Belajar dari Keluarga Nabi Ibrahim A.S

Belajar dari Keluarga Nabi Ibrahim A.S
Ilustrasi

KETIKA Siti Hajar ditempatkan di lembah tak berpenghuni, kering, dan tak ada tumbuhan sama sekali, ia begitu yakin. Jika penempatan dirinya merupakan perintah Allah swt melalui suaminya tercinta, Nabi Ibrahim as, Allah takkan membiarkannya tersiksa dalam berbagai kesulitan dan rintangan hidup selama berada di lembah tak berpenghuni tersebut.

Demikian pula halnya tatkala Nabi Ibrahim as diperintah untuk menyembelih anaknya, Ismail. Keduanya begitu yakin, perintah Allah swt tak akan mencelakakan hamba-Nya. Keduanya begitu ikhlas melaksanakan kannya. Sampai-sampai iblis tak mampu lagi menggoda mereka. “Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ia berkata: ‘Hai anakku! Sesungguhnya aku melihat  dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu?’ Ia menjawab: ‘Hai Bapakku! Kerjakanlah apa yang diperintahkan Allah kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar." (Q. S. 37 : 102). 

Nabi Ibrahim, Ismail, dan Siti Hajar begitu yakin akan perintah Allah swt. Ia Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Ia takkan membebani hamba-Nya melebihi kadar kemampuannya. Keteguhan hati mereka yang sarat dengan keimanan mampu melaksanakan segala perintah Allah swt yang begitu berat menurut ukuran naluri manusia.

Lalu bagaimana dengan kita? Iman telah kita ikrarkan. Syahadat pun telah kita ucapkan. Bagaimana dengan pelaksanaannya? Sudahkah hati kita seteguh dan seyakin Nabi Ibrahim, Siti Hajar, dan Nabi Ismail?

Memang, terlalu tinggi untuk mengikuti keteguhan hati mereka. Tapi bagaimana dengan keyakinan kita tatkala melaksanakan ibadah? Sudah yakinkah bahwa Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang? Yakinkah bahwa Allah takkan membebani hamba-Nya melebihi kemampuannya? Yakinkah bahwa hasil ibadah yang kita laksanakan itu untuk kita, bukan untuk Allah swt?

Di hati kita masih sering terdampar perasaan terpaksa, sering terdapat perasaan bahwa perintah Allah memberatkan, menyiksa diri. Juga masih terdampar perasaan seakan-akan ibadah kita hanya untuk Allah semata. Kita sering melaksanakan ibadah shalat alakadarnya, tergesa-gesa. Dzikir, tobat, dan munajat hanya dilakukan kalau sedang ditimpa susah saja.

Demikian pula dengan sedekah yang kita berikan. Kita lebih sering memberikan sedekah dari sesuatu yang sudah tidak kita senangi. Uang recehan, makanan basi, atau pakaian bekas yang sudah tidak layak pakai. Inikah keteguhan hati dan keyakinan kita akan kasih sayang Allah swt?

Yakinkanlah! Setiap yang Allah perintahkan,  pada hakikatnya untuk keselamatan kita di dunia dan akhirat. Allah tak membutuhkan ibadah kita. Takkan menambah kemuliaan-Nya ibadah semua makhluk. Juga takkan mengurangi keagungan dan kemuliaan-Nya semua kemaksiatan makhluk.

Syekh Ibnu ath-Thaillah berkata, “Tidak berguna bagi Allah taatmu. Tidak mudarat bagi Allah maksiatmu. Sesungguhnya Allah menyuruh kamu berbuat taat dan melarang kamu dari maksiat adalah untuk kepentinganmu sendiri. Tidak menambah kemuliaan Allah taatnya semua makhluk, juga tidak mengurangi kemuliaan Allah maksiatnya semua makhluk kepada-Nya.”

Ketaatan kita kepada Allah akan membuahkan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Disamping itu, ketaatan kita kepada-Nya akan melahirkan kita sebagai hamba-Nya yang senantiasa dirindui dan dikasihi-Nya. Allah akan selalu dekat kepada kita. Malahan lebih dekat daripada urat yang ada pada tenggorokan kita.

Lebih dari itu, keyakinan, keteguhan hati, keikhlasan, dan ketaatan dalam melaksanakan ibadah, merupakan kunci terbukanya pertolongan Allah. Jeritan kita akan senantiasa dirindukan-Nya. Tangisan kita, tetesan air mata, tatkala bermunajat akan sangat berharga di hadapan-Nya. Sehingga, tatkala berdo’a, Ia mengabulkannya. Tatkala bertaubat, Ia menerimanya. Ketika  berdzikir dan bermunajat, Ia umumkan kepada seluruh Malaikat-Nya. Pokoknya, kemuliaan hidup di dunia dan akhirat Allah berikan.

“Tiada suatu kaum yang duduk dalam majelis dzikir kepada Allah, kecuali dikelilingi Malaikat dan diliputi rahmat Allah. Diturunkan kepada mereka ketenangan, ketentraman, dan Allah selalu menyebut-nyebut mereka di hadapan para Malaikat-Nya.” (H. R. Muslim).

Teguhkanlah hati kita untuk senantiasa melaksanakan segala perintah-Nya dalam keadaan apa pun. Yakinkanlah pula, Allah sangat memperhatikan kita. Ia Maha Pengasih dan Maha Penyayang.


Penulis, Pemerhati dan Praktisi Pendidikan Agama Islam, Penikmat buku-buku Filsafat dan buku-buku Tasawuf, tinggal di Cisurupan Garut Jawa Barat.

Komentar

Loading...