Berani Hidup Sederhana

Berani Hidup Sederhana
Ilustrasi.net

SIKAP berlebihan dan boros demi gaya hidup sering menjadi sikap hidup keseharian. Kita senang menumpuk-numpuk barang, baik berupa pakaian, perabotan rumah, aksesoris handphone, dan lainnya bukan  karena kebutuhan, tapi sekedar memenuhi keinginan dan pajangan belaka. Semua ini dilakukan agar hidup terasa modern dan sejajar dengan gaya hidup kebanyakan orang. 

Dari sudut pandang apapun, sikap berlebihan, boros, dan selalu menuruti keinginan bukanlah sikap yang baik. Sebaliknya sikap sederhana merupakan bagian dari sikap hidup yang bijaksana. Sementara sikap hemat merupakan sikap yang sangat terpuji dan layak diimplementasikan dalam kehidupan. Bukankah kita sudah lama memiliki pribahasa “hemat pangkal kaya?”

Dari sudut pandang  agama Islam, kesederhanaan dan  tidak boros merupakan sikap yang harus dijadikan amalan dalam hidup kesehariaan. Salah satu ciri hamba Allah yang taat dan mencintai-Nya adalah mereka yang tidak berlebihan, tidak boros dalam mempergunakan hartanya.

“Dan (termasuk hamba-hamba Tuhan yang Maha Pengasih) orang-orang yang apabila meninginfakkan (harta)  mereka tidak berlebihan dan tidak pula kikir, diantara keduanya secara wajar” (Q. S. al Furqan : 67).

Dalam setiap perintah ibadah atau melarang sesuatu, Allah selalu memberikan kemudahan, kesederhanaan, kemaslahatan, dan tidak menuntut suatu kewajiban dari para hamba-Nya melebihi batas kemampuan. Hanya saja, kita sebagai hamba-Nya sering membuat aksesoris-aksesoris tertentu yang dilabeli dengan kepentingan agama.

Contoh yang masih aktual adalah perayaan idul fitri. Perayaan yang sebenarnya sangat sederhana. Kita bersuci (disunatkan mandi); memakai pakaian terbaik yang kita miliki; memakai wewangian; sarapan; dan melaksanakan shalat sunat idul fitri. Sehari sebelumnya atau menjelang melaksanakan shalat sunat idul fitri, bagi yang mampu diwajibkan menunaikkan sedekah fitri (zakat fitrah). Itu saja. 

Idul fitri menjadi terasa berat bukan karena perayaannya, tapi karena penyediaan berbagai aksesorisnya yang ditentukan secara adat atau kebiasaan. Banyak orang yang memaksakan diri membeli berbagai aksesoris demi tampil gaya di hari raya.

Coba Anda renungkan sejenak, berapa anggaran biaya yang dikeluarkan untuk menyambut idul fitri kemarin? Berapa helai baju, berapa pasang sepatu dan sandal yang serba baru, serta berapa banyak kue-kue yang dipersiapkan? Lalu apa yang diperoleh dari semua yang Anda miliki dan dipamerkan pada hari idul fitri? 

Benar dan pasti, Anda merasa bangga dan bahagia, apalagi jika gaya aksesoris pakaian dan segala yang Anda pamerkan setara atau melibihi gaya yang dikenakan orang lain,  dan dapat memenuhi trend gaya kebanyakan orang? Lalu setelah Anda melewati hari raya, apakah Anda masih merasakan kebahagiaan dari  aksesoris serba baru yang Anda pamerkan tersebut?

Berdasarkan berbagai penelitian, kebahagiaan memiliki suatu barang baru hanya bertahan selama tiga bulan. Setelah itu, kebanggaan terhadap barang yang dianggap baru tersebut mulai sirna. Kemudian, orang-orang akan mencari kebahagiaan lagi dengan mencari barang baru lainnya. Begiru seterusnya. 

Para ahli baik dari kalangan filosof  maupun  psikolog  sangat menyarankan agar kita mampu mengendalikan keinginan untuk tampil gaya dan selalu ingin mengikuti trend, apalagi jika tidak diimbangi dengan kemampuan finansial. Kesederhanaan hidup, baik dalam makanan, berpakaian, berbelanja, dan kesederhanaan hidup lainnya  merupakan sumber kebahagiaan yang sebenarnya. Kemampuan seseorang untuk hidup sederhana meskipun ia mampu membeli dan memiliki barang mewah merupakan bagian dari kebijaksanaan hidup yang akan mendatangkan ketenangan dan kebahagiaan. 

Seseorang yang bergaya dengan berbagai aksesoris,  pada umumnya karen ia ingin mendapatkan pengakuan dari orang lain sebagai orang berkepribadian luhur  yang memahami selera zaman dan  memiliki kepribadian modern. Padahal,  kepribadian luhur seseorang ditentukan oleh sesuatu yang  datangnya dari dalam dirinya sendiri, bukan ditentukan oleh sesuatu yang datangnya dari luar dirinya.

Francine Jay dalam salah satu karyanya  “The Joy of  Less, a Minimalist Living Guide”, mengatakan, “Kepribadian kita yang sejati  bukanlah dinilai  dari barang (gaya hidup) yang kita miliki,  tapi ditentukan oleh karya,  pikiran, dan siapa yang kita cintai.” 

Sementara itu, Arne Naess, pakar ecoshopy  dalam karyanya “Ecology, Community and Lifestyle” (1989: 88) menyebutkan,  kehidupan yang bermakna adalah kehidupan yang tidak mengutamakan materi, sederhana dalam sarana, namun kaya dalam tujuan (simple in means, but rich in ends). Kehidupan yang akan bahagia bukanlah kehidupan yang selalu mengejar trend gaya hidup, namun kehidupan yang menekankan kualitas kehidupan dan bukannya menekankan standard kehidupan, apalagi standard material.

Ajaran Islam memberi label kehidupan sederhana dengan istilah zuhud. Selain sederhana, zuhud juga berarti memelihara diri dari hal-hal yang haram hukumnya, dan mencukupkan diri dengan apapun yang dimiliki,  tidak memaksakan diri untuk mengikuti  gaya hidup kebanyakan orang, apalagi meminta-minta kepada orang lain untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

“Berlaku zuhudlah kamu dalam urusan dunia, niscaya Allah akan mencintaimu, dan berlaku zuhudlah kamu terhadap apa yang ada di tangan manusia, niscaya mereka akan  mencintaimu.”  (H. R.Ibnu Majah).

Sikap zuhud lebih menekankan kepada kualitas kehidupan bukan menekankan kepada kuantitas aksesoris kehidupan yang dikenakan. Sikap ini  menekankan kepada penampilan dalam segala hal apa adanya, tidak dibuat-buat, tidak dipaksakan agar menarik perhatian orang lain. Sikap zuhud juga berusaha menahan diri agar tidak memaksakan diri mengikuti selera hidup/gaya hidup kebanyakan orang. 

Seseorang yang tampil apa adanya akan lebih nampak tenang dan nyaman dari pada ia tampil dengan gaya dan aksesoris berlebihan dan dibuat-buat agar menarik perhatian orang lain. Sebuah pepatah dalam bahasa Latin mengatakan, “simplex veri sigillum”. Kesederhanaan itu bagian dari kebijaksanaan hidup. Beranikah kita untuk  tampil sederhana dan apa adanya dalam segala aspek kehidupan?

 

Penulis, Pemerhati dan Praktisi Pendidikan Agama Islam. Tinggal di kampung Pasar Tengah Cisurupan Garut Jawa Barat.   

Komentar

Loading...