Cerpen Esai Covid-19 Halimah Munawir

Cerpen Esai Covid-19 Halimah Munawir
Ilustrasi.Ist

PAGAR MANGKOK DAN ARISAN
Oleh:Halimah Munawir

Rini terkejut melihat suaminya di atas vespa, seorang jurnalis ibu kota, dengan truk beras di belakangnya.

Serta merta Rini yang berpakaian daster segera buka pintu gerbang. Dengan kening berkenyit, ia pun bertanya penuh heran.

"Beras siapa bang? Sampai satu truk."

"Beras kita."

"Beras kita? Untuk apa sebanyak itu? Dari mana abang dapat uang?"

1/

"Sudahlah jangan banyak cakap. Banyak negara sudah lockdown!"

"Kata Lockdown sudah berkali kali abang bilang. Dan kemarin juga abang sudah penuhi kulkas, beli telur berkilo kilo.."

"Sudahlah dik, cepat bantu keluarkan barang barang dari garasi. Biar abang keluarkan kijangnya."

"Tidak. Abang jawab dulu dari mana uang untuk membeli beras sebanyak itu?"

"Nanti abang cerita"

"Bukan dari korupsi kan?"

"Yang bener aja dik, sebagai jurnalis, apa yang bisa di korupsi?"

"Lalu dari mana uang itu? "

"Ya dari gaji abang. Tadi dapat dua bulan gaji."

"Hah?" Rini terkejut dan membayangkan gajian suaminya itu seluruhnya dibelikan beras.

Bagaimana dengan jatahku? Maka tanpa pikir panjang, Rini pun menanyakan perihal jatah dia atas uang gaji suaminya itu.

"Beli beras itu tidak potong jatah aku kan bang?"

Sang suami tersenyum simpul.

"Bang.." Rini mulai naik pitam.

Per bulan, gaji suaminya sebagai jurnalis memang ada bagian untuk istrinya. Dari "jatah bulanan" itu Rini mempunyai "genk arisan " di tempat anaknya sekolah. Genk arisannya terkenal bergaya sosialita. Kocok arisan di mall atau di cafe walau disana genk ini hanya minum makan sharing 50 ribuan namun narcis bukan kepalang.

"Astaga bang.. kenapa dibelikan beras? Bagaimana nanti aku bayar arisan? Beli baju? Makan di cafe.."

"Lockdown itu tidak boleh kumpul  kumpul.."

"Kalau jaga jarak kan boleh."

"Hadehhhh abang harus bilang apa lagi sama kamu? mau ke mall dan makan minum di cafe terus masuk ruang isolasi? " Suami mulai naik pitam. Bola mata melotot. Rini terdiam.

Kesempatan suami untuk membuka tirai hati sang istri.

"Dengar dik, berdiam di rumah lebih baik dari pada di rumah duka. Sekarang kamu masuk ke dalam, abang urus turunkan beras."

Rini pun masuk ke dalam rumah dengan wajah sewot sambil menghentakan kaki.

Suami mengangkat bahu lalu meminta kenek truk segera menurunkan beras dari truk ke garasinya yang hanya cukup untuk satu mobil kijangnya itu. Hal yang selalu di syukurinya, bagi seorang jurnalis seperti Rachman, suami dari Rini. Ia mempunyai rumah dengan garasi mobil dari warisan orang tua. Sebagai jurnalis di media bukan papan atas, tanpa kerja sampingan, tak mungkinlah dia mempunyai rumah, mobil dan motor vesva. Harus di akui, menjadi jurnalis tak akan bisa menjadi kaya apalagi kaya raya kecuali jurnalis yang ketiban bintang.

2/ Upah jurnalis plus instensif dari kebanyakan media masih banyak di bawah kisaran 5 juta rupiah.

Hari yang melelahkan namun Rachman tetap tersenyum melihat istrinya manyun depan televisi.

Di dekatinya sang istri setelah ia menyusun strategi dan jurus bagaimana membuat istri tersenyum.

"Sayang, " kata Rachman sambil berbaring dengan kepala di atas paha istri.

Tak ada kata dari istri.

"Maafkan aku ya..aku tak tega melihat kenyataan di luar sana..jadi aku berpikir kita perlu membuat pagar mangkok"

"Aku tak paham dengan apa yang abang katakan. Yang pasti abang tak bisa mengambil keputusan sendiri jika sudah punya istri," Rini akhirnya buka suara juga.

"Kan abang sudah minta maaf? Ini darurat sayang. Kita harus berjaga jaga untuk kondisi yang terburuk walau aku sangat berharap jangan sampai terjadi akan ada hal yang terburuk. Untuk itu aku beli beras sebanyak itu untuk pagar mangkok"

"Dari tadi abang selalu bilang pagar mangkok" Tapi yang di beli beras bukan mangkok"

"Hahahaha..." Rachman tertawa.

"Kenapa tertawa?"

"Karena kamu cantik kalau marah."

Rachman bangkit dan memeluk istrinya.

3/

"Kau pernah dengar pepatah jawa yang mengatakan: 'Luwih Becik Pager Mangkok, Tinimbang Pager Tembok' (lebih baik pagar mangkok, daripada pagar tembok)" tanya Rachman pada istrinya sambil mendekatkan wajahnya ke wajah sang istri. Wanita dalam pelukannya menggelengkan kepala.

"Kalau soal pagar, adik tahu kan itu untuk memberi kenyamanan penghuni rumah? Namun kita kan punya tetangga yang ibaratnya adalah saudara kita. Kita perlu menjalin harmonisasi dengan mereka. Mangkok dianalogikan sebagai simbol pemberian kita kepada tetangga." Terang Rachman.

"Jadi jatahku untuk beli mangkok? Trus nanti aku bayar arisan dari mana, bang?"

"Adik sayang, coba buat usulan ke bandar arisan, arisan juga harus lockdown. Kan sekolah juga libur?"

"Aduh bang.. emak emak arisan minta bandar kocok online. Bayar transfer kalau dapat juga di transfer."

Rini melepaskan pelukan Rachman lalu mengambil HP nya.

"Ini abang lihat, bandar sudah pasang gambar kocokan online. "

Rachman terbelalak demi apa yang di lihatnya pada hp sang istri. Sebuah aplikasi kocok arisan . Ternyata emak emak ahli juga dalam cari solusi di tengah wabah covid-19 dan dapat pula  aplikasinya.

4/

Sebenarnya Rachman sudah mengetahui lama tentang aplikasi kocok arisan di androidnya. Dimana jarum akan berputar mengikuti arah jarum jam yang mana akan memilih nama nama yang tersedia  secara random. Namun tak menyangka emak emak yang kesehariannya sebagai ibu rumah tangga sekarang secanggih ini. Akalnya bagai sumur tak berbatas.

"Baiklah, jika hanya untuk arisan, abang siapkan. Tapi  tidak untuk makan makan di mall." Akhirnya kata Rachman.

"Alhamdulillah.. terima kasih bang. Semoga aku narik ya bang." Kini giliran Rini memeluk erat suaminya. Lalu lanjutnya,

"Aku jadi teringat dengan prediksi Gus Dur  bang."

"Apa itu dik?"

5/

Rini  menarik nafas panjang lalu ia menceritakan tentang prediksi Gus Dur,  60 hari sebelum wafat. Gus Dur mengutarakan kepada Kiai Mun'in DZ dan Kiai Adnan bahwa akan  tiba saatnya peralihan zaman, menjelang jaman kehancuran peradaban. Dunia akan kacau balau.

Rachman menatap kagum pada istrinya. Lockdown atas Covid-19 membuka tabir siapa istrinya yang kesehariannya hanya sebagai ibu rumah tangga yang mengurus suami dan anak senata wayangnya.

"Jangan teruskan dik, ngeri abang mendengarkannya. Karena banyak ramalan Gus Dur terbukti nyata."

Takut membias wajah Rahman. Dia seorang jurnalis dan sudah mengetahui sedikit banyaknya tentang masalah negara yang semakin carut marut dan kini terimbas pula akan Virus corona dari Wuhan itu.

"Dik, abang membuat pagar mangkok hanya antisipasi dan tidak berharap akan ada kejadian yang mengerikan."

Rini seakan tak mendengan apa kata Rachman. Ia malah meneruskan  kata-kata yang membuat jantung berdebar.

"Dan Ingat, Nabi Yusuf yang tafsirkan mimpi untuk stok makanan hadapi bencana kekeringan."

Ajib nih istriku. Kata Rachman dalam hati.

"Sudah sudah. Jangan kau terus cerita yang membuat psikis dan imun tubuh melorot. "

Tergores tanda tanya di pelopok mata Rini. "Mengapa suamiku tampak takut?" Tanyanya dalam hati.

"Ayo dik, kita sholat dan berdoa agar pagar mangkok abang buat zakat sekampung."

Marhaban ya Ramadhan..

Duren Sawit '2020

Catatan kaki:

1/

Update, Berikut 15 Negara yang Berlakukan Lockdown akibat Virus Corona - Kompas.com - https://www.kompas.com/tren/read/2020/03/22/183000465/update-berikut-15-negara-yang-berlakukan-lockdown-akibat-virus-corona

2/

https://bangka.tribunnews.com/2018/01/14/inilah-besaran-upah-jurnalis-di-31-media-di-indonesia-tertinggi-di-bbc

3/

https://www.kompasiana.com/tokohmasyarakat/kekuatan-pagar-mangkok_574ab7a0d17a619f122d6ffc

4/

https://www.teknobgt.com/?p=1333

5/

https://www.dutaislam.com/2019/12/prediksi-gus-dur-tentang-perang-dunia-60-hari-sebelum-wafat.html.

Halimah Munawir, mulai suka menulis sejak SMA. Karya-karyanya dipajang di majalah dinding sekolahnya dengan nama samaran Kelana. Ketika terjun sebagai jurnalis, nama tersebut berganti menjadi CH atau Cempaka. Saat mengasuh sebuah rubrik remaja di Harian Indonesia,  menulis bersama KSP pada buku dengan nama asli Halimah dan setelah berkeluarga memakai nama lengkap Halimah Munawir.

Meski ibu tiga anak tiga ini sibuk sebagai pengurus harian IWAPI Jakarta, sebuah yayasan maupun perusahaan telah melahirkan sejumlah karyanya;  Fotobiografi MbokBerek (2006), Suskses Story Nila Sari (1988), The Sinden (2011), Sucinya Cinta Sungai Gangga (2013), Sahabat Langit (2014), Antologi Puisi (2015), Kidung Volendam (2017).

Di tahun 2020 ini ia terbitkan buku  AKAR, sebuah kumpulan puisi untuk menyambut usianya yang ke- 56 tahun.

Komentar

Loading...