Cerpen Covid-19: Mezra E.Pellondou

Cerpen Covid-19: Mezra E.Pellondou
Mezra E.Pellondou

KABAR DARI KORBAFO
Mezra E. Pellondou:

Tiba-tiba Lilo  membungkuk dan membenamkan tangannya  dalam kapisak yang berisi bawang merah yang baru saja dipanen. Kapisak itu berada di atas tumpukan-tumpukan kapisak lainnya, yang semuanya berisi bawang merah. Panen kali ini memang cukup menggembirakan. Sambil tersenyum  tangannya masih saja dibenamkan, wajahnya ditengadahkan ke langit dan matanya tertutup. Ia seakan sedang menikmati satu demi satu tetesan keringatnya yang telah Tuhan letakkan sendiri di telapak tangannya. Hasil  kerja kerasnya sebagai petani bawang merah di Kampung Korbafo. 

“Kadang kita membutuhkan kesenangan yang lain. Sambil membayangkan yang kita lakukan itu adalah sebuah hobi yang menyenangkan” kataku. 

“Sampai di mana tadi aku bercerita ya..? Aku sudah mulai tua sehingga  sulit berkonsentrasi. Ah, aku sedang berkata apa ya kepadamu? Hmm, sebentar aku coba mengingatnya kembali ”  kata Lilo.

Lilo  mengangkat kedua tangannya dari dalam kapisak dan menatapku. Setelah itu dibenamkannya kembali.

 “Jangan kau berkata bahwa kau berada di jalan yang sesat, Lilo. Cita-citamu bukan menjadi petani, benar kan?” aku  mencoba mengusiknya.

“Kau, salah Lina. Aku tidak pernah menyesal menjadi petani. Justru aku bangga karena hanya pada petanilah Tuhan meletakkan hasil kerjanya langsung di tanganku sendiri. Lihat bawang ini, saat aku berdoa dan menadahkan tanganku selama aku bertani bawang, Tuhan membuka telapak tanganku dan meletakkan hasil panen berkapisak-kapisak bawang dalam tanganku. Tidak lewat seorang perantara pun. Tak ada yang lebih indah dari ini, Lina”   

“Kau membuatku terharu. Seandainya penyakit laknat ini tidak menggerogotiku, aku bisa bertani sepertimu dan membuat diriku  bangga. Kini aku merasakan cuma sebagai seorang mandor di kebunku sendiri” teriakku.

“Ssst, jangan berteriak Lina. Tetangga menduga kita berdua sedang bertengkar. Maafkan aku Lina. Kau telah banyak berbuat baik yang membuat Tuhan tersenyum. Mungkin Tuhan tidak mau meletakkan sebuah ponsel di tanganku. Tuhan tak menginginkan  aku akan jadi petani yang malas. Tuhan tahu sifatku. Ponsel itu  diberikan padamu. Kau bisa menolong banyak orang, termasuk kau menolong aku dan Jacob bisa berkomunikasi. Kau punya Wifi yang selalu menyala untuk kami dan warga Kampung Korbafo. Waktumu tak pernah mengantuk untuk semua warga kampung yang membutuhkanmu. Kami berhutang budi padamu, Lina”

“Ya, itu cara Tuhan membuatku bahagia. Aku membutuhkanmu saat-saat seperti ini. Di musim virus korona ini, semua orang harus tinggal di rumah. Aku kesepian, tidak banyak yang bisa kulakukan selain mendatangimu jika ada kabar dari Jacob”

“Ya, terimakasih Lina. Sahabat terbaikku. Jacob  telah memberi pesan di ponselmu untuk kau kabarkan padaku bahwa ia akan diwisuda akhir April tahun ini”  

Aku mengangguk sambil menatap sosok Lilo bergeming. Tiba-tiba ia mengulangi lagi ucapannya.

“Sampai di mana aku tadi? Hmm sudah kukatakan aku makin tua sehingga kadang sulit berkonsentrasi. Ah, aku sedang berkata apa ya kepadamu? Sebentar aku coba mengingatnya kembali”

Aku tertawa melihatnya. Selalu saja Lilo seperti itu jika lupa dengan apa yang sedang dikatakan atau  dilakukannya. Kadang aku menganggap tingkahnya berlebihan.

 “Ohhh sekarang aku ingat. Aku sedang berkata padamu  bagaimana anakku selalu melindungiku dengan mengirimkanku masker, hand sanitizer, dan sebuah kacamata bening. Hmmm. Tapi aku merasa ini sangat  lucu. Dan kemudian…. Kita berdua tertawa.  Begitu kan?”

Aku mengangguk. “Ya, dan sambil tertawa kau membenamkan tanganmu dalam kapisak. Sekarang bangun dan cucilah tanganmu, kita akan bercerita kembali setelah kau mencuci tanganmu”

“Hmmm kau seperti anakku, selalu begitu. Bayangkan sehari sebelum dia mengirimkan masker dan hand sanitizer, juga kacamata yang tak mungkin aku pakai ini, ia masih ingatkan padaku berulang kali untuk satu hal itu , “mama boi ingat eee rajin cuci tangan. Selesai dari kebun, cuci tangan, sebelum dan sesudah masak, cuci tangan. Sebelum dan sesudah makan, cuci tangan”

Aku cuma mengangguk sambil tersenyum karena  memang tak ada yang bisa kukatakan.

“Hei, Lina, kau tahu tidak mengapa semua ini menjadi lucu bagiku? Sejak dia kecil hingga sekarang, aku yang selalu mengingatkannya kebersihan. Apalagi soal yang sangat remeh menyangkut cuci tangan. Semua orang juga tahu tanpa berpusing-pusing mengatakannya berulang kali. Kebiasaan cuci tangan sudah menjadi kebiasaan keluarga  kami turun temurun. Untuk hal itu kau tahu persis bukan? Bagaimana keluargaku juga orang-orang di kampung kita ini dalam menjaga kebersihan. Walau kami cuma petani kecil, soal bersih-bersih diri, tak perlu sekolah tinggi untuk memahami hal itu kan? Agama pun mengajarkan hal ini sejak kita masih dalam kandungan ibu. Bahkan nenekku dari pihak ayah sangat terkenal saking bersihnya hingga saat memasak, garam pun dicucinya.”

Kami kembali terpingkal. Tertawa lepas. Tanpa masker,tanpa hand sanitizer apalagi sebuah kacamata lucu. Entahlah, apakah Lilo sedang berusaha menghiburku atau mengasihaniku. Sejak Lilo tahu kanker payudara yang menggerogotiku sudah stadium merah, segala upaya dilakukannya agar  sahabat terbaiknya ini sembuh. Kami seperasaan dan sepenanggungan seperti ini karena kami sama-sama janda yang ditinggal mati suami. Kami  berjuang keras untuk hidup.

Orang-orang  Kampung Korbafo  menjulukiku janda kaya, namun Lina tidak pernah mengatakannya seperti itu. Sekalipun suamiku meninggalkanku berhektar-hektar sawah ladang dan beberapa pekerja namun aku mengambil bagian yang layak aku terima. Para pekerja mendapatkan apa yang pantas mereka dapatkan dari hasil kerja keras mereka. Kekayaan itu tidak berarti tanpa para pekerja yang mengelolanya. Bagian yang kumiliki,telah kupakai untuk mengobati penyakit laknat ini, yang tak pernah memberikanku rasa aman seumur hidup.  

“Hei Lina, kamu masih mendengarku?  Bayangkan hal-hal remeh begitu koq Jacob   yang menasihatiku. Apakah aku sudah sepikun itu ya, Lina?. Lain kali,kalau anakku  menelpon tanyakan dulu apakah dia akan mengajarkanku cuci tangan lagi?”

“Ssst, jangan berkata begitu Lilo. Memang kondisi sekarang sangat berbeda. Walau kampung kita belum masuk kategori zona merah  namun segala sesuatu harus diingatkan. Mencegah lebih baik bukan?”

“Ooo kau mau mengingatkanku soal wabah korona itu ya? Sepanjang hari semua orang kampung hanya membahas korona. Padahal lebih mematikan penyakit kanker, demam berdarah, dan Malaria. Untuk Demam Berdarah dan Malaria sudah lama propinsi kita bahkan berada dalam zona hitam ”

“Hei, tak ada Zona Hitam”

“Biarkan aku mencipta kataku sendiri, untuk mengatakan tingkat bahayanya penyakit malaria dan demam berdarah menggerogoti propinsi kami.  Mungkin belum menjadi wabah dunia sehingga tidak terekspos ya..”

Aku cuma terdiam menatapnya sambil tersenyum.

“Lihat saja, sekarang perilaku petani Kampung Korbafo banyak sekali berubah.  Saat memetik sayur dan menggali ubi juga  memotong tandan pisang dari pohonnya, orang-orang hanya bertatapan saling menatap dari kejuahan. Di kebun-kebun, dan sawah orang-orang begitu berjarak saat menengok hasil tumbuh  tanamannya. To’o Endi yang biasanya menyadap lontar sambil bersyair, tidak lagi dia bersyair. Sekarang kau berdiri di sini dengan jarak yang cukup jauh saja , bicaramu seperti berbisik. Kenapa kau begitu ketakutan menatapku, Lina”

“Lilo… Lilo, aku bukan takut padamu”

“Katakan  padaku, apa yang  kamu takutkan?”

Aku menarik tangannya yang terbenam dari dalam  kapisak.

“Ayook, bangunlah Lilo. Aku ingin seperti mu,tapi…”

“Seperti aku? seperti apa yang kau maksudkan itu?”

“Kau selalu bahagia, seakan tidak memikirkan apapun. Kau selalu bekerja seorang diri. Saat  di rumah maupun di kebun. Kau selalu gembira tanpa peduli dengan ada atau tidak adanya instruksi untuk jaga jarak dan berdiam di rumah. Kau selalu jaga jarak dan jika kau berdiam lama di rumah,pasti banyak sekali yang kau kerjakan. Bahkan kau lakukan semua itu jauh sebelum korona mewabah dunia.  Seakan kau tak pernah letih. Sedangkan aku…

“Menanam, merawat tanaman, hingga  memanen kulakukan sendiri karena kebunku memang kecil. Selain itu aku tidak bisa membayar orang untuk pekerjaan sederhana ini”

“Itu bukan sederhana, Lilo. Kau telah membesarkan anakmu Jacob, menyekolahkannya hingga menunggu diwisuda menjadi dokter. Semua itu dari hasilmu mengelola kebun bawangmu yang katamu kecil dan sederhan itu”

“Kebun kecil itu warisan almarhum suami. Cuma itu yang kami miliki. Bukan sawah ladang berhektar-hektar seperti milikmu. Jacob anak semata wayangku, masih bayi saat ayahnya meninggal. Jacob adalah alasan terbesarku untuk terus hidup dan menggarap kebun.”

“Ya, dan kau bertahan. Berbeda denganku. Walau memiliki sawah berhektar-hektar namun satu bulan ini semua pekerja memilih diam di rumah. Kabar korona lebih jahat dari kelaparan. Hujan juga turun tidak sebagus tahun kemarin. Waduk di kampung hampir tak ada air. Tanaman-tanaan dan padi di sawah banyak tidak tumbuh. Kau lihat sendiri, pakan ternak untuk sapi, kambing juga babi sudah sulit didapat ”

“Ya benar. Apalagi babi. Seberapa besar pun penghasilanmu beternak babi dan melegonya di rumah makan, tak mungkin selaris dulu lagi karena selain korona, flu babi Afrika juga mengancam. Maaf, tapi aku tidak bermaksud menakut-nakutimu, Lina”

“ Hmm, aku sudah merasakannya Lilo. Cobalah kau tengok, babi-babiku tak ada satu pun berada dalam kandang sekarang”

  “Semuanya?”

 “Ya, semuanya”

 “Wah hebat ya, kau menjual semuanya sebelum flu babi dan korona mewabah?”

 “Tidak”

 “Lantas?

 “Babi-babiku mati diracuni. Pagi itu juga langsung dikuburkan para pekerja”

 “Siapa yang meracuni?”

“Aku tak peduli untuk mencari tahu. Sakitku telah merampok banyak hal dalam hidupku”

“Koq baru sekarang kamu berkisah soal itu”

“Ya, cuma kamu yang tidak tahu, padahal  babi-babi itu dikuburkan disaksikan kepala kampung dan semua aparat kampung”

“Kapan itu?”

“Saat kau mengunjungi Jacob di Kupang. Ya, tepatnya   malam hari. Saat  hujan sangat deras dan keesokan harinya kau bercerita padaku bahwa semalam  hujan juga sangat  deras melanda Kupang.  Pagi harinya masyarakat  Alak di  Kupang mendapati lima belas ekor sapi hangus disambar petir. Begitu ceritamu, bukan?”

“Ooo jadi saat itu babi-babimu juga mati diracun?”

“Ya, tapi saat aku menelponmu, aku tidak bisa bercerita tentang babi-babiku karena kau terlalu mendominasi saat berbicara tentang sapi-sapi yang hangus  disambar petir di kelurahan Alak, Kupang seakan kau pemilik sapi-sapi itu.”

Lilo mendekatiku. Kali ini dia memelukku.

“Kamu berada dalam kesusahan dan kesepian yang cukup lama, Lina.  Maafkan aku karena kurang peka dan peduli padamu. Apa lagi yang bisa kau andalkan di musim korona ini? Mungkin sebaiknya kau harus memilih merancang usaha lain selama di rumah saja.”

“Ah,tak ada yang salah diantara kita, Lilo. Ya, aku mulai memikirkan usaha lain yang menggunakan jaringan internet.”

Lilo melepas pelukannya. Ia  meninggalkanku dan  menuju tumpukan kapisak bawangnya. Sepuluh kapisak bawang hasil panennya telah berada di hadapanku sekarang.

“Tunggulah   di sini,Lina . Aku  masuk dan mandi. Sepuluh menit lagi seorang pedagang penyalur barang-barang kebutuhan dapur kapal-kapal motor  akan datang. Dia akan akan  membayar sepuluh  kapisak bawang untuk KM Lambelu. Mereka membutuhkan bawang-bawangku untuk dapur mereka sepanjang perjalanan kembali ke Nunukan.  Kapal Motor ini akan berlayar dari Nunukan, singgah Makasar, dan merapat di Maumere.”

“Mengapa mereka harus membeli bawang-bawangmu di Korbafo, padahal kapal itu tujuannya ke Maumere?. Jauh sekali datang ke sini hanya untuk membeli bawang?”

“Hei dengar. Ibrahim, salah  seorang anak  To’o Endi, bulan lalu lolos test jadi salah satu ABK kapal itu. Dia akan segera bekerja di kapal itu. Ibrahim  akan ke Maumere diantar Koko Nico pengusaha penyalur barang kebutuhan dapur  kapal-kapal yang beroperasi di perairan laut Flobamora yaitu  Flores, Sumba, Timor, Alor.”

“Ooo jadi koko Nico akan ke Rote untuk mengambil beberapa kebutuhan dari petani, termasuk sepuluh kapisak bawang ini akan dibayarnya?”

“Ya, juga  tugasnya membawa Ibrahim ke kapal itu untuk hari pertama ia  bekerja.”

“Tunggulah di sini. Lihat,aku telah menyerahkan perpuluhan hasil panenku padamu.” Lilo menunjuk pada sepuluh kapisak bawang merah yang telah dipersiapkan itu.       

“Hei, bukankah perpuluhan harus kau bawa ke gereja? Mengapa kau memberikannya untukku?”

“Sejak  wabah korona, umat tidak  bisa lagi berkumpul untuk bergereja. Bagaimana bawang-bawangku bisa dilelang dan uangnya bisa disedekahkan gereja untuk janda, fakir miskin, orang sakit dan orang-orang yang mengalami kemalangan?”

 “Tapi Jacob akan diwisuda. Kau membutuhkan biaya besar untuk ke Kupang.”

 “ Kau lupa, Lina? Atau aku yang mulai pikun. Bukankah kau yang memberiku kabar kalau Jacob akan di wisuda akhir April dengan cara… apa? Aduh, nah,bagian ini aku lupa…cara yang mana kita tidak bisa bertatap langsung tapi bisa melihat juga, apa  ya, namanya….aduh, jawab Lina.”

Aku tersenyum.

“Online. On…lain. Rektor kampus Jacob kuliah menyebut  dalam suratnya Upacara Wisuda Daring. Wisuda  Dalam Jaringan. Kita semua berada dalam jaringan untuk menyaksikan upacara wisuda tersebut. Selamat ya, sebentar lagi anakmu sudah jadi dokter.”

 “Masih butuh perjuangan lagi untuk mendapatkan gelar itu, Lina.”

 “Ya, tapi kau dan Jacob sudah  berjuang dengan sangat gigih.”

 “Kau membuatku ingin segera berlari ke Kupang dan memeluknya.”

 “Untuk masa karantina sosial ini, Itu  tak mungkin karena pemerintah telah menerapkan PSBB.”

“Apa itu?”

“Pembatasan Sosial Berskala Besar.”

“Semua orang akan tetap di rumah. Keluar untuk hal yang sangat penting. Dan harus pakai masker.”

“Sekalipun kami tidak sakit?”

“Ya, sekalipun tidak sakit. Tetaplah taat. Pakai masker jika keluar rumah. Informasi terakhir yang aku dengar, beberapa orang yang positif korona ada yang tidak menampakkan gejala.”

Semoga masker kiriman Jacob bisa kugunakan. Sedangkan kacamatanya, aku harus banyak berlatih untuk memakainya ke kebun”

Kami tertawa lagi. Seakan hidup begitu mudah kami jalani. Dan Lilo pun bergegas ke kamar mandi.

Lima belas menit menunggu Koko Nico, tiba-tiba To”o Endi telah berdiri di depan rumah dengan pikulan berisi nira manis hasil sadapan lontar. Dia menggantung satu haik penuh nira manis itu di pohon sukun depan rumah Lilo. Aku mengucapkan terimakasih, dia tersenyum dan hendak pergi, tapi aku menahannya.

“To’o  aku dengar Ibrahim akan pergi meninggalkan kami? Dia segera bekerja sebagai ABK kapal bukan?”

To’o Endi  menarik nafas dalam, dan  perlahan dihembuskannya sebelum berkata.

“Anakku belum bernasib baik. Aku belum merestuinya.”

“Mengapa begitu, To’o.”

“Aku tidak bisa mengatakan alasannya padamu.” To’o telah bergegas pulang ke rumahnya sambil memikul satu haik nira manis.

 Lama menunggu Koko Nico tak datang. Aku berpikir mungkin untuk selamanya ia tidak  pernah datang. Kutemui Lilo ke dalam rumah. Entah mengapa perasaanku tidak enak. Lama sekali Lilo mandi. Tidak seperti biasanya. Astaga, di dapur  Lilo tertidur dengan handuk yang masih membungkus tubuh. Setelah kudekati Lilo bukan tidur, dia seperti sedang meringis kesakitan. Aku hendak  menelpon Suster Ina, namun Lilo telah memergokiku dan  melarang.

“Hei….aku tidak sakit.Tadi aku ah..aku tadi kau berkata apa padaku Lina?”

Aku mendekatinya. Lilo tertawa, tapi aku tahu ada yang disembunyikannya.

Kusentuh keningnya. Suhunya normal dan tidak ada yang pantas dikhawatirkan.

“Benarkan aku tidak sakit? Kapan kau mulai bertindak seperti dokter? Biarkan saja si Jacob yang akan melakukannya untuk kita berdua yang telah menua ini.” Lilo berkata sambil menyentuh pipiku masih dengan senyum mengembang lebar.  

Lilo ku ajak ke  kamarku. Untuk sejenak kita melupakan Koko Nico dengan sepuluh kapisak bawang.  Aku mengajarkan Lilo menggunakan model aplikasi yang dikirim Jacob agar kami bisa terhubung dengan upacara  Wisuda Daring Kedokteran Undana yang akan berlangsung dua hari lagi. Jacob telah muncul di depan layar. Kami tersenyum karena berhasil membuktikan uji coba kami menggunakan aplikasi ini, tidak bisa dikatakan gagal. Untung dulu aku sempat menyelesaikan sarjana teknik komunikasi dan mampu mengoperasikan komputer dengan sangat baik.  Lina berteriak-teriak gembira melihat  Jacob, anaknya tersenyum menatapnya di layar. Mereka terlihat sangat bahagia.

“ Mama jangan lupa pakai tenun ikat Rote, dan kebaya putih yang  papa beli buat mama dulu.”

“Ya, semoga masih bisa dipakai.”

“Masih mama, tubuh mama sejak ditinggal papa sampai sekarang masih  belum naik timbangannya.”

“Ah, dari mana kamu tahu. Bukankah kamu masih bayi saat bapakmu meninggal?”

“Bukankah mama yang mengatakannya padaku setiap kali membuka lemari dan melihat sarung dan kebaya pemberian papa itu tergantung pada  gantungan pakaian?”

Aku tersenyum, turut merasakan kehangatan mereka.

Dua hari sudah kegembiraan itu.  Lilo benar-benar cantik memakai kebaya putih dan sarung tenun ikat Rote yang begitu elegan. Tiba-tiba aku merasakan sekali, betapa hidup seperti tidak adil. Dengan masker yang menutup hidung dan mulut dokter Andre dan Suster Ina telah mengisahkan cerita yang memedihkan di samping ranjang Lilo. Mendengar cerita para medis itu, nyaris tak percaya bahkan aku telah meragukan diriku  sebagai sahabat terbaik Lilo. Memandang tubuh kaku Lilo yang terbaring di ranjang yang dipersiapkan khusus, airmataku tak berhenti menangis.

“Jadi bukan karena korona?”

“Bukan,” dokter Andre memastikan.

“Sudah sepuluh tahun Lilo menyembunyikan sakitnya?”

Dokter Andre telah pamit setelah member penjelasan panjang lebar.

Suster Ina mengangguk padaku.

“Sakit apa?”

“Sama denganmu, bu Lina. Bahkan kondisinya lebih parah.”

“Ka..ka...kanker Payudara?” aku telah yakin mengucapkannya dengan tubuh bergetar.

Suster Ina mengangguk perlahan.  Disodorkannya catatan medis Lilo.

Aku  terpekur cukup lama. Setelah itu suster Ina  mengambil sebatang lilin putih dan mengajakku berdoa untuk Lilo. Kami pun berdoa.

“Orang-orang Kampung Korbafo tak mungkin datang melayat saat Pembatasan Sosial Berskala Besar ini.” Kata suster Ina  perlahan saat selesai berdoa.

“ Mungkin mereka belum mendapat kabar.” kataku hampir tak terdengar.

Sinyal penanda Wisuda Daring Kedokteran Undana menyala. Tiba-tiba  membuat tubuhku tak berdaya. Ponsel berdering berulang kali. Aku dan suster Ina saling memandang dengan perasaan mengharu-biru. Aku merasakan jantungku berdebar keras dan lututku ikut gemetar. Mungkinkah Jacob harus mendengar kabar dari Kampung Korbafo sekarang? Ponsel terus berbunyi. Semakin  menggila getarnya  hingga menggetarkan tanah yang kami pijak.  Entah sampai kapan kami mampu menahan getaran ini..

Kupang, 8 April 2020.

Mezra E. Pellondou,lahir dan menetap di Kupang-NTT. Penerima Adi Acarya Award dari GMBI (2020) sebagai Penulis Berdedikasi dan Pengembangan Pendidikan Literasi terbaik. Pemenang Pertama Penghargaan Sastra untuk Pendidik dari Badan Pengembangan Bahasa RI (2012). Penerima  penghargaan NTT Award (2013) Kategori Sastra dan Humaniora.

Menerbitkan Kitab Puisi Sujud Selembar Daun (2020), Beta Indonesia Keliling Tanah Air dengan Puisi (2018), Likurai dari Negeri yang Membatu (2017), Tujuhpuluhkalitujuhkali (2015), Kekasih Sunyiku (2013).  Empat buku kumpulan  cerpen, Kuda dan Sang Dokter (2017);Menjahit Gelombang (2020);  Negara Te Au Na (2020);MAKHPELA (2020). 

Buku Essai Sastra, Dari Suri Ikun Bu Ikun hingga Tuan Kamlasi (2018). Naskah Film/Sinetron Anak berjudul Merah Putih di Ujung Tiang (2019)/telah difilmkan dan dipublikasikan TVRI  NTT dan TVRI Nasional 11 Oktober 2019. Empat Novel, serta terlibat dalam puluhan antologi bersama. Karya-karya Mezra lolos muat dalam berbagai Koran media cetak dan portal sastra.

Komentar

Loading...