Cerpen Acha Hallatu

Cerpen Acha Hallatu
Ilustrasi.Net

Aku dan Tuan Obsesif 

Pikiranku terusik dengan sebuah pertanyaan sederhana yang akhirnya ku ajukan kepada mereka yang satu jurusan denganku.

“Sebelum pandemi ini hadir, kisah apa yang kau miliki sebelum akhirnya kau diharuskan melanjutkan semuanya dari rumah saja?”

Lalu pertanyaan itu ku lempar juga pada diriku. Tiga tahun yang lalu selama seminggu aku menelusuri lorong yang sama. Memperhatikan setiap sudut dan sisi bangunan itu. Tidak ada satupun yang luput dari pandanganku. Begitu juga dengan isinya, orang-orang yang unik dimataku. Mereka tertawa, tersenyum, melirik sedangkan temanku yang lainnya yang memakai jas biru sepertiku terlihat sangat tegang, ketakutan, sambil berbisik dengan teman akrabnya menjadikan mereka bahan candaannya.

Di hari keempat aku berhasil memasuki ruangan itu bersama kelompok belajarku. Salah seorang penjaga kamar itu berkata jangan berfoto selama di dalam sana, jangan lama dan hati-hati ya. Temanku merasa cemas sedangkan aku menikmati saat sudah berada di dalam sana.

Tempat tidur yang berjejer, aku coba tidur di atas tempat tidur salah seorang pasien yang kami wawancarai. Karna teman kelompok belajarku terdiri dari wanita semua, aku paham seperti apa ketakutan mereka saat berhadapan dengan seorang pasien berjenis kelamin pria yang bertubuh besar, tinggi dan pastinya lebih tua dari kami. Itu kenapa aku yang berpenampilan maskulin yang diharapkan untuk menjaga mereka selama berada di dalam sana diantara pasien pria lainnya.

Sambil tidur di atas tempat tidur pasien itu aku bertanya padanya di luar dari pertanyaan yang seharusnya kami pertanyakan padanya.

“Seperti apa posisi tidur kamu saat tidur di atas tempat tidur ini sampai menjelang pagi?”

Pertanyaan yang memang tidak terlalu penting namun aku ingin memuaskan isi kepalaku. Aku berjalan kecil mengelilingi ruangan kamar itu sambil melempar senyumku ke semua pasien pria lainnya yang ada di dalam ruangan itu juga. Segala jenis bau, tempat tidur, lantai, sudut ruangan itu dan toilet kecil mereka yang ada di dalam sana masih terus membekas di dalam ingatanku.

Temanku menatap sedikit aneh saat aku dengan beraninya meniduri tempat tidur pasien. Mereka tidak menyadari bahwa aku menikmati peranku sebagai pasien juga suatu saat nanti. Dan hal itu benar terjadi adanya. Hanya seorang temanku yang masih mengingat momen itu.

Tiga tahun kemudian aku yang rumit ini memberanikan diri untuk mendatangi seorang ahli jiwa. Buat apa? Sebenarnya aku sudah lama menyimpan rahasia terbesarku ini. Kebanyakan orang melihatku dari luar aman-aman saja. Aku terlihat sempurna ya seperti orang normal pada umumnya. Namun mereka salah besar.

“Haleluya… Hmm… Okayy!” ucapku berulang kali dalam hati saat aku berada di tengah keramaian. Frasa dan kata-kata itu seolah seperti kata keramat yang ku miliki. Tidak banyak orang yang tahu soal ini. Karna saat aku ditengah keramaian atau berada disekitar temanku, aku memilih untuk mengucapkan frasa itu diam-diam berulang kali dalam hati. Dan sebaliknya, saat tidak ada seorang pun yang ada disekitarku, hanya ada aku dan diriku disaat itu yang mendengar bibirku berucap “Haleluya… Hmm… Okayy…”

Pikiran liar ini terus mengusikku. Walau sering ku sadari namun aku selalu gagal melawannya. Setiap kali aku berusaha untuk kabur, semakin aku dihantui olehnya. Bertahun-tahun aku hidup bersamanya. Kemana pun aku pergi dan dimana pun aku berada, dia selalu bersamaku. Tiba-tiba menyambarku tanpa memberi aba-aba sedikitpun. Aku bisa apa? Aku dituntut untuk harus melakukannya. Resiko yang ku dapat bila aku melawan adalah ketakutan yang amat dahsyat.

Aku sering melihat ada banyak gambar di dalam kepalaku. Seolah otakku tidak pernah tidur, aku bisa merasakan dia terlalu banyak memiliki energi. Sedangkan aku pun butuh istirahat.

Berbulan-bulan aku menghabiskan waktu, usaha, dan uangku untuk mencari jawaban atas semua pertanyaan terhadap keanehan yang selama ini aku rasakan. Dokterku mengatakan bahwa aku mengidap gangguan obsesif kompulsif. Aku yang awam dan baru mendengar istilah itu membuatku bertanya lebih padanya.

Lalu aku harus apa setelah aku tahu aku mengidap gangguan tersebut? Apakah aku bisa sembuh? Tanyaku pada dokterku.

Mungkin seumur hidupku aku akan hidup bersamanya. Dia di dalamku. Aku bersamanya. Tapi tenang saja. Setiap bulan secara rutin aku memeriksakan diriku sendiri. Setiap bulan aku punya jadwal untuk menemui dokterku demi membuat semua ini tidak terasa rumit lagi bagiku. Meminum obat resep agar Tuan Obsesif mudah menjadi sahabat bagiku.

Kadang aku merasa takut bila tiba-tiba aku menjadi gila. Aku melihat bisa saja suatu saat nanti aku berada disana. Sebuah bangunan dan lorong yang dulu pernah aku telusuri saat aku menjadi mahasiswa psikologi. Serasa mengalami dejavu, tubuhku akrab dengan tempat tidur itu. Tidak perlu sampai harus dikejar dulu karna menyerahkan diri adalah sebagai bukti sadar dan mencintai diri sendiri.

Suatu saat nanti bila aku berada di dalam sana, aku akan menulis satu buku tentang semua ini. Tentang aku dan Tuan Obsesif.[]

 

Seorang penulis muda yang mengidap gangguan obsesif kompulsif. Bernama Acha Hallatu. Baru saja meniup lilinnya dan menginjak usia 22 tahun. Berdomisili di Kota Medan sekaligus kota kelahirannya. Setiap bulannya mengharuskan dirinya untuk pergi ke psikiater dan meminum obatnya demi merasa lebih baik dari semua pikiran obsesifnya.

Komentar

Loading...