Cerpen Covid-19 Mahwi Air Tawar

Cerpen Covid-19 Mahwi Air Tawar
Ilustrasi. Net

MAT RANGRANG 
Mahwi Air Tawar:

Mat Rangrang tidak akan benar-benar beranjak dari tempat duduknya, lalu menyelinap ke balik rak barang-barang dagangannya, atau tidur sebelum mendengar suara manja perempuan paruh baya bediri persis di depan etalase beras dan rokok toko kelontongnya. Ia hapal betul, jam berapa perempuan itu akan tiba di tokonya, dan ia tidak akan pernah menutup laci sebelum uang dari perempuan itu terogoh dari dalam tasnya.

Mat Rangrang tidak punya alasan pasti kenapa ia harus menunggu perempuan yang menurut desas-desus pelanggannya adalah seorang pelacur. Ia juga tidak terlampau peduli dengan apa yang dikatakan pelanggan toko kelontongnya. Selagi dagangan laku apa peduliku? Apalagi, imbuhnya. Miris. Pembeli tidak sebanyak hari-hari biasanya. Suara himbauan pemerintah dari telivisi tentang suatu wabah mematikan jauh lebih nyaring daripada suara jerit lapar anak bininya. Di tiang-tiang, di dinding-dinding, dan di batang-batang pohon selebaran itu dipaku kuat. Selain itu selebaran bertuliskan himbauan agar warga mengurangi kegiatan di luar rumah.

Disaat Mat Rangrang sedang asik berpikir tentang keuntungan yang akan didapatkan akibat banyak toko lainnya mulai tutup, tiba-tiba petugas kebersihan dengan raut wajah licik datang dan mengagetkannya. "Eh, perempuan itu tidak datang?" tanyanya tiba-tiba sambil membiarkan matanya menyapu sela-sela tumpukan kardus, galon. "Ada botol kosong?"

"Tidak ada," Mat Rangrang menjawab ketus.

"Kenapa kamu belum tutup? Sudah banyak toko-toko pada tutup." Mat Rangrang menundukkan kepala di balik etalase rokok, kemudian ia mengambil sebatang rokok dan menyerahkannya kepada petugas kebersihan. Sambil menerima dan menyulut rokok, petugas kebersihan itu tersenyum bangga. "Tapi benar lho ya, Pak, ini karena saya peduli sampean. Kita sudah lama kenal. Lebih baik tutup. Katanya, wabah virus mematikan sudah sampai ke wilayah kita," imbuhnya sembari menyemburkan asap rokok. "Lebih baik hati-hati lho. Dengar-dengar, Pak RT, sedang mempertimbangkan untuk memulangkan orang-orang yang ngontrak dan bermasalah." Sesaat ia beranjak,  "termasuk perempuan itu."

Mendengar pernyataan dari petugas kebersihan itu seketika Mat Rangrang terkesiap. Ia khawatir dengan perempuan yang selalu datang dan menjadi pelanggan toko kelontongnya. Ia lebih tidak percaya lagi ketika tiba-tiba perempuan yang baru saja dibicarakan petugas kebersihan muncul. Perempuan itu mengedipkan mata kepada Mat Rangrang, memberi isyarat agar diambilkan satu bungkus rokok.

"Ini Pak," suara lembut perempuan itu membuat sepasang mata petugas kebersihan terbelalak.

"Buat saya?" tanyanya sambil menerima satu bungkus rokok dari perempuan di depannya. "Oh, terima kasih, terima kasih." imbuhnya sambil berlalu dan melambaikan tangan kepada Mat Rangrang.

"Dasar pemeras kecil," ucapnya dongkol.

"Tumben sudah pulang?" Mat Rangrang bertanya ragu. Perempuan di depannya tidak segera menjawab. Kesunyian berkesiur.

"Ya, pulang cepat. Banyak petugas berjaga-jaga, meminta kita segera pulang." perempuan itu menggerutu. "Sial. Virus sudah sampai ke wilayah kita,"

"Korona?" Mat Rangramg memastikan, "benar juga apa kata petugas kebersihan itu."

 "Benar. Bahkan desas-desus kami akan diminta pindah dengan alasan tidak jelas," sejenak perempuan itu menyandarkan tubuhnya pada dinding. "Malam ini yang memakai saya pejabat." katanya kemudian. "Saya membelikan mereka sepuluh bungkus nasi." 

Mat Rangrang terlihat bingung. "Siapa mereka?" Perempuan itu tidak segera menjawab,  ia diam sejenak  sesekali berpaling, memandang jauh ke seberang jalan.

"Anak-anak yang tinggal sama saya," jawabnya. "Tolong carikan saya barang penglaris," pinta perempuan yang tidak pernah Mat Rangrang tanya dan ketahui namanya itu.

Mula-mula Mat Rangrang bingung dengan permintaan perempuan yang selalu ia tunggu itu. Tapi, sekali lagi, sebagai pedagang pantang baginya menjawab, "tidak ada barang dicari pembelinya." Ia tahu, barang yang dicari perempuan itu bukan barang kasat mata, dan ia semakin penasaran siapa dan apa benar perempuan itu seorang pelacur? batinnya sambil berpikir keras.

"Bapak pasti tahulah yang gitu-gitu." sambil berbicara perempuan itu mengedipkan mata. Manja. "Bapak dari mana?" tanyanya kemudian.

"Madura, Bu,"

"Ih, jangan panggil ibu. Ehm. Madura? Madura, gudangnya ilmu-ilmu gitu lho,"

"Wah, kalau benar Madura gudangnya ilmu penglaris, saya tidak perlu mencari uang jauh-jauh ke sini, Bu," Mat Rangrang terlihat tegang. Sejenak berpaling.

"Bapak lihat, apakah saya sudah tua?" tanyanya manja.

"Ibu tidak tua, tapi ibu aneh."

Mendengar pertanyaan Mat Rangrang perempuan itu merengut, berpaling. Dilihatnya pos ronda yang sudah kosong. Sesekali terdengar suara guruh kendaraan dari jalan yang jauh. Petugas kebersihan mengorek-ngorek sampah, mencari botol dan gelas bekas minuman. Baik Mat Rangrang maupun perempuang di depannya tampak tidak mempedulikan petugas sampah licik itu.

"Apa pekerjaan suami ibu?"

Perempuan itu tersenyum. Disemburkannya asap rokok dari mulutnya hingga asap membubung dalam sekali pandang, asap rokok itu tidak tertangkap pandang. "Suami?" gumamnya, "jenis laki-laki macam apa mau menjadi suami seorang pelacur yang di kontrakan rumah petaknya hidup bersama sepuluh anak." Mat Rangrang tidak segera menanggapi, ia hanya melongo. Bingung, tidak percaya kalau ternyata perempuan itu seorang pelacur.

Keheningan merayap, angin berhembus lirih. Mat Rangrang yang dihantui perasaan bersalah karena bertanya pekerjaan suami perempuan di depannya semakin bergetar. Ia tidak tahu, siapa dan benarkah perempuan itu seorang pelacur yang di rumah kontrakan petaknya menampung sepuluh anak. "Gila." celetuknya tiba-tiba, sehingga membuat perempuan itu memandang nanap, heran.

"Hanya karena saya menjadi pelacur agar sepuluh anak-anak itu tetap makan, sampean bilang saya gila?" Mat Rangrang tidak menjawab, sebaliknya ia mengulurkan barang pesanan perempuan di depannya. "Berapa?" perempuan itu bertanya ketus. Kemudian mengeluarkan selembar uang dan diberikannya kepada Mat Rangrang.

Perempuan itu lekas berlalu setelah menerima uang kembalian. Ia berjalan lekas, tubuhnya menghilang tidak tertangkap pandang di jalan simpang menuju kontrakan.

***

Sudah hampir satu minggu toko-toko kelontong di sekitar toko kelontong Mat Rangrang tutup. Jalanan tampak sepi daripada hari-hari sebelumnya. Orang-orang yang biasa selalu berkumpul di pos ronda pun sudak tidak tampak lagi. Pelanggan Mat Rangrang pun hanya sekali dua kali datang.

Tapi, sekalipun kesepian terus merayap dan keadaan pun lebih cepat senyap tidak lantas membuat pendapatan toko kelontongnya berkurang. Sebaliknya ia semakin untung oleh karena toko-toko di sekitarnya pada tutup. Tidak hanya karena toko-toko lain tutup yang membuat penghasilannya bertambah, tapi dikarenakan pelanggan-pelanggannya lebih suka memborong dan menyetock barang daripada harus bolak-balik ke toko. Mat Rangrang senang meski kesunyian menjadi sesuatu yang sangat menakutkan.

Apakah ia juga diungsikan? batin Mat Rangrang mengingat perempuan yang dalam beberapa hari ini tidak pernah datang lagi. Menurut kabar dari petugas kebersihan, ada beberapa pengontrak yang sengaja diungsikan, "apalagi dia. Tiap malam gonta-ganti laki-laki. Pasti kena apa itu, pirus?" ketus petugas kebesihan.

Tidak seperti malam-malam sebelumnya, malam itu Mat Rangrang segera menutup toko kelontongnya. Ia seperti merasakan sesuatu yang aneh, dadanya berdegup. Gelisah. Seusai menutup tokonya ia segera menyusuri jalan. Sesekali ia duduk, merokok, dan kemudian berjalan lagi. Sebuah mobil melintas pelan. Sejenak ia berdiri. Angin mendesau pelan. Diperhatikannya mobil itu berhenti di dekat pintu pemakaman umum. Aneh, heran ketika melihat sejumlah orang berkerumun di dekat pintu masuk pemakaman. Mat Rangrang lekas bergegas, suara-sura berhamburan. Suara tangis mengiris kesunyian malam. Seseorang di antara di antara kerumunan itu berteriak, menantang.

"Ini anak saya, bukan binatang!" jerit perempuan yang, suaranya tidak asing. Mat Rangrang hampir tidak percaya ketika melihat perempuan itu bekacak pinggang. Ia lebih tidak percaya lagi saat melihat seorang anak laki-laki terkulai lemas di atas pangkuan anak sepantarannya.

"Kenapa?" Mat Rangrang menyibak kerumunan. Sembilan anak lainnya menangis. Meratap. "Ada apa?"

"Dia mati. Dia anak saya. Mati." jerit perempuan itu. "Tidak boleh dikubur di sini." suaranya Mat Rangrang tercengang antara kaget dan marah.

"Kenapa tidak boleh dikubur?" tanya Mat Rangrang kepada petugas makam yang ternyata juga petugas kebersihan yang sering datang ke tokonya. "Kenapa tidak boleh, Pak?" sepasang mata Mat Rangrang menyala-nyala.

Dengan suara bergetar petugas makam itu menjawab. "Dia anak pelacur, tidak punya akta keluarga."

Mendengar jawaban petugas kebersihan yang juga menjadi penjaga makam, Mat Rangrang seketika tercekat, seperti ada sesuatu di tenggorakannya hingga ia diam dan memandang nanap petugas makam, kemudian ia menoleh ke anak yang sudah mati. Mat Rangrang pandangi perempuan di sampingnya. Dan entah apa yang terlintas dalam pikirannya tiba-tiba ia berbalik arah, lari.

Melihat Mat Rangrang yang tiba-tiba lari petugas makam itu hanya melongo dan sekaligus cemas. Sembilan anak-anak terus menangis. Perempuan yang disebutnya sebagai pelacur itu menyuruh mereka diam. Anak-anak itu tidak menggubris. Mereka terus menangis.

Tidak lama berselang Mat Rangrang datang dengan nafas tersengal-sengal. Keringat bercucuran. Bajunya basah. Pemilik toko kelontong itu segera menemui petugas kebersihan yang merangkap menjaga pemakaman umum itu. "Ini ambil. Cukup buat hidup bapak tiga bulan." Tangan petugas kebersihan itu bergetar saat menerima amplop tebal dari Mat Rangrang.

"Cepat bawa ke surau makam. Mandikan." bentak Mat Rangrang dengan mata nanar. Petugas makam yang juga petugas kebersihan itu gemetar, ia segera menggendong anak perempuan yang menjadi pelanggan tetap tokonya.

"Anak siapa dia?" bisik Mat Rangrang kepada perempuan di sampingnya.

"Mereka kutemukan di jalan dan kuajak tinggal bersama." Perempuan itu berisak senik.

Setangkai kembang jatuh. Angin berhembus lirih. Mat Rangrang berjalan pelan di samping perempuan yang diam-diam ia kagumi.  

"Dengan cara apa ia mati?"

Perempuan yang berjalan di samping Mat Rangramg todal segera menjawab. Angin malam berhembus lirih, mengelus tubuh keduanya yang berjalan menembus kegelapan malam.

Pondok Cabe, April 2020

 

Mahwi Air Tawar, lahir dan besar di Sumenep Madura, 28 Oktober 1983. Cerpen dan puisi Mahwi juga termuat di sejumlah antologi bersama. Buku kumpulan puisinya yang sudah terbit, Tanéyan (2015), Tanah Air Puisi, Puisi Tanah Air (2016), Pengembaraan, Perjumpaan, Puisi (2018).

Mahwi juga sudah menerbitkan buku kumpulan cerpennya, di antaranya Blater (2010), Karapan Laut (2016). Blater terpilih sebagai cerpen terbaik dan mendapat penghargaan dari Balai Bahasa Yogyakarta, 2012.

Cerpennya yang berjudul “Pulung” terpilih sebagai cerpen terbaik dan mendapat penghargaan dari STAIN Purwokerto 2011. Ia juga terlibat sebagai kurator Temu 4 Penyair Indonesia, kurator dan editor buku kumpulan puisi perdamaian Menggerus Arus, Menyelami Aceh, (puisi perdamaian penyair 8 Negara, 2018), ia pernah menjadi peserta dan kurator kegiatan Majelis Sastra Asia Tenggara (MASTERA). Saat ini Mahwi tinggal di Pondok Cabe, Pamulang, Tangerang Selatan.

Komentar

Loading...