Calistung

Calistung
Ilustrasi.net

CALISTUNG alias membaca, menulis, dan berhitung merupakan keterampilan dasar yang selayaknya dimiliki setiap orang. Betapa tidak, semua aktivitas kehidupan yang kita jalani, baik  aktivitas sosial, ekonomi, politik, budaya maupun ibadah tak bisa lepas dari calistung. 

Wahyu pertama yang diterima Rasulullah saw pun adalah perintah membaca (Q. S. al ‘Alaq : 1-5).

Dengan membaca, kita akan memperoleh pengetahuan, wawasan, dan pergaulan yang luas.

Al Qur’an yang suci, dapat kita jadikan pedoman hidup jika diawali dengan membacanya. Mustahil kita akan memahami isinya, kemudian dijadikan pedoman hidup jika kita tidak mengawalinya dengan membaca.

Sementara menulis merupakan aktivitas yang sangat erat kaitannya dengan membaca. Aktivitas menulis dan membaca bagaikan dua sisi mata uang. Kita bisa membaca karena ada suatu tulisan, dan kita bisa menuliskan sesuatu di buku, komputer, handphone, dan lain sebagainya setelah kita melakukan aktivitas membaca.

Kewajiban mencari ilmu yang telah Allah dan Rasul-Nya wajibkan  kepada kita tak lepas dari kegiatan menulis dan membaca. Oleh karena itu, kegiatan membaca dan menulis dapat digunakan sebagai sarana untuk meningkatkan ketaatan kita kepada Allah.

Al Qur’an dan hadits tak mungkin sampai ke tangan kita dan sampai hari ini kita masih bisa membacanya, jika tidak ada orang yang menulis keduanya baik dari kalangan sahabat, tabi’in, dan para ulama. Demikian pula, kita tidak akan bisa mempelajari dan memahami ajaran Islam jika tidak ada para ulama, cendekiawan muslim yang menuliskan tentang ajaran-ajaran Islam.

Jika kita meneliti aktivitas dakwah para ulama salaf (terdahulu), menulis merupakan aktivitas dakwah utama mereka. Kitab-kitab sumber ajaran Islam yang dipelajari di pondok pesantren, di madrasah, sampai di perguruan tinggi Islam tak akan bisa terlepas dari penggunaan kitab-kitab karya tulis para ulama terdahulu.

Dalam khazanah tafsir al Qur’an,  kita mengenal kitab-kitab tafsir yang ditulis para ulama pakar al Qur’an, misalnya  Tafsir Jalalain (dua Jalal). Tafsir ini  ditulis dua orang ulama besar yang namanya sama-sama berawalan Jalal, yakni  Jalaluddin Muhammad bin Ahmad al Mahalli dan Jalaluddin Abdurrahman bin Abi Bakar As Suyuthi.

Demikian pula dengan kitab tafsir al Qur’an karya para ulama lainnya. Kita mengenal Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Abbas, Tafsir Dur al Mantsur, Tafsir al Baghawy, Tafsir al Qurthubi, Tafsir ath Thabary, dan lain-lain merupakan aktivitas dakwah para ulama yang dituangkan via  karya tulis.

Dalam khazanah hadits sebagai sumber hukum kedua setelah al Qur’an, kita tak bisa lepas dari mempelajari kitab-kitab hadits karya tulis para ulama.  Terdapat beberapa kitab hadits yang paling terkenal misalnya  Shahih Bukhari karya Imam Bukhari, Shahih Muslim karya Imam Muslim, al Muwathta karya Imam Malik, dan lain sebagainya. Singkatnya, para ulama telah melakukan dakwah abadi melalui karya tulis,  mewariskan keilmuan  yang dapat kita baca sampai hari ini.

Sementara berhitung merupakan kegiatan pelengkap setelah kita bisa membaca dan menulis. Disebut sebagai kegiatan pelengkap, sebab tidak semua orang yang sudah bisa membaca dan menulis memiliki kemampuan berhitung, atau setidaknya tidak semua orang senang melakukan kegiatan berhitung, terutama kegiatan berhitung yang melibatkan bidang keilmuan tertentu, misalnya ilmu waris dan ilmu falak (astronomi).

Untuk memahami ilmu waris diperlukan keterampilan matematika dasar berupa keterampilan berhitung penjumlahan, pengurangan, pembagian, dan perkalian bilangan pecahan. Sementara untuk memahami ilmu astronomi diperlukan pemahaman matematika tingkat menengah, minimal memahami ilmu hitung aljabar dan trigonometri.

Menguasai keterampilan berhitung, terutama dalam disiplin ilmu waris dan ilmu falak (astronomi) merupakan aktivitas yang dianjurkan Rasulullah saw.  Hukum mempelajarinya fardhu kifayah.

“Belajarlah ilmu faraidl (hitung waris) dan ajarkanlah kepada orang lain, sesungguhnya aku ini manusia biasa yang pasti meninggal, dan sesungguhnya ilmu faraidl ini akan diangkat (hilang), setelah itu akan timbul fitnah. Hampir-hampir saja dua orang yang berselisih dalam membagi harta waris tidak dapat menemukan orang yang dapat melerai keduanya”  (H. R. al Hakim).

Keterampilan calistung yang telah kita miliki akan berharga di hadapan Allah manakala kita gunakan untuk memuliakan agama-Nya yang didasari niat karena Allah. Bagi orang yang memiliki keterampilan menulis, alangkah baiknya jika ia menuangkan segala gagasan tentang Islam melalui tulisan, baik melalui blog, media sosial, atau media lainnya. Namun alangkah baiknya jika dituangkan dalam bentuk buku, sebab bagaimana pun keberadaan buku yang tercetak lebih abadi, tak akan terkena virus seperti file di komputer.

Sudah terbukti dalam sejarah, kemajuan dakwah umat Islam diperoleh dengan menyebarkan ajaran Islam melalui karya tulis. Perpustakan Islam terbesar Bani Umayah di Andalusia salah satu buktinya.

Kini perpustakaan yang diakui dunia tersebut telah musnah yang diikuti pula dengan melemahnya semangat membaca dan menulis di kalangan umat.  Kini, tongkat estapet kewajiban meneruskan kedua tradisi  tersebut berpindah ke tangan kita, umat Islam pada saat ini. Sudah selayaknya apabila kita berbagi tugas dakwah di kalangan umat. Ada kelompok orang yang berdakwah bil lisan (ceramah) dan ada pula kelompok orang yang berdakwah bil qalam (melalui tulisan).

Salah satu penyakit yang menghinggapi orang-orang yang sudah bisa membaca adalah malas membaca dan tidak menuliskan kembali apa yang telah dibacanya. Padahal, fasilitas kita untuk melakukan kedua aktivitas tersebut jauh lebih banyak dan lengkap jika dibandingkan dengan era para ulama terdahulu. Sayangnya ghirah (semangat) kita terhadap kedua aktivitas ini tidak sebaik semangat para ulama terdahulu. Kita malas belajar,  menggali pengetahuan, dan menuliskannya kembali.

Jika keadaannya demikian, jangan-jangan kita masih tergolong buta huruf. Alvin Toffler, seorang futurolog mengatakan, “yang disebut buta huruf pada abad ke-21 bukanlah mereka yang tidak bisa membaca dan menulis, tetapi mereka yang tidak bisa belajar, melepaskan yang diketahuinya, dan tidak mengulangi mempelajarinya.”

Sudah saatnya kita memanfaatkan segala fasilitas dan disiplin ilmu yang kita miliki, termasuk keterampilan Calistung, untuk kemajuan, kemuliaan Islam,  dan umatnya. ***

 

Penulis, Pemerhati dan Praktisi Pendidikan Agama Islam. Tinggal di Kampung Pasar Tengah Cisurupan Garut Jawa Barat.

Komentar

Loading...