Belajar dari Kebohongan

Belajar dari Kebohongan
Ilustrasi.Net

MICHAEL P. Lynch (2004 : 147) dalam  karyanya “True to Life: Why Truth Matters” menyebutkan,  banyak ragam alasan yang melatari seseorang berani berbuat bohong. Seseorang berani berbohong demi menjaga keamanan dirinya; agar dianggap dirinya lebih baik daripada orang lain; mengalihkan perhatian terhadap suatu masalah; untuk merahasiakan kelakuan buruk atau keadaan yang sebenarnya. Ada pula kebohongan yang dilakukan seseorang karena kesenangan. Ia merasa senang kalau sudah membohongi khalayak atau lawan bicaranya.

Setiap waktu selalu saja terjadi beragam kebohongan dalam kehidupan, layaknya nafas yang senantiasa mengiringi kehidupan. Selama manusia hidup, selama itu pula kebohongan akan menyertainya.

Anak-anak Nabi Ya’kub berbohong kepada ayahnya setelah membuang saudaranya sendiri, Yusuf , ke dalam sumur.  Ia merekayasa kejadian yang sebenarnya.  Kepada ayahnya, mereka mengatakan, kemungkinan besar Yusuf diterkam serigala, ketika ia ditinggalkan bermain  sendirian di pengembalaan kambing, dan mayatnya tak diketemukan. Untuk meyakinkan ayahnya, mereka membawa baju Yusuf  yang telah direkayasa nampak berlumuran darah (Q. S. Yusuf : 17-18).

Meskipun Nabi Ya’kub a.s kurang yakin akan kebenaran informasi tersebut, untuk sementara ia memercayainya sambil berharap kelak informasi yang sebenarnya akan terungkap. Benar sekali, setelah Yusuf  a.s. diangkat menjadi seorang nabi dan raja, kebohongan anak-anak  Nabi Ya’kub a.s. terungkap.

Demikian pula dengan istri raja yang berbohong kepada suaminya, bahwa Yusuf telah menggodanya untuk melakukan perbuatan tidak senonoh. Ia merekayasa perbuatan yang sebenarnya, seolah-olah Yusuf yang akan berbuat tidak senonoh kepadanya, padahal yang sebenarnya adalah sebaliknya. Ia menyandra Yusuf di sebuah ruangan dan mengajak Yusuf untuk melakukan perbuatan tidak senonoh, namun Yusuf  dengan keras menolaknya. Akhirnya kebohongan sang istri raja tersebut terbongkar (Q. S. Yusuf : 22 – 29).

Demikian pula dengan kebohongan yang disebarkan kaum munafik terhadap istri Rasulullah saw, Siti Aisyah r.a. Mereka menuding istri Rasulullah saw yang mulia tersebut berbuat selingkuh (Q. S. An-Nuur : 11). Namun akhirnya,  berita tersebut terbongkar kebohongannya.

Kebohongan datang silih berganti hadir di negeri kita. Para pejabat yang menjadi koruptor,  tak mungkin bisa melakukannya tanpa disertai perbuatan bohong. Sudah pasti, secara sembunyi-sembunyi mereka merekayasa data, fakta, dan anggaran biaya agar bisa dicuri. Tanpa kebohongan, tak mungkin mereka bisa melakukan tindak pidana korupsi.

Mungkin kita juga masih ingat dengan kasus kebohongan yang dilakukan seorang aktifis, Ratna Sarumpaet sekitar tahun 2018. Tanpa pernah mempertimbangkan akibatnya, di depan Prabowo,  Amin Rais, dan tokoh-tokoh elit lainnya, ia menuturkan telah terjadi pengeroyokan atas dirinya. Menurut pengakuannya, ketika berada di Bandung  ia dikeroyok sekelompok orang tak dikenal.

Pengakuan sang aktifis tersebut membuat negeri ini berguncang hebat. Terlebih-lebih pada waktu itu suhu politik menjelang pemilihan presiden sedang menaik panas. Komentar pro dan kontra lengkap dengan bumbu politis  pun bermunculan. Tak sedikit kaum elit, tokoh politik  pun ikut berkomentar pedas. Namun, akhirnya polisi menemukan fakta lain, ujaran sang aktifis tersebut bohong  besar.

Kisah kebohongan seperti yang dilakukan sang aktifis, kini terulang kembali.  Prada MI, anggota TNI Angkatan Darat berulah. Ia mendapat luka di tubuhnya setelah sepeda motor yang dikendarainya  mengalami kecelakaan tunggal di bilangan sekitar Polsek Ciracas Jakarta Timur.  Namun kepada rekan-rekannya, ia mengaku luka  yang dideritanya tersebut bukan akibat kecelakaan, tapi akibat dikeroyok sekelompok orang.

Meskipun keliru, penuturan korban  membangkitkan jiwa korsa, senasib sepenanggungan terhadap rekannya tersebut. Mereka melakukan pembalasan.  Entah siapa yang memberikan komando, yang jelas seperti yang diberitakan berbagai media massa, Polsek Ciracas Jakarta Timur diserang sekelompok orang tak dikenal pada dini hari, Jumat, 28 Agustus 2020.

Penyelidikan segera dilakukan. Kedua institusi, TNI dan Polri menemukan fakta bahwa penyerangan tersebut dilakukan lantaran  pengakuan bohong yang disampaikan Prada MI kepada rekan-rekannya. Mereka yang ikut melakukan aksi tersebut akhirnya merasa tertipu atas ulah kebohongan rekannya tersebut. Sayang sekali, semuanya sudah terlajur terjadi dan mereka sudah melakukannya tanpa pertimbangan matang.

Kembali kepada analisa Michael pada awal tulisan ini, banyak kebohongan yang dilakukan demi  menjaga keamanan diri dan menarik simpati dari orang lain. Kemungkinan besar, baik yang dilakukan Ratna Sarumpaet maupun Prada MI adalah untuk menjaga keamanan diri dan menarik simpati dari orang lain. Namun demikian,  akan sangat parah akibatnya, jika kebohongan tersebut dilakukan para ponggawa negeri ini karena kesenangan untuk memperlihatkan kekuatan fisik dan massa.

Apapun jenisnya, kebohongan selalu melahirkan kekacauan, dan berbagai kejelekan lainnya. Suatu kebohongan akan ditutupi dengan kebohongan lainnya. Dalam tingkatan tertentu, kebohongan bisa mengacaukan sendi-sendi kehidupan, sosial, budaya, bahkan politik.

Beribu-ribu tahun yang lalu, Rasulullah saw mewanti-wanti agar kita menjauhi setiap tindak kebohongan  bahkan jika memungkinkan kebohongan sekedar untuk bercanda pun harus dijauhi. Kita harus mempertimbangkan akibat dari kebohongan yang kita lakukan. Tak ada kebaikan apapun yang diperoleh dari kebohongan selain kekacauan.

“Berhati-hatilah kalian terhadap kebohongan. Sesungguhnya kebohongan itu akan menimbulkan kekejian. Dan kekejian akan mengantarkan  para pelakunya  ke dalam neraka” (H. R. Bukhari – Muslim).

Dua kata kunci akibat dari kebohongan adalah kekejian dan azab neraka. Peristiwa aktual penyerangan Polsek Ciracas Jakarta Timur  merupakan bukti nyata kekejian akibat dari ulah kebohongan.  Metafor neraka,  dalam arti sanksi hukum berat di dunia, kebohongannya akan dikenang,  dan dicibir  orang selama hidup di dunia, tengah menanti mereka. Mudah-mudahan mereka bisa bertaubat, sehingga kelak tak masuk ke dalam neraka yang siksaannya abadi.

Memperhatikan akibat keji dari ulah kebohongan selayaknya kita dapat menghindari melakukannya. Kita selayaknya mengambil pelajaran akibat keji dari setiap  kebohongan yang dilakukan seseorang atau kelompok di sekitar kita. ***

 

Penulis, Pemerhati dan Pengamat Pendidikan Agama Islam. Tinggal di Kp. Pasar Tengah Cisurupan Garut Jawa Barat.

Komentar

Loading...