Belajar Dari Jejak Digital

Belajar Dari Jejak Digital
ilustrasi. Phintraco

DUNIA  serba digital. Itulah kenyataan yang tak bisa kita hindari pada saat ini,  terlebih-lebih sejak pandemi Covid-19, hampir semua lini kehidupan melakukan digitalisasi. Kini semua kalangan terpaksa ataupun tidak harus menyesuaikan diri dengan dunia teknologi digital. 

Sebagai bagian dari kehidupan manusia modern, teknologi digital telah memberikan kemudahan dalam memenuhi berbagai kebutuhan manusia. Dunia yang luas ini, kini bisa dijelajahi hanya dengan memainkan ibu jari di atas layar smartphone. Dalam dunia belanja, barang-barang yang ada di mall mewah yang dahulu hanya milik orang-orang kota, kini bisa dimiliki orang kampung di pelosok gunung sekalipun. Kehadiran belanja online telah memudahkan orang-orang untuk memiliki barang apapun.

Demikian pula dengan dunia informasi. Kini kebanyakan orang tidak perlu lagi membuka dan membaca lembaran-lembaran koran, bahkan tidak perlu menonton televisi, tinggal klik website berita atau chanel youtube, beritapun sudah didapat. 

Para pencari dan penyaji berita yang dahulu benar-benar dikuasai para wartawan dan reporter yang memiliki lisensi dan kompetensi kejurnalistikan, kini semua orang bisa menjadi wartawan dan reporter dadakan. Demikian pula halnya dengan juru kamera dan reporter untuk menyajikan berita dalam bentuk video, dengan kehadiran smartphohe, kini semua orang dapat melakukannya.

Dalam masalah agama pun tak jauh berbeda. Kini banyak lahir “pakar” masalah-masalah agama lulusan “Pondok Pesantren Klik Google”. Jutaan permasalahan agama yang menyangkut ibadah dan kehidupan sudah banyak  tersedia. Ketika akan berceramah atau ada pertanyaan yang memerlukan jawaban mendadak tinggal klik saja. Hanya dalam hitungan menit ratusan masalah akan muncul di layar komputer atau smartphone.

Sisi positif dan negatif mengiringi perkembangan dunia digital. Berbagai kemudahan dalam melakukan berbagai aktifitas merupakan sisi positif dari lahirnya dunia digital.  Bertambahnya wawasan pengetahuan kognitif merupakan sisi positif lainnya yang diperoleh dari kemajuan teknologi digital ini. Namun demikian, kita harus arif dalam menggunakan segala fasilitas yang ada di dunia digital ini. Jika tidak, kita akan terjebak ke dalam sisi negatifnya.

Beberapa sisi negatif dari dunia digital ini, terutama dalam aplikasi media sosial,  kebanyakan orang sering berpikir dangkal dan tergesa-gesa dalam menanggapi suatu permasalahan, terlebih-lebih jika masalah yang dipostingnya merupakan masalah yang viral. Tanpa berpikir panjang dan memperhatikan dampaknya, kebanyakan orang memberikan komentar seenaknya. Mereka baru menyadari akan komentarnya setelah postingan komentarnya menjadi masalah besar dan melanggar hukum.

Demikian pula halnya dalam mengambil pengetahuan, baik pengetahuan umum maupun agama, banyak orang yang tidak mau lagi mengkajinya secara mendalam. Asal suatu masalah sedang viral dan ramai dibicarakan,  banyak orang yang latah ikut berkomentar dan berselancar di google dan  berlomba-lomba mencari permasalahan yang lagi trend tersebut. Setelah mendapatkan materi yang menarik dengan segera mereka mempostingnya dengan harapan banyak yang mengklik “like”. Jika klik “like”-nya banyak, mereka merasa bangga dan seolah-olah telah menjadi seorang pakar dalam masalah yang tengah ramai dibicarakan tersebut.

Pada awal-awal pandemi Covid-19 begitu banyak orang yang memposting tentang teori konspirasi. Mereka seolah-olah menjadi pakar teori tersebut. Namun ketika ditanya tentang hakikat dari teori tersebut,  banyak orang yang kelabakan dalam menjawabnya. Wajar saja demikian, sebab pengetahuan yang diperolehnya bukan hasil dari kajian, namun hasil klik dari sana-sini.

Masih mendingan sebatas “sok tahu” seperti itu, yang paling parah tatkala memposting hal-hal yang bersifat fitnah, hinaan, cercaan, maupun sikap jelek lainnya yang ditujukan kepada seseorang, organisasi maupun lembaga tertentu. Padahal perbuatan seperti ini akan menjadi bumerang alias melukai diri sendiri.  Terlepas dari kontroversi undang-undang yang dapat dipakai untuk menjerat orang-orang yang melakukan hinaan via dunia digital, sudah banyak orang yang terjerat hukum dan dijatuhi hukuman akibat perbuatan jeleknya di dunia digital.

Banyak orang yang tak menyadari, selain dunia digital dapat dibaca banyak orang, dunia digital pun menyimpan jejak-jejak perilaku kita. Tulisan, gambar, maupun situs yang pernah kita kunjungi, baik dan buruk jejak kita tersimpan rapih di dunia maya. Jika suatu saat dipanggil lagi, jejak-jejak kita kita di dunia digital akan terbuka kembali. Menghapus di layar komputer atau layar smartphone tidak sepenuhnya menghilangkan jejak kita di dunia digital. 

Jika kita merenung sejenak, dunia digital yang terus berkembang dari waktu ke waktu sebenarnya merupakan gambaran kehidupan kita. Apapun yang kita lakukan selama hidup di dunia ini terekam dengan jelas dalam catatan amal kita. Malaikat Roqib dan Malaikat Atid dengan telaten mencatat segala ucapan dan perbuatan kita.

Tak sebatas malaikat, alam di sekitar kita pun ikut merekam jejak-jejak kita. Ketika kita berbuat baik ataupun buruk, alam di sekitar kita akan mencatatnya dan kelak akan bersaksi di hadapan-Nya. Intinya,  segala hal yang kita perbuat selama hidup di dunia ini tidak ada yang hilang begitu saja, namun terekam dengan jelas dan tak terhapus.

Bukan alam saja, Deoxyribonucleic Acid atau yang lebih populer dengan sebutan DNA serta gen lainnya yang ada pada tubuh kita menjadi perekam utama segala ucapan dan jejak langkah kita. Boleh saja kita merasa aman melakukan perbuatan jelek apapun karena merasa tak ada yang menyaksikan, namun jangan lupa DNA dan gen lainnya merekammnya. Kelak, akan menjadi saksi atas segala perbuatan kita.

Tangan, kaki, kulit, dan anggota tubuh lainnya, kelak akan menjadi saksi atas segala perbuatan kita di hadapan Allah. Jika mereka yang bersaksi, kita tak akan bisa mengelak atau mengingkari perbuatan kita, karena semuanya melekat pada tubuh kita ketika hidup di dunia ini.

“Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka lakukan” (Q. S. Yasin : 65)

“Dan mereka berkata kepada kulit mereka: ‘Mengapa kamu menjadi saksi terhadap kami?’ Kulit mereka menjawab: ‘Allah yang menjadikan segala sesuatu pandai berkata, dan telah menjadikan kami pandai (pula) berkata, dan Dialah yang menciptakan kamu pada kali pertama dan hanya kepada-Nya lah kamu dikembalikan.’ “ (Q. S. Fushilat : 21).

Selayaknya kita berhati-hati dalam mengarungi kehidupan ini. Kemajuan teknologi digital yang menghiasi kehidupan kita jangan mengantarkan diri kita kepada kenistaan hidup, menjauhi dan melanggar segala ketentuan-Nya. Sebaliknya, kemajuan teknologi digital harus menjadi bagian dari cara kita mendekatkan diri kepada-Nya, menafakuri bagian dari keluasan ilmu yang Allah berikan kepada para hamba-Nya.

Kehidupan yang kita jalani alam raya ini laksana kita berselancar di dunia digital. Apapun yang kita “upload”, “posting” dapat dibaca semua orang dan meninggalkan jejeka digital yang terekam jelas dan dapat diputar ulang. Demikian pula halnya dalam kehidupan kita, apapun yang kita  “upload”, “posting”  selama hidup di dunia ini akan disaksikan semua makhluk Allah dan terekam dengan jelas didalam diri kita dan di  alam raya ini. Kelak, suatu saat, apa yang kita “upload”, “posting” dalam kehidupan ini akan Allah perlihatkan kepada kita, seraya kita tak bisa mengelaknya. Untuk itu, bersikap berhati-hati,  waspada, dan selalu merasa diawasi-Nya merupakan langkah bijak dalam mengarungi kehidupan ini.

 

Penulis, Pemerhati dan Praktisi Pendidikan Agama Islam. Tinggal di Kampung Pasar Tengah Cisurupan Garut Jawa Barat.

Komentar

Loading...