Breaking News

Cerpen Esai Covid-19 Dhenok Kristianti

Cerpen Esai Covid-19 Dhenok Kristianti
Mentari tenggelam. (pixabay/prunkova)

MENTARI
(Buat Suster Irene Hasugian[1]] dI Garis Depan)

Oleh: Dhenok Kristianti

Aku dilahirkan dengan nama Wu Yang Guang,[2]] keturunan China Indonesia. Papa dan mama tetap mempertahankan budaya China, termasuk dalam pemberian nama anak dan melakukan tradisi Imlek. Meskipun begitu, tak dapat diragukan Merah Putih selalu berkibar dalam jiwa orang tuaku, terutama papa. Semasa hidupnya papa mengatakan, “Tradisi adalah bukti kecerdasan dan tanggung jawab manusia kepada Tuhan. Ia telah memberikan akal budi, sehingga manusia mampu berkarya dan terciptalah tradisi. Tak sepantasnya kearifan leluhur yang baik dibuang begitu saja”.

Begitulah kusandang nama Wu Yang Guang, meskipun dalam pergaulan sehari-hari aku lebih sering dipanggil dengan sebutan ‘Mentari’. Esensi makna nama panggilanku itu sama dengan ‘Yang Guang’, sinar matahari. Dan meskipun hanya nama panggilan yang tidak tercantum dalam akta kelahiran, namaku ‘Mentari’ disahkan juga oleh mama-papa dengan menggelar tradisi Jawa, bancakan,[3]] ketika usiaku genap enam tahun.

“Nak, Yang Guang namamu, artinya sinar mentari. Jadilah mentari bagi sekelilingmu, memancarkan terang, memberi kehangatan. Semoga cahayamu begitu kuat, sehingga bulan yang sesungguhnya tidak memiliki sinar pun, mampu memantulkan cahaya mentari demi menerangi jagat raya,” tulis papa di WA ketika aku berkabar telah diterima bekerja sebagai perawat di salah satu rumah sakit swasta di Tangerang. Saat itu usiaku 23 tahun, baru saja menyelesaikan studi keperawatan.

WA yang kuterima tujuh tahun lalu itu tetap kusimpan sebagai wasiat dari papa; juga kucantumkan pada kartu undangan pernikahanku empat tahun sesudahnya; dan kubacakan dalam genangan air mata di depan pusara papa enam bulan yang lalu. Waktu itu para pelayat sudah meninggalkan pekuburan, tinggal kerabat dekat yang masih bernostalgia mengenang almarhum. Mas Bram suamiku, duduk di sebelahku sambil mengelus-elus kepala bayi kami, Irene, yang saat itu masih berusia 3 bulan. Secara bergiliran kami menceritakan pengalaman yang mengesankan bersama papa. Saat giliranku tiba, terbata-bata kubacakan wasiat papa.

Kata-kata berupa doa dan harapan papa itu selalu menari-nari dalam benakku, lebih-lebih saat ini aku bertugas menangani pasien Covid-19 di ruang isolasi.[4]] Setiap aku merasa kelelahan, sedih, bahkan putus asa, wasiat papa ‘menegurku’ dengan lembut tepat di pusat hati. Seperti mendapat kekuatan, semangatku kembali bangkit. Aku mengerjakan tugas berat ini dengan penuh kesadaran, bahwa yang kulakukan adalah bentuk pengabdianku sebagai ‘matahari’ yang berjuang demi kemanusiaan.

Jika kuceritakan semua kejadian di ruangan ini, kalian pasti bergidik. Kematian serasa membayang di setiap rintihan dan napas para pasien. Ada yang menggigil dan mengeluhkan rasa nyeri di sekujur tubuh, ada yang tetap kesakitan saat bernapas meskipun telah dibantu ventilator, ada yang batuk-batuk tiada henti sampai terkencing-kencing.[5]] Kecuali rintihan karena rasa sakit, sebagian pasien juga mengalami gangguan emosi. Si ibu ‘anu’ berjam-jam menangis, khawatir tak dapat berjumpa lagi dengan anak-anaknya. Si bapak ‘Polan’ gampang tersinggung dan cepat marah, si pasien A berteriak-teriak, pasien B tak mau disapa, matanya sayu tanpa kehidupan. Semua pasien itu harus kami hadapi dengan kesabaran ekstra.

Aku dan teman-teman para medis begitu sibuk, bekerja siang malam sampai overload. Dengan sigap dan tetap tersenyum kurawat para pasien, sementara aku sendiri menekan rasa was-was di dasar hati. Ya, siapa tidak khawatir pada keganasan Covid-19? Kurasa tak ada, demikian juga aku. Sudah banyak kejadian dokter maupun para medis yang terpapar virus ini saat menangani pasien. Ada yang sembuh, ada juga yang kalah dalam ‘peperangan’.

Tak usahlah kami yang bertempur di garis depan melawan virus Corona ini dianggap pahlawan. Jika hidup atau mati kami diterima dengan layak oleh masyarakat, kami sudah sangat bersyukur. Tapi kenyataannya? Tak hanya satu dua orang tenaga medis yang dilarang pulang ke rumah kosnya terkait pekerjaannya merawat pasien Corona![6]] Tersiar pula kabar, di Semarang sekelompok warga menolak jenazah seorang perawat yang meninggal karena virus Covid-19. Bayangkan! Perawat itu meninggal karena tertular pasiennya dan kemudian ia tidak berhak dimakamkan di daerahnya sendiri![7]]

Ya, Tuhan… tidak tahukah mereka bagaimana kami berjuang antara hidup dan mati untuk menyelamatkan para pasien? Sebelum bertemu pasien kami harus mengenakan baju hamzat[8] yang panas dan berat. Sekali kami mengenakan baju itu, kami dilarang melepasnya sampai waktu tugas habis sebab harganya mahal. Jadi bagaimana kalau kami ingin ke toilet? Itu bagian yang paling menyiksa! Aku sendiri menyiasati dengan memakai pampers. Belum lagi soal lapar. Dengan baju ‘astronot’ dan larangan meninggalkan ruangan selama on duty, praktis kami tak bisa makan minum sesuka hati. Kami harus menahan lapar dan dahaga sampai digantikan para medis berikutnya sesuai jadwal. Karena itu Mas Bram kerap mengingatkan aku untuk makan dulu sebelum berangkat ke rumah sakit.

Kecemasan dalam hatiku selalu berlipat menjelang pulang seusai tugas. Aku khawatir kalau-kalau ada virus yang masih lengket di tubuh dan terbawa sampai rumah. Meskipun seluruh prosedur perlindungan telah kuikuti, jangan-jangan ada virus yang tetap menempel waktu aku meninggalkan rumah sakit. Terkesan paranoid, tapi siapa yang tidak? Lebih-lebih aku tidak hidup sendiri. Di rumah ada Mas Bram dan Irene, suami dan putri cantikku, yang harus kujaga juga kesehatannya.

Apa yang dapat kulakukan untuk meredam kegalauan ini? Tentu kujalankan seluruh peraturan. Aku sangat berhati-hati waktu membuka hamzat sebab di situ bahaya mengintai. Berjam-jam di ruang isolasi bersama pasien yang telah terpapar, wajar jika baju ala astronot itu juga tertempel virus. Demi keselamatanku dan orang-orang yang sangat kukasihi, selesai bertugas aku selalu mandi. Tidak hanya mandi, aku selalu keramas! Dan dalam setiap tarikan napas aku berdoa, jangan kiranya ada virus Covid-19 yang bandel dan luput kumusnahkan saat membersihkan diri.

Begitulah, kujalani kerisauan demi kerisauan sebagai perawat yang mengabdikan diri di masa pandemi. Aku tidak sendiri. Ketegangan para dokter dan perawat lain juga terasa di ruang isolasi; dan itu meningkat setiap kali ada pasien yang tak mampu bertahan hidup, lebih lagi jika kematian terjadi beruntun atau bahkan bersamaan. Saat-saat seperti itu hatiku demikian pedih. Biasanya aku mengambil waktu untuk sesaat menyendiri dan diam-diam menangis. Dengan berlinang air mata kudoakan keluarga pasien agar tetap tabah.

Hari ini, ketika aku masuk ruang isolasi untuk tugas malam, kudengar isak tangis dari bangsal paling ujung. Itu adalah ruang yang ditempati Bu Nursarjiah, pasien Covid-19 yang kemarin sore melahirkan. Bayinya perempuan, lahir prematur di usia kehamilan 32 minggu. Bayi yang beratnya 1800 gram itu masih dalam perawatan khusus di ruang NICU.[9]] Apa yang dialami Bu Nur membuatku sedih. Sehari sebelum Bu Nur dirawat, Pak Sujianto suaminya meninggal di ruangan ini juga karena keganasan Covid-19. Justru karena suaminya positif terpapar itulah maka Bu Nur dijemput petugas rumah sakit. Waktu itu ternyata Bu Nur sudah dalam keadaan demam, lemas, dan batuk-batuk. Hasil Swab test menegaskan Bu Nur telah terpapar. Yang lebih menggelisahkan, ia sedang hamil besar!

Aku segera melangkah ke ruang Bu Nur. Dari bangsal-bangsal yang berjejer, yang masing-masing dipisahkan gorden tebal warna biru, terdengar para pasien mengerang dan batuk-batuk. Sampai di bangsal Bu Nur, aku terkejut melihatnya sedang berusaha mencabut jarum infus dari tangan sambil tak henti terbatuk-batuk. Segera kuhampiri dan kupegang tangan kanannya.

“Ibu, sabar, Bu. Jangan dicabut!” kataku.

“Saya lebih baik mati daripada begini,” ucapnya lemah di antara derai tangis.

“Jangan bicara begitu, Bu.”

“Sakit sekali, Suster. Ribuan jarum serasa menusuk-nusuk dada saya.”

 “Ibu harus kuat, terus berdoa, Bu,” kataku. Kusap-usap tangan kanannya yang berada dalam genggamanku.

“Saya mau mati saja.”

“Ibu tak boleh bicara seperti itu. Nyawa manusia Tuhan yang mengatur.”

“Suami saya meninggal. Anak saya pasti sudah meninggal juga!”

“Bu Nur tenang dulu. Anak Ibu selamat kok,” ujarku.

“Anak saya?” kata Bu Nur dengan bola mata bergerak-gerak seperti tidak percaya.

“Iya, Bu. Bayi Ibu dalam perawatan.”

Air mata Bu Nur kembali tumpah. Membanjir. Batuknya kian menjadi-jadi. Dadanya turun naik dengan berat. Mulutnya terbuka. Terdengar bunyi ngik-ngik seperti gesekan biola setiap ia bernapas. Kutahan air mataku agar tidak jatuh. Rasanya ikut nyeri menyaksikan penderitaannya.

“Sebenarnya penyakit macam apa ini, Sus? Ada iblis menggojoh seluruh tubuh saya.”

“Ibu,” kata-kataku tersendat di kerongkongan.

“Saya mau mati, Sus!”

Tiba-tiba di antara sesak napas dan batuk yang ngikil, Bu Nur menarik tangan yang kupegang, dan secepat kilat membuka ventilator, alat untuk membantunya bernapas. Aku kaget bukan main dan secara refleks berteriak:

“Ibu… jangan! Toloong!”

Langkah-langkah panik kudengar mendekat. Seorang rekan perawat yang bertugas bersamaku malam ini masuk ke bangsal dan membantuku menenangkan Bu Nur. Ventilator kupasang kembali ke bagian hidung dan mulutnya.

“Jangan lakukan ini lagi, Bu. Ibu harus semangat untuk hidup,” ujarku dengan dada masih berdebar. “Kasihan anak Ibu kalau Ibu tidak ada,” kataku melanjutkan.

“Anak saya,” ucapnya di sela-sela suara batuknya, “benar masih hidup, Sus?”

“Ya, Bu. Bayinya cantik sekali. Malaikat yang mungil,” kata Suster Yovie yang berdiri di ujung ranjang.

“Sudah bisa minum susu,” ucapku di dekat telinga Bu Nur. Kulihat Bu Nur berusaha menarik napas panjang, tapi lalu batuk-batuk lagi.

“Bu Nur, Ibu harus semangat untuk sembuh. Harus kuat. Kita berjuang bersama-sama melawan virus ini, Bu. Kami berjuang merawat Ibu sebaik mungkin, Ibu juga harus berjuang untuk sehat. Kemauan hidup harus ada. Itu penting, Bu.”

“Sakit sekali, Suster. Belum lagi terpikir bagaimana nanti menghidupi bayi saya.”

“Pasti ada jalan. Tuhan pasti membuka jalan untuk Ibu,” kataku menghibur.

“Saya tidak bekerja. Selama ini hanya suami,” ujar Bu Nur dengan nada datar.

Aku menarik napas. Rasanya dadaku teriris sembilu. Perih. Aku menguatkan hati untuk terus memberi semangat pada Bu Nur.

“Bu, percayalah bayi Ibu milik Tuhan. Tuhan akan memberi rezeki agar Ibu mampu menghidupi malaikat mungil itu,” kataku. “Saat ini bayi Ibu juga sedang berjuang untuk terus hidup. Dia pasti ingin melihat ibunya. Ingin Ibu mendekapnya, menyanyikan lagu ‘Nina Bobo’ sebelum tidur. Iya kan? Apa Ibu tidak ingin melihatnya tumbuh?”

“Anakku… anakku….” gumam Bu Nur mengiba.

“Kelak dia sekolah, pintar, bisa jadi dokter atau apa saja yang ia mau. Ibu ingin terus mendampinginya kan? Jangan tinggalkan malaikat mungil itu, Bu.”

“Bapaknya sudah tidak ada, Sus.”

“Makanya, coba bayangkan malangnya anak Ibu, sudah bapaknya meninggal, kalau ibunya juga tidak ada bagaimana?”

“Ibu mau lihat bayi Ibu? Ada kok videonya,” sela Suster Yovie.

Suster Yovie berjalan untuk mengambil hp-nya. Kulihat Bu Nur menggumamkan doa. Aku ikut berdoa di sampingnya. Mataku terasa panas oleh butiran air yang berdesakan di sela-sela bulu mata. Keharuan timbul di hatiku melihat perkembangan positif Bu Nur yang mulai tenang dan melayangkan harapan kepada Tuhan.

Sesaat kemudian Suster Yovie kembali dan menunjukkan video bayi kepada Bu Nur. Bayi yang sangat mungil tidur dalam inkubator. Alat bantu napas dan alat pemantau jantung tampak terpasang di tubuhnya yang kecil. Kulihat sekilas kilat cahaya di mata Bu Nur.  

“Itu anak saya, Suster?”

“Iya, Bu, malaikat Ibu,” jawab Suster Yovie.

“Dia sedang berjuang agar bisa bertemu Ibunya. Ibu juga harus berjuang supaya bisa mengasuhnya sampai dewasa,” kataku.

Samar-samar kulihat Bu Nur mengangguk. Bibirnya bergetar, tersenyum tipis dan air mata meleleh dari sudut mata ke telinganya. Kuambil tissue dan kusapu air matanya.

“Sekarang Ibu istirahat ya,” ucap Suster Yovie.

“Berdoa, ya Bu. Mohon kekuatan,” tambahku sambil membantu membetulkan posisi tidurnya. Batuknya mendera lagi hingga tubuhnya terguncang-guncang. Kuusap keningnya. Tiba-tiba Bu Nur bertanya dengan tersengal-sengal, “Suster… nama Suster… siapa?”

“Saya Mentari, Bu” jawabku tersenyum.

“Mentari… Mentari!” gumamnya.

Kupadamkan lampu di bangsal itu, dan sekali lagi kuminta ia beristirahat. Ketika aku hendak melangkah keluar, Bu Nur memanggilku. Aku menoleh.

“Suster… anak saya… juga akan… saya beri nama… Mentari,” ucapnya lirih. Batuk-batuknya terdengar lebih menyiksa. Sekalipun begitu ia mengacungkan ibu jarinya padaku. Aku mengangguk, tersenyum, dan balas mengacungkan ibu jari kepadanya.

^o^

Dengan penuh kehati-hatian kubuka baju hamzat yang telah melindungiku sepanjang bertugas malam hingga subuh ini. Sebelum pulang, aku mandi keramas dan menyikat gigi. Ya, Tuhan, berapa lama lagi pandemi ini akan membayangi hidup manusia di bumi? Jangan biarkan kami hidup dalam kekhawatiran yang berkepanjangan, sehingga sukacita tergerus dari hari ke hari. Seandainya pandemi ini bentuk hukuman semesta atas kesombongan dan kejahatan kami, ampunilah, ya Tuhan. Kami manusia lemah, tapi seringkali sangat congkak. Kami bangun menara-menara Babel[1]] wujud keangkuhan diri. Baru kami sadari kini, semua itu sia-sia. Berhadapan dengan virus kecil tak kasat mata saja, seluruh sendi kehidupan kami runtuh seketika. Ya, Tuhanku, bagai pengembara yang tersesat dalam jerat ‘keakuan’, kini kami tersungkur di hadapan-Mu, mengetuk belas kasihan-Mu.[2]]

Tangerang, April 2020

[1] Menara Babel dipercaya sebagai bangunan tinggi yang dibuat manusia setelah zaman Nabi Nuh. Bangsa Israel menganggap menara Babel sebagai gejala kesombongan manusia yang mengejar kekuasaan duniawi dengan mengingkari Tuhan jang sejati. Kecuali itu menara Babel merupakan lambang penyembahan berhala dan ‘keakuan’ diri. https://www.slideshare.net/PhasaJoshua/refleksi-dari-kisah-menara-babel

 [2] Jumlah kasus Coronavirus Diseas 2019 di Italia mencapai 162.488, dengan kematian 21.067 orang.  Jumlah kasus sebanyak itu, membuat Italia kehabisan cara untuk mengatasinya, sehingga solusi yang ditempuh salah satunya adalah berdoa bersama di jalanan. Seluruh masyarakat Italia keluar dari rumah, berkumpul untuk berdoa. Mereka bersujud minta ampunan Tuhan, tak ada lagi yang dapat menyelamatkan, selain memohon kepada Tuhan. https://www.flobamora-spot.com/berita/7727/rakyat-italia-keluar-dari-rumah-dan-berdoa-di-jalan/   

[3] Irene Hasugian adalah seorang perawat di sebuah rumah sakit swasta di wilayah Tangerang, yang bertugas di ruang ICU untuk merawat pasien yang terkena virus Covid-19. Cerpen ini terinspirasi dari nilai-nilai positif yang ia sebarkan melalui pengabdiannya sebagai perawat. Pada suatu hari ia berhadapan dengan seorang ibu yang putus asa karena penyakitnya. Suster Irene tak lelah memompakan semangat pada pasiennya itu untuk terus kuat dan berjuang melawan maut. https://majalahayah.com/cerita-haru-perawat-tangani-pasien-covid-19-yang-ingin-akhiri-hidup/

 [4] Wu = salah satu marga di China  https://www.tionghoa.info/sekilas-mengenai-marga-wu/ Yangguang = sinar matahari  https://www.facebook.com/www.happylearning.co.id/posts/750269698503348/

 [5] Bancaan adalah ritual dalam masyarakat Jawa yang disertai dengan penyajian tumpeng dan gudangan (makanan khas Jawa),  yang dibagikan kepada para tetangga, terutama anak-anak. Bancaan diadakan sebagai ungkapan harapan yang menyertai tahapan perkembangan seorang anak, misalnya memperingati hari lahir berdasarkan hari pasaran penanggalan Jawa atau wetonan, kemudian ketika anak baru mulai berhenti menyusu atau masa disapih, dan saat-saat khusus seperti ketika seorang anak sering jatuh sakit, serta bila seorang anak berganti nama. Jadi bagi masyarakat Jawa, bancaan merupakan simbol dari rasa syukur dan doa. http://www.kratonpedia.com/article-detail/2011/10/9/175/Mengenal.Tradisi.Bancaan.html

[6] Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang mengeklaim seluruh rumah sakit di Kota Tangerang memiliki ruang isolasi khusus bagi penderita COVID-19. Wakil Walikota Tangerang, Sachrudin mengatakan, tak hanya RSUD Kota Tangerang, melainkan seluruh rumah sakit swasta pun memiliki ruang isolasi. Sachrudin menuturkan, penyediaan ruang isolasi di setiap rumah sakit bagi penderita COVID-19 merupakan perintah Wali Kota Tangerang Arief R. Wismansyah. “Itu sudah menjadi instruksi Wali Kota bahwa rumah sakit menerima pasien COVID-19,” katanya. http://tangerangnews.com/kota-tangerang/read/30605/Pemkot-Klaim-Seluruh-RS-di-Kota-Tangerang-Punya-Ruang-Isolasi-COVID-19

 [7] Tanda terinfeksi virus Corona yang banyak terlihat adalah batuk kering, demam, dan sesak napas. Dikutip dari The Sun, selain ketiga tanda tersebut, sebagian pasien juga ada yang mengalami sakit dan nyeri, hidung tersumbat, pilek, sakit tenggorokan, dan diare. Tanda terinfeksi Corona tersebut dimulai dari gejala ringan dan secara bertahap kian memburuk. https://wolipop.detik.com/health-and-diet/d-4944518/3-tanda-terinfeksi-corona-kamu-harus-isolasi-diri

[8] Para staf medis RSUP Persahabatan mendapat perlakuan diskriminatif dari warga. Mereka diusir dari indekos karena warga khawatir dapat tertular virus Covid-19. Akibat pengusiran tersebut, ada di antara mereka yang memilih menginap di rumah sakit. Akhirnya, direktur RS berinisiatif mencarikan tempat tinggal untuk mereka.https://www.tribunnews.com/kesehatan/2020/03/25/dianggap-tularkan-virus-corona-karena-rawat-pasien-covid-19-perawat-diusir-dari-kos-tidur-di-rs.

[9] Tak hanya jenazah pasien virus Corona yang ditolak masyarakat, jenazah perawat salah satu rumah sakit rujukan virus Corona di Jawa Tengah juga mengalami penolakan. Nasib pejuang kemanusiaan ini sangat miris. Ketika hidup dia pertaruhkan nyawa untuk membantu orang lain, namun ketika tidak bernyawa, jenazahnya ditolak warga untuk dimakamkan di daerahnya sendiri! Perawat ini rencananya akan dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Sewakul, Kelurahan Bandardjo, Kabupaten Semarang, berdekatan dengan makam keluarganya. Karena penolakan itu jenazahnya dipindahkan ke kompleks pemakaman Bergota, Kota Semarang. https://regional.kompas.com/read/2020/04/14/11010031/tentang-sewakul-penolakan-jenazah-perawat-berujung-kecemasan.

[10] Hamzat Suit adalah pakaian yang sangat tertutup dari atas sampai bawah dan nampak seperti pakaian astronot. Pakaian yang termasuk ke dalam Alat Pelindung Diri ini terdiri dari pelindung kepala, alat bantu pernapasan, hingga pelindung kaki yang dirancang sedemikian rupa agar pemakainya aman dari penularan virus. https://blogs.insanmedika.co.id/mengenal-alat-pelindung-diri-hazmat-suit/

 [11] The Global Action Report menyatakan, setiap tahun terdapat 15 juta bayi prematur dan Indonesia menempati posisi ke-5. Sebanyak 80% bayi dengan kelahiran prematur perlu perawatan intensif di ruang NICU (Neonatal Intensive Care Unit) karena berat badan lahir yang rendah (kurang dari 2.500 gram), terkena infeksi, menderita gangguan pernapasan, kuning, atau memerlukan operasi. https://www.siloamhospitals.com/Contents/News-Events/Advertorial/2020/02/19/07/03/Mengenal-NICU-Ruangan-untuk-Bayi-dengan-Kondisi-Khusus

 [12] Menara Babel dipercaya sebagai bangunan tinggi yang dibuat manusia setelah zaman Nabi Nuh. Bangsa Israel menganggap menara Babel sebagai gejala kesombongan manusia yang mengejar kekuasaan duniawi dengan mengingkari Tuhan jang sejati. Kecuali itu menara Babel merupakan lambang penyembahan berhala dan ‘keakuan’ diri. https://www.slideshare.net/PhasaJoshua/refleksi-dari-kisah-menara-babel

 [13] Jumlah kasus Coronavirus Diseas 2019 di Italia mencapai 162.488, dengan kematian 21.067 orang.  Jumlah kasus sebanyak itu, membuat Italia kehabisan cara untuk mengatasinya, sehingga solusi yang ditempuh salah satunya adalah berdoa bersama di jalanan. Seluruh masyarakat Italia keluar dari rumah, berkumpul untuk berdoa. Mereka bersujud minta ampunan Tuhan, tak ada lagi yang dapat menyelamatkan, selain memohon kepada Tuhan. https://www.flobamora-spot.com/berita/7727/rakyat-italia-keluar-dari-rumah-dan-berdoa-di-jalan/  

 

Dhenok Kristianti , dikenal sebagai guru dan penyair. Karya-karyanya banyak yang sudah dibukukan, baik dalam antologi bersama maupun tunggal. kecuali menulis puisi, ia juga menulis cerpen, esai, dan puisi esai.

Puisi esainya yang berjudul “Mary Jane dan Maut, Muka dengan Muka” meraih juara I dalam Lomba Penulisan Puisi Esai Tingkat ASEAN tahun 2019. Bukunya yang baru-baru ini diterbitkan oleh Cerah Budaya Indonesia merupakan kumpulan puisi esai yang berjudul “Dalam Kepungan Gelombang”.

Selain menulis, ia juga aktif membantu sahabatnya, Nana Ernawati, di Lembaga Seni & Sastra Reboeng yang banyak berkontribusi dalam dunia sastra, pertunjukan, dan dunia anak.

Iklan Duka Cita Ibunda Bupati Nagan Raya

Komentar

Loading...