Cerpen Covid-19 Herni Fauziah

Cerpen Covid-19 Herni Fauziah
Hernia Fauziah

Gadis Kecil Berkalung Covid-19

Kubiarkan hujan mengguyur seluruh tubuhku, membasahi seluruh pakaianku, membasahi hatiku. Biarlah semua luntur bersama air mengalir,meretas bungkahan rasa menjadi bulir-bulir, berderai, menguarai masuk ke pori-pori ilahiah sampai ia menemukan tempatnya yang abadi.

Di ujung sana kulihat wajahnya menunduk, duduk di sebuah gubuk sudut kuburan, berteduh diantara atap nipah yang tak beraturan bentuknya. Sesekali pandangannya ke depan, menatap kosong, menoleh ke pusara yang masih merah ini.

Aku belum mau beranjak pulang, taburan bunga rampai kuyup diterpa air hujan yang mengguyur seluruh jiwa raga kami. Aku belum yakin akan kesiapan diriku sampai di rumah nanti, menyaksikan  seluruh keseharianku bersama putri kecilku yang  masih menari-nari di pandanganku.

 Orang-orang di sekitarku pergi satu-satu, kulihat masih ada ibu yang duduk tak jauh dari suamiku. Suoir dan kenderaan ambulanpun kulihat sudah berpamitan,. Aku harus memahami itu. Cara tak biasa mengantar jenazah harus kualami  saat ini.  Seminggu lalu aku masih menyaksikan di televisi, begitu mengerikannya situasi, sehingga seorang gadis kecil dan seorang suami tak dapat memberikan pelukan dan ciuman terakhir untuk yang tersayang saat pulang menghadap sang Khalik.

Oh…ternyata kini aku harus merasakan itu. Hanya dua hari kami di rumah sekembalinya aku dan Sani putri kecil kami dari luar kota. Betapa gembiranya ia saat ku bawa bersama mengunjungi hajatan keluarga. Di kota itu kami sempat berjalan-jalan dan belanja membeli oleh-oleh juga. Segala yang aneh dan yang unik dibeli. Tentunya dengan harga sesuai dengan rupiah yang ku punya. Sepeda kecil, bendi-bendi  mainan bahkan baju kaos yang bertuliskan namanya tak luput untuk dibawa pulang.

Semua itu masih teronggok di sudut kamar, belum sempat kami membukanya, karena malam itu tiba-tiba saja badannya panas, tubuhnya lemah dan nafasnya sesak. Kami larikan ia ke rumah sakit terdekat.  Saat dokter menerima kedatangan kami, mereka yang memang sedang siaga dengan situasi, berpakaian lengkap dengan alat pelindung diri menangani putri kami.  Bulukudukku bergidik, menanti hasil pemeriksaan dini.

Ku remas tangan suamiku tiada henti. Tak berani aku menatap matanya. Ia hanya diam. Ntah perasaan apa yang sedang dihatinya. Lebih parahkah yang dirasakannya? Aku tau  betapa ia menyayangi Sani, putri yang delapan tahun kami nantikan ini. Usianya baru lima setengah tahun.  Setiap hari pulang kerja selalu ada saja yang dibawanya pulang. Hilang segala lelahnya bila menyaksikan Sani berlari-lari menyambutnya pulang. Pernah ia katakana padaku, suatu waktu.

Dua jam penantian diluar ruangan serasa  seharian, ibu, ayah, dan saudara-saudaraku sudah mulai berdatangan. Mereka mengenakan masker. Abangku memberikan masker untukku dan suamiku. Kamipun memakainya dengan hati pilu. Airmataku tak terbendung lagi. Ku peluk ibu dan menumpahkan semua tangisku saat salah seorang dokter memberi tahu bahwa Saniku positif covid 19.

Bhuaarrrr ……

Serasa pecah seluruh isi kepala.  Segera kami seluruh keluarga diarahkan ke suatu ruangan. Disana kami mulai diberi pengertian dan di cek darah dan seterusnya. Aku dan suamiku ditetapkan sebagai Orang Dalam Pengawasan, demikan juga dengan seluruh keluarga yang hadir dan berikut orang-orang yang ada di rumah  saat kami baru pulang dari luar kota. Mereka mencatat semua riwayat selama perjalananku  di sana, kemana dan bersama siapa. Aku tak tau apakah itu berlanjut lagi. Aku terduduk lemas. Dan kami tidak diperbolehkan pulang untuk sementara. Juga kami tidak bisa bertemu dengan Sani.

Ternyata tidak lama waktu yang kutunggu , hanya satu hari kami menemani  Sani di rumah sakit, kabar yang kami tunggupun datang dengan pasti. Tanpa peluk cium, tanpa dimandikan, tanpa bedak dan wewangian tanpa kain kafan. Putriku Sani pergi untuk selamanya. Dari bibir  kelu ini menguntai kata innalillahi wa inna ilaihi rajiun……

Sepi, sunyi senyap mengantarmu putriku. Tak ada kerumunan orang, tak ada pelayat, semua tak diperbolehkan datang.

“Mama memakluminya nak. Kau bukan  mengidap penyakit yang memalukan, namun kau terserang penyakit yang mengerikan semua orang”.

Bersama hujan aku menyelesaikan perasaanku, biarlah pakaian ini kering di badan, bagaimana sakit yang kurasa bersama Saniku tercinta. Baru saja kami bersuka cita, tertawa, memilih mainan bersama, boneka bantal yang kau peluk sepanjang perjalanan kita. Bagaimana aku menghilangkan semua ini dari ruang mata.

“ Ya Allah, Tempatkanlah Sani disebaik-baiknya tempat. Putri kecilku yang tak berdosa, semoga kau menjadi penghuni surga, bermain sepuasnya disana ya  sayang”.

Airmata masih mengalir, panas terasa. Kakiku tak kuasa melangkah meninggalkan pusaramu yang basah.

“Namun mama harus kuat, nak”.

“Istirahatlah sayang”.

Innalillahi wa inna ilahi rajiaun ……

Perlahan kami pulang tanpa pelukan, tanpa kata-kata. Semua diam, sepi, senyap………

Medan, Maret 2020.

Herni Fauziah, lahir di Medan 55 tahun silam, ibu kandung berdarah Minang dan Gayo, ayah asal Sumatera Utara. Bermarga Nasution, tapi berbudaya Aceh, karena dibesarkan dan bersekolah sampai perguruan tinggi di Banda Aceh. Saat ini berdomisili di Medan, ikut suami Imran Pasaribu yg bertugas di Kominfo Provsu. Kegiatan sehari-hari, mengajar di SMK Negeri 8 Medan. Sebagai guru Bahasa Dan Sastra Indonesia, kegiatan menulis tentu sudah melekat. Pernah karya-karya di muat di harian Waspada dan Analisa. Dan pernah pula menjadi finalis 5 besar Nasional LMCP program Reguler dan program Khusus 2005 dan 2006. Salah satu karya "Hujan Belum Akan Reda Berhentilah Menangis" ,2006 LMCP Program Khusus

iklan sesama guru mari berbagi

Komentar

Loading...