Berteman Papua, Banyak Asumsi Saya Terpatahkan

Berteman Papua, Banyak Asumsi Saya Terpatahkan
Ilustasi: Artis Papua. Foto/Kokada

Oleh: Harvest Walukow

SAYA  ingin berbagi pengalaman tentang apa yang saya rasakan dan alami saat bergaul dan berinteraksi dengan orang Papua. Saya tinggal di Kota Tomohon, Sulawesi Utara. Di mana banyak pelajar dari Papua yang datang menimba ilmu di sini, tersebar dari SMP hingga ke Perguruan Tinggi.

Pengalaman saya dengan orang Papua sudah sejak kecil, kira-kira sejak umur lima tahun. Ayah saya adalah seorang wiraswasta, dan pernah merantau ke Papua, jadi dalam pekerjaannya dia sering melibatkan orang Papua --mahasiswa Papua-- sebagai tenaga kerja urusan angkut-mengangkut barang.

Dari pengalaman ayah saya, menurutnya, orang Papua punya tenaga yang kuat dibanding orang-orang kota. Jadi mereka sering dilibatkan juga oleh ayah saya untuk pekerjaan-pekerjaan berat seperti pindahan rumah, berkebun, dan sebagainya. Dari sinilah saya mulai sering berbaur dengan orang Papua.

Sementara, ibu saya adalah seorang pegawai swasta di salah satu yayasan pendidikan yang menaungi dua sekolah di Tomohon, SMP & SMA. Yayasan ini bekerja sama dengan kemitraan LPMAK - PT Freeport Indonesia untuk mendatangkan anak-anak Papua untuk menempuh pendidikan di sekolah mereka.

Seringkali saya diajak ibu saya untuk pergi ke sekolah tersebut. Di sana saya sering berinteraksi dengan siswa-siswi Papua.

Saat itu juga kami pernah mempekerjakan orang Papua di rumah kami sebagai asisten rumah tangga. Keluarga kami juga membiayainya untuk sekolah. Namun tidak lama, sekitar satu tahun lalu dia sudah tidak lagi bekerja untuk kami. 

Jadi memang sejak kecil saya sudah cukup sering bergaul dengan orang Papua, karena kedua orang tua saya. Yang saya ingat waktu itu tentang orang Papua adalah jika sudah akrab, orang Papua gemar bercanda, ditambah dengan logatnya yang khas membuat orang-orang di sekelilingnya tertawa.

Pengalaman saya dengan orang Papua berlanjut ketika saya masuk SMP di sekolah tempat ibu saya bekerja tadi. Siswa papua di sekolah saat itu lumayan banyak jika dibandingkan dengan siswa reguler, kira-kira empat dari sepuluh siswa adalah siswa papua.

Harus diakui bahwa mayoritas teman-teman dari Papua berada dibelakang siswa reguler dalam hal pembelajaran dalam kelas yang bersifat akademik. Tapi, untuk bidang non-akademik siswa-siswi papua patut diperhitungkan. Lebih-lebih dalam bidang olahraga.

Teman-teman Papua banyak menjuarai lomba-lomba olahraga mulai dari sepak bola, basket, lempar lembing, lari sprint, dan maraton, semua disikat. Hal ini yang membuat sekolah kami pada saat itu disegani bahkan "ditakuti" dalam berbagai perlombaan olahraga. Kita harus sepakat bahwa orang-orang Timur diwarisi anugerah gen yang membuat mereka punya kemampuan luar biasa untuk hal ini. Diantara kami para siswa, siswa Papua memang memiliki genetik fisik yang lebih kuat dibandingkan dengan yang lain.

Salah satu hal yang paling kentara juga dari teman-teman Papua adalah musik. Mayoritas mereka suka jenis musik hip-hop. Bahkan ada yang membentuk grup hip-hop mereka sendiri. Memproduksi lagu (musik) mereka secara mandiri. Mulai dari composing, recording, sampe mastering. Musik yang mereka hasilkan termasuk dalam musik-musik rap khas Indonesia Timur. Hasilnya memuaskan, grup tersebut sering tampil dalam berbagai acara pensi yang diselenggarakan sekolah.

Jiwa berkesenian dari siswa Papua termasuk tinggi. Dengan kemampuan untuk mengolah dan memanfaatkan teknologi menjadi suatu karya, saya rasa stereotip tentang orang Papua gaptek itu keliru. Selain itu, teman-teman dari Papua juga menyukai dunia desain visual mulai dari yang desain statis hingga desain bergerak atau video. Ini berbeda dengan mayoritas kami siswa reguler, yang menggunakan gadget semata-mata untuk eksis di media sosial.

Ada juga perbedaan yang juga menyatukan kami di sekolah: Bahasa dan logat. Lucu rasanya di saat mendengar siswa reguler mencoba menyesuaikan diri saat bergaul dengan siswa Papua dengan mencoba mengikuti logat dan dialek Papua, begitupun sebaliknya. Kayak denger Barack Obama ngomong bakso, sate, sama pecel lele.

Selama tiga tahun bersekolah di SMP, pada intinya orang Papua itu asik, susah ditebak. Sejauh ini saya belum pernah menemukan dari mereka orang yang tertutup atau introver. Jadi, ya, asik-asik aja. Banyak asumsi saya terpatahkan tentang orang Papua, salah satunya soal kegaptekan tadi.

Tulisan ini tidak untuk menanggapi isu apapun, karena memang nggak ada--setidaknya saat ini ditulis. Well, semoga ini dapat memberi kita pemahaman sekaligus mematahkan stereotip-stereotip kuno yang selama ini kita pegang.[]

Harvest Walukow, lahir dan bermukim di Kota Tomohon, Sulawesi Utara. Sedang menempuh pendidikan SMA.

Komentar

Loading...