Belajar dari Matahari dan Bulan

Belajar dari Matahari dan Bulan
Ilustrasi.net

KARENA paling banyak dilihat dan dirasakan kehadirannya, matahari dan bulan merupakan benda-benda langit yang paling populer dikenal kebanyakan orang. Bahkan dalam al Qur’an sendiri, matahari dan bulan lebih banyak disebut ketimbang benda-benda lainnya. Secara khusus, Allah telah memberi nama surat khusus untuk kedua benda langit ini, yakni surat ke-54, al Qomar (bulan) dan surat ke-91, asy Syams (matahari).

Dengan kekuasaan Allah, matahari memiliki cahaya yang begitu kuat, bisa memantulkan cahaya yang sangat panas bersuhu jutaan derajat Celcius. Namun cahaya yang sampai ke permukaan bumi hanya beberapa derajat saja, rata-rata 20 – 40 derajat Celcius. Di negara kita, panas matahari terasa sejuk jika dibandingkan dengan negara-negara yang berada di gurun pasir.

Matahari merupakan sosok bintang yang setia, tak pernah berubah,  terbit dari timur dan terbenam di barat. Ia juga tak akan berhenti menyinari bumi selama kehidupan di bumi ini belum berakhir. Pusat tatasurya ini akan berakhir dengan perintah Allah, keluar dari kesetiaannya, terbit dari barat sebagai pertanda datangnya akhir kehidupan yang disebut hari kiamat.

Pusat tatasurya yang konon berumur 4,603 miliar tahun ini, juga sangat adil dalam memberikan cahaya. Siapapun orangnya, makhluk apapun yang ada di muka bumi pasti akan disinarinya secara proporsional. Bintang raja siang ini tak mengenal suku, ras, dan agama dalam membagi cahayanya. Semua makhluk Allah merasakan akan kehadiran dan kehangatannya.

Kehadiran dan kepergiannya selalu diburu dan dikenang orang. Kehadiran atau terbitnya selalu membawa keindahan, demikian pula dengan “kepergiannya”, terbenam di ufuk barat juga selalu melahirkan keindahan. Banyak wisatawan yang mendaki gunung atau berwisata di pantai hanya untuk berburu dan mengabadikan keindahan terbit dan terbenamnya matahari.

Sama halnya seperti matahari,  bulan juga merupakan benda langit yang setia. Langit malam yang gelap nampak indah dengan kehadirannya yang nampak bersinar elok. Ribuan puisi dan peribahasa lahir sebagai tamsil yang diambil dari keindahan bulan, terutama bulan purnama.

Menurut para pakar, sebenarnya bulan itu tak memiliki cahaya. Sinar yang nampak bercahaya dari bulan diperoleh dari pantulan sinar matahari. Dengan kata lain, bulan merupakan cermin matahari. Masih menurut para pakar, permukaan bulan berwarna  abu-abu gelap.

Karena warna kegelapannya, bulan hanya mampu mencerminkan 12% cahaya matahari.

Seperti halnya matahari yang dapat dipakai pedoman menentukan waktu, baik  jam maupun penanggalan, bulan pun dapat dipakai pedoman menentukan waktu, terutama penanggalan. Dalam hitungan tahun, kita mengenal tahun syamsiyah (tahun Masehi) yang perhitungannya berdasarkan perputaran matahari, dan tahun qamariyah (tahun Hijriyah) yang perhitungannya berdasaran perputaran bulan.

Penentuan waktu ibadah dalam ajaran Islam dihitung berdasarkan peredaran kedua benda langit ini. Waktu pelaksanaan ibadah shalat, terutama shalat wajib, yang kemudian kita konversikan menjadi jadwal shalat dihitung berdasarkan peredaran matahari. Hal ini berdasarkan  contoh dari Rasulullah saw yang senantiasa menentukan waktu shalat berdasarkan peredaran matahari. Batas pelaksanaan ibadah puasa pun ditentukan peredaran matahari. Waktu ibadah puasa kita dimulai dari terbit fajar sampai terbenam matahari.

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr r.a, Nabi saw bersabda, “Waktu Zhuhur dimulai sejak matahari sudah tergelincir sampai bayang-bayang seseorang sama dengan tingginya selama belum masuk waktu Ashar. Waktu shalat Ashar selama matahari cahayanya belum menguning. Waktu shalat Maghrib selama syafaq (cahaya merah) belum hilang. Waktu shalat Isya’ hingga pertengahan malam dan waktu shalat Shubuh dimulai dari terbitnya fajar sampai terbitnya matahari.” (HR. Muslim) 

Demikian pula halnya dengan bulan. Kehadirannya menjadi waktu pelaksanaan beberapa ibadah yang kita laksanakan. Rukyatul Hilal (mengamati datangnya bulan baru) merupakan kata yang populer kita dengar terutama menjelang pelaksanakan ibadah puasa Ramadhan dan datangnya Idul Fitri. Syahrul Bidh (bulan nampak berwarna putih) yakni tanggal 13, 14, dan 15 dari bulan hijriyah merupakan waktu pelaksanaan puasa sunat berturut-turut yang dicontohkan Rasulullah saw.

Berbeda dengan matahari, bulan memiliki beberapa fase kuartil atau bagian penampakannya, diantaranya fase kuartil awal dan fase kuartil akhir, dan bulan purnama. Pada fase kuartil awal dan fase kuartil akhir bulan hanya nampak setengah disinari matahari, terangnya hanya 8% jika dibandingkan bulan purnama. Sedangkan, Pada fase bulan purnama bulan berada di seberang matahari pada langit bumi sehingga bulan mampu memantulkan cahaya matahari secara penuh sehingga langit malam menjadi terang. Gerhana bulan pun hanya dapat terjadi pada saat bulan purnama. Gerhana bulan total terjadi jika matahari, bumi, dan bulan berada dalam satu garis lurus.

Ada beberapa ibrah atau pelajaran yang dapat kita ambil dari dua benda langit tersebut yang dapat kita implementasikan dalam kehidupan. Kita harus mampu berlaku setia, taat akan semua aturan seperti matahari yang setia kepada waktu terbit dan terbenamnya. Ia pun taat akan aturan, tak pernah keluar dari jalur garis edarnya. Awal dan kehidupan kita pun harus seperti matahari, yang terbit dan terbenamnya meninggalkan kesan keindahan. Ketika kita meninggal, sudah seharusnya kita mampu  meninggalkan kebaikan dan keindahan yang bermanfaat bagi semua orang.

Kita pun harus meneladani karakter bulan. Ia tak memiliki cahaya, namun ia mampu memperoleh cahaya sempurna ketika posisinya berseberangan dengan matahari. Kita harus mendapatkan kebaikan jika kita berseberangan dengan orang lain. Kita harus mendapatkan pantulan cahaya kebaikan dari orang-orang yang ada di sekitar kita,  mendapatkan pantulan cahaya dari orang-orang berilmu. Kita pun harus mendapatkan pantulan motivasi berjuang, berusaha, dan kedermawanan orang-orang kaya,  dan kita pun harus mendapatkan pantulan kesabaran dari orang-orang yang hidupnya dalam kubangan kemiskinan di sekitar kita.

Ibrah lainnya, kita harus mengakui adanya perbedaan dalam segala aspek kehidupan. Segala perbedaan yang terjadi dalam kehidupan harus menjadikan diri kita mendapatkan ilmu dan pencerahan yang dapat  mengikat persatuan dan memperkokoh kekuatan yang kita miliki. Perbedaan yang Allah ciptakan diantara mahkhluk-Nya bukan untuk saling menjatuhkan, tapi untuk saling membantu, saling menguatkan, menjadi perekat dalam kehidupan antar sesama (Q. S. az Zukhruf : 32). 

Jika kita ngotot, egois, masing-masing merasa benar sendiri ketika terjadi perbedaan, bersitegang, saling ancam, dan berhadap-hadapan  tanpa  ada yang mau mengalah, maka yang akan terjadi adalah “gerhana’ kehidupan. Gelapnya kehidupan yang menimbulkan perpecahan, seperti gelapnya langit karena gerhana bulan total yang seharusnya terang pada  malam bulan purnama. ***

 

Penulis, Pemerhati dan Praktisi Pendidikan Islam. Tinggal di Kp.Pasar Tengah Cisurupan Garut Jawa Barat.

Komentar

Loading...