BKPM: Kepercayaan Investor Asing Mulai Pulih

BKPM: Kepercayaan Investor Asing Mulai Pulih
Sejumlah pekerja menyelesaikan pembangunan salah satu hotel di Jalan Udayana, Mataram, NTB, beberapa waktu lalu. Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mengumumkan, realisasi investasi pada kuartal IV 2020 sebesar Rp 214,7 triliun. | AHMAD SUBAIDI/ANTARA FOTO

CAKRADUNIA.CO, Jakarta - Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mengumumkan, realisasi investasi pada kuartal IV 2020 sebesar Rp 214,7 triliun. Angka itu tumbuh tiga persen dibandingkan realisasi penanaman modal pada periode sama tahun sebelumnya yang sebesar Rp 208,3 triliun. 

Dari total investasi tersebut, sebesar Rp 111,1 triliun di antaranya merupakan investasi langsung asing atau Penanaman Modal Asing (PMA). Sementara investasi dalam negeri atau Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sebesar Rp 103,6 triliun. Dengan begitu, PMA naik 5,5 persen dibandingkan periode sama tahun lalu sementara PMDN naik 0,7 persen.

Kepala BKPM Bahlil Lahadalia menjelaskan, pertumbuhan PMA yang cukup besar pada akhir 2020 dikarenakan kepercayaan diri investor mulai muncul.

"Kenapa PMA-nya lebih besar karena di kuartal keempat, kasus pertama pandemi Covid sudah ada vaksinasinya. Itu membuat rasa percaya diri investor asing di Indonesia," ujar Bahlil dalam konferensi pers virtual, Senin (25/1).

Selain itu, menurut Bahlil, pengesahan Undang-Undang Cipta Kerja juga cukup memberikan pengaruh positif kepada investor asing. Dengan adanya beleid tersebut, investor lebih yakin menggelontorkan modalnya di Tanah Air. 

Meski terjadi pertumbuhan positif PMA di akhir tahun lalu, kinerja PMA sepanjang 2020 masih tercatat negatif. Realisasi PMA pada 2020 kontraksi 2,4 persen sementara PMDN masih tumbuh 7 persen. Secara keseluruhan, penanaman modal pada tahun lalu mencapai Rp 826,3 triliun dan tumbuh 2,1 persen dibandingkan 2019.

Bahlil mengungkapkan, Presiden Joko Widodo menargetkan realisasi investasi pada 2021 sebesar Rp 900 triliun. Angka itu lebih tinggi dari target Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) sebesar Rp 858,5 triliun.

Bahlil mengatakan, BKPM telah menyiapkan beberapa strategi guna menarik investasi tahun ini. Menurutnya, melakukan komunikasi aktif dengan investor saat ini sangat diperlukan guna memberikan solusi.

"Dengan strategi, di antaranya lakukan komunikasi dengan investor. Tidak ada satu rujukan atau buku di kampus mana pun terkait kelola pemerintahan khususnya di era Covid-19," tegas Bahlil. 

Foto udara sejumlah alat berat difungsikan dalam pembangunan Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB) saat kunjungan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia di Ketanggan, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, tahun lalu. Dalam kunjungan itu, Kepala BKPM meninjau kesiapan pembangunan KITB terutama pembangunan infrastrukur untuk percepatan investor yang akan masuk di antaranya dari Korea dan Cina. - (Harviyan Perdana Putra/ANTARA FOTO)

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira menilai, kenaikan PMA pada akhir tahun lebih didominasi oleh berlanjutnya proyek smelter dan pertambangan dari investor asal Cina.

"Ini terlihat dari porsi investasi di luar Jawa yang cukup besar atau lebih dari 51 persen, sementara tiga negara teratas investasi, yaitu Singapura, Cina, dan Hong Kong," ujarnya.

Beberapa investasi asal Cina, kata Bhima, mengalir lewat Singapura. Bhima juga mengingatkan agar kinerja PMA harus juga dilihat dari sisi kualitas terhadap serapan tenaga kerja maupun lingkungan hidup. "Memang sulit di masa pandemi ini menarik investasi tapi harus tetap selektif. Pilih-pilih investasi yang berkualitas dan jumlah TKA-nya (tenaga kerja asing) tidak besar," kata Bhima. 

Direktur Riset Center of Reform on Economics (Core) Piter Abdullah mengatakan, meski pandemi masih terjadi, beberapa investasi jangka panjang yang sudah dijadwalkan masih terus berjalan. "Investasi yang mundur atau bahkan tidak jadi utamanya yakni investasi yang benar-benar baru akan dilaksanakan. Sementara investasi yang sudah berjalan terus dilanjutkan. Ini yang menyebabkan investasi masih terjadi pada 2020," jelas Piter, Senin (25/1).

Tahun ini, kata dia, pandemi diyakini akan mereda dan berakhir. Hal itu akan membangkitkan perekonomian. "Konsumsi kembali meningkat yang kemudian mendorong investasi. Di sisi lain pemerintah juga sudah akan mengimplementasikan UU Cipta Kerja. Hal ini juga akan mendorong masuknya investasi," kata Piter. [rol]

Komentar

Loading...