Breaking News

Blue Zones alias Zona Biru

Blue Zones alias Zona Biru
Ilustrasi.net

SEMALAM saya membaca  buku karya Gene Stone,  “The Secrets of People Who never Get Sick,  What They Know, Why It Works, and How It Can Work for You, diterbitkan  Workman Publishing Company, Inc, USA (2010). Tema besar dari buku tersebut  adalah  rahasia kehidupan orang-orang  yang hidup sehat, nyaman, dan penuh ketentraman. Salah satu bagian dari buku tersebut saya pinjam untuk dijadikan judul dalam tulisan ini.

Blue zones atau zona biru merupakan wilayah yang penduduknya hidup dalam keadaan lebih sehat dan berusia lebih panjang jika dibandingkan dengan penduduk di daerah-daerah lainnya. Berdasarkan  informasi dari  buku tersebut terdapat lima wilayah yang termasuk blue zones, yakni Barbagia, Sardinit, Itali; Okinawa-Jepang; Loma Linda-Los Angeles, Amerika; Icaria-Yunani; dan Nicoya-Peninsula yang berlokasi di sebelah barat laut Costa Rica, Amerika.

Ada beberapa rahasia penyebab kehidupan penduduk yang berdomisili di wilayah blue zones tersebut lebih sehat dan berusia panjang. Rahasia-rahasia tersebut adalah  menjaga pola makan (tidak berlebihan mengkonsumsi makanan) seraya memperhatikan  porsi dan kadar gizinya.

Gizi makanan yang mereka peroleh pun ditunjang dengan “gizi” lainnya, yakni interaksi sosial yang baik. Mereka senantiasa menjaga persaudaraan, hidup bermasyarakat, dan saling menolong sehingga mereka dapat mengurangi perselisihan dan permusuhan diantara mereka.

Mereka menyadari, sebaik apapun porsi dan gizi makanan yang mereka peroleh tidak akan terlalu berpengaruh terhadap kesehatan manakala kehidupannya merasa tertekan oleh lingkungan sekitarnya . Meningkatnya perselisihan dan permusuhan antar sesama hanya akan menimbulkan kehidupan yang tertekan alias stres.

Sementara selalu melakukan kesibukan dengan berbagai aktivitas positif; selalu bergerak, baik dengan melakukan jalan kaki maupun berolah raga secara rutin; konsisten menjaga nilai-nilai sosial dan spiritual dalam kehidupan  merupakan penunjang kehidupan yang sehat dan nyaman. Dengan memiliki kesibukan  dan tetap konsisten memelihara berbagai aktivitas positif  sosial-spiritual telah menjauhkan mereka dari stres.

Apabila kita renungkan secara mendalam, apa yang dilakukan orang-orang yang berada di blue zones sebenarnya telah digariskan dalam ajaran Islam. Oleh karena itu, terdapat beberapa pelajaran yang bisa kita raih yakni, pertama, ajaran Islam itu rahmatan lil’alamin, menjadi rahmat, membawa keselamatan bagi semua orang.

Rahmatan lil’alamin berarti pula bersifat universal, artinya siapapun orangnya yang mengimplementasikan prinsip-prinsip ajaran Islam, ia akan memperoleh manfaat, ketentraman dan kenyaman hidup, sekalipun ia bukan seorang muslim. Ia akan bisa memperoleh keselamatan hidup meskipun hanya di dunia saja. Sebaliknya, penderitaan dan dosa akan diperoleh seseorang yang melanggar prinsip-prinsip ajaran Islam sekalipun ia mengaku seorang muslim.  .

Kedua, menjaga pola makan. Rasulullah saw telah menganjurkan agar kita hanya mengisi dua pertiga dari kapasitas lambung kita, dan sisanya untuk bernafas. Ia menekankan  aktivitas makan dan minum bagi umatnya harus bernilai ibadah, bukan sekedar memenuhi kebutuhan perut saja.

Apa yang dicontohkan Rasulullah saw tersebut dipraktekan orang Okinawa – Jepang, salah satu kota  yang berada di wilayah zona biru. Mereka memiliki kearifan lokal yang disebut “hara hachi bu”. Kearifan ini secara garis besarnya bermakna makan setelah lapar, dan berhenti makan sebelum kenyang. Lambung hanya diisi 80% dari kapasitasnya, dan 20% sisanya  untuk bernafas. Kearifan ini terbukti membuat mereka lebih sehat,  lebih bahagia, dan berumur panjang.

Terlalu banyak mengkonsumsi makanan hanya akan memperoleh kenikmatan dan kesenangan sesaat, dan pada suatu saat nanti akan berujung kepada penderitaan. Konon kabarnya, 70% penyakit manusia modern pada saat ini disebabkan berlebihan dalam mengkonsumsi makanan. Pada tahun 2030 diperkirakan  setengah dari populasi manusia akan menderita obesitas, demikian kata Yuval Noah Harari dalam bukunya “Homo Deus” (2015 : 4).

Ketiga, interaksi sosial. Jika diterjemahkan secara sederhana, interaksi sosial dalam ajaran Islam adalah silaturahmi, mempererat persaudaraan, dan menjauhi permusuhan. Rasulullah saw pernah bersabda, orang-orang yang senantiasa menjaga silaturahmi dan persaudaraan selain akan diberi keluasan rizki juga akan berumur panjang.

Orang-orang yang berdomisili di wilayah blue zones telah membuktikannya. Sungguh naif, jika kita yang memiliki ajaran Islam yang memerintahkan untuk melakukan interaksi sosial dengan baik tersebut tak mengimplementasikannya dalam kehidupan.

Keempat,  menyibukkan diri dengan aktivitas positif.  Melakukan kesibukan dengan melakukan berbagai aktivitas positif berarti banyak bergerak. Secara bahasa, bergerak identik dengan hijrah, berpindah dari satu tempat ke tempat lain, dari satu aktivitas ke aktivitas lainnya.  Setelah  kita selesai melakukan ibadah shalat, kita diperintahkan Allah untuk bergerak, bertebaran di muka bumi untuk mencari sebagian karunia-Nya (Q. S. al Jum’ah : 10).

Demikian pula, setelah kita selesai mengerjakan suatu aktivitas, kita diperintahkan untuk melakukan aktivitas positif lainnya (Q. S. al Insyirah : 7). Intinya, ajaran Islam memerintahkan kita untuk terus bergerak, sibuk melakukan aktivitas amal positif sampai ajal menjemput. Keberkahan hidup dapat diperoroleh melalui berjamaah, persaudaraan, dan banyak bergerak.

Kelima, senantiasa  merawat nilai-nilai spiritual. Seluruh ajaran Islam memiliki nilai-nilai spiritual. Artinya seluruh  aktivitas poisitif apapun yang dilakukan harus memiliki sandaran  nilai untuk mendekatkan diri kepada Allah. Karenanya, dalam ajaran Islam ada unsur niat  “lillahi ta’ala” dalam setiap melakukan aktivitas. Berpahala atau tidaknya suatu  aktivitas kita di hadapan Allah, tergantung kepada niat. Jika niatnya lillah, maka rasa lelah selama melakukan aktivitas akan berbuah pahala, rahmat, dan keridaan-Nya.

Seperti dikatakan dalam buku yang saya baca tersebut, blue zones tidak terbatas di kelima zona seperti yang telah disebutkan. Kita pun bisa menciptakannya, bahkan pada diri kita sendiri.

Sungguh-sungguh dalam mengimplementasikan ajaran Islam merupakan upaya menciptakan zona biru kehidupan. Islam telah menjamin kebahagian hidup di dunia dan akhirat  bagi seorang muslim yang  berupaya keras mengimplementasikan seluruh ajarannya dalam kehidupan.

Persoalannya terletak dalam tekad dan  kemauan kita untuk mengimplementasikan ajaran Islam dalam seluruh aspek  kehidupan . Harus diakui, sampai detik ini, kita masih lebih banyak membicarakan konsep dan nilai-nilai keluhuran Islam, seraya masih miskin dalam penerapannya pada seluruh aspek kehidupan nyata. ***

 

Penulis, Pemerhati dan Praktisi Pendidikan agama Islam. Tinggal di Kampung Pasar Tengah Cisurupan Garut Jawa Barat.  

Iklan Duka Cita Ibunda Bupati Nagan Raya

Komentar

Loading...