BPMA & Pemkab Aceh Timur Segera Diminta Tangani Keluhan Warga Atas PT Medco E&P

BPMA & Pemkab Aceh Timur Segera Diminta Tangani Keluhan Warga Atas PT Medco E&P
Usman Ramreung

CAKRADUNIA.CO, Idi Rayeuk- PT Medco E&P Malaka kembali jadi sorotan masyarakat dilingkar tambang, pasalnya terkait dengan penanganan limbah, polusi bau, penggunaan CSR (Corporate Sosial Responsibility) dan meminta pada Medco menepati janji mesosialisasikan bahaya H2S (hidrogen sulfida) ke masyarakat lingkar tambang. 

Usman Lamreung, pemerhati kebijakan publik dan sosial kepada cakradunia. co. Selasa (10/11/2020) malam mengatakan, secara garis besar kehadiran PT. Medco E&P Malaka di Aceh pastinya memberikan mamfaat yang besar pada kemakmuran dan kesejahteraan rakyat, khusus adalah warga disekitar tambang. 

Usman menjelaskan sudah tentu PT. Medco mempunyai standar dalam pengelolaan terhadap berbagai dampak, baik dampak lingkungan, sosial ekonomi, budaya dan sebagainya. 

“Namun, dalam pelaksanaan dilapangan mengalami berbagai masalah, seperti sejumlah gampong dalam kecamatan Indra Makmu dan Julok yang berdekatan dengan lokasi tambang menuai masalah limbah, polusi bau, dan pengelolaan dana CSR,” ungkap akademisi Universitas Abulyatama Aceh Besar.  

Terkait permasalahan pembuangan limbah, dan polusi bau, Usman Lamreung meminta Pemerintah Aceh melalui BPMA untuk menyikapi secepatnya keluhan masyarakat terkait hal yang terjadi disekitar lingkar tambang

“Bila dibangun dengan komunikasi yang baik, trasparan dan terbuka, penanganan limbah dan polusi bau misalnya, seharusnya apapun hasilnya disosialisasikan baik dampaknya, solusi dan bagaimana penanganan, agar warga sekitar paham dan mengerti dan tak perlu ditutupi-tutupi,” urai Usman apa yang terjadi di sekitaran lingkar tambang 

Ia menambahkan terkait polusi bau, seperti yang disampaikan warga lingkar tambang kepadanya bahwa dalam dua hari ini dikabarkan kembali tercium bau menyengat di areal perkebunan karet warga, meliputi Gampong Alue Ie Itam dan Gampong Seunebok Cina, seperti tahun yang lalu, polusi bau akibat proses produksi atau ada kebocoran pipa. 

“Sepertinya masalah ini belum dituntaskan PT. Medco sesuai rekomendasi Tim IPB dari aspek teknis pada Juli 2019, dimana ada rekomendasi agar PT. Medco diminta kurangi produksi demi menjaga polusi bau dari proses pembakaran H2S sehingga tidak berdampak kepada warga lingkar tambang,”ungkapnya

Usman mendesak agar BPMA dan Pemkab Aceh Timur tidak boleh diam masalah limbah harus direspon cepat, apakah benar limbah yang dibuang ke aliran sungai masyarakat merusak lingkungan. Persoalan kehidupan dan keselamatan warga menjadi utama, dan keresahan masyarakatpun bisa terselesaikan dengan cepat.

Pertanyaannya, apakah PT. Medco E&P Malaka sudah menjalankan point-point rekomendasi tersebut, ini perlu ada penjelasan dari PT. Medco E&P, agar masyarakat tidak resah, was-was dan konflik sosial bisa dikelola dengan baik. BPMA dan Pemkab Aceh Timur harus benar-benar menjalankan fungsi pengawasan dalam implementasi rekomendasi Tim IPB Bogor.

Usman mengingatkan terkait dengan pengelolaan dana CRS, fungsi BPMA sebagai pegawasan harus benar-benar berjalan agar PT. Medco transparan dalam pengunaan CSR dan melibatkan warga seputar tambang.

“Ini penting, agar program-program pemberdayaan masyarakat sesuai dengan potensi masyarakat dan alam sekitar tambang, sehingga pelaksanaan program bisa diterima masyarakat dan bermamfaat dalam jangka panjang,”tutupnya.

[Rachman/Re]

Komentar

Loading...