Blokir Donald Trump, Markas Facebook dan Twitter Hendak Dibakar

Blokir Donald Trump, Markas Facebook dan Twitter Hendak Dibakar
Akun Twitter Presiden AS Donald Trump yang diblokir pada ponsel cerdas di ruang rapat Gedung Putih di Washington, AS, 8 Januari 2021. Platform media sosial Twitter memutuskan memblokir permanen akun pribadi Presiden Amerika Serikat Donald Trump, Sabtu 9 Januari 2021. Keputusan diambil setelah sempat memulihkan akun itu kemarin--pasca demo rusuh di Capitol Hill--namun kemudian menilai terjadi lagi pelanggaran oleh akun itu terkait risiko hasutan untuk melakukan kekerasan. REUTERS/Joshua Roberts/Illustration

CAKRADUNIA.CO, - Dua warga California didakwa merencanakan serangan bom untuk membakar (firebombing) markas perusahaan teknologi Facebook dan Twitter. Serangan itu ikut dibahas saat keduanya berkonspirasi menyerang dengan cara yang sama terhadap kantor Gubernur California yang berasal dari Partai Demokrat, Gavin Newsom, di Sacramento setelah pemilihan 2020 lalu.

Rekaman dari sidang pengadilan federal pada 7 Juli 2021 mengungkapkan kalau satu dari dua warga asal California itu juga didakwa untuk kepemilikan senapan api dan bahan peledak ilegal. Sedang yang lain berusaha merusak barang bukti. Keduanya disebutkan menjadi bagian dari milisi antipemerintah pendukung Donald Trump yang menyebut diri mereka Three Percenters.

Dakwaan dibuat berdasarkan chat di antara keduanya yang menyiratkan rencana akan mengirim sebuah 'pesan' ke perusahaan teknologi seperti Facebook dan Twitter karena memblokir Trump diblokir dari platform masing-masing. Teks yang diungkap FBI mengindikasikan kalau keduanya percaya Trump pemenang Pemilihan Presiden AS 2020 lalu, dan mereka ingin 'berperang' agar Trump tak lengser sebagai Presiden Amerika Serikat. 

Terdakwa pertama, Ian Benjamin Rogers, ditangkap pada 15 Januari 2021, hanya beberapa hari setelah diketahui mengirim pesan kepada kepada terdakwa kedua, Jarrod Copeland, berisi rencana pengeboman itu. FBI lalu menemukan hampir 50 senapan api yang sebagian terbukti ilegal, dan lima bom pipa saat menggeladah rumah dan kantor Roger. Sedangkan Copeland baru ditangkap pada 15 Juli lalu.

Sembari merencanakan pengeboman kantor partai Demokrat, keduanya juga diduga mendiskusikan serangan terhadap markas Facebook dan Twitter. Motifnya, seperti yang dimasukkan FBI dalam dakwaan, adalah pembalasan kepada kedua platform media sosial itu karena memblokir Trump beberapa hari sebelumnya karena dianggap provokasi kekerasan dan perpecahan.

"Kita bisa menyerang Twitter dan demokrat dengan mudah sekarang ini," bunyi penggalan teks dari Rogers kepada Copeland. Rekaman juga menunjukkan kalau Rogers sempat menulis mengusulkan menyerang pertama-tama kantor Gubernur California Gavin Newsom. "Baru setelahnya mungkin kantor burung (bird) dan wajah (face)" tulisnya lagi.

'Burung' dan 'Wajah' jelas menunjuk Twitter dan Facebook karena logo Twitter adalah seekor burung dan kedua perusahaan belum lama sebelumnya memblokir Trump. "Sedih sekali harus terjadi seperti ini tapi saya tidak akan mundur tanpa pertarungan," tulis Rogers.

Ratusan pendukung Presidenn Donald Trump menyalakan flare saat berkumpul di Gedung Capitol Amerika Seikat di Washington, 6 Januari 2021. Pendukung Donald Trump menyerbu gedung parlemen AS, US Capitol, saat Wakil Presiden Mike Pence menolak permintaan Presiden Trump untuk membatalkan kekalahannya dari Joe Biden. REUTERS/Leah Millis

Kepala FBI, Christopher Wray, mengeluarkan peringatan awal Maret lalu kalau terorisme domestik adalah ancaman yang terus tumbuh di Amerika Serikat. Satu bukti nyata yang disodorkannya adalah serangan ke Gedung parlemen atau Capitol Hill pada 6 Januari 2021.

THE VERGE

Komentar

Loading...