpen Esai Covid-19 I Gede Joni Suhartawan

Cerpen Esai Covid-19 I Gede Joni Suhartawan
Ilustrasi. Pixabay

AKU CUMA INGIN BERTANYA
Oleh: I Gede Joni Suhartawan

“Bapa,[1]] Aku sudah di bus menuju pulang!”

Kami sekeluarga bersorak syukur! Suara Wayan Dharma di ujung ponsel juga terdengar penuh kelegaan dan kegembiraan. Ya, sebentar lagi kami bakal bertemu si sulung, setelah bertahun-tahun ia bekerja di kapal pesiar. Sebenarnya ia bisa pulang enam bulan sekali. Putus kontrak dan melamar lagi beberapa bulan sesudahnya di perusahaan yang sama atau yang lain.[2]] Tapi Wayan tidak. Ia memilih melanjutkan kontrak dan melanjutkan lagi, hingga baru sekarang ia akan pulang. Kepulangannya kali ini pun bukan karena masa kontrak habis. Semua pekerja dipulangkan karena kehadiran tamu yang tidak terhormat, namanya Virus Corona! 

Wayan, begitu kami memanggilnya, memang anak yang sangat perhatian pada keluarga. Ia mengerti betul bahwa dirinya lahir dari keluarga buruh tani yang sangat berkekurangan. Ia juga mengerti betul bagaimana kami, orang tuanya, jungkir balik berusaha menyekolahkannya. Awalnya ia sendiri bersikeras tidak mau melanjutkan sekolah, biar dua adiknya saja. Ia mau membantu orangtua mengais rezeki di sawah-sawah para juragan. Syukurlah, akhirnya ia mau mengerti bahwa demi masa depan anak, kami rela mempertaruhkan segalanya. Syukurlah ia mau memahami harapan kami, bahwa sebagai anak sulung ia harus menjadi contoh buat adik-adiknya, dan kalau mungkin mengentaskan mereka. Bagaimanapun, orang yang berpendidikan baik, besar kemungkinan mendapat kedudukan dan penghasilan yang lebih tinggi. Dengan begitu ada harapan kami sekeluarga bisa keluar dari himpitan kemiskinan ini.

Jadilah Wayan bersekolah, tidak sampai perguruan tinggi memang, tapi cukup sekolah yang langsung bisa mendapat pekerjaan dan bergaji bagus. Singkat cerita Wayan menjadi awak kapal pesiar setelah menamatkan sekolah pariwisata. Kami bersyukur waktu melepasnya ke laut luas, meninggalkan kami, meninggalkan desa ini, berlayar dari satu benua ke benua yang lain.

Hanya dalam tempo enam bulan kami sudah dapat melunasi utang-utang, baik biaya training, biaya pemberangkatan Wayan, juga utang kami di warung. Tentu saja yang melunasi si Wayan, sulung kami itu! Bahkan setahun kemudian, kami sudah bisa memperbaiki rumah dan membeli sawah! Pendeknya, dari melaut Wayan Dharma mampu membelikan sebidang tanah yang kini kugarap sendiri. Kini aku bukan buruh tani lagi! Wayan Dharma, sulung kami, dia-lah pahlawan keluarga!

“Bapa, kami ditolak masuk oleh warga!”[3]]

“Apa?!”

“Mereka menghadang. Tidak membolehkan bus yang membawa kami masuk. Kami bahkan dilarang turun dari bus!” suara Wayan di ponsel terdengar putus asa. Pasti dia dan kawan-kawan pekerja migran di dalam bus itu kelelahan. Bagaimana kalau kebelet pipis? Apa harus pipis di dalam bus yang sedang berhenti? Katanya itu dilarang.  

Aku terkesiap. Puspa, istriku, serta dua adik-adik Wayan, Kadek Dwiratna dan Komang Triwibawa, kulihat melongo sambil berpandang-pandangan. Baru saja kami begitu gembira bakal berjumpa dengan Wayan, si pahlawan itu, eh… terancam batal! Wayan mengabarkan bus sudah memasuki Karangasem, kabupaten yang mewilayahi desa kami tinggal, tetapi dicegat massa di Candidasa!

Bagaimana ini? Warga sendiri menolak kepulangan putra-putrinya dengan alasan takut ketularan penyakit yang dibawa oleh virus mematikan! Apa yang terjadi? Virus macam apa ini? Penyakit macam apa yang ia bawa? Kabarnya hanya menyerang alat pernapasan, tapi kok ini menyerang juga otak dan hati manusia? Aku mendengar di mana-mana terjadi penolakan terhadap orang-orang yang terkena virus Corona; malah yang belum pasti pun, yang baru dikarantina untuk memastikan terkena tidaknya, juga ditolak. Kemarin di warung kopi yang sepi karena larangan kumpul-kumpul itu, kabar disebarkan oleh si tukang gosip, Ketut Dongker. Siang itu di warung hanya ada aku, Pan Wirasabda, dan Ketut Dongker. Meskipun hanya bertiga, eh… berempat dengan pemilik warung, obrolan tentang virus Corona selalu riuh.

“Ini kejadian di Jawa,”[4]] katanya sambil mengaduk kopi yang terhidang. “Ada perawat meninggal karena tertular virus Corona dari pasien. Waktu akan dikubur di kampungnya, ditolak sama warga. Bayangkan itu. Jenazah ditolak penguburannya di kampung sendiri; oleh warga sekampungnya juga,”[5]] pungkasnya.

“Astaga! Itu perawat lho! Bagaimana orang biasa? Makanya Bli, jangan mati di zaman edan ini!” sahut Pan Wirasabda.

Aku naik darah! Bagaimana ini, otak dan hati mereka, para warga yang tega menghadang dan menolak saudara-saudara mereka sendiri? Rusak semua oleh virus Corona! Tidak adakah para cerdik pandai, terutama pemimpin, yang bisa menjelaskan soal ini? Apakah mereka lumpuh, sehingga membiarkan saja warga yang buta main terjang, main hadang?! Mau jadi apa dunia ini!

Aku segera beringsut mengambil sabit, kuselipkan di pinggang lalu bersegera beranjak dari rumah. Istri dan anak-anakku menggamit tanganku.

“Bapa mau ke mana?”

“Jemput Wayan!” jawabku pendek. Mereka tambah erat mencekal tanganku. Komang Tri, si bungsu, malah nekat mendorong-dorong tubuhku sambil berkacak pinggang.

“Terus kenapa Bapa bawa sabit?”

“Untuk leher mereka! Biar tidak ada kepalanya sekalian. Toh kepala mereka hanya berisi tai!” jawabku meradang.

Dan aku pun melenggang di antara kecemasan mereka. Tentu saja, kalau aku sudah punya kehendak dan bicara dengan kata-kata keras, percuma istri dan anak-anakku membendung. Mereka sudah hafal itu.

Aku berdiri di pinggir jalan, menanti ada mobil bak, truk, atau apa pun yang bisa kutumpangi menuju lokasi bus-bus yang membawa para migran itu. Aku harus ke sana. Di salah satu bus itu, Wayan Dharma si pahlawan kami, sedang teraniaya!

Kurang ajar, jalanan sepi. Satu dua pengendara motor lewat dengan kencang seperti menikmati arena balap. Mungkin karena jalanan sepi akibat peraturan diam di rumah, maka mereka menganggap ini kesempatan untuk tancap gas sepuasnya!

Aku mulai tidak sabar. Kuhadang sebuah truk pengangkut pasir yang terseok-seok dari arah Candidasa.[6]] Tadi di telepon Wayan mengatakan busnya dihadang di Candidasa. Warga menolak mereka dikarantina di wilayahnya; padahal Bupati sudah menyewa salah satu hotel untuk tempat isolasi.

“Pak, tadi lihat bus dihadang warga di Candidasa?” tanyaku pada sopir truk.

“Iya, saya lihat. Kenapa Pak?”

“Di Bus itu ada anak saya, Pak. Dia baru turun dari kapal. Dia sudah sampai di Bali, tapi tidak bisa pulang!”

“Kan dikarantina dulu katanya, Pak, bagi pekerja migran. Gitu kan aturannya?”

“Iya, tapi ini mau dikarantina saja tidak boleh! Antar saya ke sana!”

“Wah, tidak bisa, Pak. Saya mau ke Denpasar, masa balik lagi. Itu harusnya urusan Bupati, Pak.”

“Bapak dulu milih dia ndak?”

“Wah, ndak, Pak. Saya dari Klungkung, bukan Karangasem.”

Kutendang ban truk itu dan kusuruh sopirnya cepat berlalu. Aku sangat gusar. Batinku menyumpah serapah. “Ini pemimpinnya tidak becus ngurus! Pemimpinnya lumpuh!” Hatiku kian kesal. Mataku tetap nyalang mencari-cari kalau ada tumpangan menuju Candidasa. Setelah lama menunggu, nah itu dia! Sebuah sepeda motor melaju tidak terlalu kencang, pengendaranya anak muda sebaya Wayan, membawa jerigen yang kemungkinan besar berisi tuak atau arak, minuman beralkohol, salah satu hasil pertanian yang menjadi unggulan Karangasem.[7]] Aku mencegatnya. Motor itu sempat sedikit oleng karena direm mendadak.

“Nak, Bapak numpang ya, mau ke Candidasa kan?” kataku sambil memegang bagian depan motornya. Anak muda itu hanya memperhatikan aku dari atas ke bawah. Tidak jelas dia tersenyum atau manyun karena mulutnya tertutup masker.

“Tidak sampai sana Pak. Cuma sampai Sanghyang Ambu”

“Ya, tidak apa sampai di situ saja!”

Tanpa menunggu jawabannya aku langsung ke jok belakang, melepas ikatan jerigen, lalu naik ke boncengan dan memangku jerigen itu. Aku tidak sabar untuk segera tiba di tujuan. Nanti dari Sanghyang Ambu, siapa tahu ada kendaraan lain yang bisa kutumpangi, atau jika tak ada, biarlah aku jalan kaki saja. Walaupun Candidasa masih lumayan jauh untuk ditempuh dengan berjalan kaki, tak apalah demi si anak lanang!

Motor pun melaju dan aku bersorak karena anak muda ini memacu motornya lebih kecang dari sebelumnya. Entah karena ia tahu aku buru-buru, entah karena tidak ingin berlama-lama memboncengkan aku. Sesampainya di batas Sanghyang Ambu, sesuai janji, ia menurunkan aku; mengikat kembali jerigen di jok belakang, lalu cepat-cepat menggeber motornya lebih ngebut, sembari berteriak, “Pakai masker, Pak!”

Aku melongo. Kenapa dia baru bilang, padahal aku membawa masker yang kuselipkan di pinggang. Aku belum terbiasa memakainya, jadi tidak betah karena uap napas terasa panas. Masker sumbangan satpol PP ini kubawa hanya untuk berjaga-jaga kalau ditegur polisi.

Aku pun melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki sambil terus berharap ada kendaraan lewat yang menuju Candidasa. Sambil berjalan, kubiarkan pikiranku mengembara. Berseliweran di kepala kabar-kabar penolakan terhadap yang terkait virus celaka ini. Bahkan aku dengar ada tenaga medis yang ditolak pulang ke rumah kostnya[8]] karena ia ikut menangani pasien korban Covid-19. Aku bingung dengan kelakuan yang ditimbulkan oleh virus ini. Ini pasti virus jahat, biangnya jahat! Virus ini tidak hanya berbahaya untuk paru-paru ternyata, tetapi juga berbahaya untuk otak, hati, budaya ngeriyung, dan budaya welas asih! Virus ini telah membuat para cerdik pandai dan para pemimpin ‘lumpuh’; sedangkan kami rakyat jelata dibuatnya ‘buta’!

Ponsel berbunyi. Kulihat di layarnya. Wayan Dharma! Anakku. Orang Kapal Pesiar itu! Aku menyahut dengan antusias.

“Hallo, Wayan….”

“Bapa, akhirnya kami diterima warga!” ucap Wayan dengan nada bahagia. Aku melompat, tak sengaja kucabut sabit dari pinggang dan kuacungkan ke udara. Lega rasanya.

“Tapi warga hanya membolehkan tiga hari di sini. Sisa hari karantina tak tahu mau dibawa ke mana sama pemerintah,”[9]] sambungnya. Aku tercekat. Bagaimana ini? Aku bakal tidak tahu di mana anakku berada!

“Jadi, Bapa harus nyusul kamu ke mana?” tanyaku.

“Bapa tenang saja, tidak usah nyusul. Yang penting aku sudah di Bali. Tunggu selesai masa karantina. Salam buat ibu dan adik-adik.”

Aku mengangguk. Lupa ini panggilan telepon suara, bukan video. Tapi aku yakin Wayan dapat merasakan anggukan bapanya ini!

“Bapa, mana ibu? Aku ingin dengar suaranya. Juga adik-adik.”

Aku tergagap mendapat pertanyaan Wayan.

“Eh, mereka di rumah.”

“Lho, ini Bapa di mana?”

“Di jalan, menuju Candidasa!”

“Apaa? Aduh, Bapa ini! Ayo, balik pulang! Harus di rumah, jangan jalan-jalan. Nanti Bapa diusir sama orang-orang se-Candidasa!”

“Tapi, Bapa ingin bertemu kamu!”

“Iya, Bapa. Tunggu saja di rumah. Setelah selesai masa karantina aku pulang.”

Aku bingung. Jadi, aku tak bisa bertemu Wayan di tempat karantina? Dewa Bathara! Orang yang mondok di rumah sakit saja bisa ditengok keluarga, teman, dan tetangga. Ini belum tentu sakit malah tidak boleh. Benar-benar keterlaluan kamu ini, virus Corona!

“Bapa, hallo… hallo, Bapa…!”

Aku terhenyak, dan cepat menjawab:  

“Iya, iya… ini Bapa. Baik, baik, Bapa pulang. Kamu baik-baik di sana ya!”

“Ya, nanti aku kabari terus. Bapa jangan lupa pakai masker! Sampai rumah langsung mandi keramas!”

Aku pun kembali mengangguk dan memakai masker. Aneh! Uap napas yang panas ini tidak lagi terasa pengap. Akhirnya aku pasrah. “Ah, sudahlah, yang penting Wayan aman, sudah ada tempat karantina dan pasti bisa pulang setelahnya,” batinku.

 Aku menyeberang dan berbalik arah untuk pulang. Di kepala penuh kecamuk dan gambar. Seandainya mobil Bupati lewat, walaupun pasti ada pengawalnya dan pakai sirine, akan kuhadang mereka. Aku cuma mau bertanya, setelah tiga hari di Candidasa, ke mana lantas pahlawanku, Wayan Dharma, akan dikarantina? Andaikata warga biasa yang lewat, juga akan kuhadang dengan satu pertanyaan, “Benar kamu orang Candidasa?” 

Denpasar, 2020

[1] Dalam dialek Bali, kata ‘bapa’ diucapkan dengan e pepet menjadi ’bapa’.

[2] Kebanyakan perusahaan kapal pesiar menawarkan kontrak kerja selama 4 (empat) hingga 6 (enam) bulan, tergantung pada jalur pelayaran yang akan dilalui dan jabatan kru. Setelah masa kontrak hampir habis, kru kapal bisa memperpanjang kontrak atau mengambil cuti dan kembali bekerja untuk kontrak lainnya.https://studipariwisata.com/kapal-pesiar/pertanyaan-seputar-kerja-kapal-pesiar/amp/#16-masa-kontrak-kerja 

[3] Puluhan warga Desa Sengkidu turun ke jalan menghadang bus yang membawa pulang para Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Karangasem yang rencananya akan di Karantina di Hotel Ramayana, Candidasa, Rabu (15/4/2020) malam. Lantaran penghadangan ini, bus yang membawa para PMI tersebut parkir di Pantai Batumadeg, Candidasa, menunggu ke mana akhirnya mereka akan dibawa untuk diinapkan. Warga yang tinggal di sekitar hotel khawatir akan penyebaran virus corona jika mereka di karantina di wilayahnya. https://www.balipuspanews.com/penolakan-karantina-terjadi-warga-hadang-bus-pekerja-migran-di-candidasa-karangasem.html

 [4] Dalam dialek Bali, kata ‘Jawa’ diucapkan dengan e pepet menjadi ‘Jawa’

[5] Isak tangis tenaga medis RS Kariadi Semarang, Jawa Tengah, mengiringi kepergian ambulans yang membawa jenazah rekan mereka, perawat Nuria Kurniasih, yang wafat akibat terinfeksi virus Covid-19, Kamis (9/4/2020). Perawat yang semasa hidupnya berjuang membantu pasien Covid-19 itu rencana akan dimakamkan di TPU Sewakul, berdekatan dengan kuburan para kerabatnya. Namun rencana keluarga untuk memusarakan Almarhumah dihambat oleh ketua RT dan warga setempat karena khawatir menularkan virus corona. Akhirnya jenazah Nuria dibawa kembali ke RS Kariadi. Pihak RS menghubungi pemerintah Kota Semarang agar jenazah sang perawat bisa dimakamkan di TPU Bergota, Semarang. Permohonan dikabulkan, jenazah sang perawat itu pun akhirnya dikebumikan di TPU Bergota pada malam harinya.
https://www.cnnindonesia.com/nasional/20200410174518-20-492451/kisah-pilu-dari-penolakan-jenazah-perawat-corona-di-semarang

[6] Candidasa adalah daerah pariwisata terkenal di Bali Timur. Seperti halnya Sanur atau Kuta dengan pantai sebagai ikon wisatanya.https://id.wikipedia.org/wiki/Candi_Dasa

[7] Penghasil arak yang paling terkenal di Bali berada di Kabupaten Karangasem. Salah satunya di Desa Merita. Hampir semua rumah di saerah itu mengolah dan memproduksi arak secara home industry. Pembuatan arak di desa ini telah menjadi tradisi turun-temurun. Di Bali, arak sangat penting karena digunakan sebagai bagian dari kegiatan sembahyang dan upacara. https://travel.detik.com/domestic-destination/d-4888844/mengenal-arak-bali-yang-baru-dilegalkan

[8] Para tenaga medis yang telah berjibaku menangani pasien COVID-19 ternyata memperoleh perlakuan kurang layak. Mereka mengalami diskriminasi di lingkungannya dengan alasan tak mau tertular virus corona. Ada pengusaha laundry yang menolak pelanggan kalau dia perawat. “Ada pula tenaga medis yang ditolak tak boleh masuk kamar kosnya sendiri,” kata Rukmono Siswihanto, Pelaksana Harian Direktur Utama RSUP Dr. Sardjito, Rukmono usai menemui Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X. https://jogja.idntimes.com/news/jogja/tunggul-damarjati/tenaga-medis-masih-didiskriminasi-ditolak-masuk-ke-kosnya-sendiri

[9] Warga masyarakat Sengkidu memberikan waktu 3 hari karantina bagi Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Hotel Ramayana Candidasa, Desa Sengkidu, Kabupaten Karangasem. Diharapkan dalam jangka waktu 3 hari Pemerintah Daerah berhasil mencarikan tempat Karantina yang lain. https://www.balipuspanews.com/dijaga-ketat-aparat-batas-waktu-karantina-pmi-di-candidasa-cuman-3-hari.html.

I Gede Joni Suhartawan, lulusan Universitas Gadjah Mada, jurusan Ilmu Komunikasi. Ia termasuk salah satu pendiri kelompok teater yang cukup fenomenal di Bali, Sanggar Putih. Sejak tahun 1995 hingga 2015 menjadi praktisi di stasiun televisi nasional serta daerah; dan kini sebagai konsultan media di beberapa lembaga.

Menulis merupakan salah satu kegemarannya, terutama esai. Sesekali menulis fiksi, baik naskah drama (panggung, radio, film/televisi) maupun cerita pendek. Naskah dramanya berjudul Wayan Baca Koran menjadi salah satu pemenang dalam lomba yang diadakan oleh PWI (1989).

Cerpennya pernah dimuat di majalah Kartini dan di majalah Sastra Horizon termasuk dalam 10 cerpen terbaik (1997). Tahun 2018 terbit bukunya berjudul Ini Broadcasting, yang merupakan buku panduan dunia pertelevisian.

Baca juga: Cerpen Esai Covid-19 D Kemalawati

Komentar

Loading...