Belajar dari Denis Diderot

Belajar dari Denis Diderot
Denis Diderot

PADA umumnya kehidupan seorang filosof  itu sederhana, bahkan sangat sederhana. Rata-rata mereka tak memiliki kekayaan yang berlimpah. Hasil pemikiran yang dituangkan dalam rangkaian kata dan menjadi sebuah buku atau kitab merupakan  kekayaan utama para filosof.

Aristoteles, Socrates, Ibnu Khaldun, Ibnu Rusyd, Imam Ghazali, Jalaluddin Rumi, dan yang lainnya, tidak banyak meninggalkan harta kekayaan selain karya mereka yang diabadikan dalam buku dan kitab yang masih bisa kita baca sampai hari ini. Namun demikian, ada pula filosof yang keluar dari kebiasaan tersebut, hidup mewah, kemudian berakhir tragis dengan penyesalan.  Salah satunya adalah Denis Diderot. 

Denis Diderot merupakan salah seorang  filosof asal Perancis yang hidup pada abad ke-18, tepatnya ia lahir pada tanggal 5 Okober 1713 dan meninggal 31 Juli 1784, pada usia 70 tahun. Sebagai seorang filsosof ia banyak menuangkan pikirannya dalam berbagai bidang kehidupan sosial, politik, ekonomi,  dan spiritual. Beberapa hasil pemikirannya ia tuangkan dalam beberapa buku. 

Ia tak memiliki banyak waktu untuk berbisnis seperti orang lain. Meskipun penghasilannya tidak begitu besar, untuk menopang kehidupannya, ia menjadi seorang penulis dan editor. Ia sangat senang menekuni pekerjaannya, terlebih-lebih ia memiliki hobi membaca. Ribuan buku pun ia kumpulkan sampai menjadi koleksi perpustakaan pribadi. Itulah kekayaan terbesar yang dimilikinya. Ia rela hidup sederhana dan serba kekurangan  di tengah-tengah kepopulerannya sebagai seorang tokoh intelektual pada waktu itu.

Singkat cerita, pada tahun 1763, seorang Ratu Rusia yang bergelar “Catherine The Great” mendengar kabar perpustakaan yang dimiliki Denis Diderot. Ia tertarik dengan koleksi buku-bukunya. Sang Ratu membujuknya  agar sang Filosof mau menjual koleksi buku-bukunya. Ia pun sanggup membayar semua koleksi buku-buku tersebut  dengan harga yang sangat fantastis.

Mendengar harga yang sangat menggiurkan, sang Filosof yang hidup super sederhana tersebut  rela melepaskan seluruh koleksi buku-bukunya. Ia pun menjadi orang kaya baru dari penjualan koleksi buku-buku perpustakaannya. Saku baju yang dahulunya selalu “rata”, kini penuh sesak dengan lembaran uang. Gaya hidupnya pun mulai berubah.  Ia ingin menonjolkan diri sebagai orang yang berkecukupan.

Pakaian dan perlengkapan rumahnya pun mulai berubah. Pakaiannya tidak sederhana lagi. Ia mulai membidik pakaian-pakaian mewah ala bangsawan. Setelah ia memiliki dan memakai pakaian ala bangsawan, ia pun mulai berpikir untuk merubah perlengkapan rumahnya. Ia merasakan keadaan perkakas rumahnya tidak sesuai dengan penampilan pakaian yang ia kenakan. Kemudian berbagai perkakas rumahnya pun diganti dengan perkakas baru yang harganya lebih mahal dan sesuai dengan perkakas yang lagi trend pada waktu itu.  

Uang yang ia dapat dari melego koleksi buku-buku perpustakaannya ia habiskan untuk memenuhi keinginan gaya hidupnya. Setelah semua keinginannya terpenuhi, dan hidup mewah, tak sepeser uang pun yang tersisa di sakunya. Ia mulai bingung dengan biaya untuk memenuhi kebutuhan hidup lainnya. Akhirnya, ia menjual kembali barang-barang yang dimilikinya sampai habis, dan ia kembali hidup serba kekurangan, bahkan ia kehilangan kekayaan yang menyenangkan hatinya, yakni koleksi buku-buku perpustakaan yang ia kumpulkan bertahun-tahun.     

Perilaku yang menimpa Denis Diderot tersebut, kini terkenal dengan istilah konsumtif, bersikap boros. Sikap ini lebih mementingkan pemenuhan keinginan daripada kebutuhan. Lebih mementingkan gaya hidup sejajar dengan orang lain dan dilabeli orang yang selalu mengikuti trend gaya hidup. Terkena sindrom shopaholic, keranjingan berbelanja atau membeli barang-barang yang sebenarnya tidak begitu dibutuhkan.

Tertarik dengan kasus yang menimpa sang  Filosof  Perancis tersebut, pada tahun 1988, Grant McCracken, seorang Antropolog dari Universitas Chicago melakukan penelitian terhadap perilaku konsumen dalam berbelanja. Dari hasil penelitiannya, rata-rata konsumen yang membeli suatu barang, bukanlah untuk memenuhi kebutuhan yang mendesak, namun demi memenuhi keinginan, demi gaya hidup, demi gengsi, dan adanya pengakuan dari orang lain. Antropolog ini mengistilahkan perilaku konsumen yang hobi berbelanja demi memenuhi keinginan ini dengan sebutan terkena “Diderot Effect”, efek Diderot.

Diakui atau tidak, perilaku yang menimpa Denis Diderot yang kemudian melahirkan istilah “Diderot Effect” bisa jadi hari ini sedang menimpa diri kita. Mari kita merenung sejenak, berapa banyak barang-barang yang kita beli, kemudian kita simpan begitu saja. Kita sering hanya merasa bangga dan bahagia dapat membeli barang yang kita miliki, dan jarang menggunakan barang tersebut karena memang tidak begitu dibutuhkan. Mungkin setiap hari  jempol kita terasa “gatal” untuk segera mengklik dan memesan barang yang kita inginkan dari toko online yang kita buka, meskipun barang tersebut tak begitu kita butuhkan. 

Kita pun sering terkena efek lanjutan setelah membeli barang yang kita inginkan. Misalnya kita membeli sebuah handphone dengan model baru yang lagi trend. Setelah handphone tersebut kita miliki, efek selanjutnya kita pun terdorong untuk  membeli berbagai aksesorisnya yang sebenarnya tidak begitu menunjang terhadap fungsi utamanya. Demikian pula terhadap barang-barang lainnya yang kita beli. 

Secara tersirat, Rasulullah saw telah mengajarkan agar kita mampu mengendalikan diri dalam memenuhi keinginan. Dalam hal makan misalnya, Rasulullah saw memberi contoh, ia selalu berhenti makan sebelum kenyang. Ia pun mengajarkan agar kita mengkonsumsi makanan seperlunya, sesuai dengan kebutuhan utama, yakni sekedar menghilangkan rasa lapar. Dalam hadits lain dikatakan, rongga perut kita harus benar-benar diatur, sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk kebutuhan minum, dan sepertiga lagi untuk rongga udara.

Perilaku yang dicontohkan Rasulullah saw tersebut mengisyaratkan agar kita tidak berlebihan dalam memenuhi keinginan. Bukan hanya dalam hal makanan, tapi dalam segala hal. Jika tidak kita kendalikan, siapapun orangnya akan selalu berhasrat memenuhi keinginannya dan mengenyampingkan kebutuhan yang sebenarnya, mengenyampingkan  azas manfaat,  bahkan mengenyampingkan kemampuan finansial.Sementara itu, mengendalikan diri dari sikap boros, menghindari perilaku memubazirkan harta, dan bersikap hemat, selain dicintai Allah, dijauhkan dari perbuatan syetan, juga merupakan salah satu sifat yang dilakukan para nabi. 

Jika dituruti,  hasrat yang ada pada jiwa kita akan terus mendorong diri kita untuk memenuhi setiap keinginan agar kita dapat hidup sejajar dengan orang lain, dan nampak hidup dalam kemewahan. Para Nabi dan Rasul, ilmuwan, para ulama, dan para filosof telah mewanti-wanti agar kita berhati-hati terhadap kemewahan hidup, apalagi jika kemewahan tersebut dilakukan dengan cara tidak biasa, melebihi batas kemampuan diri, dan  melanggar hukum serta moral.

Ibnu Khaldun, tokoh sosiolog muslim telah mengingatkan agar kita bersikap hati-hati terhadap kemewahan. Menurutnya,   kemewahan yang berlebihan dapat merusak tatanan kehidupan manusia, terkadang  menanamkan kejelekan, kebohongan, dan perilaku hidup buruk diantara  sesama manusia.

Sikap sabar yang dianjurkan dalam ajaran Islam, bukan saja sabar dalam  beribadah, sabar ketika ditimpa musibah, dan sabar dalam menjauhi hal-hal yang dilarang Allah dan Rasul-Nya, namun juga sabar dalam mengendalikan keinginan. Bersikap sabar dalam  mengendalikan keinginan ketika kita mampu untuk memenuhi keinginan tersebut, jauh lebih sulit daripada bersabar mengendalikan keinginan ketika kondisi keuangan kita tak mampu untuk memenuhinya. Sama halnya, merupakan hal yang biasa apabila kita mampu berhemat dan hidup sederhana ketika kita tak memiliki uang,  namun akan menjadi perbuatan yang luar biasa manakala berhemat dan hidup sederhana tersebut dilakukan ketika kita memiliki uang dan harta yang berlimpah.

Slogan teliti sebelum membeli, bukan saja berlaku untuk meneliti harga dan keaslian barang yang  akan kita beli, namun juga meneliti dengan mendalam akan  kebutuhan kita terhadap barang tersebut. Jika memang sekedar dorongan keinginan, sangatlah bijak jika kita tidak membeli barang tersebut. Sebab, pada akhirnya barang tersebut akan menjadi sekedar pajangan dan kebanggaan belaka.

Selayaknya secuil perjalanan hidup  Denis Diderot menjadi pelajaran berharga bagi kita. Pengendalian diri dari menuruti keinginan harus menjadi filosofi kehidupan. Ajaran Islam selalu menekankan hidup sederhana, tidak memaksakan diri, tidak berlebihan, bahkan dalam ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya pun  selalu menekankan agar kita melakukannya sesuai dengan kemampuan diri kita.

 

Penulis, Pemerhati dan Praktisi Pendidikan Agama Islam. Tinggal di Kampung Pasar Tengah Cisurupan Garut Jawa Barat.

Komentar

Loading...