Belajar Menjadi “Gula”

Belajar Menjadi “Gula”
Ilustrasi.net

BUKAN sekedar pemanis makanan dan minuman saja, kehadiran gula juga menjadi pemanis kehidupan. Jutaan bahkan milyaran orang dapat merasakan manisnya kehidupan karena kehadiran gula. Banyak orang yang superkaya karena melakukan bisnis memproduksi dan menjual produk  olahan yang berbahan gula. 

Kita dapat membayangkan berbagai “pahitnya” kehidupan tanpa kahadiran gula. Namun demikian, dari sekian banyak bahan makanan, gula merupakan makanan yang jarang disebut-sebut kehadirannya dalam olahan dunia makanan, terutama minuman. Ketika gula dicampurkan ke dalam secangkir teh, namanya menjadi teh manis, bukan disebut teh gula. Demikian pula ketika secangkir kopi ditambahkan gula, namanya disebut kopi manis,  bukan  kopi gula. Buah-buahan yang diawetkan memakai gula disebutnya manisan, bukan gulaan.

Nasib gula berbeda dengan sirup. Ditambahkan ke dalam jenis makanan apapun, nama sirup masih dibawa-bawa. Jika segelas es ditambahkan sirup, namanya menjadi es sirup. Kemudian jika ke dalam es sirup ditambah buah-buahan, nanas misalnya, namanya menjadi es sirup nanas. Nama sirup masih dibawa-bawa. Meskipun tak disebut-sebut eksistensinya, gula tak pernah bosan memberikan rasa manisnya terhadap segala jenis makanan dan minuman. Ia rela tak disebut-sebut eksistensinya, yang penting pengorbanannya dirasakan manusia di jagat raya ini.

Sejatinya,  apapun yang kita lakukan dalam menjalani kehidupan ini seperti gula. Ia rela menyembunyikan perannya, namun seluruh manusia dapat merasakannya. Orang-orang baru merasakan ketidakhadirannya, ketika suatui makanan terasa asin, ataun minuman terasa hambar.

Dalam khazanah beramal baik, filosofi eksistensi gula disebut amal yang dirahasiakan, tidak ditampakan di hadapan manusia. Jika seseorang melakukan suatu kebaikan,  kemudiaan merahasiakannya untuk menjaga ria, itu  lebih baik daripada amal yang ditampakkan demi pencitraan. 

Allah mencintai hamba-hamba-Nya yang taat beribadah, kemudian ia menyembunyikan atau merahasiakan perbuatan baiknya. “Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang bertakwa, hamba yang hatinya selalu merasa cukup dan yang suka mengasingkan diri.” (H. R.Muslim).

Mengasingkan diri memiliki makna menyembunyikan segala perbuatan baiknya demi menjaga ketulusan niat lillahi ta’ala agar tidak terpapar sikap ria. Para sahabat yang kemudian diikuti para ulama salaf saleh lebih senang merahasiakan perbuatan baiknya daripada memperlihatkannya di hadapan khalayak.

Zubair bin Al ‘Awwam, salah seorang sahabat Nabi saw mengatakan, “Barangsiapa yang mampu menyembunyikan amal salehnya, maka lakukanlah.” Hal serupa diikuti para ulama generasi tabi’in dan atba’ut tabi’in. 

Ibrahim An Nakho’i mengatakan, “Kami tidak suka menampakkan amal saleh yang seharusnya dirahasiakan atau disembunyikan.”

Sementara itu, Sufyan bin ‘Uyainah mengatakan “Sembunyikanlah amal kebaikanmu sebagaimana engkau menyembunyikan amal kejelekanmu.” Sedangkan al Fudhail bin ‘Iyadh mengatakan, “Sebaik-baik ilmu dan amal adalah sesuatu yang tidak ditampakkan di hadapan manusia.”

Saking pentingnya menyembunyikan amal perbuatan, Imam syafi’i pernah berkata, “Sudah sepatutnya bagi seorang alim memiliki amal rahasia yang tersembunyi, hanya Allah dan dirinya saja yang mengetahuinya. Karena segala sesuatu yang ditampakkan di hadapan manusia akan sedikit sekali manfaatnya di akhirat kelak.”

Namun demikian bukan berarti perbuatan baik yang diperlihatkan di hadapan manusia berpredikat jelek. Semuanya sangat tergantung kepada niat. Jika niatnya tulus, lillahi ta’ala, baik amal baik yang dirahasiakan maupun ditampakkan akan sama nilai baiknya. 

“Jika kalian menampakkan sedekah-sedekahmu, maka itu baik.  Dan jika kamu menyembunyikannya dan memberikannya kepada orang-orang fakir, itu lebih baik bagi kamu. Dan Allah akan menghapus sebagian kesalahan-kesalahanmu. Dan Allah Mahateliti atas apa yang kamu kerjakan.” (QS al- Baqarah : 271).

Namun demikian, ada kalanya menyembunyikan suatu perbuatan baik lebih Allah cintai daripada perbuatan yang ditampkakkan. Diantara golongan yang akan mendapatkan naungan Allah  pada hari kiamat nanti adalah, “Seseorang yang bersedekah kemudian ia menyembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedekahkan tangan kanannya.” (H.R. Bukhari).

Hidup pada masa serba media sosial seperti sekarang ini sangatlah sulit untuk menyembunyikan segala aktivitas yang kita lakukan, baik yang bersifat spiritual maupun sosial. Viralitas yang identik dengan popularitas selalu menjadi target yang ingin dikejar para pemiliki akun media sosial. Meskipun tak dibayar dengan lembaran rupiah, orang-orang yang aktivitasnya menjadi viral dijagat maya merasa bahagia. Tak sedikit yang merasakan dirinya sebagai seorang selebritas.

Melihat kenyataan seperti itu, tidaklah mengherankan jika selfy, mengambil gambar dalam setiap aktivitas menjadi langkah pertama yang dilakukan kebanyakan orang. Ketika waktu buka shaum tiba, ada orang yang sibuk mengambil gambar aneka hidangan bukanya, kemudian ia posting ke media sosial dan dibagikan kepada para followernya, baru kemudian ia makan seraya lupa berdo’a.  Selfy dan mengambil gambar menu hidangan buka menjadi ritual pengganti baca do’a buka shaum dan makan.

Demikian pula, ketika berada di tanah suci, di hadapan ka’bah yang mulia, terkadang ada orang yang sibuk melakukan selfy seraya lupa akan jumlah thawaf yang dilakukannya. Ibadah dengan biaya puluhan juta  rupiah hanya diganti dengan selfy demi popularitas.

Alangkah baiknya jika kita mampu menyembunyikan amal-amal baik kita, laksana gula yang telah disebutkan pada awal tulisan ini. Ia tak pernah menyebut-nyebut amal perbuatannya, namun khalayak merasakan kehadirannya.

Dalam hal beribadah dan beramal baik, kita harus berhati-hati dengan keingingan untuk menjadi viral dan populer, sebab jika hati kita tidak kuat menjaga ketulusan niat, bisa-bisa kita terjerumus kepada perbuatan ria. Sambil memperbaiki ketulusan niat, dalam melakukan suatu perbuatan baik, lebih baik kita mengikuti filosofi gula. 

Ibnul Mubarok mengatakan, “Jadilah orang yang suka mengasingkan diri  (merahasiakan perbuatan baik), dan hindarilah sikap  gila  popularitas.”

 

Penulis, Pemerhati dan Praktisi Pendidikan Agama Islam. Tinggal di Kampung Pasar Tengah Cisurupan Garut Jawa Barat.s

Komentar

Loading...