Belajar Literasi dari Ulama Terdahulu

Belajar Literasi dari Ulama Terdahulu
Ilustrasi.biddle-audenreed

JIKA literasi dipahami sebagai kesadaran terhadap dunia baca-tulis, maka literasi bukanlah sesuatu yang asing bagi umat Islam. Betapa tidak, sejak pertama kali ajaran Islam diwahyukan kepada Rasululullah saw, membaca merupakan perintah pertama yang ia terima. Demikian pula halnya dengan menulis dan berhitung. Dalam al qur’an banyak ayat-ayat yang secara tersurat dan tersirat memerintahkan kepada kita untuk terampil menulis dan membaca.

Surat al Baqarah : 282 yang berisi perintah menuliskan utang-piutang, secara tersirat memerintahkan kita agar memiliki kemampuan menulis. Demikian pula halnya dengan surat an Nisa : 11 tentang pembagian harta warisan secara tersirat memerintahkan kepada kita agar memiliki kemampuan berhitung.

Sementara itu, mempelajari bahasa sebagai penunjang kegiatan menulis, membaca, dan berhitung pun secara tersirat diperintahkan Allah dalam al Qur’an. Isyarat tersebut Allah firmankan dalam surat al Hujurat : 13 tentang beragamnya manusia yang terdiri dari berbagai suku bangsa yang tentu saja dengan beragam bahasa. Keberagaman ini Allah ciptakan tiada lain untuk saling mengenal. Alat untuk saling mengenal antar suku bangsa adalah menguasai bahasa.

Adanya tradisi baca-tulis atau literasi telah mengabadikan teks al Qur’an dan hadits sehingga dapat sampai kepada kita. Demikian pula dalam perjalanan dakwah dan penyebaran ajaran Islam, kegiatan menuliskan  ajaran Islam menjadi sebuah kitab atau buku telah mengabadikan ajaran Islam sehingga dapat kita baca sampai hari ini.

Rasanya ajaran Islam tak akan sampai kepada kita, jika tidak ada kegiatan menulis yang dipelopori para sahabat, tabi’in, dan para ulama. Betapa tidak, jika ajaran Islam itu hanya dihapalkan saja, disampaikan secara lisan, usianya akan sangat terbatas seiring dengan terbatasnya usia manusia. 

Kegiatan membaca dan menulis telah menjadi spirit dakwah Islam yang dilakukan para ulama terdahulu. Mereka banyak melakukan kegiatan dakwah melalui goresan karya tulis daripada kegiatan dakwah secara lisan. Dalam perjalanan sejarah umat Islam, kegiatan membaca dan menulis pun pernah mengantarkan umat Islam kepada puncak kejayaan peradaban dunia.

Masa pemerintahan Dinasti Abbasiyah (750 – 1258 M) merupakan masa-masa keemasan dunia baca-tulis umat Islam. Pada masa tersebut, umat Islam memiliki semangat tinggi untuk menuliskan berbagai ilmu pengetahuan, termasuk penerjemahan berbagai buku pengetahuan yang ditulis ilmuwan Barat.

Kejayaan dunia peradaban Islam terus berlanjut, dunia baca-tulis diperkuat eksistensinya dengan mendirikan berbagai lembaga pendidikan. Pada abad ke-10, kota Baghdad memiliki lebih dari 300 lembaga pendidikan. Dua dari lembaga pendidikan pada masa itu menjadi kiblat peradaban umat, yakni Bait al Hikmah di Baghdad (820 M) dan Dar alIlmi di Kairo (998 M). Sayang sekali, kejayaan peradaban umat tersebut  mulai meredup ketika dunia Islam diguncang Perang Salib.

Meskipun demikian, geliat dunia membaca dan tulis-menulis tidaklah berhenti. Para ulama penerus generasi sebelumnya senantiasa menorehkan karya-karya emasnya untuk mengabadikan dan memuliakan ajaran Islam. Para ulama dengan berbagai kompetensi dan disiplin ilmu berupaya menulis berbagai kajian ilmu keislaman seperti tafsir, hadits, fiqih, filsafat, tasawuf, ilmu tata bahasa Arab, dan berbagai ilmu lainnya.

Terlepas dari kekuarangan yang ada dalam setiap karyanya, sampai saat ini kita masih dapat membaca, mempelajari, mendalami, dan memahami ajaran Islam melalui goresan pena mereka.  Kitab kuning yang populer di kalangan pondok pesantren merupakan goresan tinta emas para ulama. Para ustadz dan ulama yang mumpuni pada saat ini sudah pasti pernah membaca dan  mempelajari ajaran Islam yang bersumber dari karya para ulama generasi terahulu.

Dalam dunia tasawuf misalnya, kita mengenal Imam Ghazali dengan karyanya yang terkenal “Ihya Ulumuddin”. Ulama multidisiplin ilmu yang wafat pada usia 54 tahun ini, mewariskan hampir 500 judul karya tulis. Sementara dalam dunia tafsir, kita mengenal Imam asy Suyuthi dengan karyanya yang paling populer “Tafsir Jalalain” dan “Tafsir Dur al Ma’tsur”.

Seperti halnya Imam Ghazali, Imam al Suyuthi yang bernama lengkap Abu al-Faḍl ‘Abd al Rahman bin Kamaluddin Abu Bakr bin Muhammad Jalaluddin al Khużairi asy-Ṣafi’i merupakan seorang penulis produktif. Sejak usia belia, ia sudah mulai berkarya melalui tulisan. Sampai akhir hayatnya, ia mewariskan hampir 300 kitab lebih karya tulisnya sendiri  (Husnu al Muhadharah fi Tarikh Misri wa al Qaahirah, Juz I, hal. 616). 

Kitab “Tafsir Jalalain”,  kitab tafsir yang ditulis bersama gurunya, Jalaluddin Muhammad bin Ahmad al Mahaly, ia tulis ketika berusia 21 tahun. Gurunya,  Jalaluddin Muhammad bin Ahmad al Mahaly wafat ketika selesai menulis “Tafsir Jalalain”  dari surat al Baqarah sampai surat al Isra. Kemudian penulisan juz II dari surat al Kahfi sampai surat an Naas dilanjutkan  Imam  al Suyuthi dalam tempo  empat puluh hari,  dari awal Ramadhan sampai tanggal 10 Syawal 870 H. 

Tradisi dakwah lewat tulisan diikuti pula oleh para ulama di tatar Nusantara. Imam Nawawi Banten pada bidang fikih, K.H. Hasyim Al ‘Asy’ari dalam bidang fiqih dan tasawuf , Saadudin Jambik dan Zubair Umar al Zailani dalam bidang astronomi/ilmu falak , Tengku Hasbi Ash Shidiqi dalam bidang filsafat dan pemikiran Islam, Buya Hamka dalam bidang sastra, K.H.Quraisy Shihab dalam bidang tafsir dan ilmu tafsir, dan sederet ulama lainnya merupakan para ulama yang produktif berdakwah lewat tulisan daripada berdakwah secara lisan.

Sejak beberapa tahun ke belakang, di negara kita kembali digaungkan gerakan literasi, gerakan budaya menulis dan membaca. Bagi umat Islam, gerakan ini harus dijadikan peluang untuk semakin menyebarkan dan mengabadikan ajaran Islam. Sudah saatnya kita berkaca dan meneladani para ulama terdahulu yang berdakwah melalui kegiatan membaca dan menulis. 

Kita harus berupaya keras mengembalikan kejayaan peradaban Islam, salah satunya melalui dunia literasi, kembali membudayakan kegiatan menulis dan membaca. Secara historis-sosiologis sudah terbukti, kemajuan peradaban suatu bangsa dapat dilihat dari budaya membaca dan menulis. Kejayaan peradaban umat Islam pada masa silam, salah satu faktor pemicunya adalah tingginya minat membaca dan menulis masyarakat pada waktu itu.

Dalam hal karya tulis, Ahmad Syauqi, seorang sastrawan Mesir mengatakan, “Jika Anda meninggalkan warisan harta benda, tidaklah kekal. Tetapi bila Anda mewariskan karya tulis, bukan saja karya tulis Anda yang akan kekal, namun nama Anda pun akan ikut kekal.”  Sementara peribahasa latin mengatakan, “Verba volant, scripta manent”,  yang disampaikan lisan akan sirna, yang digoreskan dalam tulisan akan kekal. 

Menorehkan karya dalam sebuah tulisan terutama dalam bentuk buku atau kitab, selain akan lebih memperkaya khazanah dakwah Islamiyah, juga akan mengabadikan dakwah yang kita sampaikan, ajaran, dan peradaban Islam. Dalam hal ini, layak kita renungkan kata-kata Milan Kundera, seorang novelis asal Republik  Ceko, “Jika Anda ingin menghancurkan peradaban sebuah bangsa, maka hancurkanlah buku-bukunya (matikan budaya menulis), pasti bangsa tersebut akan musnah”.

 

Penulis, Pemerhati dan Praktisi Pendidikan Agama Islam. Tinggal di Kp. Pasar Tengah Cisurupan Garut Jawa Barat.

  
 

Komentar

Loading...