Bersatu Bangkit Melawan Covid-19

Bersatu Bangkit Melawan Covid-19
Ilustrasi/Republika

MASA depan bangsa terletak ditangan pemuda. Sebagaimana ucapan Soekarno “Berikan aku 1000 orang tua niscaya akan kucabut semeru dan akarnya. Berikan aku 10 pemuda dan akan kuguncangkan dunia” artinya bahwa pemuda yang menjadi pelopor terdepan dalam mengurus arah depan hidup bangsa ini.

Pemuda merupakan agent of change, moral force dan social control yang memiliki semangat dan kreatifitas yang luar biasa dalam segala aspek pembangunan. Sumpah pemuda lahir karena adanya ruang-ruang sempit pemikiran kedaerahan bangsa ini. Mengusung semangat sumpah pemuda, kita harus menghapus batas-batas kedaerahan, agama maupun partai politik untuk memajukan negara ini sesuai dengan cita-cita dari the founding father

Sejarah mencatat bahwa pergerakan pemuda dalam menginisiasi kemerdekaan Republik Indonesia sangat besar. Dimana pada saat itu perbedaan tidak menjadi pembatas identitas, semangat tersebut menyatukan pemuda dari berbagai pelosok negeri, suku dan agama untuk menyatukan satu tanah air, satu bahasa, dan satu bangsa, semuanya sapakat dalam Indonesia hanya ada satu.

Hal ini dapat kita maknai sebagai wujud integritas pemuda dalam memberikan kontribusi nyata untuk ikut memperjuangkan kemandirian dan memperjuangkan kemerdekaan yang saat ini mulai pudar dari jati diri anak bangsa.

Agenda peringatan Hari Sumpah Pemuda hampir setiap tahun dirayakan, tepatnya pada tanggal 28 Oktober. Namun, peringatan Hari Sumpah Pemuda untuk tahun ini sedikit berbeda dengan tahun sebelumnya, ini karena terjadi pandemi Covid-19. Tema Hari Sumpah Pemuda tahun ini mengusung berkaitan dengan kondisi bangsa menghadapi pandemi Covid-19, yakni Bersatu dan Bangkit. Meskipun berbeda, kita harus tetap satu, semangat persatuan harus tetap kita pelihara dengan baik. Tanpa persatuan, kita tidak akan bisa, makanya harus bersatu lalu kita bangkit. (Kemenpora.go.id).

Bersatu ditengah Pandemi

Ada ungkapan yang sering kita dengar ‘Bersatu kita teguh, Bercerai kita runtuh’. Ungkapan ini mengajakan kita bahwa segala hal yang kita lakukan dikehidupan sehari-hari hendaknya dijalankan bersama-sama agar proses penyelesaiannya cepat. Namun jika sikap egois masih tertanam erat dalam diri kita maka pekerjaan apapun itu tidak akan bertahan lama.

Hemat saya wabah virus corona mestinya menjadi momen bersatu bagi seluruh komponen bangsa. Merekatkan kembali ikatan tali persaudaraan tanpa sekat. Tidak perlu lagi saling menyalahkan. Hilangkan perasaaan sebagai pihak yang paling benar. Pada situasi ini perlu kiranya kita renungkan bahwa kehadiran wabah ini menjadi ujian sejauh mana kita peduli dengan orang lain.

Setelah kurang lebih tujuh bulan Covid-19 ini melanda negeri kita,  praktek diskriminasi terhadap sesama kerap kali terjadi. Hal ini dikarenakan orang yang terkena Covid-19 dianggap seperti musuh, bukannya diberikan nasihat untuk tetap kuat menghadapi penyakit yang menimpanya, tetapi ini malah dikucilkan. Jelas ini akan berdampak pada psikis juga.

Bangkit untuk Melawan

Sejarah Indonesia tidak bisa dilepaskan dari perjuangan kaum muda. Soekarno mengingatkan Indonesia untuk menjadi negara dan bangsa yang humanis. Dan humanisme Indonesia itu dibangun berdasarkan nilai-nilai pancasila. Melalui falsafah ini, kita diharapkan akan menjadi negara yang berdaulat secara politik, berdikari secara ekonomi, dan berkarakter secara budaya.

Imajinasi kebangsaan Soekarno dan para pendiri bangsa ini sangat visioner. Imajinasi inilah yang harus menjadi spirit kita dalam bernegara. Spirit yang kita perjuangkan bersama-sama, baik secara lintas suku, agama, ras dan golongan.

Seberat apapun problem yang bangsa kita hadapi jika  bersatu akan bisa diselesaikan dengan baik. Semangat gotong royong harus selalu dikedepankan, termasuk dalam menghadapi situasi pandemi Covid-19 yang masih melanda negeri kita. .Selamat Hari Sumpah Pemuda yang ke-92.

Lalik, Penulis Mahasiswa Universitas Tribhuwana Tunggadewi Malang

Komentar

Loading...