Bergaul Dengan Al-Qur’an

Bergaul Dengan Al-Qur’an
Ilustrasi. @la-religion-dallah.skyrock

Oleh:Ade Sudaryat

AL-QUR’AN merupakan pedoman hidup bagi orang-orang yang bertaqwa (Q. S. Al-Baqarah : 2), penawar atau obat dan rahmat bagi orang-orang yang beriman (Q. S. Al-Isra : 82), “Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an (sesuatu) yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman, sedangkan bagi orang yang zalim (Al-Qur’an itu) hanya akan menambah kerugian.”

Abu Abdillah bin Muhammad bin Ahmad bin Abi Bakar Al-Qurthuby yang terkenal dengan panggilan Imam Qurthubi, dalam karyanya al-Jami al Ahkam al Qur’an (Tafsir Al-Qurthubi), Juz XIII : 156 menyebutkan, ia mengambil salah satu pendapat tentang makna Al-Qur’an sebagai penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. Menurutnya, Al-Qur’an menjadi penawar hati kita dari kebodohan dan keraguan, serta membuka tirai yang menutup hati kita akan kemujizatan dan berbagai dalil yang menunjukkan akan wujud dan kekuasaan Allah. Selain itu, Al-Qur’an juga menjadi penawar bagi penyakit fisik, yakni menjadikan Al-Qur’an sebagai do’a (ruqyah), isti’adah (memohon perlindungan) dengan membacanya.

Al-Qur’an juga menjadi salah satu bekal terbaik kita ketika pulang menghadap Allah swt. “Sesungguhnya kalian tidaklah pulang menghadap Allah swt dengan membawa sesuatu yang lebih utama selain dari membawa apa yang keluar dari-Nya, yakni Al-Qur’an” (H. R. Hakim).

Kemuliaan dan kehinaan seseorang di hadapan Allah swt, salah satunya dipengaruhi tingkat pergaulan dan perlakuannya terhadap Al-Qur’an. Jika ia memperlakukan Al-Qur’an dengan baik, maka ia akan selamat di dunia dan akhirat. Sebaliknya, jika ia memperlakukannya dengan jelek, maka Allah swt akan menghinakannya. Oleh karena itu, sudah sepantasnya apabila kita bergaul dan memperlakukan Al-Qur’an dengan baik.

Secara sederhana,  terdapat  beberapa langkah yang dapat kita lakukan agar mampu bergaul dengan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.

Pertama, tilawah artinya membaca. Untuk dapat bergaul dengan Al-Qur’an, kunci utamanya adalah membaca, sebab dengan membacanya kita akan merasakan getaran-getaran kalimat Al-Qur’an yang jauh berbeda dengan susunan kalimat buatan manusia. Dengan membacanya, berarti pula kita sedang mendekatkan diri kepada Allah swt.

Kedua, tafhim artinya memahami. Tingkat paling minimal dari memahami Al-Qur’an adalah mengetahui arti dari ayat Al-Qur’an yang kita baca. Oleh karena itu, setelah kita rajin membacanya, kita perlu meningkatkan kualitas membacanya, yakni dengan membaca terjemahnya. Selama ini, pada umumnya sudah banyak diantara kaum muslimin yang mampu mengkhatamkan Al-Qur’an berkali-kali, tapi masih jarang dari mereka yang mengkhatamkan membaca terjemahnya. Sedangkan tafhim yang paling maksimal adalah memahami makna dan tafsirnya.

Ketiga, tahfidh artinya menghafal. Sesudah kita membaca Al-Qur’an, usahakanlah kita mampu menghafalkannya. Hafalan yang paling utama adalah menghafal secara keseluruhan (30 juz), namun jika kita belum mampu, upayakanlah hafalan kita bertambah setiap hari meskipun hanya satu ayat. Banyak sekali keutamaan menghafal Al-Qur’an, diantaranya adalah mengisi kekosongan hati, sebab barangsiapa yang di hatinya tiada hafalan Al-Qur’an ia laksana rumah kayu yang dimakan rayap, dari luar terlihat bagus, namun didalamnya keropos (H.R. Tirmizi dan Ad-Darimi).

Keempat, tanfid artinya mengaplikasikan. Sesuai dengan kadar kemampuan, kita harus berupaya menerapkan isi dan kandungan Al-Qur’an dalam segala aspek kehidupan, perkataan dan perilaku kita harus bersandar kepada nilai-nilai yang terkandung dalam Al-Qur’an.

Kelima, ta’lim artinya mengajarkan. Jangan kikir dengan ilmu membaca Al-Qur’an. Kita diperintahkan Allah dan dan Rasul-Nya untuk mengajarkan Al-Qur’an kepada orang-orang yang belum bisa membacanya. Mengajarkan Al-Qur’an selain akan meningkatkan kualitas pergaulan kita dengan Al-Qur’an, juga akan menambah kemuliaan diri kita di hadapan Allah swt. “Orang yang terbaik diantara kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya” (H. R. Bukhari, Abu Daud, Tirmizi, Nasa’i, dan Ibnu Majah).

Keenam, tahkim artinya berhukum dengan Al-Qur’an. Hukum dalam Al-Qur’an ada yang dapat dilaksanakan secara individual seperti shalat, puasa, zakat, berakhlak baik, dan sebagainya. Ada pula hukum yang memerlukan kekuatan politis dan kehadiran negara dalam pelaksanaannya, misalnya pelaksanaan ibadah haji, hukum qishah, dan lain sebagainya. Sederhananya, dalam bertahkim dengan Al-Qur’an, renungkanlah apakah perkataan dan perilaku dalam hidup keseharian kita sudah sesuai dengan nilai-nilai yang terkandung dalam Al-Qur’an?

Besar harapan kita semua termasuk ke dalam golongan orang yang senantiasa bergaul dengan Al-Qur’an dan berupaya menjadikannya sebagai pedoman hidup. Semoga.***

 

Penulis, Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Qurrata A’yun Samarang Garut Jawa Barat.

Iklan Duka Cita Ibunda Bupati Nagan Raya

Komentar

Loading...