Catatan Sekadar dari Puisi Sekedar

Catatan Sekadar dari Puisi Sekedar
Ari Wibawa

Mahwi Air Tawar

Di dunia yang samar-samar
Semua serba tersamar
Jejak-jejak memudar
Cahaya berpendar

Terkadang, suara-suara dalam kesunyian jauh lebih nyaring daripada suara-suara riuh di pusat-pusat perbelanjaan, dari suara-suara orator bahkan, dari suara-suara orang-orang yang kerap mengatas namakan agama kemudian turun ke jalan raya melakukan unjuk rasa lengkap dengan peralatan sound syistem dan speaker terpasang di mana-mana.

Pada saat bersamaan, di antara suara-suara yang riuh muncul suara lain, suara yang kadang kerap diabaikan, suara batin. Tidak sedikit tapi juga tidak banyak yang mau sejenak berpaling dari suara-suara gaduh yang bersumber dari luar dirinya. Tidak banyak tapi juga tidak sedikit orang yang mau menyimak setiap detak suara dari dalam dirinya.

Suara yang bersumber dari dalam diri itu terkadang menjelma desau angin bahkan lebih halus dari itu, yakni desah napasnya. Tapi siapakah bisa berpaling dari suara yang sama tapi sekaligus santer memiliki pengaruh yang tidak terukur itu?

Ialah suara batin, suara hati. Tidak peduli badannya ada di sebuah forum diskusi, di pusat belanja atau bahkan, sedang berbaur dengan orang-orang yang senantiasa merasa membela dan atau mengatas namakan suara "kebenaran", suara rakyat.

Pada saat bersamaan, suara yang tidak mengatas namakan siapa-siapa menyelinap, mengajak sang pemilik suara menepi dan merenung tentang apa yang belum dan yang sudah berlangsung. Di dunia yang samar-samar// Semua serba tersamar// Jejak-jejak memudar //Cahaya berpendar. Demikian penyair Arif Wibawa dalam Samar, salah satu puisinya yang terhimpun dalam Sekedar Interupsi.

Sekedar Interupsi  adalah sebuah buku kumpulan puisi yang, di dalamnya menghimpun puisi-puisi "bertemakan" suara-suara senyap seorang hamba yang lebih memilih jalan sunyi ketimbang melibatkan diri dalam keriuhan. Hampir setiap persoalan yang dihadapi aku lirik ia tarik ke dalam, kemudian mendedahnya seorang diri. Jadilah puisi-puisi yang terhimpun dalam buku ini semacam tanda dan sekaligus jawaban atas persoalan-persoalan yang dihadapi manusia modern yang, belakangan semakin berjarak dengan dirinya sendiri, dengan lingkungannya, dan yang lebih penting jarak yang semakin panjang terentang antara manusia dengan Tuhannya.

Krisis spiritual manusia modern menjadi titik fokus dalam buku Sekedar Interupsi ini. Manusia modern, kata novelis Toni Morrison, terkadang ketika berbicara dan bertindak tidak melibatkan pikiran, tidak peduli apakah ucapannya menyakitkan dan menyinggung perasaan orang-orang di sekitarnya atau tidak.

Sebagai penyair yang hidup di lingkungan Gunung Kidul, Yogyakarta, Arif Wibawa sadar kemudian dengan sepenuh hati mengamalkan siratan makna pribahasa Jawa yang berbunyi: Sak Bejo-Bejone Wong Kang Lali, Isih Bejo Wong Kang Eling Lan Waspodo. Artinya, seberuntung-untungnya orang yang lupa, masih beruntung orang yang ingat dan waspada. Jangan sampai karena urusan keduniaan kita melupakan aturan dan menghalalkan segala cara.

Pertanyaannya, bagaimana kita akan mengingat dan waspada jika kita senantiasa melebur dan membiarkan diri dalam keriuhan-keriuhan suara yang, barangkali apa yang diucapkan dan dilakukan tidak sejalan denagan kemauan hati. Di saat-saat seperti itulah, Arif Wibawa dalam puisinya mengingatkan agar kita senantiasa waspada dan mau mendengar suara yang bersumber dari dalam diri, dari kesunyian dan renungan sehingga (ketika) jejak-jejak memudar //  cahaya (kebenaran) berpendar.

Jakarta, Maret 2020

Mahwi Air Tawar, lahir di Sumenep, Madura 1983. Selain menulis cerpen, ia juga menulis puisi. Karya-karyanya dimuat di berbagai media massa. Buku kumpulan cerpennya yang sudah terbit di antaranya, Blater, Karapan Laut, dan Pulung. Buku kumpulan cerpennya mendapat penghargaan dari Balai Bahasa Yogyakarta, 2012. Sementara cerpen Pulung mendapat penghargaan dari STAIN Purwokerto, 2010. Mahwi juga aktif dan terlibat dalam berbagai festival sastra. Saat ini Mahwi tinggal di Kampung Kebon, Cinangka, Depok.

 

 

 

 

Iklan Duka Cita Ibunda Bupati Nagan Raya

Komentar

Loading...